Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Belum Terbiasa


__ADS_3

Honeymoon yang dijanjikan oleh Abimanyu untuk Anjani, terlaksana saat resepsi pernikahan mereka selesai. Mereka berdua, langsung menuju ke bandara dan tidak pulang terlebih dahulu, setelah berganti pakaian di kamar yang tersedia di gedung, tempat mereka mengadakan pesta resepsi pernikahan.


"Tidak apa-apa, kita langsung pergi tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu Mas?" tanya Anjani, saat berada di dalam taksi, yang sudah mereka pesan terlebih dahulu tadi.


"Tidak apa-apa. Aku sudah meminta ijin pada ayah dan ibu. Awalnya, ibu keberatan. Kuta diminta menginap dulu di rumah, barang dua atau tiga hari. Tapi ayah, mengijinkan dan memberitahu pada ibu, bahwa kita butuh waktu berdua. Biar mereka juga cepat dapat cucu, kata ayah."


Anjani, mencubit lengan Abimanyu, yang sekarang sudah menjadi suaminya, dengan gemas, karena menyingung soal cucu. Itu artinya, mereka berdua harus...


"Iya, kita harus lembur, biar mereka tidak merasa kecewa."


Anjani kaget, karena perkataan Abimanyu selanjutnya, seakan-akan bisa membaca pikirannya saat ini.


"Mas..."


"Kenapa?" tanya Abimanyu, memotong kalimat Anjani, yang belum selesai.


Anjani, menggeleng sambil tersenyum malu. Dia tidak berani membahas tentang sesuatu yang sensitif.


Abimanyu, memegang tangan Anjani dan meremasnya pelan. Dia tahu, apa yang dirasakan oleh Anjani saat ini.


"Tidak apa-apa. Aku gak akan maksa jika Kamu belum siap," kata Abimanyu, menenangkan hati istrinya, Anjani Ashita.


Anjani menunduk. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dia katakan, karena Abimanyu ternyata sudah tahu, apa yang dia takuti, meskipun tanpa dia bilang.


"Jani. Aku adalah suami Kamu sekarang. Jadi, jika ada sesuatu yang tidak terasa nyaman, bicarakan, jangan hanya Kamu pendam sendiri. Ya?"


Anjani mendongak. Dia menatap wajah Abimanyu, yang sekarang ini sudah menjadi suaminya itu, dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih Mas. Aku tahu bahwa, Aku harus mengatasi ketakutan yang ada pada diriku sendiri. Pernikahan yang dulu terjadi, tanpa Aku ketahui prosesnya, adalah mimpi dan apa yang Aku jalani selama setahun lebih, usia pernikahanku itu, hanya fatamorgana saja. Aku tidak ingin, itu terjadi lagi di dalam kehidupanku, bersamamu. Maaf, jika Aku harus mengatakan semua ini. Aku harap Mas Abi, memahaminya."


Abimanyu, memeluk istrinya dari arah samping. Dia tahu, pernikahan Anjani bersama dengan Elang kemarin itu, tidak sehat sama sekali. Tidak seperti yang di lihat oleh orang-orang pada umumnya. Itu membuat rasa takut yang ada pada hati Anjani, tanpa dia sadari sendiri.

__ADS_1


*****


Angin yang berhembus melewati jendela kamar hotel, terasa sangat nyaman. Membuat hati terasa damai dan betah berlama-lama di dalam kamar tersebut.


Hotel yang di pilih Abimanyu, berada di atas perbukitan dengan view yang menghadap ke pantai, dengan air yang jernih dan pasir putihnya yang seperti permadani.


Begitu memasuki kamar, Anjani langsung berdecak kagum dengan panorama yang diperlihatkan dari luar jendela kamar hotel, yang akan mereka tinggali selama dua minggu ke depan.


"Mas. Bagus banget sih pemandangannya. Jani pasti betah ini," kata Anjani, sambil terus melihat ke arah luar jendela kamar.


"Iya pastinya betah dong, apalagi ada Aku juga kan yang menemani?" sahut Abimanyu, dengan memeluk Anjani dari belakang.


Anjani diam terpaku di tempatnya. Dia, memang belum terbiasa mendapatkan perlakuan khusus sebagai istri, apalagi dia juga tidak ada proses pacar-pacaran juga sebelumnya, dengan Abimanyu kemarin-kemarin. Jadi, dia masih merasa sungkan saat mendapat pelukan atau ciuman dari suaminya sendiri. Abimanyu.


