
Siang sudah berganti dengan sore. Di rumah, Anggi sedang berlatih mewarnai sendirian. Tidak ada Miko, yang biasanya masih ada di rumahnya, di jam sore seperti sekarang ini.
Tadi siang, di saat pulang dari sekolah, bibi pembantu rumah Miko, langsung membawanya pulang ke rumah, karena mamanya Miko, yang memintanya, supaya langsung pulang, dan tidak berhenti untuk main-main di rumahnya Anggi.
Sekar beralasan bahwa, Miko juga harus mulai belajar lebih serius dan tidak banyak usil, karena tahun depan, Miko sudah harus bersekolah di sekolah Dasar.
Miko, hanya menurut saja. Dia tidak mau jika mamanya yang sedang hamil tua itu marah-marah.
Beberapa hari terakhir ini, Miko bercerita pada Anggi, jika mamanya itu terlihat payah dengan perutnya.
Duduk sudah susah, berjalan juga tidak bisa cepat seperti biasanya.
"Bunda." Anggi memanggil bundanya, Anjani.
"Ya, ada apa Sayang? Sudah selesai mewarnai gambarnya?"
"Belum. Tinggal sedikit lagi."
"Terus?"
Anjani sedikit heran dengan panggilan anaknya kali ini.
Biasanya, Anggi memanggilnya, jika Anggi sudah selesai mengerjakan gambarnya. Dia akan meminta pada Anjani, untuk melihat dan menilai kekurangan, yang ada pada gambar dengan warna-warnanya yang cocok, atau kurang pas.
Tapi, ternyata kali ini tidak sama seperti biasanya. Ada hal lain, yang ingin ditanyakan oleh Anggi, pada bundanya itu.
"Apa Bunda waktu perutnya besar, sama seperti tante Sekar sekarang, Bunda juga sulit untuk berjalan, duduk atau tidur?" tanya Anggi, saat melihat bundanya, Anjani, yang sedang lewat di dekat tempatnya berada.
Anjani terdiam sejenak, mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Dia merasa jika Anggi, bertanya tentang orang hamil karena ada yang bercerita padanya.
Sama seperti kebiasaan anak-anak, yang sering bertanya tentang hal-hal baru, yang ingin mereka ketahui.
Sama halnya seperti orang-orang dewasa pada umumnya, yang juga seringkali ingin tahu, bagaimana keadaan sekitarnya.
Istilah sekarang lebih tenar dengan sebutan kepo.
"Bunda," panggil Anggi lagi, karena melihat bundanya tidak segera menjawab dan hanya diam saja sedari tadi.
"Eh, iya-iya. Ya sama Dek. Sama juga seperti tante Sekar sekarang ini. Makanya, Miko di minta mamanya, supaya di rumah saja. Biar bisa bantu-bantu mamanya juga kan. Ada temannya juga tante Sekar, buat diajak berbicara."
Anggi mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh bundanya itu.
"Apa Bunda juga tidak enak makan, waktu hamil Anggi dan kak Ara?" tanya Anggi lagi, setelah mendengar penjelasan dari bundanya soal pertanyaannya yang tadi.
"Emhhh... iya sama saja Dek. Muntah, pusing, ya begitulah kira-kira orang yang sedang hamil. Itu namanya ngidam."
Tiba-tiba, Anggi berdiri dari duduknya, kemudian mendekati Anjani dan memeluknya erat.
"Maaf Bunda. Anggi bikin Bunda repot di dalam perut Bunda..."
Anjani mengeleng beberapa kali, mendengar perkataan anak keduanya itu.
__ADS_1
Dia mengelus-elus rambut Anggi, kemudian berkata, "tidak apa-apa Sayang. Bunda seneng kok. Bunda bahagia, karena ada Adek di dalam sini dulu."
Anjani mengambil tangan Anggi, untuk diarahkan ke perutnya sendiri.
"Dulu, waktu Anggi ada di dalam perutnya Bunda, nakal tidak?" tanya Anggi lagi, ingin tahu.
Mungkin dia penasaran, apa dua juga sama, seperti adiknya Miko saat ini, yang masih ada di dalam perut.
"Hehehe... nakal banget."
"Ahhh, yang bener Bunda?"
Anggi kaget. Dia tidak menyangka, jika dia nakal sewaktu ada di dalam perut bundanya.
"Tapi, bunda seneng kok, saat Adek bergerak-gerak aktif di dalam perutnya Bunda. Itu tandanya, Adek sehat."
Anggi kembali memeluk bundanya dengan erat. Dia tersenyum di dalam pelukan bundanya, Anjani.
"Anggi gak akan nakal lagi Bun..."
"Iya. Anggi gak nakal kok. Anggi kan anak yang pinter," sahut Anjani, sambil tersenyum dan terus mengelus rambut anaknya, yang sedang sensitif.
