Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pemikiran Andhisti


__ADS_3

Semua yang terjadi pada kehidupan ini, ada alasan tertentu bagi orang-orang yang berpikir. Dengan segala hal, baik buruknya kondisi kehidupan juga ada sebab dan akibat dari apa yang kita lakukan. Semua akan kembali lagi pada diri kita sendiri, meskipun tanpa kita sadari dan dari peristiwa yang tidak bisa di prediksi. Semua itu, adalah mutlak rahasia dari Sang Pencipta yang Maha Kuasa.


Kejadian demi kejadian bisa jadi pelajaran bagi kita, bisa untuk cerminan masa depan yang akan datang. Membuat kita menjadi lebih dewasa, karena pengalaman adalah pelajaran dan guru terbaik pada kehidupan manusia. Jadikanlah semuanya sebagai bentuk pendewasaan diri dan berpikir ulang, untuk perbuatan yang akan kita lakukan.


Perusahaan Elang, yang terancam bangkrut, tidak diketahui secara pasti penyebabnya, selain anjloknya harga jual di pasar, begitu juga dengan beberapa laporan yang tidak relevan.


Elang, pusing sehingga jatuh sakit kemarin-kemarin itu, karena banyaknya pikiran yang dia simpan sendiri. Dia tidak ingin membebani Andhisti yang sedang hamil tua, dan sudah saat melahirkan juga. Dia juga tidak mungkin bercerita pada Anjani, yang jelas-jelas tidak tahu tentang perusahaan yang dia punya. Apalagi dia, Anjani tidak memiliki banyak pengalaman di bidang industri yang dia geluti. Elang, hanya bisa memberitahu Anjani beberapa masalah yang dia hadapi, dan Anjani juga sering memberikan nasehat agar berhati-hati dalam mengelola keuangan. Dia bilang, untuk tidak terlalu percaya dengan orang-orang yang ada di perusahaan, apalagi jika mereka adalah orang-orang baru.


Anjani juga pernah bilang, agar Elang, mengelola keuangan perusahaan dengan baik dan benar. Tidak asal, seperti saat ini. Mungkin karena Anjani yang tidak tahu lapangan, dia dianggap Elang tidak bisa memberikan solusi bagi permasalahan yang dia hadapi sekarang.


Kini Elang baru sadar, jika apa yang dikatakan oleh Anjani benar. Dia yang terlalu ceroboh mempercayai orang-orang baru, yang bekerja di perusahaan miliknya itu.


Hari ini Elang sudah masuk kantor. Dia mendapatkan kabar dari mamanya, mama Amel, melalui pesan, jika ada orang lama yang dengan sengaja menempatkan orang baru, di beberapa bagian, untuk bisa bermain 'cantik' dan tidak di curigai.


Elang bingung, dari mana mamanya tahu, kalau ada orang-orang yang tidak bisa dipercaya di perusahaan miliknya ini.


Akhirnya, Elang mencoba untuk menghubungi mamanya, dan bertanya, apa maksud dari pesan yang disampaikan oleh mamanya tadi.


..."Halo Ma," sapa Elang, saat mamanya menerima panggilan telpon darinya....


..."Ya Lang, ada yang ingin Kamu tanyakan?" tebak mamanya dengan bertanya....


..."Ya Ma. Ini maksud pesan yang Mama kirim apa ya? Elang tidak mengerti."...


..."Kamu akan tahu, tidak lama lagi. Jika Kamu merasa penasaran, Kamu bisa datang ke rumah, atau ke kantor Mama sekarang ini."...


..."Elang baru saja masuk kantor Ma. Ada banyak kerjaan yang harus dilakukan. Elang belum ada waktu. Mungkin besok-besok, jika kerjaan Elang sudah tidak sebanyak ini."...


..."Iya. Kamu bisa kerja dengan baik. Tetap berhati-hati, hanya itu pesan Mama."...


..."Ada apa sih Ma sebenarnya?" tanya Elang lagi, mendesak mamanya agar mau bercerita....

__ADS_1


..."Belum waktunya. Mama belum ada banyak bukti. Nanti jika bukti-bukti itu sudah cukup dan terkumpul semua, Kamu bisa ikut memeriksanya sendiri."...


