
Ara tersipu, saat mendengar perkataan Awan barusan. Dia tidak terbiasa mendapatkan perhatian dan pujian yang lebih dari tunangannya itu.
"Jangan meledek Kak," ujar Ara, yang merasa seperti sedang di ledek oleh adiknya.
Karena biasanya, Anggi akan mengatakan kebalikan dari hal yang sebenarnya.
"Ngeledek bagaimana? Memang cantik kok calon istrinya Kakak."
"Biasanya gak ya?" tanya Ara, yang mirip anak kecil yang sedang merajuk.
"Cantik dong. Tapi dalam versi yang berbeda tentunya," sahut Awan, sambil tersenyum melihat wajah Ara yang semakin terlihat merah.
Keduanya sama-sama terdiam, saat pramuniaga butik datang mendekat, dengan membawa paper bag berisi pakaian mereka lama mereka berdua.
"Terima kasih Nona."
Awan mengucapkan terima kasih, setelah menerima paper bag tersebut, dan juga kartu kredit yang tadi dia berikan pada pramuniaga butik, untuk membayar semua pesanan dan pelayanan yang mereka berikan sore ini.
Sekarang, keduanya sama-sama berjalan menuju ke luar butik. Setelah berpamitan dengan pramuniaga tadi.
"Terima kasih. Selamat menikmati malam yang indah Mr Awan, dan Miss. Kami menunggui kunjungan Anda kembali." Pramuniaga tersebut, mengucapkan terima kasih dan juga mengucapkan harapannya, agar pelanggan bisa datang ke butik lagi besoknya.
Awan membukakan pintu mobil untuk Ara, baru setelah Ara masuk dan duduk, dia memutar tubuhnya, untuk duduk di belakang kemudi.
Mobil pun pergi ke tujuan yang seharusnya. Yaitu kampusnya Awan. Di mana opera yang akan mereka saksikan ada di sana.
Tiba di peralatan parkir area kampus, ternyata sudah ramai. Banyak pengunjung yang telah tiba di tempat.
Dan mereka, rata-rata memang mengenakan pakaian resmi untuk acara formal sebuah pesta pada umumnya.
Gaun untuk wanita, dan setelan jas untuk pria.
Kedatangan mereka berdua, Awan dan Ara, tentunya menarik perhatian banyak orang, yang sudah datang terlebih dahulu di tempat tersebut.
"Kak. Ara grogi nih."
"Udah gak apa-apa. Gandeng aja tangan Kakak."
Ara pun mengangguk. Dia mengandeng di sebelah lengan Awan, karena posisi tangan Awan yang sudah ditekuk. Siap untuk dirangkul.
Ternyata, banyak juga para tamu undangan yang mengenal Awan. Baik sesama tingkatan atau tidak.
Begitu juga dengan undangan yang datang dari luar. Dan itu karena posisi Awan, yang sekarang ini ada di perusahan.
Karena, mereka ada juga yang menjadi karyawan di perusahaan miliknya.
__ADS_1
Tapi Awan tidak mau sombong. Dia tetap saja ramah dan menegur mereka layaknya teman seperti dulu.
Tidak ada status bos atau karyawan di sini. Karena ada banyak juga dari teman-temannya, yang sekarang menjadi pejabat dan menjadi pengusaha.
Mereka pun berbincang-bincang sebentar, sebelum secara di mulai.
Tiba-tiba, Ara ingin pergi ke kamar kecil. Dia celingak-celinguk, mencari keberadaan papan informasi, yang memberikan petunjuk letak untuk kamar kecil.
Tapi sepertinya Ara tidak menemukan informasi dari papan petunjuk di gedung aula kampus.
Akhirnya, Ara pun bertanya pada Awan. "Kak. Ara ke toilet dulu ya. Ada di sebelah mana?"
"Ayok Kakak antar!"
Sebenarnya, Ara merasa risih dengan cara Awan memperhatikan dirinya. Ara berpikir bahwa, Awan menjadi sedikit posesif.
Apalagi, tadi saat ada banyak mata yang melihatnya tanpa mengalihkan perhatian dalam jangka waktu yang lama.
Padahal, gaun yang dikenakan Ara terbilang cukup sopan. Tidak ada belahan pada gaunnya, yang memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya diperlihatkan juga.
Potongan gaunnya juga tidak ketat. Karena Ara tidak akan sanggup mengunakan pakaian yang membuatnya sesak nafas.
