
Perbincangan mereka berdua, antara Adhisti dengan Anjani, masih terlihat seperti biasanya. Mereka berdua, saling melempar ledekan, gara-gara Anjani yang bercerita tentang teman sekampusnya dulu.
"Kalian satu kampus, dan tidak pernah bertegur sapa? tapi dia langsung kenal Kamu saat ketemu di Mall tadi, itu kan aneh Jani. Mungin dia dulu suka sama Kamu ya?" tanya Adhisti, tidak percaya dengan cerita Anjani.
"Bukan begitu Mbak. Kami memang satu kampus, tapi beda jurusan. Dan lagi, dia itu idola kampus, mana berani Aku sok-sok akrab gitu. Aku kan pemalu Mbak, mungkin jika tidak di kasi tahu, ini lho Anjani, mereka juga tidak ada yang mengenalku." Anjani, menjawab pertanyaan dari Adhisti yang terkesan lebih pada interogasi saja.
Adhisti, menggeleng mendengar jawaban dari Anjani. Dia benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anjani. "Aneh ya Kamu Jani. Biasanya, cewek-cewek cantik, kayak Kamu ini, suka sekali pamer kecantikan, apalagi di dunia maya. Tapi, syukurlah kalau Kamu itu tidak sama dengan mereka-mereka."
Anjani, meringis mendengar perkataan dari Adhisti yang menilainya saat ini.
"Mungkin ini memang sifat dasar ku Mbak. Kan tadi di awal, juga sudah Aku bilang kalau Aku ini pemalu, dan tidak banyak berinteraksi dengan orang lain. Suka tidak percaya diri begitu Mbak." Anjani, kembali berkata dengan tersenyum tipis ke arah Adhisti, yang saat ini sedang duduk di depannya.
"Iya sih, tapi Aku tetap merasa jika ini jadinya kayak aneh gitu. Apa Kamu ada trauma pada cowok?" tanya Adhisti tiba-tiba. Dia merasa curiga dengan apa sudah dia dengar dari Anjani. Dia jadi berpikir lain tentang Anjani, istri pertama suaminya, meskipun berbeda status di mata hukum negara.
"Trauma? tidak ada Mbak. Aku hanya takut saja, berada di antara mereka-mereka. Semacam 'fobia' keramaian," jawab Anjani lagi, menjelaskan tentang dirinya sendiri.
"Wah, kalau itu benar, Kamu perlu konsultasi ke dokter Jani," usul Adhisti.
"Gak apa-apa Mbak. Aku hanya berpikir jika tidak percaya diri saja kok. Tapi jika sedang fokus mengajar di Club olahraga, aku biasa saja. Mungkin hanya kurang terbiasa saja."
"Oh iya, kemarin itu, Kamu ke Mall sama mama Amel kan? terus waktu ketemu cowok itu, mama Amel tahu tidak? takutnya dia berpikir macam-macam lho nantinya." Adhisti, merasa cemas jika pertemuan Anjani dengan temannya, diketahui oleh mama mertuanya dan bisa menjadi salah paham nantinya.
"Iya Mbak. Tapi justru mama Amel kenal dengannya. Aku tidak tahu apa hubungan mereka, tapi mereka terlihat membicarakan tentang pekerjaan yang Aku sendiri tidak paham."
Adhisti, mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Anjani.
"Apa mungkin, dia salah satu pegawai kantor mama Amel ya?" tanya Adhisti, mengira-ngira apa pekerjaan cowok itu.
"Tidak tahu juga Mbak. Aku tidak bertanya kemarin."
*****
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kandungan Adhisti semakin membesar. Dia jadi jarang bisa keluar rumah untuk jalan-jalan, apalagi Elang juga semakin sibuk.
Untungnya, Anjani sekarang jadi mau berkunjung ke rumahnya karena merasa kasihan dengannya. Andhisti, terlihat kesusahan melakukan aktivitas, karena perutnya yang besar.
__ADS_1
Mama Amel, juga sudah menambah satu asisten rumah tangga untuk Adhisti. Jadi, dia tidak perlu kerepotan mengurus segala hal, apalagi jika sudah melahirkan nantinya.
Malam ini, Elang ada di rumah Adhisti. Mereka baru saja selesai melakukan aktivitas malam mereka berdua. Peluh masih tersisa, dan keduanya sedang berbaring, dengan saling berpelukan.
