
"Mi. Itu... itu tadi siapa Mi?"
Dengan terputus-putus, Wawan nekad juga bertanya pada Mami, siapa wanita yang tadi datang dan tampak akrab dengan Mami.
"Kenapa, Kamu naksir?" Mami justru menodong pertanyaan pada Wawan, dengan sesuatu yang memang menjadi kebiasaannya Wawan. Mantan suaminya itu.
"Hehehe... cantik Mi," sahut Wawan, dengan nyengir kuda.
"Kamu ini, mana bisa tidak melihat wanita cantik. Mungkin, kambing jika dibedaki juga Kamu liatnya cantik."
Wawan tampak masam, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Mami. Mantan istrinya yang sudah berumur.
"Tapi, masih kalah kok dengan Mami. Mungkin, jika Mami mau dandan seperti tadi, Mami juga sangat cantik."
Wawan kembali pada mode merayu Mami, agar Mami bisa luluh dan mengabulkan permintaan yang kemarin. Yaitu, kembali rujuk dengan dirinya.
"Dari dulu juga Mami cantik. Dengan modal sendiri lagi. Kamu aja yang memang gak tau diri."
"Tidak mungkin janda yang di laundry itu kenal dan mau sama Kamu, jika Kamu gak sering datang dan merayunya juga."
Mami justru mengomel dan mengungkit soal janda, yang ada di conter laundry. Selingkuhan Wawan, sewaktu masih menjadi suaminya Mami.
"Udah dong Mi. Gak usah diungkit lagi yang sudah berlalu. Itu kan dulu. Masa lalu Mi."
Wawan merasa jengah juga, mendengar suara Mami, yang seperti sedang membacakan cerita tentang sebuah kisah. Dan dirinya, Wawan, adalah tokoh utama antagonis pria_nya.
Mami tidak menyahut. Dia berbalik dan masuk ke dalam rumah, tanpa peduli dengan Wawan, yang masih ingin berbicara.
"Argh... Mami."
Wawan menjadi kesal sendiri, dengan sikapnya Mami tadi.
"Hufh..."
Dengan membuang nafas, Wawan pun akhirnya pergi juga, menuju ke arah kamarnya sendiri. Yaitu sebuah bangunan darurat, yang mirip dengan bedeng-bedeng yang terbuat dari bahan-bahan bekas seadanya.
"Sial. Harusnya, Aku tidak bernasib seperti ini. Wajahku ganteng. Badanku juga kekar. Banyak wanita-wanita yang takluk di depanku. Bahkan, mereka juga yang meminta untuk Aku puaskan. Aku harus bisa memanfaatkannya lagi, sama seperti waktu dulu."
Dengan senyum smrik, Wawan mendapatkan ide bagus, yang akan dia lakukan nanti.
Sepertinya, saat ini otak Wawan sudah tidak utuh dan berada di tempatnya lagi.
*****
__ADS_1
Di rumah Abimanyu.
Pembicaraan orang-orang yang berkepentingan dengan acara pertunangan antara Awan dan Ara, sedang berunding.
Mereka semua, sedang menentukan di mana tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat acara tersebut.
"Tidak perlu di gedung. Acaranya hanya sederhana dan untuk pihak keluarga saja," kata Abimanyu, pada saat ditawari untuk menyewa sebuah gedung.
"Apa di rumah Mama?" tanya mama Amel, pada Abimanyu.
"Ma. Kita yang melamar. Masak pihak dari Ara yang datang ke rumah kita?" papa Ryan, mengingatkan pada istrinya, agar tidak lagi mengusulkan untuk acara di rumahnya.
Bukannya tidak boleh. Tapi menurut papa Ryan, itu tidak etis.
"Emhhh... bagaimana jika di rumah... yang dulu. Rumah itu sudah nganggur sebulan ini. Pihak penyewa, yang WNA itu sudah kembali."
Anjani mengusulkan supaya, mengunakan rumahnya, yang merupakan pemberian dari Elang waktu itu.
Selama ini, rumah itu memang disewakan pada WNA, yang sedang bertugas di Indonesia.
Dan sebulan kemarin, WNA tersebut sudah kembali ke negaranya sendiri. Dan kunci rumah, di bawa oleh ayah Edi.
"Itu bisa juga. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil juga. Cukuplah," ujar ayah Edi, yang diangguki juga oleh Abimanyu.
Awan, yang selama ini tidak tahu, di mana lokasi yang dimaksudkan, hanya ikut saja.
