Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sebuah Keinginan


__ADS_3

Ara, membicarakan tentang permintaan ayah dan bundanya pada Anggi. Pada malam hari, di saat mereka selesai makan malam.


"Dek. Kamu ingin melanjutkan sekolah di mana?"


"Apa ingin di sekolah yayasan yang sama juga?" tanya Ara lagi, melanjutkan pertanyaannya yang tadi.


Yang di maksud dengan sekolah yayasan itu adalah, sekolah yang sama seperti dia dan Awan bersekolah dulunya. Termasuk Nanda, Mita dan juga Dika.


"Kenapa memangnya Kak?" Anggi balik bertanya pada kakaknya, Ara.


Awan, hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dan belum memberikan tanggapan apapun.


Sepertinya, dia membiarkan kedua bersaudara ini untuk saling berkomunikasi, secara dewasa. Tanpa adanya campur tangan dari pihak luar. Meskipun sebenarnya dia sudah bukan orang luar lagi. Karena dia adalah suaminya Ara, yang otomatis menjadikan dirinya juga kakaknya Anggi.


Anggi juga tidak pernah menilai bahwa, Awan adalah orang lain. Dia sudah menganggapnya sebagai seorang kakak sendiri sedari dulu.


Tapi karena ini juga menyangkut kepentingan dan masa depan Anggi sendiri, Awan membiarkan mereka berdua untuk membicarakan hal ini.


Dia hanya sebatas pendengar, dan baru akan bicara nanti. Jika memang dia dimintai pertimbangan.


"Anggi mau sekolah di Bogor saja."


Awan, yang sedang tidak fokus pada pembicaraan mereka berdua, cukup terkejut dengan keputusan yang diambil oleh adik iparnya itu.


"Kamu yakin Dek?" tanya Ara, yang juga sama terkejutnya.


Tapi ternyata Anggi mengangguk pasti. Dia sepertinya sudah membuat satu keputusan untuk masa depannya di kemudian hari.


"Tapi di Bogor, tempat Ayah tinggal masih di kampung lho Dek. Jalan ke kecamatan yang ada SMP, tidak semulus dan selebar jalan di kompleks perumahan kita ini juga. Kamu yakin?"


Anggi bertanya lagi, meragukan keputusan yang diambil oleh adiknya itu.


Tapi bukannya memikirkan lagi untuk beberapa saat, Anggi malah mengangguk sekali lagi. Dia tidak memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh kakaknya, jika memang kenyataannya seperti itu.


Ara menghela nafas panjang, kemudian melihat ke arah suaminya. Dia seakan-akan sedang mencari bantuan. Supaya Awan bisa membuat Anggi tetap berada di Jakarta saja.


Awan yang mengerti keinginan istrinya itu, segera mengeluarkan suara. Untuk mempengaruhi keputusan yang diambil oleh adik iparnya itu.


"Emhhh... Kamu udah gak tertarik sekolah di yayasan tempat Kakak sekolah? Itu bagus banget lho," bujuk Awan, yang sedang berusaha untuk menyakinkan Anggi. Supaya tetap meneruskan sekolah di Jakarta.


Anggi tersenyum senang mendengar dan juga mengetahui bahwa, kedua kakaknya ini memang sangat menyayangi dirinya.

__ADS_1


Tapi keputusan yang dia miliki ini, juga sudah dia pikirkan matang-matang. Dia ingin bersama ayah dan bundanya. Dan menguburkannya semua impian yang dulu pernah dia miliki.


Yaitu bisa bersekolah di sekolah elit, dan mengejar mimpi menjadi seorang YouTubers terkenal.


"Emhhh... tapi ini, keponakan Kamu juga pengen dekat sama tantenya bagaimana?" Ara masih mencoba untuk mencari cara, agar adiknya itu tetap mau tinggal bersama dengannya di Jakarta.


"Ya sudah. Saat dia sudah lahir nanti, taruh di Bogor biar di rawat Bunda. Kan deket sana Anggi. bahkan sama ayah juga."


Jawaban yang diberikan oleh Anggi, di luar dugaan Ara dan Awan. Sehingga mereka berdua saling pandang satu sama lain. Karena tidak pernah menyangka jika, jawaban seperti itu yang dipikirkan oleh Anggi secara spontan.


"Adek Ihsss... bukan begitu maksudnya Kakak."


Tapi sepertinya Anggi tidak mau dipengaruhi oleh kakaknya, dan juga kakak iparnya. Dia punya pemikiran sendiri. Sehingga memutuskan untuk ikut bersama dengan ayah dan bundanya di Bogor.


