
Dekorasi kamar Anjani, sudah di hias sedemikian rupa sehingga terasa sekali jika itu adalah kamar pengantin, dan bukan sekedar kamar biasa.
Anjani, masuk ke dalam kamarnya, untuk beristirahat sejenak. Dia merasa sangat lelah dengan semua acara pernikahannya ini.
Rasa bahagia yang dia rasakan, tidak bisa dia sembunyikan dari raut wajahnya yang selalu tersenyum sedari tadi, pada para tamu dan saudara yang datang ke rumah. Tapi, rasa lelah dan capeknya, juga sangat terasa, sehingga dia ingin beristirahat sebentar di kamar.
Abimanyu, yang sudah menjadi suaminya, tadi entah kemana bersama dengan ibunya. Mereka mungkin sedang berbicara di depan, atau di tempat lain, yang Anjani tidak lewati, sehingga tidak tahu saat ayah mertuanya bertanya.
Anjani, sudah merebahkan tubuhnya di ranjang, saat handphone yang ada di atas meja, sedari tadi diam dan tidak dia pegang bergetar.
Drettt
Drettt
Drettt
Anjani, kembali bangkit dari tempat tidur. Dia mau melihat handphone miliknya yang sekarang ini sedang bergetar, tanda jika ada telpon yang masuk.
"Mama Amel?" tanya Anjani, pada dirinya sendiri, saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
..."Ya Ma, ada apa?"...
..."Halo Jani, Mama mau pamit pulang ke Jakarta. Kamu ada di mana?"...
..."Oh iya Ma, sebentar."...
Klik!
Panggilan terputus. Anjani, berjalan kembali untuk keluar dari kamar. Dia mencari keberadaan mama Amel, yang katanya mau pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Mama," panggil Anjani.
Mama Amel, yang sedang celingukan mencari keberadaan dirinya menoleh. "Jani, Mama cari-cari lho. Mama pikir, Kamu langsung mau belah duren jam segini. Hehehe..." sahut mama Amel bercanda. Dia terkekeh sendiri, setelah menyelesaikan kalimatnya, untuk menggoda Anjani. Mantan menantunya itu.
"Mama, apa sih," balas Anjani, dengan tersipu malu. Untung banyak tamu, yang sudah pamit pulang tadi.
__ADS_1
"Ya sudah. Mama mau pamit pulang dulu ya. Sekali lagi selamat ya, atas pernikahan Kamu dan Abimanyu ini. Besok, waktu resepsi di Jakarta, Mama pasti usahakan untuk bisa datang juga," pamit mama Amel, kemudian memeluk Anjani dan mencium kedua pipinya.
"Iya Ma, terima kasih."
Anjani, mengantar mama Amel, sampai teras depan. Papa Ryan, yang sudah menunggu di luar, berpamitan juga pada Anjani.
"Papa balik ya Jani, Kamu nikmati saja malam pertama dengan tenang," kata papa Riyan, ikut menggoda Anjani juga.
"Papa, sama saja kayak Mama," sahut Anjani, dengan wajah tersipu malu. Wajah Anjani, jadi semakin merah saja.
"Oh ya, Abi mana?" tanya papa Riyan, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Mama Amel, jadi ikut melihat ke sekeliling juga, mencari keberadaan Abimanyu, suaminya Anjani, yang merupakan rekan kerjanya di Jakarta.
"Hai Om, Tante. Sudah mau pulang ya?"
Tiba-tiba, Abimanyu muncul dari dalam rumah. Anjani, jadi merasa heran, karena tadi tidak menemukan suaminya itu ada di dalam.
"Iya Bi. Kami pamit dulu ya," jawab papa Riyan menggangguk, sambil menepuk-nepuk bahu Abimanyu.
"Iya, sama-sama Abi. Besok, waktu resepsi di Jakarta, Kami juga akan tetap usahakan untuk bisa hadir."
"Oh ya, harus itu Om!" sahut Abi cepat.
"Kami permisi dulu ya!" pamit papa Riyan dan mama Amel, bersamaan.
Abimanyu dan Anjani, sama-sama menggangguk dan melambaikan tangan.
