
Pulang sekolah hari pertama masuk, Ara sudah mulai dijemput oleh tukang ojek. Ini karena ayahnya, Abimanyu, tidak bisa libur kerja dan tetap masuk, karena ada beberapa hal penting, yang harus dia selesaikan hari ini juga.
Sedangkan bundanya, Anjani, sudah repot dengan adiknya, Anggi, yang juga sudah mulai bersekolah hari ini. Bahkan, bundanya juga masih membantu tantenya, Sekar, untuk menjaga anaknya, Miko.
Tante Sekar, meskipun keadaannya saat ini sudah lebih baik dari pada awal-awal ngidam, tapi tetap saja, tidak berani untuk melakukan banyak kegiatan dan aktivitas. Sedangkan untuk menjaga Miko, anaknya Sekar itu, perlu tenaga dan pengawasan yang ekstra, dengan semua tingkahnya yang aktif.
Ara baru saja keluar gerbang sekolah, bersama dengan teman-temannya, dengan bercanda ria, sambil tertawa-tawa senang.
"Neng Ara!"
Ara menoleh, saat namanya dipanggil seseorang. Dan di saat Ara menoleh, pak ojek yang kemarin-kemarin sudah diperkenalkan pada Ara, sudah ada di depan gerbang sekolah.
"Eh, Aku duluan ya. Itu sudah dijemput ," pamit Ara, pada teman-temannya yang baru saja dia kenal tadi.
"Wah, ontime juga jemputan Kamu Ra," kata salah satu temannya, sambil mengangguk mendengar Ara yang tadi berpamitan.
"Hati Ra!" ucap temannya yang lain.
"Aciehhh... Ara udah ada yang jemput!" ledek teman yang lainnya lagi.
Ara hanya tersenyum mendengar suara-suara komentar dari teman-temannya. Dia tidak marah ataupun menanggapi, perkataan dan juga ledekan mereka. Karena semua itu hanya sebuah candaan belaka.
Setelah Ara naik ke atas boncengan motor Pak ojek, tak lama mereka, Ara dan Pak ojek, sudah meninggalkan sekolah. Mereka menuju ke arah rumah Ara, yang tentunya sudah sangat di hafal oleh Pak ojek.
Dari halaman sekolah, Awan dan temannya, melihat semua yang terjadi di luar gerbang sekolah.
"Bro. Itu tadi kan adik SMP yang bikin heboh kelas, waktu kita masuk ke ruang kelas yang salah?" tanya teman Awan memastikan.
"Hem," gumam Awan tidak jelas.
"Ihsss... Bokap-nya tukang ojek? anaknya super keren, dengan kecerdasan dan keberaniannya? ahhh, salut Gue!" ucap temannya Awan, dengan mengeleng tidak percaya.
Awan tidak menyahut. Dia hanya diam dengan pikirannya sendiri.
"Woi! dengerin gak sih?"
Temannya Awan, merasa jika Awan sedang melamun dan tidak mendengarkan perkataannya yang tadi.
__ADS_1
"Apa sih, berisik tau!" sahut Awan kesal, karena temannya itu mengucapkan kalimatnya, di dekat telinga Awan.
"Hehehe.. abis Loe gak denger Gue ngomong," ujar temannya berasalan.
"Tau ahhh," ucap Awan sambil berlalu. Dia kembali berjalan, menuju ke luar gerbang sekolah, untuk pergi ke warung 'Pak Lek' yang ada di dekat sekolah mereka.
Warung makan dengan banner 'Pak Lek' itu biasa di pakai oleh Awan dan teman-temannya, untuk nongkrong bareng, sambil makan atau hanya sekedar minum es teh atau kopi. Dan Awan, bersama dengan beberapa temannya, juga menitipkan sepeda motor mereka di warung tersebut. Ini mereka lakukan karena, di sekolah tersebut semua siswa, dilarang membawa kendaraan sendiri, sebelum mempunyai SIM, yang resmi dari pihak kepolisian.
Teman Awan, melangkah juga mengikuti langkah Awan. Dia tampak tersungut-sungut, karena merasa bahwa, Awan sedang tidak mau menanggapi perkataannya, soal anak SMP, yang baru saja masuk hari ini.
'Aku seperti tidak asing dengan gadis kecil itu. Tapi siapa ya?' tanya Awan dalam hati.
Karena sebenarnya Awan merasa, jika dia mengenal Ara, meskipun dia sendiri tidak ingat dan tidak yakin juga dengan perasaannya sendiri.
Tapi karena tidak mau memikirkan hal itu lebih jauh, Awan akhirnya mengeleng beberapa kali, membuang semua pikiran dan bayangan yang tidak bisa kenali, dalam ingatannya yang hanya samar-samar.
