Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kekacauan Yang Terjadi


__ADS_3

"Bun! Bunda!"


Abimanyu berteriak memanggil istrinya dari luar rumah. Karena melihat keadaan security kompleks, yang dalam keadaan terluka parah.


"Yah, bagaimana ini?" tanya Nanda memastikan, apa yang harus dia lakukan untuk saat ini.


"Kamu langsung ke rumah eyang aja! Biar ini ayah urus. Cepet Nda!"


Nanda hanya mengangguk saja, kemudian berlari menuju ke arah jalan. Dia akan pergi ke rumah eyangnya, ayah Edi, untuk mencari bantuan.


Tapi ternyata Nanda tidak langsung pergi ke rumah eyangnya. Dia terlebih dahulu mengetuk pintu rumah para tetangga, yang ada di dekat rumahnya Abimanyu.


Tok tok tok!


"Om, tolong Om!"


Tok tok tok!


"Om... Tante. Tolong!"


Clek!


Pintu terbuka. Tetangga Abimanyu bingung dengan kedatangan Nanda. Apalagi, wajahnya terlihat jelas jika dalam keadaan panik.


"Ada apa?" tanya tetangga.


Nanda dengan terbata-bata mengatakan apa yang terjadi di rumah ayahnya, Abimanyu.


"Om. Tolong Om Abimanyu. Tolong Om ya. Cepat ke rumah om Abi ya Om!"


Tanpa menunggu jawaban dari tetangga tersebut, Nanda segera pamit dan berlari ke jalan lagi.


Dia melakukan hal yang sama seperti tadi. Meminta pertolongan pada tetangga Abimanyu juga. Karena dengan begitu, security maupun Abimanyu, akan lebih cepat mendapatkan pertolongan. Dibandingkan jika dia harus ke rumah eyangnya terlebih dahulu. Karena rumah eyangnya, ada di beberapa gang sebelah.


Itu akan membutuh waktu yang lama. Jadi lebih mencari bantuan yang terdekat dengan lokasi kejadian.


Akhirnya, Nanda sampai juga di rumah eyangnya. Setelah tadi dia berhasil meminta bantuan pada tiga tetangga terdekat, dengan rumahnya Abimanyu.


Nanda juga berlari, supaya lebih cepat sampai di rumah ini. Rumahnya ayah Edi.


Tet tet tet!


"Yang, Eyang!


Tet tet tet!


"Pa! Papa Aksan!"


Tet tet tet!


Nanda memencet bel pintu dengan tidak sabar. Dia juga memangil eyangnya, dan juga papanya, Aksan. Dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


Clek!


Pintu dibuka oleh bibi pembantu rumah.


"Mas Nanda. Ada apa Mas?" tanya bibi heran, karena melihat keadaan Nanda yang seperti sedang di kejar setan.

__ADS_1


"Eyang! Papa Aksan!"


Nanda tidak langsung menjawab pertanyaan dari bibi pembantu rumah. Dia masuk dengan memanggil eyang dan juga papanya.


"Ada apa Nda?"


"Kenapa teriak-teriak Nda?"


Ayah Edi dan Yasmin, bersamaan ke luar dari dalam kamar masing-masing.


Aksan muncul dibelakang istrinya, mamanya Nanda, yaitu Yasmin.


Dan dengan cepat, Nanda menceritakan tentang kejadian yang tadi terjadi di rumah Abimanyu.


Ibu Sofie, yang datang belakangan, berteriak kaget. "Ya Allah... Ara, Anggi bagaimana nasibnya?" tanya ibu Sofie cemas.


Dia tidak tahu, bagaimana nasib kedua cucunya itu. Apalagi, Ara juga akan melangsungkan pernikahannya pada siang besok.


"Ma. Pinjam handphone!"


Yasmin segera berlari ke dalam kamar. Dia mengambil handphone miliknya, untuk diberikan kepada Nanda.


Dengan cepat, Nanda menghubungi Mita. Dia meminta nomer handphone milik Awan atau ayahnya Awan. Karena Nanda tidak hafal dengan nomer handphone milik Awan.


"Eyang ada nomer handphone milik tuan Ryan. Jika punya Awan Eyang tidak punya," kata ayah Edi memberitahu.


Dengan cepat, ibu Sofie kembali ke dalam kamar. Dia mengambilkan handphone milik suaminya, untuk diberikan kepada Nanda.


Sedangkan Aksan segera menyiapkan mobil untuk mereka pergi ke rumah Abimanyu.


"Ini Nda," ucap Yasmin, dengan menyerahkan handphone miliknya.


Tapi karena mobil sudah siap, mereka semua langsung menuju ke mobil. Untuk pergi ke rumah Abimanyu.


"Bi. Titip anak Yasmin ya!"