Setelah beberapa saat kemudian, Anggi melepaskan pelukannya pada Anjani.
Dan setelah itu, Anjani pun akhirnya punya kesempatan untuk bertanya, "Anggi kenapa? kok tiba-tiba tanya-tanya soal hamil?"
"Miko. Miko yang cerita-cerita. Katanya, dia merasa di tendang adiknya, yang masih ada di dalam perutnya tante Sekar."
Kata Miko, dia sempat merasa ditendang oleh adiknya, yang berada di dalam perut mamanya, saat dia sedang memeluk mamanya, Sekar.
Tapi, saat Miko bertanya pada mamanya, jawaban yang diberikan oleh mamanya itu justru membuat Miko tidak percaya, karena katanya, saat Miko masih berada di dalam perut, malah lebih aktif lagi pergerakannya.
"Jadi, Miko itu nakal sejak ada di dalam perut tante Sekar ya Bun?" tanya Anggi memastikan.
"Ehhh, tidak ada bayi atau anak yang nakal Sayang. Itu hanya sebuah tanda, jika bayi itu sehat, dan normal."
Akhirnya, Anjani kembali menerangkan kepada Anggi, bagaimana anak-anak pada umumnya.
Kebiasaan-kebiasaan anak-anak, dan tingkah laku anak-anak juga.
"Anak-anak memang terkesan nakal, padahal sebenarnya itu juga yang membuat suasana rumah menjadi lebih hidup."
"Dan itu hanya terjadi saat mereka masih kecil, dengan waktu yang relatif singkat."
Anjani berkaca-kaca, saat menjelaskan pada anaknya itu. Karena dia berpikir bahwa, keadaan seperti itu tidak akan bisa terjadi lagi, saat anak-anaknya itu beranjak dewasa nanti.
Sama seperti yang pernah di katakan oleh suaminya kemarin, saat sedang sakit dan kedua anaknya bertikai di dalam kamar mereka.
*****
Pulang sekolah, Ara menunggu Nanda sama seperti biasanya. Dia berdiri di depan kelasnya, sambil membaca-baca buku novel online kesukaannya.
__ADS_1
Ara tidak memperhatikan kondisi sekeliling, jika sudah asyik dengan bacaannya. Bahkan, kedatangan Nanda juga tidak dia ketahui, jika Nanda tidak menegurnya terlebih dahulu.
"Ra."
Dan benar saja, Nanda sudah berada di sampingnya Ara, dengan posisi menyandarkan punggungnya pada dinding kelas tujuh.
"Kakak, sejak kapan ada di sini?"
"Hemmm, cowok ganteng gini gak diperhatikan."
"Hehehe..."
Ara cengengesan, saat jawaban dari Nanda terdengar narsis. Apalagi, jarang-jarang terdengar Nanda memuji diri sendiri.
"Pulang yuk!"
Dengan menganggukkan kepalanya, Ara mengikuti langkah Nanda, yang berjalan untuk pulang.
"Nda!"
"Nanda!"
Dari ujung lorong sekolah SMA, ada dua orang cewek dan cowok, yang memanggil nama Nanda.
Tentu saja, ini membuat Ara dan juga Nanda menoleh ke belakang. Apalagi, orang yang tadi memanggil nama Nanda, berjalan dengan cepat, menuju ke tempat Nanda dan Ara berada.
"Siapa Kak?" tanya Ara ingin tahu.
Nanda hanya diam dan mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia tidak tahu juga.
"Huhfff!"
"Hahhh!"
Ke-dua orang tadi, tampak mengatur nafas terlebih dahulu, sebelum mereka berdua mengatakan maksudnya.
Nanda hanya melihat mereka berdua dengan datar. Sedang Ara, menyipitkan matanya, karena ke-dua orang tersebut, adalah para anggota OSIS yang ada di tingkat SMA.
Tapi Ara tidak bertanya terlebih dahulu. Dia juga diam saja, menunggu mereka mengatakan sendiri, apa maksud dari panggilan tadi, yang membuat langkahnya dan kakak sepupunya itu terhenti.
"Kamu di tunggu semau anggota OSIS Nda."
"Ya. Kami di minta nyari Kamu ini."
Ara bingung, dengan perkataan mereka berdua, yang tertuju pada Nanda.
"Tapi, Aku tidak pernah me_nyalonkan diri. Anggap saja didiskualifikasi. Biar tidak ribet."
"Eh, tapi cewek-cewek itu pada ngambek. Mereka banyak yang tidak mau meneruskan rencana pemilihan ini, jika Kamu tidak datang."
Ara mendongak, menatap ke arah kakak sepupunya itu. "Apa sih Kak?" tanya Ara, yang belum jelas dengan perkataan mereka semua.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku ikut kalian. Yuk Ra!"