
Tamu masih banyak yang berdatangan. Ara dan Awan, tak henti-hentinya berdiri untuk menerima ucapan selamat.
Rasa kantuk dan capek, menjadi satu dan hampir saja Ara tak kuat lagi untuk berdiri.
"Kak," panggil Anggi.
"Kak Ara!" Miko juga memanggil kakaknya, yang saat ini masih berusaha untuk tetap tampak tersenyum di pelaminan.
"Eh, kalian bawa apa?"
Ara langsung bertanya pada kedua adiknya itu. Karena dia melihat jika di tangan Anggi memegang gelas berbetuk mangkuk. Yang berisi es buah.
Begitu juga dengan Miko. Di tangan Miko, ada satu piring kue dan buah-buahan. Yang dia bawa ke atas panggung pelaminan. Agar kakaknya itu, bisa ikut menikmati makanan yang ada.
"Ini buat Kakak," jawab Anggi, yang diangguki juga oleh Miko.
"Itu juga ada air mineral Ra. Apa tidak apa-apa makan di panggung pelaminan seperti ini?" tanya Awan, yang merasa risih jika dilihat oleh para tamu undangan.
"Gak apa-apa Kak Awan. Tamu juga memaklumi kondisi pengantin. Kan pastinya capek dan lapar juga. Sedari tadi berdiri pasang wajah dan senyuman terus." Anggi tidak mau tahu, karena sedari tadi, dia perhatikan bagaimana dengan keadaan kakaknya, Ara.
"Iya deh. Kakak juga mau dong," ucap Awan, dengan meringis.
Sebenarnya dia juga merasa capek, lapar dan juga haus. Tapi karena tadi sewaktu Awan menawari Ara tidak mau untuk makan atau minum. Akhirnya Awan juga mengikuti kemauan istrinya, yang menahan lapar serta hausnya.
Tapi sekarang, di saat Anggi dan Miko yang datang membawakan makanan untuk Ara, dia tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak makan.
Begitulah akhirnya. Anggi menyuapi kue yang tadi di bawa Miko, untuk kedua kakaknya itu.
Sedangkan Miko, memakan es buahnya. Gelas mangkuk yang berisi es buah untuk Ara, justru dia makan sendiri. Baru ketika Anggi berbalik melihat ke arahnya, kemudian menepuk pundaknya. Miko langsung tersadar.
"Hehehe... sorry Ngi. Ini enak sih. Nanti Aku ambilkan lagi ya!" Miko hanya cengengesan saja. Kemudian melanjutkan makannya.
"Buru sono ambilin!"
Anggi tidak mau tahu. Dia minta pada Miko, supaya cepat mengambilkan es buah. Sebagai pengganti es buah yang sudah di makan Miko.
"Entar dulu napa Ngi! Nanggung ini," sahut Miko, yang terus saja menyuap es buah tersebut ke dalam mulutnya.
"Ihhh... Miko!"
__ADS_1
"Eh... iya-iya! hufhhh..."
Akhirnya Miko mengalah. Dia meletakkan gelas mangkuk yang ada di tangannya, kemudian berjalan menuruni panggung pelaminan. Dia bermaksud untuk mengambil es buah lagi untuk Ara dan juga Awan.
Tapi langkahnya terhenti, di saat ada seseorang yang baru saja datang dan naik ke panggung pelaminan. Kemudian memanggil nama Anggi.
"Anggi. I datang."
"Kak Awan, kak Ara."
Belum sempat Anggi menjawab panggilan namanya, orang itu langsung menyapa kakaknya, Ara dan juga Awan.
"Ahmed..."
Anggi bergumam tidak percaya, dengan apa yang dia lihat saat ini. Dia sangat terkejut dengan kedatangan teman dekatnya. Ahmed, datang ke Indonesia, demi bisa hadir di acara resepsi pernikahan kakaknya.
Ahmed tersenyum senang, bisa melihat Anggi yang terkejut tak percaya. Dengan kedatangan dirinya.
Sekarang, Ahmed berjalan lebih mendekat ke arah pelaminan. Menyalami tangan Ara dan juga Awan. Sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka berdua.
"Selamat kak Ara, Kak Awan."
Apalagi, Ahmed juga tidak langsung mendekati dirinya. Karena harus memberikan ucapan selamat terlebih dahulu. Apalagi, dia baru saja datang.
"Kamu ke sini sama siapa?"
Awan bertanya kepada Ahmed. Karena dia tidak percaya jika, Ahmed bisa berani ke Indonesia sendirian. Tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya.