"Ya sudah kalau begitu. Besok, saat Kamu udah tidak ada kegiatan di sekolah. Kita ke Bogor ya! Kakak juga udah kangen dengan ayah dan bunda juga "


Kali ini, Anggi mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ara.


Begitu juga dengan Awan. Dia punya rencana untuk ayah mertuanya itu. Agar mau berobat ke dokter. Bahkan jika bisa, Awan akan memberikan penawaran untuk mertuanya itu, berobat ke luar negeri.


Mungkin dengan begitu, mereka semua bisa kembali berkumpul di Jakarta. Sama seperti dulu. Sehingga Anggi juga masih bisa meraih keinginan dan cita-citanya.


Awan sudah memberikan jalan dan rekomendasi untuk usahanya Ahmed. Dengan memperkenalkan Ahmed dengan orang-orang yang memang ahli nya.


*****


Hati ini, Awan dan Ara berencana untuk datang ke rumah Dika.


Mereka berdua, ingin melihat perkembangan dan keadaan temannya itu. Meskipun perawat dan penjaga di rumah tersebut sudah sering memberikan kabar dan laporan.


Tapi begitulah Awan dan Ara. Mereka akan tetap menyambangi secara langsung, ke rumah Dika dua minggu sekali. Karena mereka berdua juga ingin memberikan stimulasi ingatan pada Dika. Tentang cerita-cerita mereka, saat masih sekolah di tempat yang sama dulu.


Di rumah Dika, mereka akan bertemu juga dengan Nanda dan Mita.


Karena jika Nanda dan Mita sedang ada waktu, mereka ikut serta menyambangi rumah Dika juga. Menemani Awan dan Ara.


Seperti hari ini. Mereka berempat akan bertemu di rumah Dika. Dan pada saat mobil Awan masuk ke dalam halaman rumah tersebut, motor sport miliknya Nanda, sudah terparkir di depan rumah.


Dan yang empunya motor, duduk bersama Mita di teras depan. Dengan suguhan yang masih utuh. Itu artinya, Nanda dan Mita belum lama sampai di rumah ini.


"Hai Mita, kak Nanda!"

__ADS_1


Ara menyapa keduanya, begitu dia turun dari mobil.


"Hai..."


Mita bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekat ke arah Ara. Dia memeluk sahabatnya itu, kemudian bertanya tentang kabarnya Ara. Dan juga kandungan Ara.


Jika kedua cewek bertemu, mereka akan punya banyak cerita. Tidak akan ada kata habis, untuk sebuah bahan pembicaraan.


Awan menyapa Nanda. Begitu juga sebaliknya. Mereka pun memperhatikan bagaimana Ara dan Mita, yang sedang asyik berbincang-bincang.


"Bagaimana Nda. lancar kan usahanya?"


"Ya begitulah. Cuma usaha kecil aja kok," jawab Nanda dengan tersenyum.


"Hahaha... usaha kecil juga bagus. Punya sendiri ini. Yang penting sabar, punya strategi yang tepat dan rencana panjang ke depannya juga."


"Ya Kak. Nanda usahakan, untuk tetap fokus pada usaha ini. Semua saja, tetap bisa berjalan lancar."


"Aamiin... aamiin..."


Awan mengamini harapan dan keinginan Nanda, yang baru saja membuka usaha percetakan.


Nanda tidak mau ikut kerja di perusahaan milik orang tuanya Mita, ataupun di PT SAMUDERA GROUP.


Dia ingin memiliki usaha sendiri. Dengan kemampuan yang dia miliki juga.


Dengan begitu, Nanda akan punya kebanggaan tersendiri. Karena dia bisa berdiri sendiri, dan tidak bergantung pada kekayaan calon mertuanya.


Untungnya, Mita juga mendukung keinginannya itu. Mita tidak protes atau malu. Meskipun calon suaminya hanya pemilik percetakan kecil yang baru saja berdiri.


"Lho Den Awan, mbak Ara udah sampai. Mari-mari! Mas Dika sedang di latih untuk mengengam bola, atau benda-benda yang lain."


Pak supir, yang sekarang ini sudah menjadi penjaga di rumah Dika. Menyapa dan memberitahu tentang kegiatan Dika saat ini.


"Iya Pak. Kami baru saja datang kok."


"Sebentar Saya kasih tahu sama suster," pamit pak supir, kemudian masuk ke dalam rumah.


Suster akan membawa Dika keluar, untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan teman-temannya di teras depan rumah.


Meskipun tidak ada yang bisa dilakukan oleh Dika. Tapi mereka semua berharap, agar apa yang mereka lakukan ini bisa membuka memori ingatan Dika di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2