Tiba-tiba, Adhisti ingat sesuatu.
"Mas. Jani pernah cerita jika dia itu ketemu cowok yang dulunya teman kuliah. Apa dia pernah cerita pada Mas soal ini?" tanya Adhisti memancing Elang.
"Tidak. Dia tidak pernah bercerita apa-apa soal cowok."
Adhisti, merasa jika Anjani menutup-nutupi pertemuannya dengan cowok lain.
"Beberapa minggu yang lalu, dia di ajak mama Amel ke Mall. Di sana mereka bertemu, tapi kata Anjani, mama Amel juga kenal dengan cowok itu. Malah mereka berdua membicarakan tentang pekerjaan. Apa dia salah satu dari pegawai mama ya Mas? dan Aku lihat, Anjani seperti ada sesuatu begitu saat cerita tentang dia."
Elang, mengerutkan keningnya, mendengar cerita dari istrinya, Adhisti.
"Mama Amel kenal?" tanya Elang sambil terus mengerutkan keningnya.
"Iya, Mas tanya saja sama mama," jawab Adhisti dengan mengubah posisi tidurnya. "Ah, kalau tidur susah Mas buat berbaring. Bisanya hanya miring yang nyaman," keluh Andhisti dengan manja.
Elang, memposisikan tubuh Andhisti, agar bisa berbaring dengan posisi miring lagi, mencari kenyamanan dalam tidurnya.
"Adek, sehat-sehat ya di perut Bunda. Ayah akan jagain kalian berdua. Muachhh..."
Elang, mengecup perut Andhisti, setelah posisi tidurnya lebih baik. Dia juga mengusap-usap perut Andhisti dengan lembut.
"Mas..."
"Ya, ada apa?" tanya Elang, karena Andhisti tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ehmmm... tidak jadi," jawab Andhisti, dengan tidak jelas.
"Apa" tanya Elang mendesak.
"Jika... ini jika ya, tiba-tiba Anjani bertemu dengan orang lain yang dia sukai, terus minta Mas Elang untuk menceraikan dia, apa Mas mau?" tanya Adhisti hati-hati. Dia sedikit takut saat mengucapkan pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Tidak." Elang menjawab pasti.
"Tidak apa?" tanya Adhisti lagi, Dia ingin penjelasan yang lebih.
"Aku tidak akan menceraikan dia."
*****
Sehari kemudian, saat Elang berada di rumah Anjani. Dia bertanya pada Anjani, karena ingin tahu kebenaran, tentang apa yang dikatakan oleh Andhisti, soal cowok yang ditemui di Mall, bersama dengan mama Amel.
"Apa Kamu kemarin-kemarin pernah di ajak mama ke Mall?" tanya Elang sambil mengamati wajah Anjani dengan serius.
"Iya, maaf Mas. Aku tidak sempat minta ijin sama Mas waktu itu," jawab Anjani datar. Dia tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Elang.
"Lalu, Kamu bertemu dengan siapa?" tanya Elang langsung pada intinya.
Anjani, tidak langsung menjawabnya. Dia pikir, baru besok-besok untuk bercerita, tapi ini justru Elang sendiri yang memulai terlebih dahulu.
"Apa mama cerita sama Mas?" Anjani balik bertanya pada suaminya.
"Jawab saja Jani."
Anjani, merasa aneh dengan sikap Elang malam ini. "Kenapa dia tampak marah begitu?" tanya Anjani dalam hati.
"Mas. Jika Jani minta Mas Elang melepas Anjani, Mas mau kan?"
Anjani, justru bertanya tentang sesuatu yang tidak ingin dilakukan oleh Elang.
"Tidak!"
"Nanti, Jani akan minta nomor handphone dia pada mama. Mungkin, mama punya, soalnya mama terlihat akrab kemarin itu. Jani akan kenalkan Mas dengan dia."
Anjani, memang tidak mempunyai nomer handphone milik temannya itu. Dia juga tidak bertanya kemarin. Dia pikir itu tidak penting baginya.
"Tidak perlu. Aku tidak akan pernah melepasmu. Kamu adalah tangung jawabku, dan itu amanah dari ayahmu."
__ADS_1
Anjani, tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu Dia tidak mau, Elang terus menerus terbebani dengan dirinya dan menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang mereka alami dulu.