Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mencari Jalan Keluar


__ADS_3

Satu tahun kemudian, pengobatan dan terapi Abimanyu yang sudah menghabiskan banyak uang, harus juga melihat jika tabungan di bank sudah habis terkuras untuk semua biaya yang dikeluarkan.


Anjani, sudah tidak lagi memiliki simpanan tabungan yang lain. Dia hanya mengandalkan laba dari kafe rumah miliknya dan juga uang kontrakan rumahnya sendiri.


Mobil milik Abimanyu, juga sudah dijual beberapa bulan yang lalu. Jadi, otomatis semua sudah menipis sesuai dengan lamanya Abimanyu lumpuh, dan membutuhkan biaya yang cukup besar.


Ayah Edi dan ibu Sofie, juga sudah banyak membantu mereka. Apalagi semua kebutuhan sehari-hari mereka, Sekar dan Juna yang menanggungnya. Yasmin, juga sering membantu mereka.


Sekarang, Anjani butuh uang yang banyak untuk operasi tulang belakang Abimanyu, untuk membuat dirinya bisa berdiri dengan baik dan bisa lebih tegak, sehingga tidak perlu menggunakan kursi roda. Dan operasi itu, dijadwalkan untuk bulan depan nanti.


Apalagi sekarang ini, Abimanyu sudah bisa mengerakkan kaki dan tangannya sendiri, seiring dengan perkembangan dan telatennya dia berlatih bersama dengan Anjani dan juga dokter yang memberikan terapi di rumah sakit.


Ini sudah menjadi kemajuan yang sangat berarti bagi Anjani dan Abimanyu sendiri. Dia sudah bisa makan dan minum sendiri, tanpa harus di suapi dan dibantu oleh Anjani lagi.


Buah kesabaran mereka dan juga pengorbanan yang sangat berarti. Sehingga ibu Sofie pernah berkata, jika dia menyesali perbuatannya, yang dulu sempat ingin mencarikan istri untuk anaknya, Abimanyu, meskipun saat itu Abimanyu sudah menikah dengan Anjani.


Ibu Sofie benar-benar merasa bersyukur, karena Anjani tetap mau bertahan dalam keadaan seperti saat ini. Di mana Abimanyu yang tidak bisa melakukan apa-apa dan juga tidak berkerja, sehingga keuangan mereka menjadi sangat memprihatinkan.


"Apa Aku jual saja ya rumahku itu. Hasilnya pasti lumayan banyak. Kan rumah itu besar, ada di perumahan yang bebas bankir juga," kata Anjani seorang diri, di saat dia bingung dengan dana yang harus di persiapkan untuk biaya operasi tersebut.


"Tapi jika Aku langsung jual tanpa bilang dulu sama mas Abi, dia bisa marah dan tidak mau dioperasi. Aku harus bagaimana ya ini?" tanya Anjani lagi, pada dirinya sendiri.


"Sedang mikirin apa Sayang?" tanya Abimanyu, saat melihat Anjani melamun di dekat jendela kamar.


"Eh, tidak ada kok Mas. Cuma ini... emhhh, Jani mau ijin. Boleh tidak rumah Jani yang saat ini dikontrakin itu dijual. Ini bisa buat biaya operasi Mas Abi bulan depan," jawab Anjani terbata.


Dia merasa takut, jika Abimanyu akan menolak dan berakhir menjadi tidak mau dioperasi.


"Rumah Kamu yang dari Elang?" tanya Abimanyu memastikan.


Anjani mengangguk mengiyakan. Dia tidak tahu, harus bagaimana membuat alasan. Ini karena dia tidak bisa memilih kata yang lebih baik untuk dijadikan sebagai alasan, sehingga membuat Abimanyu tidak merasa tersinggung.


"Jangan rumah itu. Itu milikmu pribadi. Aku tidak mau merepotkan Kamu lebih banyak lagi. Kamu sudah banyak berkorban untukku. Lebih baik, rumah kita saja yang dijual. Meskipun lebih kecil, tapi hasilnya pasti cukup untuk menutup biaya operasi yang akan Aku lakukan bulan depan," kata Abimanyu memberikan saran.

__ADS_1


"Tapi Mas, itu..."


Anjani tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat Abimanyu yang mengeleng beberapa kali.


"Tidak Jani. Aku sudah terlalu banyak merepotkan dirimu. Jangan lagi dengan hartamu. Jika Kita masih punya yang milik kita berdua, jangan Kamu bawa-bawa milikmu pribadi. Jangan membantah."


Anjani tidak lagi memiliki keinginan untuk menjawab. Dia tahu, jika suaminya itu sedang tidak ingin merendahkan harga dirinya. Ini berhubungan dengan sebuah harga diri sebagai laki-laki. Dan Abimanyu, tidak mau mengantungkan dirinya pada harta istrinya, karena itu dimiliki Anjani, jauh sebelum menjadi istrinya.


Akhirnya, Anjani menghubungi pihak pemasaran perumahan, dan juga memasang iklan, untuk menawarkan rumah mereka itu.