"Ada papa dan mama kok. I ajak mereka berdua, sekalian nanti berlibur ke Bali."
Jawaban yang diberikan oleh Ahmed, membuat Ara dan Awan melihat ke arah sekeliling di bawah panggung. Dan akhirnya, mereka berdua menemukan keberadaan kedua orang tuanya Ahmed, yang sedang berbincang-bincang dengan Abimanyu dan juga Anjani.
Mama dan papanya Ahmed, tidak langsung ikut naik ke panggung pelaminan. Mereka berdua lebih dulu berbincang-bincang dengan Abimanyu serta Anjani.
Anggi sampai tidak tahu, apa yang harus dia katakan pada Ahmed sekarang ini.
Dua hari yang lalu, dia memang mengatakan pada Ahmed bahwa, resepsi pernikahan kakaknya di gelar malam ini. Anggi hanya mengirim iseng barkot undangan untuk Ahmed. Dia tidak pernah berpikir sejauh ini, jika Ahmed benar-benar akan datang memenuhi undangannya.
"Anggi. I sangat takut dengan apa yang U alami bersama dengan kak Ara. Apa perampoknya sudah tertangkap?"
__ADS_1
Anggi melongo mendengar pertanyaan itu. Dia tidak pernah menyangka jika, Ahmed mendengar berita tentang penculikan dirinya dan juga Ara, Kakaknya.
"Kamu tahu dari mana?" Anggi balik bertanya pada Ahmed.
"Di akun sosial milik U Anggi. Beberapa orang mengkomentari postingan terakhir U, dan ada yang memberikan kabar tentang penculikan itu."
Anggi menepuk keningnya sendiri, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ahmed barusan. Dia lupa jika, sejak dirinya di culik, dia tidak lagi memegang handphone.
Bahkan, semua anggota keluarganya, yang handphonenya di ambil oleh perampok malam itu, saat ini tidak ada yang memegang handphone untuk sementara waktu. Karena handphone milik mereka semua, ada di kantor polisi. Di gunakan sebagai barang bukti. Dan belum sempat di ambil oleh mereka ataupun pihak pengacara.
Karena mereka semua, langsung fokus pada acara akad nikah dan resepsi pernikahan malam ini.
Waktu yang singkat tidak memberikan mereka kesempatan. Untuk bisa berlama-lama ada di kantor polisi.
Miko masih diam di tempatnya. Dia tidak tahu, siapa tamu yang baru saja datang itu. Tapi dari apa yang dikatakan dan kedekatan dengan Anggi serta Ara, bahkan dengan Awan juga. Miko berpikir jika tamu itu bukan orang sembarangan.
Apalagi, usia tamu itu juga masih remaja. Tak jauh berbeda dengan dirinya sendiri.
'Ngomongnya juga logat bule. Meskipun doa bisa berbicara dengan bahasa Indonesia.' Miko membatin, dengan masih memperhatikan bagaimana cara Ahmed berbicara dengan Anggi.
Apalagi sekarang ini, Ahmed juga memegang tangan Anggi dan juga menepuk-nepuk punggung tangan tersebut.
"Ih, sok akrab banget dia. Siapa sih?" tanya Miko dengan bergumam seorang diri.
Sekarang, dia ingin pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin melihat bagaimana Anggi dan Ahmed berbincang-bincang dengan akrab.
Tapi dia akhirnya paham, dengan apa yang terjadi. Karena pada saat di baru saja berjalan menuju ke arah es buah, dia melihat Abimanyu dan juga Anjani, yang sedang berbincang-bincang dengan orang luar.
Dari tampilan wajah mereka berdua, Miko menyimpulkan bahwa, kedua orang tersebut adalah rekan bisnis dari ayah Abimanyu.
"Oh, mungkin anak tadi anaknya orang itu."
Miko belum berani bertanya pada siapapun, yang bisa menjelaskan kepadanya tentang siapa anak yang datang dan saat ini berbincang dengan Anggi di atas panggung pelaminan.
Dia hanya ingin mengambil es buah, kemudian menyerahkannya kepada Anggi.
Mungkin dengan begitu, dia akan tahu sendiri, dari apa yang nanti dikatakan oleh Anggi padanya.
"Ah, bisa jadi, anak itu juga teman sekolah Anggi. Biarin ajalah!"
__ADS_1
Miko tidak mau ambil pusing. Karena selama pulang ke Indonesia, Anggi tidak pernah menceritakan tentang teman atau tetangganya di Amerika sana.