Elang, menjadi semakin bingung dan penasaran dengan apa yang dikatakan oleh mamanya, mama Amel.


..."Baiklah Ma. Elang akan usahakan bisa datang hari ini juga ke rumah, atau ke kantor Mama."...


..."Iya."...


Sambungan telpon terputus. Elang, menghela nafas panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kantor. Dia tidak tahu, apa yang ditemukan mamanya sehingga bisa mengatakan semua itu.


*****


Sore harinya, saat waktunya untuk pulang dari kantor, Elang menghubungi istrinya, Adhisti, memberikan kabar jika dia akan pergi ke rumah mamanya terlebih dahulu.


..."Halo Mas."...


..."Sayang, Aku mau ke rumah mama dulu. Jadi kalau Kamu mau makan malam, makanlah terlebih dahulu. Tidak usah menunggu ya!"...


..."Tidak ada apa-apa. Aku hanya kangen saja ingin berkunjung."...


..."Ahhh... kenapa tidak pulang terlebih dahulu, terus ajak Aku Mas?"...


..."Malah jadi lama Sayang. Besok-besok, kalau libur kita bisa pergi bersama dengan Awan juga, mengunjungi kakek neneknya."...


..."Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya Mas. Salam buat mama dan papa."...


..."Iya. Nanti Aku sampaikan. Jangan lupa, makan ya!"...


..."Iya Mas."...


Telpon ditutup. Elang segera melangkah keluar dari ruangan kantornya, dan pergi menuju mobilnya yang sudah siap bersama dengan supirnya juga.

__ADS_1


"Kita ke rumah mama Amel dulu ya Pak!" kata Elang, memberikan perintahnya.


"Baik Tuan."


Perjalanan menuju ke rumah mama Amel, terasa lama, karena banyaknya pikiran yang sedang ada di kepala Elang saat ini.


"Kok baru sampai sini Pak? bukannya tadi sudah kita lewati ya?" tanya Elang bingung, karena jalan terasa sama sedari tadi.


"Tidak Tuan. Kita memang belum melewati jalan ini."


Jawaban dari supirnya, membuat Elang memijit pelipisnya sendiri. Dia merasa pusing dan juga lelah.


"Oh, kalau begitu Aku mau tidur dulu. Nanti, jika kita sudah sampai di rumah mama Amel, tolong dibangunkan ya Pak!"


"Baik Tuan," jawab Pak supir patuh.


Elang, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Dia mencoba untuk memejamkan matanya, agar bisa tertidur dan mengurangi rasa pusing yang dia rasakan saat ini.


*****


Di rumah, Adhisti berpikir lain. Dia mencoba untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada suaminya itu, dari beberapa teman yang bekerja di kantor milik suaminya.


Dari beberapa orang yang dia hubungi, mereka tidak ada yang tahu, apa yang sedang dialami suaminya. Mereka juga bilang, jika Elang baik-baik saja seharian ini.


"Mas Elang kenapa ya, kok tiba-tiba saja ingin datang ke rumah mama Amel. Apa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan? apa ini ada kaitannya dengan Anjani?" tanya Adhisti pada dirinya sendiri.


Dia jadi gelisah dan merasa cemas, seandainya apa yang dia pikirkan benar.


"Jika mas Elang ada keinginan untuk mendapatkan Anjani lagi, biar Aku yang akan melakukan gugatan cerai. Aku tidak mau, mengalami hal yang sama seperti kemarin. Itu sungguh tidak enak, meskipun Anjani baik dan tidak pernah berusaha untuk mendapatkan mas Elang secara utuh, tapi Aku tetap saja tidak rela. Aku yang sedari dulu memiliki hatinya, dan tidak ada yang boleh memiliki dia selain Aku."


Adhisti, sudah merancang banyak hal tentang masa depan rumah tangganya bersama dengan Elang. Dia tidak mau, jika ada penghalang lagi untuk kedepannya. Apalagi sekarang dia sudah punya Awan, yang bisa dijadikan alasan untuk tetap memiliki Elang secara utuh.

__ADS_1


Dia tidak sadar, jika sesuatu sedang menunggu waktunya, untuk bisa menjadi salah satu penentu masa depan yang akan dia jalani nanti.


__ADS_2