Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Teman Awan


__ADS_3

Ara berjalan kaki, dari halte pemberhentian bus atau angkutan umum, yang lumayan jauh dari sekolahnya. Dia yang tidak terbiasa dengan keadaan seperti sekarang ini, tentu saja jadi tidak ada teman. Dia berjalan sendiri, dengan menunduk.


Tin tin!


Suara klakson mobil mengagetkan Ara, yang ternyata sudah berjalan lebih ke tengah, dan tidak berada di pinggir jalan. Dia tidak memperhatikan jalan.


"Maaf-maaf," ucap Ara, setelah berjalan kembali ke pinggir.


"Jangan sambil melamun ya Neng, kalau jalan. Bisa-bisa nyawa melayang," kata seorang ibu-ibu, yang melongok keluar dari jendela mobil, yang duduk di samping supir.


"Eh, Diyah!"


Seseorang, memangil nama Ara dengan sebutan Diyah. Dan bisa dipastikan bahwa, orang itu adalah teman Awan. Tapi, dia ada di dalam mobil, di kursi penumpang,yang hampir saja menabrak Ara.


"Eh, Kakak, maaf Kak."


Ara tersenyum dan mengangguk, melihat ke arah jendela mobil, yang ada di bagian belakang.


"Kamu kenal dia Dik?" tanya ibu tadi.


"Iya Ma. Dia adik kelas Dika, tapi masih tingkat SMP."


Ternyata, mobil tersebut adalah, mobil kedua orang tuanya teman Awan, yang ternyata bernama Dika.


"Dika turun sini saja kalau begitu Ma, Pa."


Teman Awan, pamit pada papa dan mamanya, untuk turun di jalan, karena ingin menemani Ara, yang juga berjalan kaki menuju ke sekolah.


"Lho, sampai di sekolah saja. Itu temannya, ajak naik. Yuk Neng, ikut naik!"


Mamanya Dika, justru menawari Ara, agar ikut naik ke dalam mobil, agar bisa ikut di antar sampai di sekolah.


Ara, melihat dengan ragu, ke arah teman Awan, yang bernama Dika. Dan sepertinya, Dika tahu jika, Ara tidak mau naik ke dalam mobil, sehingga dia yang justru pamit pada mama dan papanya, untuk diturunkan di situ saja.


"Dika turun di sini aja Ma, Pa. Kalian berdua, bisa langsung berangkat ke kantor."


Karena melihat niat anaknya, Dika, yang begitu antusias saat pamit dan menemani Ara jalan kaki, sampai ke sekolah, akhirnya mama dan papanya Dika, mengiyakan permintaan ijin anaknya itu.

__ADS_1


"Hati-hati ya kalian. Awas, masih kecil-kecil. Jangan main lope-lope dulu. Hahaha..."


Papanya Dika, justru menyahuti dengan maksud menggoda anaknya, dan juga Ara. Cewek SMP, yang menurut mereka berdua, sudah mampu membuat anak mereka rela jalan kaki, menemani cewek tersebut ke sekolah.


Ara tersenyum kikuk, mendengar perkataan papanya Dika. Sedangkan Dika sendiri, justru menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe... ya sudah, Mama sama Papa, berangkat dulu ya." Mamanya Dika, berpamitan pada anaknya, dan juga Ara.


Dika dan Ara, mengangguk bersamaan, saat mobil tersebut mulai berjalan lagi. Meninggalkan mereka berdua, yang sekarang masih berdiri di tempat yang tadi, dan belum juga ada yang memulai untuk berjalan terlebih dahulu.


"Emhhh, tumben sekali jalan kaki. Emhhh, itu tukang ojek Kamu, maksud Aku sepupu Kamu ke mana? bukannya dia sekolah di sini juga? Masih baru kan dia?"


Teman Awan, Dika, bertanya pada Ara, tentang keberadaan Nanda, yang biasanya nempel jadi bodyguard Ara setiap hari.


Tapi ternyata, Ara tidak tahu, jika yang dimaksud tukang ojek oleh Dika adalah Nanda. Dia pikir, Dika menanyakan tentang pak ojek, yang dulu, waktu di awal-awal sekolah, mengantar dan menjemput Ara.


"Pak ojek pulang kampung. Ibunya sakit parah kata bunda."


Jadi, begitulah jawaban yang diberikan oleh Ara, karena Ara salah paham dengan pertanyaan Dika.


"Oh, dia anak kampung to," sahut temannya Awan, yang baru saja tahu, jika cowok yang mengaku sebagai saudara sepupu Ara, berasal dari kampung, dan bukan dari negara Taiwan sana.


