
"Maafkan semua kesalahan yang sudah Om lakukan pada nak Ara. Sungguh, Om hanya ingin membuat Dika merasa senang. Karena sebenarnya, dialah yang punya rencana itu sebelumnya."
Papanya Dika, menjeda kalimat yang dia katakan. Kemudian baru melanjutkan kalimatnya, setelah dilihatnya jika, Awan dan Ara masih diam dan menyimak saja sedari tadi. Tanpa bermaksud untuk berbicara atau bertanya terlebih dahulu.
"Sayangnya, sebelum dia melakukan semua rencana yang sudah dia susun, kecelakaan itu terjadi, tanpa bisa dihindari. Dan Om sendiri tidak sadar jika, mungkin saja, kejadian yang terjadi pada Dika adalah peringatan dari Tuhan. Agar tidak melanjutkan rencananya."
"Tapi justru Om yang malah melanjutkan rencana tersebut. Sungguh-sungguh tidak ada gunanya!"
Dengan nada suara yang kecewa, kesal dan merasa bersalah. Papanya Dika menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
Dia benar-benar malu. Karena ternyata, orang-orang yang lama dia celakai kemarin-kemarin, saat ini ada di hadapannya. Dengan memberikan sebuah tawaran untuk membantu anaknya, Dika yang sedang koma dan tidak berdaya.
Ara hanya diam saja. Begitu juga dengan Awan.
Kini, mereka semua saling pandang tanpa berusaha untuk memulai sebuah pembicaraan untuk menyahuti perkataan papanya Dika.
Mereka berdua juga tidak menyangka, jika apa yang terjadi pada Ara dan Anggi kemarin-kemarin itu, seharusnya dilakukan oleh Dika sendiri. Bukan papanya Dika.
Tapi ternyata, peringatan yang tidak mereka sadari, justru membuat papanya Dika yang mengambil alih rencana anaknya.
Dia tidak memikirkan segala sesuatunya dengan matang dan pikiran yang waras. Hanya diliputi oleh perasaan dendam yang ingin segera dilakukan.
Papanya Dika juga berpikir bahwa, apa yang terjadi pada anaknya itu, adalah kesalahan yang dilakukan oleh Awan keluarga Awan dan juga Ara. Karena Kehidupan mereka yang tidak lagi sama seperti dulu, juga akibat awal dari perselisihan antara PT SAMUDERA GROUP dengan PT ANTARA GROUPS.
Dia tidak menyadari bahwa, semua itu adalah kesalahannya sendiri. Karena tamak dan mengambil sesuatu yang bukan hak mereka.
Meskipun akhirnya hanya ada satu orang saja yang terbukti bersalah. Tapi tetap saja, hati mereka yang sudah menghitam akibat demam. Tidak bisa melihat bagaimana jalan cerita yang mereka buat sendiri.
Kini, hanya penyesalan yang ada di dalam hatinya. Dengan semua akibat dan kesusahan yang dia rasakan.
Apalagi, melihat bagaimana keadaan anaknya. Yang tidak bisa dibilang hidup. Tapi juga tidak bisa dikatakan sebagai orang yang sudah mati.
"Sebaiknya Om menyerahkan diri ke pihak kepolisian. Dan memberikan keterangan tentang Bos, yang membantu Om selama ini. Siapa tahu, jika Om bersikap kooperatif. Pihak kepolisian juga akan meringankan hukuman."
Awan memberikan beberapa pendapat, yang bisa dilakukan oleh papanya Dika. Supaya tidak lagi menjadi target buronan polisi lagi.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan Dika?" tanya papanya Dika cemas.
Selain mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri, dia pasti lebih mengkhawatirkan keadaan anaknya. Karena tidak ada yang bisa menjaga Dika. Begitu juga dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan Dika. Karena biayanya juga sangat banyak. Dengan tengang waktu yang tidak bisa ditentukan juga.
"Ok jangan khawatir. Saya akan meminta seseorang untuk menjaga anaknya Om, Dika. Begitu juga dengan biayanya. Semua akan menjadi tanggung jawab Saya sepenuhnya."
Setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Awan, tentu saja papanya Dika merasa terkejut. Dia tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri.
"Apa nak Awan? Benarkah apa yang Om dengar ini?"
Awan mengangguk pasti.
"Oh terima kasih Tuhan!"
"Terima kasih nak Awan. Sungguh besar hatimu. Om tidak pernah menyangka, jika semua kejahatan yang sudah Om lakukan, justru Kamu bakas dengan semua ini."