Setelah papa Riyan dan mama Amel masuk ke dalam mobil, dan meluncur untuk pulang ke Jakarta, Anjani segera bertanya, tentang keberadaannya yang sedari tadi di cari-cari oleh ayah mertuanya, dan juga dirinya.
"Kamu dari mana Mas? tadi di cari ayah lho," tanya Anjani, yang sebenarnya juga ingin tahu, kemana sebenarnya Abimanyu tadi pergi, bersama dengan ibu mertuanya.
"Oh, kirain yang nyari Kamu Sayang, hehehe... Ibu minta diantar ke kamar mandi. Dia tidak tahu letaknya kan di rumah ini." Abimanyu, menjawab dengan tersenyum terkekeh, karena melihat Anjani yang cemberut, mendengar perkataan yang bernada menggoda.
"Oh, kirain ke mana. Soalnya, ayah cari-cari tadi," sahut Anjani dengan wajah meringis.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo masuk. Ibu sama ayah juga mau balik katanya. Mau siap-siap untuk pesta resepsi kita dua hari lagi," ajak Abimanyu pada Anjani, yang masih berdiri di teras depan rumah.
Mereka berdua, masuk ke dalam untuk menemui keluarga Abimanyu.
*****
Di Jakarta, Elang dan Adhisti yang sedang berada di suatu lembaga nasehat pernikahan dan hukum, keluar dari sebuah ruangan.
Mereka berdua, datang ke lembaga ini sudah tiga kali, untuk meminta bantuan dan nasehat pernikahan yang mereka jalani saat ini.
Jalan ini mereka lakukan, karena Adhisti yang masih ngotot minta bercerai, sedangkan Elang, tidak mau menceraikannya. Dalam hati Elang, masih ada cinta yang ada untuk Adhisti. Dia hanya ingin membuat Adhisti sadar, jika semua yang dia lakukan kemarin-kemarin itu adalah salah.
"Mas, maafkan Adhisti ya Mas. Selama ini, Adhis serakah dan itu karena Adhis tidak mau hidup dalam keterbatasan, sama seperti waktu masih ada di panti asuhan. Harus banyak berbagi dengan saudara yang lain juga. Adhis malu Mas, sudah berbuat seperti yang kemarin itu, dan menjadikan Anjani sebagai kambing hitam. Padahal, sebenarnya Adhis sendiri yang salah."
Adhisti, meminta maaf pada Elang, saat berada di dalam mobil. Elang, yang belum menyalakan mesin, menggenggam tangan istrinya itu dengan tatapan mata yang sama seperti dulu. Tatapan mata yang penuh dengan cinta, karena sebenarnya dia masih sangat mencintai istrinya itu.
"Iya Sayang. Kita lupakan yang kemarin-kemarin ya, jalani yang sekarang dan ke depan. Kita fokus pada kehidupan kita dan juga Awan."
Adhisti mengangguk dan tersenyum pasti, mendengar jawaban dari suaminya itu. Dia merasa sangat bersyukur karena Elang masih mau memaafkan dirinya dan tidak mencampakkannya, sama seperti yang dia bayangkan selama ini.
"Maaf Mas. Adhis janji, tidak akan mengulangi semua kesalahan Adhis yang sudah-sudah. Mas, tolong tegur Adhis ya, jangan diam saja," kata Adhis, sambil menatap wajah suaminya itu.
"Iya," jawab Elang pendek, kemudian menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan Aku juga ya Sayang."
Elang, juga meminta maaf pada Adhisti yang masih berada di dalam pelukannya.
Adhisti, hanya mengangguk. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena rasa haru yang datang dan membuat dada serta tenggorokan terasa penuh. Dia tidak sanggup menahan diri dan akhirnya terisak-isak di dalam pelukan suaminya.
"Hiks... hiks... te... terima kasih Mas," kata Adhisti dengan terbata-bata, karena isakan tangisnya. Dia tidak bisa banyak berkata, dan hanya menumpahkan lewat air mata.
"Iya, kita jalani semua berdua, dengan rasa yang baru untuk masa depan kita."
Elang, semakin mempererat pelukannya untuk membuat Adhisti menjadi lebih nyaman. Sesekali dia juga mencium kening istrinya itu dengan penuh rasa haru.
__ADS_1