Abimanyu, masih memeluk Anjani dari arah belakang. Mereka berdua, menikmati kebersamaan mereka dengan hati yang berbunga secara perlahan-lahan.


Saat Abimanyu mencium belakang leher, Anjani terkesima dan mematung. Darahnya seakan berhenti dan berdesir hanya pada satu arah. Dia tidak tahu, apa yang dia alami ini.


Suara Anjani tercekat, tidak bisa meneruskan kalimatnya. Sedangkan Abimanyu tidak menggubris panggilan dari Anjani. Dia masih terus menciumi area leher belakang Anjani. sampai puas.


Entah berapa lama, mereka berdua dalam keadaan seperti ini. Anjani yang masih mematung, dan Abimanyu yang sudah selesai dengan kegiatannya, menciumi leher Anjani.


"Mandilah terlebih dahulu, setelah itu kita akan pergi ke luar, mencari makanan."


Anjani belum berani menoleh, hingga Abimanyu memutar tubuhnya, agar menghadap kepadanya.


"Sayang. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Abimanyu khawatir, dengan keadaan istrinya itu. Dia takut, jika tindakannya tadi, menyakiti perasaan Anjani yang halus.


"Eng... enggak Mas. Jani... Jani yang belum bisa, maksudnya belum terbiasa dengan keadaan kita ini. Maaf ya Mas," kata Anjani dengan terbata-bata.


"Iya Sayang. Tidak apa-apa. Aku yang terlalu cepat-cepat dan tidak bisa mengendalikan diri. Nanti, kita juga akan terbiasa kok. Maka dari itu, Aku ajak Kamu langsung ke sini, karena yakin jika di rumah, Kamu malah semakin tidak nyaman dan kita jadi tidak bisa..."

__ADS_1


Anjani segera berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi, sebelum Abimanyu menyelesaikan kalimatnya.


Abimanyu terkekeh geli, melihat tingkah istrinya itu. Dia yakin, jika Anjani malu dan wajahnya jadi memerah. Karena tidak ingin ketahuan, jadi Anjani segera berlalu dan pergi untuk mandi, sesuai dengan apa yang tadi disarankan oleh dirinya.


"Jani, Jani..."


Abimanyu, menggeleng dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Menunggu Anjani selesai mandi dan dia juga akan mandi terlebih dahulu, sebelum keluar dan berjalan-jalan sambil mencari makanan untuk mereka malam ini.


*****


"Mas. Mas Abi, bangun Mas."


Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang memangil.


Abimanyu membuka matanya, ternyata Anjani yang ada di depan mata, membangunkan dirinya. Dia tertidur, saat menunggu Anjani yang sedang mandi tadi.


"Maaf Mas. Aku kelamaan, sampai-sampai Mas ketiduran," kata Jani, tidak enak hati.


"Bukan. Memang Aku yang sudah kecapekan. Kamu tahu sendiri, kita ini tidak ada istirahatnya dari kemarin-kemarin. Syukurlah, semua bisa berjalan dengan lancar dan kita bisa istirahat di sini, sekalian menikmati kebersamaan berdua, tanpa ada yang menggangu kita juga."


Anjani, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar perkataan suaminya itu. Dia mau bangkit dari tempat duduknya di tepi ranjang, tapi tangannya sudah di tarik oleh Abimanyu, hingga tubuhnya menimpa tubuh suaminya itu.


"Mas!" teriak Anjani kaget.


Berbeda dengan Anjani yang berteriak kaget, Abimanyu justru tertawa senang, karena bisa menguasai tubuh istrinya itu.


"Hahaha...kita main sebentar yuk?" ajak Abimanyu, sambil menaik turunkan alisnya.


"Ihhh, tadi katanya di suruh mandi, sekarang beda lagi. Nanti saja, kita selesai jalan-jalan dan cari makan. Sudah lapar nih," rengek Anjani, supaya Abimanyu menuruti keinginannya.


"Oh begitu? siap Sayangku..." sahut Abimanyu cepat, kemudian meloncat turun dari tempat tidur, dan bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Anjani menggeleng sambil tersenyum-senyum, melihat kelakuan suaminya itu. Dia merasa sangat beruntung, mendapatkan Abimanyu yang sabar dan mengerti keadaannya saat ini


__ADS_2