
Kehidupan seseorang, pasti tidak akan sama antara satu dengan yang lain. Meskipun sebenarnya mereka pernah ada dalam satu hati atau pun satu ikatan pernikahan sekalipun.
Begitu juga dengan satu anggota keluarga. Ada beberapa saudara, yang akan menemukan jalan takdir mereka masing-masing. Tidak akan ada yang sama, karena mereka semua juga memiliki watak dan karakter yang berbeda juga.
Sama halnya dengan kehidupan Anjani, dan juga Adhisti, yang sama-sama pernah ada dalam satu perjalanan, dimana keduanya sama-sama menjadi istrinya Elang Samudra.
Meskipun pada akhirnya, Anjani memilih untuk mundur dan menjalani kehidupannya sendiri. Dan Elang, yang sudah menentukan pilihannya pada Adhisti, juga menjalani kehidupannya bersama dengan Adhisti, dalam keadaan susah dan senang.
Meskipun banyak kesalahan yang dilakukan oleh istrinya, Adhisti, Elang tetap berusaha untuk bisa memaafkan dan menerima baik dan tidak nya Adhisti. Itu karena dia berpikir jika, Adhisti hanya sedang khilaf dan salah langkah dalam pergaulannya.
Elang tidak pernah tahu, jika dia hanya di manfaatkan oleh istrinya sendiri yaitu Adhisti Andriyani. Itu karena rasa cinta yang dia miliki untuk istrinya, sangat besar, sehingga kesalahan demi kesalahan Adhisti, tidak begitu tampak dimatanya.
Namun, semua sudah terjadi. Sekarang semua itu tidak akan bisa terulang dan sebuah penyesalan, hanya akan menambah beban pikiran dan hati.
Hanya saja, Elang masih berharap agar istrinya itu, bisa berubah dan benar-benar menyadari semua kesalahannya, dan tidak lagi mengulangi lagi.
Tapi , harapan tetaplah harapan. Semua sudah diatur oleh Tuhan, dan Adhisti, yang benar-benar merasa sangat bersalah, justru mencari jalan lain untuk bisa mengakhiri semuanya.
Mengakhiri perasaan bersalahnya, rasa sesal yang tidak mungkin bisa kembali, dan mengantisipasi supaya ke depannya tidak akan terulang lagi, dengan caranya sendiri.
Adhisti, melakukan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh semua orang, termasuk Elang sendiri.
Karena di saat Elang memberikan satu kesempatan lagi untuknya, supaya bisa berubah, Adhisti justru melakukan sesuatu yang membuatnya harus pergi untuk selamanya.
Adhisti, di nyatakan OD oleh dokter jaga, di panti rehabilitasi tersebut. Dan di saat Elang mendapatkan kabar tentang Adhisti, dia merasa sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Kenapa Kamu melakukan semua ini Sayang? apa Aku terlalu menekan perasaanmu?" tanya Elang penuh dengan penyesatan, saat melihat jenazah istrinya, yang berada di rumah sakit.
Dari keterangan yang diberikan oleh dokter, selama dua hari setelah dijenguk dan bertemu dengan Elang, Adhisti bersikap seperti biasanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara serius. Bahkan, perilakunya menunjukkan bahwa dia ada perubahan, karena tidak lagi marah ataupun diam dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Tapi entah kenapa, waktu pagi hari, yang bisanya melakukan kegiatan senam dan peregangan otot, Adhisti tidak terlihat. Teman-temannya juga tidak ada yang tahu, kenapa dia tidak hadir dan ikut kegiatan tersebut.
Tapi karena tidak ada yang curiga, mereka semua melanjutkan kegiatan mereka tanpa kehadiran Adhisti.
Dan baru setelah selesai, dokter mencoba untuk melihat keadaan Adhisti di kamar. Dokter berpikir, jika Adhisti hanya sekedar malas keluar atau merasa tidak enak badan saja.
Tapi yang di lihat oleh dokter sungguh tidak pernah dia pikirkan sama sekali. Di lantai dekat tempat tidur, Adhisti tergeletak dengan posisi telungkup dan banyak berceceran obat-obatan terlarang.
Padahal, obat-obatan terlarang itu sudah tidak ada lagi di kamar Adhisti, sejak dia ketahuan masih memakainya, seminggu yang lalu. Entah dari mana dan siapa yang membantunya, mendapatkan obat-obatan tersebut.
Sekarang, semua sudah terjadi. Pihak panti rehabilitasi, hanya bisa meminta maaf kepada Elang dan berusaha untuk mencari tahu, tentang siapa yang sudah memberikan Adhisti obat itu lagi.