Tin tin!


Dari arah jalan lainnya, ada suara motor sport, yang terdengar tidak asing ditelinga mereka berdua.


Ternyata, itu adalah suara motor sport Awan. Dia baru saja datang, dan belum sampai di tempat parkir motor warung Pak Lek.


Dika melambaikan tangan kepada Awan. Sedang Ara, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, melihat keberadaan Awan, yang tidak terlihat dengan jelas bagaimana raut wajahnya, karena tertutup dengan helm full face hitam yang dia kenakan, seperti biasanya.


Di tempat parkir, Awan memikirkan apa yang baru saja dia lihat tadi, saat temannya, Dika, berjalan kaki berdua dengan Ara. Dan itu bukan dari tempat parkir motor ini, tapi dari arah yang lain.


Awan juga tidak melihat keberadaan Nanda, ada diantara mereka berdua tadi.


"Mereka berdua jalan kaki, dan Nanda gak ada. Ke mana dia?" tanya-tanya Awan, dalam hati.


Setelah melihat ke sekeliling area parkir warung, Awan juga tidak melihat keberadaan motor sport miliknya Nanda.

__ADS_1


Jadi, Awan menarik kesimpulan bahwa, Dika, sudah berhasil membuat Ara dekat dengannya, sesuai dengan rencana awalnya dulu. Dan sekarang, temannya itu, sudah mulai dengan semua yang sudah dia persiapkan, untuk membuat Ara menjadi perhatian dan simpati dengannya.


Awan jadi menarik kesimpulan tersebut, karena dia melihat kedekatan mereka berdua, Ara dan Dika, pagi ini.


Saat Awan baru saja berjalan dari tempat parkir motor warung Pak Lek, menuju ke sekolah, sekarang justru dia melihat Ara da Dika yang sedang tertawa senang.


Mereka berdua, tampak seperti sepasang kekasih, yang sedang dimabuk cinta.


Awan jadi mengurungkan niatnya, untuk berjalan menuju ke sekolah. Dia berhenti, hingga kedua orang yang dia perhatikan itu masuk, dan tidak terlihat lagi olehnya.


Di depan gerbang sekolah, Ara dan Dika, sedang membicarakan tentang video yang sedang trending, di sebuah aplikasi terkenal baru-baru ini.


Mereka berdua, mentertawakan orang-orang, yang sempat-sempatnya membuat video dengan baju-baju dimasa kecil mereka dulu.


"Padahal, sebenarnya baju-baju itu baru kan ya, gak mungkin baju-baju mereka masih utuh dan terlihat baru, pada saat pembuatan video." Dika, mengatakan pendapatnya sendiri, tentang video yang viral tersebut, sehingga banyak yang meniru.


"Hehehe... Aku juga tidak tahu Kak. Aku tidak pernah liat kayak gitu-gituan sih. Cuma kemarin itu dikasih liat Ama temen. Jadinya tahu, jika ada chalage seperti itu, dan malah jadi banyak yang niru."


Dengan tertawa kecil, Ara mengaku jika, dia tidak tahu dan hanya dikasih lihat saja sama temennya, kemarin-kemarin.


Terus selain belajar, di rumah Kamu ngapain aja?" tanya temannya Awan, yang merasa heran, karena ada cewek seumur Ara, yang tidak tahu dan tidak biasa mengunakan aplikasi terkenal, yang banyak disukai semua itu, dari semua kalangan.


Dika menjadi semakin penasaran dengan karakter Ara, yang berbeda dengan cewek-cewek lain. Sekarang, mereka berdua sudah sampai di tempat kelasnya Ara.


"Aku masuk ke kelas dulu ya Kak," pamit Ara, pada Dika.


Dika mengangguk mengiyakan, sambil tersenyum melihat Ara, yang melangkah masuk ke dalam kelasnya sendiri.


Setelah itu, Dika melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya sendiri.


Sedangkan Awan, berjalan beberapa meter di belakang temannya itu. Dia tidak memanggil, atau menyapa temannya itu, hingga temannya masuk ke dalam kelasnya.


Awan juga masuk ke dalam kelas, kemudian berjalan menuju ke tempat duduknya sendiri.


Dika, yang baru saja datang dan duduk di kursinya, menoleh ke arah Awan, yang baru saja datang.


Senyuman kebahagiaan, tampak terlihat jelas dari wajahnya Dika sekarang ini.

__ADS_1


Tapi, Awan pura-pura tidak tahu, dan juga tidak mau tahu. Dia tidak mengatakan apa-apa, dan dia juga tidak bertanya apa-apa, pada temannya, si Dika.


__ADS_2