"Apa yang bisa Om katakan lagi, selain rasa terima kasih atas semua bantuan dan juga maaf dari kalian. Huhuhu..."
Papanya Dika, tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia tersedu-sedu, setelah selesai mengatakan semua hal yang ingin dia sampaikan.
Ara, yang sedari tadi hanya diam saja. Kini ikut menangis, dengan memeluk satu tangan Awan.
Awan menoleh, dengan memegangi tangan istrinya, yang ada di lengannya.
"Terima kasih untuk apa Dek?" tanya Awan bingung. Karena Ara yang ikut merasakan keharuan, justru mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Karena Kakak... Kakak sudah memberikan maaf. Pada orang... orang yang bersalah. Ini, ini sungguh merupakan moral yang sangat baik. Ara bersyukur. Sangat bersyukur, karena Kakak yang menjadi suaminya Ara."
Ara berkata dengan terbata-bata, karena dengan menahan suara tangisannya sendiri.
Awan memeluk istrinya itu, untuk memberikan rasa kenyamanan dan aman. Agar Ara tidak ada keraguan sedikitpun tentang dirinya.
Sekarang, papanya Dika justru meminta pada Awan, agar mengantarkan dirinya ke rutan.
Dia ingin pergi ke rumah tahanan negara, untuk pamit pada istrinya, Mamanya Dika, yang masih ada di dalam penjara.
__ADS_1
Dia juga ingin menjelaskan pada istrinya itu, dengan semua yang sudah dia terima sore ini.
"Tapi, jam besuk ke rutan sudah habis nak Dika. Bagaimana ini?"
"Om tidak mau menyerahkan diri, jika belum berbicara dengan mamanya Dika. Dia harus tahu dan sadar. Jika semuanya memang harus diakhiri."
Awan berpikir sebentar, kemudian menghubungi seseorang.
Ara mendengar suaminya itu menelpon Lawyer, dan meminta pada Lawyer tersebut untuk meminta ijin pada pihak rutan. Agar memberikan ijin pada papanya Dika, supaya bisa bertemu dengan isterinya.
Karena ini untuk kepentingan penyelidikan lanjutan, tentang perdagangan manusia ke luar negeri, akhirnya pihak rutan memberikan ijin khusus. Untuk papanya Dika, sebelum dia menyerahkan diri ke kantor polisi.
Lawyer dan dua orang polisi, juga meluncur ke rutan. Untuk menjemput papanya Dika, yang saat ini di antar oleh awan dan Ara ke rutan.
"Apakah nak Dika bisa berjanji pada Om?"
"Janji apa Om?" tanya Awan, yang menjawab pertanyaan dari papanya Dika.
"Berjanjilah pada Om, jika suatu hari nanti. Di saat Dika sadar, jangan pernah ungkit masalah ini. Apalagi kata dokter, kemungkinan besar dia juga akan lupa ingatan."
"Dia lupa dengan semua hal di masa lalunya. Dia akan menjalani hari-harinya dengan menjadi Dika yang baru. Itu adalah harapan yang Om miliki sekarang ini."
Awan mengangguk mengiyakan permintaan papanya Dika. Begitu juga dengan Ara.
"Iya Om. Kami tidak akan mengungkit soal ini pada Dika. Kapanpun dia sadar nantinya."
Akhirnya, Awan mrnyangupi permintaan dari papanya Dika. Dia juga tidak mau jika, Dika akan menumbuhkan perasaan dendamnya lagi. Di kehidupan yang akan datang.
"Terima kasih nak Awan."
"Nak Ara. Maafkan Om, untuk semua kejadian kemarin. Om benar-benar merasa bersalah. Om sangat jahat," ucap papanya Dika, yang menyesali perbuatannya yang dulu-dulu.
"Iya Om. Ara memaafkan Om dan juga Dika. Nanti, selepas dari rutan dan kantor polisi. Ara dan kak Awan juga akan ke rumah sakit lagi."
"Yang penting, sekarang orangnya kak Awan sudah ada di rumah sakit. Untuk menjaga anaknya Om itu."
__ADS_1
Papanya Dika mengangguk. Dia merasa terharu, dengan kedua anak muda yang bermurah hati dengan semua ini.
Tadi Awan memang menelpon seseorang. Untuk berjaga di rumah sakit. Menjaga Dika yang sedang koma di ruang ICU.