Karena saat di adakan pengeledahan, semua orang tidak ada yang menyimpan obat-obatan itu. Mereka semua juga tidak ada yang mengakui bahwa, sudah ada kerja sama dengan Adhisti untuk mendapatkan obat tersebut.
"Mungkin, dia menyembunyikan sisa obat yang ditemukan pada saat itu, sehingga kami berpikir jika dia sudah tidak lagi mempunyai stok lagi. Kami kurang teliti dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adhisti."
Begitulah cerita dan berita yang disampaikan oleh dokternya jaga di panti rehabilitasi tersebut.
Setelah melakukan beberapa macam jenis administrasi, yang dilakukan untuk bisa membawa jenazah istrinya itu keluar dari rumah sakit, Elang baru memberi kabar pada mamanya, mama Amel di Jakarta.
..."Ma. Adhisti sudah tiada. Elang mau membawa jenasahnya, untuk dimakamkan di Jakarta. Apa mama setuju?" ...
..."Innalilahi... terserah Kamu Elang. Mana yang Kamu anggap baik saja. Apa Mama perlu ke Batam sekarang?" ...
..."Tidak usah Ma. Elang akan sampai di Jakarta nanti malam, jika semua sudah selesai dalam waktu singkat. Ini semua sudah beres, tinggal membawa jenazahnya ke bandara saja. Elang juga sudah mengabari pihak penerbangan untuk bisa membawanya secepat mungkin."...
..."Ya sudah. Mama tunggu di Jakarta saja ya. Itu Awan jangan lupa di di ajak, dan biar sama Mama saja di Jakarta untuk waktu kedepannya."...
..."Iya Ma. Terima kasih Ma."...
__ADS_1
Sekarang, Elang merasa lega, karena mamanya tidak juga merasa benci ataupun dendam pada menantunya itu. Meskipun sebenarnya mama Amel tahu, bahwa Adhisti itu curang, tapi dia membiarkan saja, agar Elang bisa sadar dengan sendirinya.
Elang merasa sangat bersalah, karena selama ini, tidak pernah mau mendengarkan nasehat-nasehat yang diberikan oleh mamanya sendiri.
Sekarang, dia baru sadar, jika mamanya itu, sebenarnya bukannya membenci istrinya, tapi hanya tidak suka dengan kelakuan Adhisti saja.
Setelah semua selesai, Elang segera memberikan pesan pada baby sitter Awan, supaya membereskan barang-barang Awan, karena mereka akan pergi ke Jakarta hari ini juga.
*****
Di rumah sakit, Abimanyu yang sudah sadar dan tidak lagi hilang ingatan, bertanya tentang Ara pada Anjani.
"Ara tidak pernah ikut ke rumah sakit?" tanya Abimanyu, sambil melihat ke arah istrinya, yang sedang membantunya untuk membersihkan kuku di jari-jari kakinya.
"Ara di rumah Mas. Lagian anak-anak dilarang masuk ke rumah sakit kan." Anjani memberikan alasan yang tepat pada suaminya, Abimanyu.
"Tapi kan Aku kangen dengan Ara Sayang," kata Abimanyu lagi, sambil tersenyum.
"Hemmm, kita video call saja ya," jawab Anjani, dengan memberikan ide, supaya suaminya itu bisa berbincang-bincang dengan anaknya.
"Apa dia takut padaku, di saat kemarin waktu Aku hilang ingatan?" tanya Abimanyu ingin tahu, apa yang dirasakan anaknya kemarin-kemarin itu.
"Tidak Mas. Justru dia bersama dengan Nanda, suka menemani mas Abi, saat berlatih memegang bola atau hanya sekedar melempar saja," jawab Anjani, dengan tersenyum, kemudian melanjutkan kegiatannya yang tadi.
Abimanyu, hanya bisa menghela nafas panjang, saat mendengar jawaban dari istrinya, Anjani.
"Maafkan Aku ya Jani. Jika kemarin-kemarin, saat Aku kehilangan ingatanku, Aku begitu merepotkan atau ada kata-kata yang tidak baik. Itu benar-benar diluar kemampuanku dan juga Aku yang tidak sadar."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Dia sudah tidak lagi berpikir macam-macam tentang kemarin-kemarin. Dia hanya bisa berharap, kesembuhan suaminya itu, bisa berangsur-angsur membaik dan ada kesempatan untuk bisa sembuh total dan tidak lagi lumpuh, sama seperti yang terjadi sekarang ini.
__ADS_1
Anjani berharap, Abimanyu tetap memiliki semangat tinggi agar bisa sembuh, karena pengobatan apapun, jika tidak ada semangat dan kemauan dari orang itu sendiri, semua akan sia-sia saja, dan usaha mereka akan berakhir tanpa ada kemajuan yang berarti.