Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mita Atmojo


__ADS_3

"Kak, lewat sana!"


Anggi menunjuk sebuah gang jalan, di mana gang tersebut adalah gang rumah miliknya Miko.


"Ngapain? Tadi kan Kamu baru saja pulang dari rumahnya Miko Dek," ujar Nanda, yang tahu apa maksud dari ajakan Anggi, untuk melewati jalan tersebut.


"Hehehe... sengaja aja. Biar Miko pengen ikutan," sahut Anggi, dengan terkekeh geli, menyadari jika dia sedang usil dan ingin mengerjai Miko.


"Haduh, kelamaan Dek. Kakak mau pergi ke rumah sakit, sama kak Ara," ucap Nanda, dengan memberikan alasannya juga.


Nanda berkata demikian agar Anggi tidak memaksanya untuk melewati jalan di depan rumah Miko.


Karena jika itu terjadi, dan Miko melihat keberadaan mereka berdua, bisa-bisa nanti Miko yang ganti ikut mereka juga.


Tambah lama jadinya, acara muter-muter keliling komplek ini.


"Ihsss, gak apa-apa kali Kak. Bentar doang kok," ujar Anggi yang tidak mau tahu apa alasan yang dibuat oleh Nanda.


Tapi, karena Nanda tidak mau berdebat dengan Anggi, akhirnya Nanda pun hanya bisa menuruti permintaan dari Anggi.


Meskipun di dalam hatinya, Nanda juga berdoa, semoga di Miko tidak ada di luar rumah, dan tidak melihat keberadaan mereka berdua.


Dan ternyata, doa yang dipanjatkan oleh Nanda terkabul.


Pada saat melintasi jalan di depan rumahnya Miko, anak tersebut tidak terlihat ada di luar rumah.


"Ah, untung selamet juga."


"Apa Kak?" tanya Anggi, yang tidak begitu jelas mendengar perkataan Nanda barusan.


"Eh, apa Dek?" tanya Nanda, yang pura-pura tidak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Anggi padanya.


"Kakak ngomong apa?" tanya Anggi, mengulang kembali pertanyaan yang dia ajukan tadi.


"Gak apa-apa. Kakak hanya menghafalkan tugas kampus aja kok," sahut Nanda, dengan sedikit berteriak, dan menengok sekilas ke belakang. Supaya Anggi bisa mendengar suaranya dengan jelas.


Karena suara deru mesin motor, dan angin, yang menyaingi suaranya Nanda, ataupun suaranya Anggi.


Di boncengan, Anggi hanya mengangguk saja tanpa menyahuti lagi.


Tapi mereka berdua tidak sadar jika, pada saat motor baru saja berbelok ke gang yang lainnya, Miko keluar dari dalam rumah.


Miko sengaja keluar dari dalam rumah karena, dia seperti mendengar suara deru mesin motor Nanda. Yang tentunya dia hafal sekali, bagaimana ciri khas suara motor sport miliknya Nanda tersebut.


"Hah, itu tadi motornya kak Nanda kan? kok gak berhenti?" tanya Miko seorang diri.


Miko merasa sangat yakin, jika yang baru saja lewat tadi adalah Nanda.


"Tapi, ngapain kak Nanda lewat sini? Kan kalau mau pergi, lebih baik langsung lewat jalan utama. Rumah eyang kan lebih dekat dengan jalan utama," gumam Miko lagi. Memikirkan beberapa kemungkinan.


"Mama!"

__ADS_1


Sekarang, Miko berteriak memanggil mamanya.


"Apa apa Kak?" tanya Sekar, mamanya Miko.


Sekar memanggil Miko dengan sebutan Kakak, karena menyebutkan untuk adiknya Miko, yang sekarang ini sudah berumur empat tahun.


"Tadi Mama dengar gak, suara motornya kak Nanda?"


Miko bertanya demikian karena, ingin memastikan bahwa, pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Gak. Mama gak dengar tuh," ucap Sekar, yang memang tidak memperhatikan kondisi sekitarnya.


Apalagi, Sekar juga tidak hafal dengan suara mesin motornya Nanda.


"Huh, aku yakin banget sih, itu tadi motornya kak Nanda yang barusan lewat. Coba nanti Aku telpon Anggi deh," gumam Miko lagi, yang belum bisa menerima kenyataan jika, tadi dia tidak salah dengar.


*****


Breum!


Motor Nanda berhenti tepat di depan pintu rumah Anjani.


Anggi turun, dari atas boncengan, saat mesin motornya Nanda dimatikan.


Dari dalam rumah, muncul Ara yang ternyata sudah siap untuk pergi bersama dengan kakak sepupunya itu.