Yasmin menitipkan anaknya, adiknya Nanda, pada bibi pembantu yang sedari tadi ketakutan. Karena dia ikut mendengarkan semua ceritanya Nanda tadi.


"Iya. Iya Bu," jawab bibi pembantu gugup.


"Bibi gak usah takut. Pintu kunci dari dalam. Jangan buka pintu rumah, jika bukan dari pihak keluarga kita yang datang ya!"


Bibi pembantu rumah mengangguk cepat.


Dan setelah semuanya pergi, bibi langsung mengunci pintu rumah. Dia pergi ke kamar Yasmin, untuk menjaga cucu majikannya yang masih dalam keadaan tertidur pulas.


Di dalam mobil, Nanda menghubungi Awan. Tapi karena tidak ada nomor handphone milik Awan, dia harus menghubungi papa Ryan terlebih dahulu.


Tut tut tut!


"Bagaimana Nda?" tanya ayah Edi. Karena sepertinya sambungan telpon belum bisa tersambung.


"Belum di angkat Yang," jawab Nanda, pada eyang Kakungnya.


Tut tut tut!


"Ayo angkat opa! ayo..."

__ADS_1


Nanda merasa cemas dan juga gemas sendiri. Karena telponnya belum juga di respon oleh papa Ryan.


Dan pada saat dia hampir menekan tombol merah, untuk memutuskan panggilannya, papa Ryan menjawab telpon tersebut.


..."Ya halo pak Edi."...


Papa Ryan mengira jika, yang menelponnya kali ini adalah ayah Edi.


..."Maaf Opa Ryan. Ini Nanda. Bisa bicara dengan Awan?"...


..."Oh, kirain pak Edi. Ada apa Nda? Tumben-tumbenan. Jika ada yang penting, ngomong saja. Tidak apa-apa."...


Dengan cepat, Nanda kembali menceritakan pada papa Ryan, tentang kejadian yang tadi dia alami, bersama dengan keluarganya Ara.


..."Jadi, security kompleks dalam keadaan terluka parah saat kami keluar rumah. Dan Ara bersama dengan Anggi, tidak diketahui nasibnya sampai sekarang opa."...


..."Apa-apaan ini? Siapa yang berani melakukan semua ini?"...


..."Ya sudah, kami akan segera datang ke rumah abimanyu."...


Klik!


Papa Ryan memutuskan hubungan telpon, tanpa menunggu jawaban dari Nanda.


"Bagaimana Nda?"


"Gimana?"


Yasmin dan ibu Sofie, bertanya pada Nanda bersamaan. Mereka berdua, tampak sangat cemas dan juga takut.


"Keluarga opa Ryan akan segera datang ke rumah om Abi," jawab Nanda menjelaskan pada mama dan eyang putrinya.


*****


Di rumah Abimanyu, sudah ada banyak orang. Beberapa dari mereka, membantu membawa security yang tadi terluka, untuk di bawa di klinik atau rumah sakit terdekat, dengan mengunakan mobil.


Beberapa tetangga juga segera menghubungi pihak kepolisian, dan melaporkan semua kejadian ini.


Dan polisi datang, bersamaan dengan kedatangan keluarganya ayah Edi.


"Bi. Bagaimana bisa tadi?" tanya ibu Sofie dengan panik.


Tapi ayah Edi segera meminta pada istrinya itu untuk diam saja. "Bu. Jangan nambah panik ya! Kita gak ada yang tahu, bagaimana bisa semuanya ini terjadi. Jadi, lebih baik diam dan biarkan pihak kepolisian yang menangani."


Miko sudah siuman. Dia melihat dengan bingung, saat membuka matanya dan melihat ada banyak sekali orang-orang di sekitarnya. Apalagi, ada polisi juga.


"Anggi! Kak Ara!"


Miko memanggil-manggil Ara dan juga Anggi. Karena dia teringat dengan kejadian, di mana Ara dan Anggi yang di giring oleh para Pengacau.


Anjani dan Abimanyu, memberikan penjelasan dan keterangan yang diminta oleh pihak kepolisian. Begitu juga dengan Nanda, yang ikut menceritakan tentang kejadian dari awal sampai akhir.


Begitu juga dengan ciri-ciri orang yang tadi bertopeng. Mereka ada lima orang, dengan membawa senjata api semua.


Keterangan yang diberikan oleh Anjani, Abimanyu dan Nanda, semuanya sama dan cocok.


Dan dari keterangan yang diberikan oleh Nanda, mengatakan bahwa, handphone miliknya itu dilengkapi dengan aplikasi pelacak nomor handphone.

__ADS_1


Aplikasi ini dirancang untuk membantu seseorang, untuk menemukan lokasi dengan GPS pelacakan.


Yang penting, nomer handphone tersebut masih tetap dalam keadaan aktif.


__ADS_2