
Pada saat ada kesempatan untuk berbicara dengan mamanya, hanya berdua saja, Elang segera bertanya pada mamanya, dengan apa yang menganggu pikirannya sedari tadi.
"Ma. Kenapa Mama ingin cepat-cepat menikahkan mereka berdua Ma. Apa telah terjadi sesuatu pada mereka?"
Elang meminta penjelasan tentang apa yang dia takutkan, dari pemikirannya sendiri.
Dan itu bukanlah sesuatu yang baik, untuk dilakukan oleh kedua orang yang belum resmi, menjadi sepasang suami istri.
"Maksud kamu apa Lang?" tanya mama Amel, yang belum mengerti, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu.
"Ap_apa Ara sudah... sudah hamil?"
Mama Amel mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Elang barusan.
Namun tak lama kemudian, mama Amel menyadari bahwa, ketakutan yang dimiliki oleh Elang, dari pertanyaannya itu, karena rencananya sendiri, yang mengusulkan supaya pernikahan Awan dan Ara, segera dilaksanakan, dalam waktu dekat ini.
"Bukan seperti itu juga Wan. Mereka berdua, tidak pernah melakukan hubungan, yang tidak pada tempatnya. Percaya deh sama Mama."
Elang tampak menghela nafas panjang, karena merasa lebih lega saat mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya.
Kekhawatiran dalam hatinya Elang, memang benar. Apalagi, di Amerika sana, pergaulan anak-anak muda tergolong bebas dan tidak ada komentar dari orang-orang di sekitarnya.
Ini bisa membuat mereka lebih banyak melakukan hal-hal yang tidak baik, dan tidak dibenarkan oleh norma dan nilai-nilai agama, yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.
"Kamu jangan khawatir. Ara gadis yang baik. Dan Kamu juga harus percaya bahwa, anak Kamu, Awan, juga pemuda yang tahu diri, dan menjaga orang-orang yang dia sayangi. Apalagi, dia Ara adalah gadis yang dia cintai untuk pertama kalinya."
Elang mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh mamanya itu.
"Kamu tidak kecewa dengan apa yang Mama rencanakan ini kan?" tanya mama Amel, saat melihat Elang terdiam.
"Iya Ma. Elang setuju."
"Tidak apa-apa kan, jika yang menjadi besan Kamu adalah mantan istri Kamu sendiri?" tanya mama Amel lagi, sambil tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana rasanya Elang, saat harus menjadi besan dari mantan istrinya itu.
"Mama kenapa sih? Mama sengaja ya, bikin Elang cemburu, karena kehadiran Ara di kehidupan Awan?"
Elang merasa jika, mamanya itu sengaja bertanya demikian, agar dia merasa iri, dengan apa yang akan diraih Awan nanti.
"Kamu belum terlalu tua Lang. Jika ingin menikah, menikahlah segera. Mama akan mendukung, apapun yang bisa membuat dirimu bahagia."
Elang memeluk mamanya, mama Amel, dari arah samping.
Sedari dulu, Elang tahu bahwa, mamanya hanya memberikan yang terbaik, meskipun dia sendiri yang kadang kala tidak bisa memahami, apa yang dikatakan oleh mamanya.
Satu yang pasti, Elang mengetahui, apa yang dikatakan dan diputuskan oleh mamanya itu, semuanya sudah dipikirkan dan dipertimbangkan dengan baik dan matang.
Mungkin untuk sebagian orang, akan berpikir jika, keputusan yang diambil oleh mamanya, akan membuat luka lama terusik lagi. Khususnya untuk Elang sendiri.
Tapi itu semua tidak benar.
Elang merasa baik-baik saja, meskipun ada sedikit perasaan kecewa di dalam hatinya.
Namun, itu tidak membuat dirinya harus patah hati dan buruk dalam pikiran.
__ADS_1
Elang sudah banyak belajar, tentang keadaan hidup, yang tidak semuanya harus berakhir dengan apa yang diinginkan.
Ada hal-hal yang harus dipahami dan dimengerti, karena semuanya ada jalan takdir Tuhan, yang sudah tergaris. Dan itu tidak mungkin bisa ditolak oleh siapapun.
Bahkan, orang yang kaya dengan banyak harta sekalipun, tidak akan bisa mengelak dari apa yang sudah menjadi takdir Tuhan untuknya.
*****
Di kampus, tempat Nanda kuliah.
Dia tidak pernah bertemu dengan Dika, selama belajar di kampus ini.
Apalagi, Dika juga tidak pernah mengikuti kegiatan ataupun organisasi apapun di kampus.
Berbeda dengan Nanda. Dia aktif dibeberapa organisasi, yang membuatnya sibuk, dan tidak berpikir untuk pacaran.