"Tidak usah Kak. Ara bisa sendiri," kata Ara, meminta Awan agar tetap berada di antara teman-temannya.
"Memang Kamu tau, di mana letak kamar kesilnya?" tanya Awan, dengan memicing melihat ketidak nyamanan Ara.
Sebenarnya, Awan juga merasa khawatir dengan kondisi Ara, yang sedari tadi banyak diperhatikan oleh para pria.
Dia merasa tidak tenang, jika harus membiarkan Ara pergi seorang diri. Meskipun itu hanya untuk pergi ke kamar kecil saja.
"Baiklah. Tapi... beneran gak apa-apa Kakak nungguin Ara ke kamar kecil?" tanya Ara sekali lagi. Memastikan bahwa, Awan tidak merasa canggung karena akan menunggu dirinya di depan kamar kecil cewek.
Awan mengangguk pasti. Dan ini membuat Ara jadi tersenyum senang.
*****
Di apartemen, Anjani sedang menunggu Anggi yang sedang bersiap-siap di dalam kamar.
"Adek ayok!"
"Bentar lagi Bun..."
Anggi menjawab panggilan bundanya, tapi masih saja dari dalam kamar. Dan belum juga ada tanda-tanda jika dia akan segera keluar.
Anjani menghela nafas panjang. Karena sudah menjadi kebiasaan Anggi, jika akan bepergian, diantara mereka berempat, hanya Anggi yang selalu lebih lama dalam persiapan dirinya.
__ADS_1
Akhirnya lima menit kemudian, Anggi baru keluar dari dalam kamarnya.
"Ayok Bun!"
Sekarang, ganti Anggi yang mengajak bundanya.
"Udah?" tanya Anjani, memastikan jika Anggi memang benar sudah siap.
"Udah. Hehehe..."
Anggi menjawab dengan terkekeh. Dia juga menunjukkan handphone miliknya, yang siap untuk melakukan siaran langsung pada sosial media miliknya.
"Ini kan acara orang lain. Adek harus minta ijin terlebih dahulu, pada pengelola toko kue nanti!"
"Siap Bun. Pasti mereka akan merasa senang. Karena bisa jadi ajang promosi gratis untuk mereka kan nantinya?"
Anggi sangat yakin, jika dia akan mendapatkan ijin dari pengelola toko kue yang mereka kunjungi sore ini.
Setelah mengunci pintu apartemen, Anjani bersama dengan Anggi berjalan menuju ke arah lift. Turun menuju ke arah lantai bawah.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai juga di depan toko kue, yang sudah di hias sedemikian rupa, dengan pita pembatas pintu, yang akan dipotong oleh pemiliknya. Sebagai tanda jika, peresmian toko sudah dimulai.
Anggi sudah mencari keberadaan pemilik toko kue. Tapi, dua dihentikan oleh security, yang mengamankan acara.
"Pak. Saya mau minta ijin pada pemilik toko, untuk membuat siaran langsung pada akun sosial milik Saya. Ini untuk ajang promosi toko juga Pak," kata Anggi, memberikan alasan dan penjelasan dengan maksudnya itu.
"No. Tidak bisa Dek. Pemilik toko tidak memberikan ijin untuk sosial media yang belum terkenal dan banyak follower nya."
"Eh Pak. Lihat ya ini! Berapa jumlah follower Saya?" Anggi memperlihatkan layar handphone miliknya, pada security tadi.
Dia menunjukan betapa jumlah follower nya, yang ternyata bukan hanya berjumlah puluhan ataupun ratusan.
Ternyata, jumlah follower Anggi sudah ribuan. Bukan hanya dari teman-temannya yang ada di sekolah Amerika sini, tapi juga dari Indonesia juga.
Security tersebut melihat dengan tidak percaya, jika itu adalah sosial media milik anak kecil, yang saat ini ada di depannya.
"Pak. Saya mau ketemu pengelola toko, jika pemiliknya tidak ada."
Tapi security tersebut, tetap melarang Anggi. Dia juga menghalangi Anggi, yang berusaha untuk bisa menerobos ke depan.
"Sudah Dek. Gak usah ngeyel. Biarin aja!"
Anjani mencoba untuk menenangkan anaknya, agar tidak memaksakan diri untuk bisa melakukan siaran langsung, untuk sosial media miliknya.
"Tapi Bun..."
__ADS_1
"Udah-udah. Ayo kita cicipi kue-kue yang ada saja."