Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Menjelang Resepsi


__ADS_3

"Hai, hai..." panggil Awan lagi.


Awan semakin merasa senang, dengan meniup-niup mata Ara yang pura-pura terpejam. Dia semakin bersemangat, untuk men_jaili Ara. Yang dalam keadaan gugup seperti ini.


"Emhhh..."


Tapi Ara juga masih pura-pura sedang mengantuk. Dia tidak mau jika, Awan tahu bagaimana keadaan jantungnya yang sedang berdetak cepat.


'Apa Aku ada gejala jantung ya? Kok jadi kayak gini sih,' batin Ara tanpa tahu harus berbuat apa.


"Ihsss... masak suaminya dicuekin ini." Awan pura-pura ngambek, karena Ara tidak juga merespon apa yang dia lakukan.


Ara mengeliat. "Emhhh... apa sih Kak?" tanya Ara, yang tidak ingin kelihatan jika sedang gugup.


"Masak tidur sih?" tanya Awan mencubit hidung Ara.


"Lah, kan emang di suruh istirahat. Lagian, Ara itu kan gak tidur semalaman Kak," ujar Ara menyahuti, dengan nada dibuat seperti sedang merajuk.


"Anggi aja tidur sedari tadi. Ah, aku nyusul ke kamar dia aja deh!"


Tapi dengan cepat, Awan menahan tangan Ara, pada saat Ara hampir bangkit dari tempat tidur. Dengan Awan yang lebih dulu menghadang dengan tubuhnya sendiri. Sehingga sekarang ini, Ara ada pada posisi, di bawah tubuhnya Awan.


Keduanya justru terdiam, dengan pikiran masing-masing.


'Jangan minta sekarang dong Kak. Aku belum siap,' batin Ara dengan meringis takut.


'Ara kenapa? Kok aneh gitu,' Awan juga membatin.


Tapi di saat dia sadar jika, pada saat ini posisi mereka berdua seperti sekarang ini. Awan jadi tersenyum dalam hati.


'Oh, dasar ini otaknya Ara. Dia udah traveling aja kan. Awas deh!'


Dalam hati Awan, dia punya rencana untuk menggoda Ara. Yang saat ini sudah menjadi istrinya yang sah.


"Ra," panggil Awan dengan suara yang pelan.


Ara malah semakin mempererat matanya, supaya terpejam dan tidak melihat apa yang dilakukan oleh Awan.


Tapi, saat beberapa detik tidak dirasakan apapun, Ara mulai membuka matanya perlahan-lahan. Dan dia terbelalak kaget, saat melihat Awan yang melihatnya dengan cengengesan.


"Hehehe... cuci dulu tuh otak. Apa dimandiin sekalian."


Mendengar perkataan Awan yang semua adalah ledakan semua, membuat Ara langsung cemberut.


"Ihsss... Ehmmm!"

__ADS_1


Ara juga mendengus kesal, karena Awan sudah mengerjai dirinya.


Cup!


Ara kaget dan secara reflek diam. Karena Awan mengecup bibirnya sekilas dengan cepat.


Awan jadi semakin berani dan kembali mengecup bibirnya dengan cepat.


Cup!


Cup!


"Hahaha..."


Awan menjauhkan tubuhnya dari Ara. Agar istrinya itu bisa kembali bernafas dengan lega.


Karena sedari tadi, Awan tahu bahwa, Ara menahan diri untuk bisa bernafas dengan normal. Karena sebenarnya, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Ara.


Tapi dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak berbuat lebih.


Awan tahu, bagaimana keadaan Ara pada saat ini. Selain kejadian yang dia alami kemarin malam, nanti malam juga mereka berdua akan ada pesta resepsi.


Jadi harus bisa menjaga tenaga mereka. Karena pesta nanti malam juga sangat membutuhkan tenaga yang ekstra.


Saat sadar dari perbuatan Awan yang sedang jahil, Ara langsung bangkit dari tempat tidur. Dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Menyembunyikan rasa malu dan semua rasa yang campur aduk dalam hati serta dadanya.


*****


Di kamar yang lain.


Anggi masih tertidur pulas, di saat ayah dan bundanya masuk ke dalam kamar.


"Kasihan Adek ya Yah. Bunda takut jika dia jadi trauma. Dan minta balik lagi ke Amerika."


"Hemmm... Anggi itu anak yang ceria Bun. Dia kuat. Pasti dia bisa melalui semua ini dengan baik," sahut Abimanyu, sambil duduk di pinggir tempat tidur.