Itulah sebabnya, Nanda juga tidak tahu jika, dia sekampus dengan Dika. Padahal, sudah beberapa tahun dia belajar di kampus yang sama, dengan Dika juga.
Dan yang lebih mengejutkan Nanda adalah, temannya Ara, yang dulu pernah bersama dengannya naik kereta api ke Jawa, saat ini menjadi kekasih Dika.
Apalagi, temannya Ara itu memang tidak kuliah di tempat yang sama, di kampus ini.
Nanda baru saja tahu, saat ada kegiatan kampus, untuk acara amal korban banjir di daerah Jakarta Utara.
"Woi Nda. ternyata Loe ketua kegiatan amal ini. Gue baru liat Loe di sini Nda," tegur Dika, dengan menepuk pundak Nanda.
Nanda yang tidak menyadari keberadaan Dika, segera menoleh, karena merasa familiar dengan suara orang yang menegurnya kali ini.
"Kak Dika," sapa Nanda, setelah mengetahui bahwa, Dika adalah orang yang tadi menegurnya.
"Baik Kak," jawab Nanda pendek.
"Oh ya, gue kenalin nih ama pacar Gue."
Sekarang, Nanda beralih ke arah telunjuk Dika, yang sedang menunjuk ke sebuah mobil, di mana ada seorang gadis, yang berdiri menunggu Dika.
Yang lebih mengejutkan Nanda adalah, gadis tersebut adalah temannya Ara.
"Mita?"
"Ya Mita. Dia pacar Gue sekarang."
Nanda tersenyum, mendengar jawaban dari Dika, yang seolah-olah pamer, jika dia sudah memiliki Mita.
"Selamat Kak. Oh iya, mau nyumbang gak Kak?"
Dengan segera, Nanda mengalihkan pembicaraan mereka, dari masalah pacar ke kegiatan yang dia lakukan, yaitu pengalangan dana amal.
"Pastinya dong," ucap Dika, dengan mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana.
Dika mengeluarkan lima lembar uang merah, untuk menyumbang kegiatan yang dilakukan oleh Nanda.
"Nih amal Gue!"
__ADS_1
"Terima kasih Kak Dika," ucap Nanda, sambil mengangguk.
"Gue balik ya. Mau ajak Mita jalan-jalan."
Nanda hanya mengangguk saja, kemudian memperhatikan Mita, yang sedang bermain-main dengan handphonenya, dan tidak memperhatikan keadaan sekitarnya.
Mita juga tidak tahu jika, ada Nanda di tempat yang sama, seperti kekasihnya, Dika.
Nanda masih memperhatikan, bagaimana Mita tersenyum menyambut kedatangan Dika.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil sport Dika, yang sepertinya baru lagi, dan bukan mobilnya yang dulu pernah menabrak mobil orang lain.
Setelah mobil Dika tidak terlihat lagi, Nanda baru bisa menghela nafas lega. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
Tapi yang pasti, ada sedikit rasa sakit di dalam hatinya.
Seperti sedang dicubit, tapi tanpa sentuhan tangan siapapun.
"Kak. Ini sudah terkumpul di kardus. Kita sudahi saja ya, sudah sore juga ini."
Ucapan seseorang yang menegurnya, membuat Nanda menolehkan kepalanya.
"Ya, kita bereskan dulu. Ajak yang lain juga berkumpul."
Nanda memberikan instruksi kepada orang yang tadi menegurnya.
"Iya Kak."
Nanda mengelengkan kepalanya beberapa kali, untuk mengusir perasaan yang ada di dalam hatinya.
Dengan demikian, Nanda bisa berkonsentrasi lagi, pada kegiatan yang dia lakukan, bersama dengan anak-anak yang lain, yang juga ikut peduli terhadap lingkungan dan bencana yang ada di sekitar mereka."
"Kak Nanda sudah punya pacar belum sih?"
"Kayaknya belum deh."
"Gak pernah liat dia sama cewek yang sama."
"Apa dia gak doyan cewek?"
"Hush! Gak usah aneh-aneh bikin berita."
"Kenapa lu tanya?"
"Gue suka ma Kak Nanda."
"Ah, gue juga mau juka kak Nanda nembak. Hehehe..."
"Wah, jangan dong. Entar jadi saingan kita. Hahaha..."
Ternyata, ada beberapa cewek yang sedang bergosip ria, membicarakan tentang Nanda, yang selama ini tidak pernah terlihat dekat dengan cewek manapun.
Itulah mengapa, para cewek-cewek yang mengenal Nanda, merasa penasaran dengan sosok Nanda.
__ADS_1
Nanda memiliki ketampanan dan pesona yang sama seperti papanya, Wawan.
Untungnya, Nanda tidak memiliki kelakuan yang sama seperti papanya juga.