Karena sesuai dengan rencana mereka berdua kemarin, jika sore ini mereka, Ara dengan Nanda, akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mita.


"Iya. Kakak mau pergi ke rumah sakit Dek," jawab Ara datar.


"Ke rumah sakit, ngapain Kak?" tanya Anggi lagi, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi.


"Ih, kepo banget sih Dek!"


Ara merasa jengah, dengan semua rasa ingin tahunya Anggi.


"Hehehe... kan Anggi ingin tahu Kak. Mau ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit? gitu lho Kak."


Dengan menekan setiap kata, Anggi menjelaskan pada kakaknya itu, dengan apa yang ingin dia ketahui.


"Udah sana masuk rumah. Kakak udah pamit dengan bunda juga kok," ujar Ara, mengusir adiknya itu, supaya segera masuk ke dalam rumah dan tidak mencampuri urusannya.


"Huh, Kakak pelit. Cuma jawab gitu aja kok susah. Wekkk!"


Anggi justru meledek Ara, karena dia merasa kesal juga. Tidak diperbolehkan untuk tahu, ada urusan dan kepentingan apa kakaknya itu pergi ke rumah sakit.


"Udah ayok Kak jalan!"


Ara segera naik ke atas boncengan motor Nanda, dan memintanya untuk segera pergi, dan tidak mempedulikan Anggi lagi.


Nanda pun akhirnya menghidupkan mesin motornya lagi, kemudian berpamitan pada Anggi.

__ADS_1


"Kakak pergi dulu ya. Kamu masuk gih, terus pergi mandi!"


Anggi mengerucutkan bibirnya, karena merasa jika kedua kakaknya itu tidak peduli dengannya.


Dengan kesal, Anggi memutar tubuhnya, kemudian melangkah dengan menghentakkan kakinya menuju ke dalam rumah.


"Hehehe..."


Ara justru tertawa senang, melihat adiknya yang terlihat jelas jika sedang marah.


"Udah ah Ra," ucap Nanda, meminta Ara supaya tidak lagi mentertawakan adiknya itu.


"Hehehe... abisnya, Anggi tuh orangnya kepo maksimal Kak."


Nanda mengelengkan kepalanya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ara. Meskipun sebenarnya, dia juga sudah tahu, bagaimana keadaan dan sifat kedua adiknya itu. Tapi tetap saja, Nanda tidak mau jika salah satu dari mereka, harus saling menjatuhkan.


*****


"Sus, pasien dengan nama Mita Atmojo kok sudah tidak ada di kamar pasien VIP no 2. Apa sudah pindah kamar ya Sus?"


Nanda bertanya kepada suster jaga, yang ada di ruangan tersebut.


Tadi saat tiba di rumah sakit, mereka berdua, Ara dan Nanda, memang tidak bertanya terlebih dahulu pada bagian informasi.


Karena Nanda merasa jika, dia sudah mengetahui keberadaan kamarnya Mita.


Itulah sebabnya, mereka berdua langsung pergi menuju ke kamar, di mana kemarin Mita di rawat.


"Pasien dengan nama Mita Atmojo, sudah pulang kemarin Mas," Suster yang berjaga, memberikan penjelasan kepada Nanda, jika Mita sudah pulang ke rumahnya sendiri.


"Sudah pulang?" Nanda bertanya lagi, karena dia memang tidak tahu jika Mita sudah pulang ke rumah.


"Boleh kami tahu alamat rumahnya Sus? Atau mungkin, ada nomer handphone yang bisa kami hubungi?"


Sekarang, ganti Ara yang mengajukan pertanyaan kepada suster jaga.


"Sebentar ya Mbak. Saya cek dulu," jawab suster tersebut, kemudian mencoba untuk membuka file yang ada di komputer.


Ara dan Nanda mengangguk bersamaan, dengan wajah yang terlihat jelas jika mereka berdua sedang cemas.


"Tenang Kak," ucap Ara, dengan memegangi tangan kakaknya itu.


Ara tahu jika, Nanda sedang cemas dan was-was. Apalagi, kakaknya itu juga pernah berkata, bahwa penyakit yang diderita oleh Mita, adalah penyakit yang serius.


Karena Dika, sebagai kekasihnya Mita, tidak mungkin berkata demikian, seandainya Mita hanya sakit biasa.


Nanda mengangguk mengiyakan. Meskipun sebenarnya, dia tetap saja tidak bisa menenangkan hati dan pikirannya sendiri.


"Semoga kamu baik-baik saja Mita."


Nanda berdoa dalam hati. Berharap agar Mita tidak kenapa-kenapa, dan dalam keadaan sehat.

__ADS_1


.


__ADS_2