Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Apes Lagi


__ADS_3

"Ara!"


Dika memanggil nama Ara, karena melihat Ara sedang berjalan sendiri di lorong sekolah. Tidak bersama dengan temannya, atau Nanda, kakak sepupunya Ara.


Tapi ternyata Ara tidak menoleh. Dika akhirnya berlari-lari kecil, untuk mengejar Ara yang terus saja berjalan, dan tidak mendengarkan panggilan darinya.


"Ra," panggil Dika lagi, dengan mencolek bahunya Ara.


Orang yang dipanggil dengan nama Ara, oleh Dika, menoleh.


"Eh maaf."


Ternyata, cewek tersebut bukan Ara. Dan Dika, sepertinya salah melihat seseorang, yang dikiranya adalah Ara.


"Tidak apa-apa Kak."


Untungnya, cewek tersebut hanya tersenyum, karena ada kakak kelasnya tingkat SMA yang salah mengenali dirinya.


Dan tak lama kemudian, cewek tersebut melanjutkan perjalanannya, untuk pulang, setelah Dika meminta maaf lagi.


"Huhfff..."


Dika membuang nafas panjang, kemudian memejamkan mata sebentar.


"Kok Gue jadi tidak fokus sih?" gumam Dika, saat membuka kembali matanya.


"Masa iya, Gue jadi salah mengenali Ara. Ahhh, Gue harus secepatnya menjadikan dia pacar. Biar hati Gue tenang."


Dika membulatkan tekad, untuk segera menembak Ara secepatnya. Dia tidak mau gelisah, karena takut terlambat dan Ara sudah menjadi pacar orang lain.


"Mama udah datang belum ya? Jika udah, Gue minta antar langsung ke rumah Ara. Biar Gue nembak du depan orang tuanya aja. Jadi mereka berdua juga akan berpikir bahwa, Gue serius dengan anaknya itu."


Sekarang, Dika mendapatkan ide bagus, untuk bisa mendapatkan Ara. 'Sepertinya ini ide yang baik dan juga tidak mungkin Ara menolaknya. Hehehe...' kata Dika dalam hati, dengan memuji idenya sendiri.


Setelah itu, Dika berjalan dengan semangat, untuk membicarakan tentang hal ini pada mamanya. Dia merasa sangat yakin bahwa, mamanya akan mendukung semua rencananya tadi.


Di depan sekolah.


Ternyata, Awan dan Nanda sudah bersama dengan Nanda juga.


Mobil yang tadi pagi digunakan untuk pergi ke sekolah oleh Awan, sudah berganti dengan mobil yang biasa digunakan untuk mengantar dirinya, jika sedang tidak mengunakan motor.


"Mas Nanda dan Mbak Ara, ikut ke dalam mobil ya. Motornya mas Nanda belum Saya ambil tadi. Masih di bengkel," ujar pak Supri, yang datang menjemput Awan.


"Oh begitu ya Pak. baiklah kalau begitu," sahut Nanda, dengan mengangguk mengiyakan.


"Ayok Ra," ajak Nanda pada Ara, yang ada berdiri di sampingnya.


Ara hanya mengangguk, dan menurut saja ajakan dari Nanda. Apalagi, Awan juga hanya diam, dan tidak mengatakan apa-apa.


Padahal sebenarnya, Awan sedang berpikir untuk memberitahu Ara, tentang rencananya Dika.

__ADS_1


Tapi Awan juga tidak mau di cap sebagai orang yang suka membocorkan rahasia seseorang. Jadi, dia akhirnya hanya bisa diam dan tidak mengatakan apa-apa.


Awan takut keceplosan, mengatakan semua itu pada Ara.


Dan pada saat mereka bertiga sudah masuk ke dalam mobil, Dika melambaikan tangan dari kejauhan, memanggil-manggil nama Ara.


"Ra, Ara! Tunggu," panggil Dika, sambil berlari-lari kecil.


Tapi karena celana Dika kedodoran dan kepanjangan, dia jadi tidak bisa bergerak dengan bebas.


"Wan. Woi... Nda!"


Ara tidak mendengar panggilan Dika. Begitu juga dengan Awan dan Nanda.


Dan pada saat Dika sudah sampai di tempat Ara tadi berada, sudah tidak ada lagi orang yang bisa membantunya untuk memanggilkan Ara.


"Huh, harusnya Gue gak ke kamar mandi duku tadi waktu pulang. Akhirnya ketinggalan mereka semua kan!"


Tadi, Dika pamit untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, sehingga Awan berjalan untuk pulang sendiri.


Awan tidak mau menuggu Dika.


Itulah sebabnya, Dika jadi tertinggal, dan tidak bisa melakukan semua rencana yang sudah dia susun sedari istirahat siang tadi.


Tin tin!