Ayah Edi dan ibu Sofie, tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka berdua hanya bisa memberikan ijinnya, karena mereka berpikir, jika semua ini untuk kesembuhan anaknya juga.


"Maaf ya Jani. Ibu tidak bisa membantu banyak. Mungkin, untuk biaya sehari-hari selama operasi selesai, kami bisa bantu nanti."


Anjani mengangguk, sambil tersenyum penuh haru, mendengar perkataan ibu mertuanya itu.


"Terima kasih banyak Bu," kata Anjani, sambil memeluk ibu Sofie.


Sekar baru saja hamil, sehingga tidak bisa banyak ikut membantu. Apalagi, dia juga sudah berhenti dari tempat kerjanya, karena ngidamnya termasuk parah, sehingga dua tidak busa beraktivitas seperti biasanya dengan bebas.


Sehari-harinya, Sekar hanya busa berbaring di tempat tidur, dan beristirahat.


*****


Elang, sudah tidak lagi berada di Batam. Dia menetap di Jakarta, dan tinggal di rumah mamanya, mama Amel.


Awan sudah sekolah, dan ada pengurus anak yang menjaganya.


Elang, bekerja di perusahaan milik mamanya, dan kembali belajar dari awal. Ini karena semua tidak sama seperti perusahaannya yang dulu.


Perusahaan mama Amel, jauh lebih besar dan tidak hanya mengurus bidang produksi saja. Tapi mencakup semua aspek dari sebuah usaha.


Mama Amel tentu merasa sangat senang, karena akhirnya anaknya itu, bisa kembali sadar, dan tidak lagi bersedih hati.

__ADS_1


"Apa Kamu ingin memegang kafe milikmu lagi? atau perusahaan garmen yang dulu?" tanya mana Amel memberikan tawaran pada Elang.


"Tidak Ma. Elang mau jadi pegawai biasa saja.," jawab Elang sambil tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari mamanya itu.


"Apa Kamu bisa ikut belajar jadi tim audit? ini sudah hampir satu setengah tahunan, Abimanyu tinggalkan. Ini karena dia mengalami kecelakaan yang sangat parah. Bahkan, dia sempat amnesia juga."


Elang, mengerutkan keningnya mendengar perkataan mamanya.


"Abimanyu kecelakaan?" tanya Elang memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Iya. Dia mengalami kecelakaan saat pulang dari kantor. Sekarang dia lumpuh dan tidak busa beraktivitas seperti biasanya. Mama sempat menengok ke rumah beberapa kali. Tapi saat baru saja kecelakaan, mama memang tidak sempat, karena mengurus Kamu dan Adhisti di Batam waktu itu," jawab mama Amel menjelaskan pada anaknya.


"Kemarin, Mama dapat kabar dari ibunya Abimanyu, jika bulan depan, Abimanyu akan menjalani operasi tulang belakang, supaya bisa tegak saat berdiri. Anjani sangat telaten merawat Abimanyu. Itulah sebabnya, Abimanyu bisa dengan cepat sembuh dari lumpuhnya," kata mama Amel lagi, dengan sangat antusias menceritakan tentang keadaan Anjani yang berbahagia merawat suaminya.


Mama Amel tidak melihat, bagaimana perubahan wajah anaknya, Elang, yang sudah menjadi pucat pasi.


Elang merasa sangat bersalah, karena telah menyia-nyiakan Anjani, sewaktu masih menjadi istrinya dulu.


"Ma. Elang... Elang ingin menjenguk Abimanyu. Apa Mama bisa menemani Elang ke rumahnya?" tanya Elang dengan ragu.


Mama Amel mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari anaknya, Elang.


"Kamu yakin mau ke rumah Abimanyu? Ini murni untuk menjenguk Abimanyu kan?" tanya mama Amel menyelidik. Dia seakan-akan tidak percaya, jika Elang hanya ingin menjenguk Abimanyu saja.


Mama Amel berpikir bahwa, Elang sebenarnya ingin bertemu dengan Anjani. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, yang dulu belum sempat dia katakan.


"Iya Ma. Elang ingin menjenguk Abimanyu. Walau bagaimanapun, Abimanyu juga masih berstatus sebagai karyawan Mama kan? itu tidak aneh, jika kita datang menjenguk," jawab Elang dengan tenang dan tidak lagi berwajah pucat seperti tadi.


Mama Amel akhirnya menyetujui permintaan anaknya kali ini. Dia akan mengajak Elang, untuk datang menjenguk Abimanyu ke rumahnya.


Ini kebetulan juga, karena mama Amel ingin memberikan bantuan kepada Anjani dan Abimanyu, untuk biaya operasinya bulan depan.


Mama Amel berharap, Elang bisa mendapatkan contoh sebuah kehidupan berkeluarga yang bahagia dan selalu bersyukur, seperti yang dilakukan oleh keluarga kecil Abimanyu selama ini.

__ADS_1


__ADS_2