"Ini hanya tunangan. Jadi tidak perlu repot-repot dan ribet banget. Besok, pas nikahnya, barulah boleh mau pesta berapa hari juga iya aja," ujar papa Ryan yang sepertinya tahu, apa yang sedang dipikirkan mama Amel, yang tentunya tidak ingin sesuatu yang hanya sekedarnya, untuk cucu satu-satunya itu.
Meskipun sebenarnya, mama Amel juga sudah tahu dengan rencana pertunangan yang bertema sederhana ini.
Setelah melakukan pembicaraan yang cukup lama, dan dengan diselingi beberapa perdebatan juga, akhirnya diputuskan bahwa, pertunangan akan dilakukan dua hari lagi, di rumah Anjani.
Rumah yang sebenarnya pemberian dari Elang juga.
*****
Pada saat orang-orang yang tua membicarakan tentang rencana acara pertunangan, lain lagi dengan Anggi.
Dia sedang berbisik-bisik dengan Miko, dan terpisah dari gerombolan orang-orang juga.
"Miko. Bagaimana sekolah kita?" tanya Anggi, dengan suara yang dibuat sepelan mungkin.
"Ya libur. Kamu kan juga gak mungkin pergi sekolah. Secara, sekolah Kamu ada di Amerika sana," ujar Miko, menjawab pertanyaan yang tadi diajukan oleh Anggi padanya.
__ADS_1
"Ihhh... bukan itu maksudku," sahut Anggi cepat, dengan tersungut-sungut, karena merasa jika, Miko tidak paham dengan apa yang dia tanyakan barusan.
"Eh, tadi tanya apa?" tanya Miko, dengan muka cengo, alias bengong karena Miko merasa jika, dia tidak paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh Anggi tadi.
"Tanya sekolah kita bagaimana?"
Anggi kembali mengatakan apa yang tadi dia tanyakan.
"Ya kan libur Anggi. Ijin kan bisa. Apa ada yang salah dari jawaban Aku?"
Sekarang, Miko yang jadi kesal, karena dia merasa benar dalam menjawab pertanyaan Anggi.
"Hufhhh..."
Anggi membuang nafas panjang. Dia tidak tahu, di mana letak kesalahan dari pertanyaan yang dia ajukan, dengan jawaban Miko, yang dia rasa tidak ada kaitannya dengan pertanyaannya.
"Emhhh... gini Miko. Aku, tanya bagaimana dengan sekolah kita? Bukan kita berangkatnya bagaimana?"
Akhirnya, Anggi kembali mencoba untuk bertanya, dengan kata-kata yang diucapkan dengan tekanan dan satu persatu. Kata demi kata, agar Miko paham dengan apa yang dia tanyakan.
Tapi sepertinya Miko semakin bingung. Dia menggaruk-ngaruk kepalanya sendiri, yang tidak terasa gatal.
"Bingung Aku tuh," ucap Miko dengan mengelengkan kepalanya.
"Huh dasar. Apa yang bisa nyangkut di kepala Kamu dengan cepat, jika bukan makanan?" Anggi justru meledek Miko, dengan mengatai sebagai tukang makan, secara tidak langsung.
"Nah itu. Kamu gak bawa oleh-oleh makanan dari Amerika buat Aku?"
Miko menyahuti perkataan Anggi, dengan sebuah pertanyaan, yang sedari tadi ingin dia tanyakan.
"Kan... kan... Makanan aja cepet nangkep."
"Hehehe... kayak Kamu_nya gak aja sih," sahut Miko, yang juga paham dengan kelakuan saudara sepupunya itu.
"Oh ya, eyang tadi nyiapin makanan apa?" tanya Anggi, untuk langsung terpancing untuk segera mencicipi makanan terlebih dahulu.
"Oh, banyak banget tadi masak. Ada soto, ada urapan. Ada... tahu goreng, tempe goreng. Rendang juga ada. Masih banyak deh..."
Miko mengabsen semua makanan yang tadi sudah dipersiapkan oleh keluarganya, untuk menyambut kedatangan Anggi dan yang lainnya juga.
"Wah... Sepertinya, lebih baik kita makan saja dulu yuk!" ajak Anggi, yang sudah merasa lapar, dan mendengar semua jenis makanan khas Indonesia.
Makanan yang tentunya tidak mudah didapatkan oleh Anggi, saat berada di Amerika.
__ADS_1
Dan akhirnya, Anggi bersama dengan Miko, berjalan mengendap-endap menuju ke arah dapur, untuk menikmati makanan terlebih dahulu.