Dika melompat ke samping, saat mendengar suara klakson mobil, yang mendekati tempatnya berdiri.


Dika merasa kesal, dengan apa yang dilakukan oleh mamanya, yang mengangetkan dirinya dengan bunyi klakson mobil.


"Ngapain Kamu berdiri dan melamun sendiri?"


Mamanya Dika, menegur anaknya, yang tampak kesal, saat dia membuka jendela mobil.


"Ayo buruan masuk!"


Dika membuka pintu mobil, dan segera masuk. "Ma. Kejar mobilnya Awan dong," kata Dika, meminta pada mamanya, supaya mengejar mobil yang membawa Ara dan juga Awan.


Mamanya Dika, bingung dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Tapi, dia juga tetap menurut dan melakukan, apa yang diinginkan anaknya.


"Mana mobilnya Awan?" tanya mamanya Dika, yang bingung dengan banyaknya mobil di depan sana.


Dika memperhatikan semua mobil yang saat ini ada di dalam jangkauan pandang matanya.


"Kok udah gak kelihatan Ma," ujar Dika, yang tidak menemukan apa yang dia cari.


"Terus?" tanya mamanya, yang sedang berkonsentrasi pada setirnya.


"Ke jalur rumahnya Ara aja deh Ma," jawab Dika, yang merasa yakin jika, Awan pasti mengantarkan Ara terlebih dahulu, sebelum dia sendiri pulang ke rumah.


Akhirnya, mamanya Dika tidak lagi bertanya-tanya. Dia memutar arah setirnya, untuk berbelok ke jalan yang akan menuju ke rumah Ara.

__ADS_1


"Eh, Dik. Itu apa yang Kamu bawa?" tanya mamanya Dika, yang melihat anaknya membawa bungkusan plastik, yang terlihat penuh.


"Ini seragamnya Dika Ma. Tadi basah, jadi Dika beli seragam baru di koperasi."


"Oh..."


Mamanya Dika, tidak lagi membahas tentang seragam sekolah. Dan kembali berkonsentrasi pada setir dan juga jalanan.


*****


Di dalam perjalanan, di dalam mobilnya Awan.


Sebenarnya, mobil yang membawa Awan, Ara dan Nanda, tidak langsung pulang mengantarkan Ara ataupun Nanda.


Mobil tersebut pergi ke bengkel motor terlebih dahulu, untuk melihat keadaan motornya Nanda.


Pak supir mengatakan pada Nanda, jika dia sudah memberitahu pihak bengkel, untuk memperbaiki semua yang rusak pada motornya.


Tapi karena membutuhkan waktu yang lama, akhirnya pak Supri pergi ke sekolah, dengan menggunakan jasa ojek, untuk mengambil mobil yang dia serahkan pada Awan tadi pagi.


Itulah sebabnya, sore hari, saat dia menjemput tuan mudanya, Awan, mengunakan mobil yang lain.


Padahal pak supir sudah dihubungi oleh Awan, supaya tidak mengunakan mobil yang tadi pagi, dan mengunakan mobil yang lainnya saja.


Ini karena Awan tidak mau ada omongan yang sama, seperti yang tadi pagi. Dan itu bisa menimbulkan banyak spekulasi, mengenai dirinya yang berhubungan dengan pihak donatur, yang memiliki mobil tersebut.


Nanda hanya mengangguk saja, mendengar perkataan pak supir, tentang motornya yang mogok tadi pagi.


'Semoga saja motornya tidak kenapa-kenapa. Dan Aku bisa pulang bersama Ara, dengan motorku sendiri.'


Di dalam hatinya Nanda berharap agar motornya sudah selesai diperbaiki dan bisa dia gunakan lagi.


Tapi ternyata kemacetan lalu lintas pada sore hari, menghalangi jalannya mobil, sehingga tidak bisa sampai di bengkel tepat pada waktunya.


Tiba di bengkel, sudah lebih dari satu jam dari jam tutup bengkel.


"Wah, sayang sekali. Bengkelnya ternyata sudah tutup. Bagaimana ini?" gumam pak Supir, dengan nada kecewa.


Dan ini juga dirasakan oleh Nanda. Karena dengan tutupnya bengkel, dia tidak bisa pulang ke rumah dengan menggunakan motornya sendiri.


"Ya sudah Pak. Kita antar Nanda dan Ara saja kalau begitu."


"Oh, siap Den!"


Pak supir menyahuti perkataan Awan, dengan pasti.


Padahal, rasa kecewa tampak sangat jelas terlihat pada raut wajahnya Nanda.


Tapi karena memang ini semua bukan kesalahan siapa-siapa, Nanda juga tidak bisa menyalahkan Awan dan pak Supir.


Sedangkan di tempat duduknya, Ara hanya diam saja sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2