"Wan. Woi!"
Teman Awan berteriak lagi. Dia tertinggal jauh, dan Awan sudah hampir sampai di warung.
"Loe kayak cewek aja sih hari ini. Teriak-teriak Mulu dari tadi. Lagi dapat ya?" tanya Awan, dengan sedikit kesal karena ulah temannya itu.
"Lama-lama Gue takut deket Loe, gak normal!"
"Hahaha...!"
Teman Awan justru tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan Awan, yang seakan-akan meragukan dirinya.
"Gue mau bikin perhitungan sama tuh anak kecil. Dia udah bikin malu Gue di depan kelasnya, dan pak guru juga. Tapi gimana caranya?"
Tiba-tiba, temannya Awan berkata bahwa dia merasa sangat tidak senang, dengan semua yang sudah terjadi tadi pagi. Dia merasa jika dirinya dipermalukan oleh Ara.
Anak kecil, yang baru saja datang ke wilayah sekolahnya ini. Dan dengan keberaniannya tadi, sudah membuat dirinya tidak berkutik dan harus mengakui kesalahannya, yang sebenarnya tidak dia sengaja.
"Mau apa Loe?" tanya Awan cepat. Dia merasa jika urusan mereka akan panjang dikemudian hari, jika sampai temannya itu melanjutkan rencananya, untuk membalas dendam pada murid baru tersebut.
"Gue mau deketin dia. Lama-lama, dia pasti ada rasa ke Gue, secara, Gue ini kan ganteng, populer juga di sekolah, meskipun tidak sepopuler Loe, tapi jika dia Aku pepet terus menerus, pastinya lama-lama klepek-klepek juga. Hahaha... anak kecil ini, pasti bekum punya pikiran dan pengalaman tentang pancaran. Pasti asyik jika ngerjain dia begitu."
__ADS_1
Awan mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh temannya itu.
"Maksudnya, Loe mau deketin dia, terus Loe pacarin dengan cuma main-main karena balas dendam?" tanya Awan menyakinkan diri bahwa, pikirannya tentang semua rencana temannya itu tidak salah.
"Nah, betul!"
Teman Awan, tersenyum sendiri dengan semua bayangan yang dia rencanakan.
Tapi tidak dengan Awan. Dia tidak yakin, jika rencana temannya itu akan berhasil.
"Loe gak mikir, bagaimana mungkin dia bisa seberani tadi, jika dia tidak ada basic bela diri atau semacamnya, jika ada sesuatu yang mengancam keselamatan dirinya. Apa Kamu juga tidak lihat, siapa yang tadi menjemputnya?"
Awan mencoba mengingatkan temannya itu.
"Tukang ojek tadi?" tanya temannya Awan, meremehkan.
"Loe gak liat, jika perawakan bokap-nya itu gede besar? bonyok Loe kalau mau lawan!"
Teman Awan tampak diam dan berpikir. Tapi tak lama kemudian, dia tampak mengeleng dan tersenyum sendiri. Mungkin dia ada rencana lain, yang sudah ada di dalam otaknya.
"Tenang aja. Gue pasti bisa menaklukkan dia. Hahaha..." kata teman Awan dengan percaya diri.
"Serah Loe dah. Yang penting, Gue udah ingetin Loe ya! Jika sampai terjadi sesuatu nanti, jangan cari-cari Gue. Karena masalah dan rencana Loe ini, Gue gak ikut-ikutan."
Temannya Awan mengangguk setuju, dengan perkataan Awan yang tidak ikut campur dalam urusan dan rencana yang dia buat untuk anak kecil yang sudah membuatnya merasa tertantang.
"Pak Lek, es kopi ya. Biasa."
Awan memesan es kopi, yang sudah biasa dia pesan dan sangat di hafal oleh penjualnya, Pak Lek.
"Gue es teh aja Pak Lek!" Ucap temannya Awan, ikut memesan minuman.
"Gak makan sekalian Jang?" tanya Pak Lek menawari.
"Besok-besok aja Pak Lek. Ini juga pulangnya belum normal. Pelajaran belum full, jadi belum lapar juga. Hehehe..."
Awan menjawab, dengan alasan yang sebenarnya. Karena hari ini, memang belum ada pelajaran yang diberikan oleh para guru-guru.
__ADS_1
Acara lebih fokus pada pengenalan dan penyambutan siswa siswi baru, baik untuk tingkat SMP ataupun SMA.
Mungkin, baru besok pagi, pelajaran dimulai dengan normal. Karena di sekolah tersebut, tidak ada waktu yang disia-siakan begitu saja.