Sedangkan Anjani, sudah ada di atas tempat tidur, di samping Anggi.


"Tadi, Ayah di ajak bicara soal apa sama mas Elang?" tanya Anjani, yang ingat jika, suaminya itu tadi di ajak ke luar ruangan oleh Elang.


"Mas Elang tanya pada Ayah. Siapa tahu, Ayah ada musuh. Atau Ayah tahu, siapa musuh perusahaan sewaktu mama Amel yang memimpin perusahaan PT SAMUDERA GROUP."


"Waktu itu kan Ayah jadi orang kepercayaan mama Amel. Jadi, mas Elang berpikir bahwa, Ayah tahu."


Abimanyu memberikan penjelasan kepada istrinya, dengan apa yang tadi dibicarakan oleh Elang bersama dengannya.

__ADS_1


"Terus, ada yang Ayah curigai?" tanya Anjani, yang akhirnya tertarik untuk membicarakan tentang hal ini.


Tapi Abimanyu mengelengkan kepalanya. Dia tidak bisa memprediksi, siapa-siapa dari banyaknya orang, yang bisa dianggap sebagai musuh.


Karena yang dia tahu selama ini adalah, mama Amel dan perusahaan, selalu baik dan bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan kekeluargaan dan jalan damai.


Sekarang, Anjani jadi ikut berpikir. Siapa kira-kira, orang yang tidak suka dengan keluarganya atau keluarga mertuanya. Yaitu keluarga ayah Edi.


Tapi setelah berpikir sebentar, Anjani juga tidak menemukan apa-apa. Tidak ada orang yang bisa dicurigai. Bahkan, dari pihak keluarganya sendiri di Bogor, juga tidak ada.


"Mungkin ini memang murni perampokan dan anggota perdagangan para wanita ke luar negeri Bun."


"Sudahlah. Biar pihak kepolisian yang menangani kasus ini."


Abimanyu meminta pada Anjani, supaya tidak lagi memikirkan banyak hal. Karena dia tidak ingin melihat istrinya itu jadi ikut berpikir yang tidak-tidak.


"Ya Yah," jawab Anjani sambil tersenyum.


Sekarang, Anjani mengelus-elus rambut anaknya. Dia merasa sangat kasihan, di saat tadi bertemu dengan Ara dan Anggi untuk pertama kalinya. Setelah mereka bebas dan ditemukan.


"Hiks... hiks... hiks..."


"Bun," panggil Abimanyu, dengan memegang pundak istrinya.


"Bunda sedih Yah. Bunda tidak bisa melakukan apa-apa di saat anak-anak butuh," ucap Anjani, dengan air mata yang mengalir tanpa dia sadari.


"Sudah Bun. Yang penting, sekarang mereka akan. Mereka berdua selamat. Kita patut bersyukur dan berterima kasih pada semua pihak, yang sudah membantu menemukan mereka berdua."


"Hiks... iya Yah. Bunda tidak tahu, bagaimana perasaan Ara, terutama Anggi tadi. Di saat mereka berdua di sekap."


"Sudah-sudah. Besok siang, kita masih harus ke kantor polisi. Mengantar Ara dan juga Anggi untuk memberikan kesaksian mereka."


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Tapi dia tetap saja, tidak bisa mengehentikan begitu saja air matanya yang mengalir.


"Sudah Bun. Anggi pasti tidak suka, jika melihat Bundanya nangis kayak gini," ucap Abimanyu, dengan membantu istrinya mengusap air mata yang masih saja jatuh.


"Sekarang, kita fokus pada acara resepsi nanti malam. Semua sudah dipastikan aman."


"Ayah yakin?" tanya Anjani cepat.


Dia merasa khawatir jika, kejadian semalam, akan terulang lagi.


"Gak Bun. Ada pihak keamanan dari WO, kepolisian dan beberapa orang yang ditugaskan mas Elang. Dan Bunda harus tahu, jika undangan resepsi, mengunakan barkot yang terdaftar Dati handphone para undangan."


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia lupa, dengan undangan yang didesain secara khusus, untuk keamanan acara nanti malam.

__ADS_1


Untungnya, saat itu mama Amel meminta pada pihak WO. Untuk membuatkan undangan yang berbeda dari biasanya.


Dan Undangan ini, memang dibuat demi keselamatan dan keamanan. Karena, tidak akan ada yang bisa menyalah gunakan undangan seperti itu.


__ADS_2