Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kenapa Terjadi


__ADS_3

Hidup ini tidak sama seperti yang kita inginkan. Ada masa dimana, sesuatu yang tidak kita suka justru bertahan dan kita alami dalam jangka waktu yang lama.


Begitu juga dengan sesuatu yang kita sukai, dia begitu cepat berlalu dari kehidupan kita, seakan ikut tersapu oleh angin yang berhembus melewati kita saat itu.


Suka tidak suka, Tuhan sudah menulis semua itu dalam garis takdir kita. Pahit, getirnya kehidupan, tidak mungkin selamanya kita rasakan dalam perjalanan kita selamanya. Adapun kebahagiaan, tidak akan berlangsung lama, karena sejatinya semua itu seimbang dan adil, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.


..."Ad_dik Kamu Yasmin Bi, di_dia kecelakaan. Hiks hiks."...


Ibu Sofie, langsung memberikan kabar duka, begitu panggilan telponnya diangkat oleh anaknya, Abimanyu.


..."Kecelakaan? dimana, pakai sepeda motor yang biasanya kan?"...


..."Bukan. Bu_bukan kecelakaan motor atau lalu lintas Bi. Tap_tapi kecelakaan yang lain."...


Abimanyu merasa bingung dengan berita kecelakaan yang disampaikan oleh ibunya itu. Dia pikir, kecelakaan yang terjadi pada adiknya adalah, kecelakaan motor atau lalu lintas. Karena setahu Abimanyu, adik-adiknya itu, pergi ke kampus mengunakan sepeda motor sendiri-sendiri, karena beda tingkatan dan kesibukan. Jadi, tidak mungkin mereka pergi bersama-sama dengan hanya satu buah sepeda motor, untuk dua adiknya. Makanya, saat ibu Sofie mengatakan Yasmin kecelakaan, Abimanyu langsung berpikir jika Yasmin mengalami kecelakaan motor.


..."Lalu kecelakaan apa Bu?"...


..."Di_dia ham_mil Bi. Dan pacarnya tidak bisa dihubungi lagi. Ba_gaimana Ibu harus mengatakan ini semua pada Ayah kalian nanti?"...


Abimanyu terhenyak mendengar jawaban dari ibunya tentang kabar adiknya, Yasmin. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu tadi. Padahal, dia baru saja mendapatkan kabar kehamilan dari istrinya, Anjani, dan mau memberikan kabar itu pada ibunya, tapi justru dia mendapatkan kabar tentang kehamilan lagi, dan itu dari adiknya yang paling kecil, Yasmin, dan belum menikah.


..."Abi. Apa Kamu bisa kembali ke Jakarta. In_ni Yasmin tidak mau keluar dari dalam kamar sedari tadi. Ibu takut terjadi sesuatu padanya. Handphone tidak aktif dan Ibu tidak bisa membujuknya untuk keluar dari dalam kamar."...


..."Kenapa tidak memberitahu ayah Bu? Dia pasti punya solusi untuk Yasmin."...


..."Ibu takut Bi. Ayah pasti akan menyalahkan Ibu, karena selama ini, ayah sudah melarang hubungan Yasmin dengan pacarnya itu. Ta_tapi ib_ibu yang melindungi adikmu."...


Abimanyu menghela nafas panjang. Dia baru saja merasa bahagia, dengan kabar kehamilan istrinya tadi. Dan sekarang, dia justru pusing karena mendengar kabar, yang sama sekali tidak membahagiakan, meskipun itu sama-sama kabar tentang kehamilan juga.

__ADS_1


Telpon terputus. Anjani merasa khawatir karena mendengar nada suara yang tidak enak saat suaminya menerima panggilan telpon dari ibunya, ibu Sofie.


Sebelum Anjani bertanya, Abimanyu sudah berkata terlebih dahulu, "Yasmin juga hamil."


Anjani membelalakkan matanya mendengar perkataan dari suaminya. Dia merasa kaget, karena Yasmin belum pernah menikah. Lalu bagaimana mungkin, Yasmin hamil? Mungkin, seperti itulah pertanyaan yang ada di dalam hati Anjani.


Akhirnya, Abimanyu menceritakan tentang keadaan Yasmin pada Anjani. Dia juga ingin mengajak Anjani untuk pulang ke Jakarta, malam ini juga.


"Tapi, Kamu baru saja datang Mas. Apa tidak apa-apa? Kamu kan masih capek Mas, dan sayangnya, Jani tidak bisa menyetir untuk mengantikan posisi setir, meski hanya sebentar," tanya Anjani khawatir. Suaminya itu, tidak mungkin menyetir mobil sendiri, jika mau ke Jakarta lagi sore ini, karena dia baru saja datang.


"Tidak apa-apa. Mas pasti sanggup kok. Hanya sampai Jakarta saja. Nanti, kalau capek, bisa istirahat sebentar. Kamu ikut ya?"


Anjani mengangguk setuju. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya itu merasakan kesedihan seorang diri. Dia akan menyerahkan urusan kafe rumah miliknya, pada teteh koki yang membantunya selama ini.


"Jani berkemas dulu ya Mas. Sekalian mau ngomong soal urusan kafe pada teteh. Mas Abi pergi mandi saja terlebih dahulu," kata Anjani, kemudian pamit keluar rumah, untuk menemui teteh koki yang berada di dapur kafe.


Abimanyu mengangguk, mengiyakan perkataan Anjani. Dia masih tidak percaya, jika semua yang dia dengar ini nyata. Abimanyu berpikir semua ini hanya mimpi belaka. Dua wanita yang dia sayangi, sama-sama hamil dalam waktu yang bersamaan, namun dalam situasi yang jauh berbeda.


*****


"Mas. Lebih baik istirahat sejenak ya, biar Kamu bisa tidur-tiduran sebentar. Kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan ini, kalau kondisi Kamu seperti ini Mas. Bisa-bisa, kita malah kecelakaan dan tidak sampai di rumah, tapi ke rumah sakit. Itu akan menambah masalah dan tidak ada selesai-selesai nanti."


Anjani, mencoba untuk memperingatkan suaminya, agar beristirahat sebentar di rest area atau pom bensin terdekat, agar tubuhnya tidak terlalu lelah dan juga membuang rasa kantuk yang pasti sudah mulai datang.


Abimanyu, menyetujui permintaan Anjani. Dia juga tidak mungkin memaksakan diri untuk bisa mengemudi tanpa beristirahat. Meskipun sebenarnya, dia ingin sekali bisa sampai di Jakarta lebih cepat, tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan keselamatan dirinya dan juga istrinya itu. Apalagi sekarang ada janin yang berada dikandungan Anjani.


Mobil, membelok ke sebuah pom bensin. Selain untuk mengisi bahan bakar, mereka juga ingin membeli makanan untuk mengisi perut mereka, yang mulai terasa lapar. Anjani, mengajak Abimanyu, untuk beristirahat sebentar di tempat peristirahatan yang ada di pom bensin tersebut.


"Mas bisa tidur sebentar di sini. Jani akan bangunkan nanti, sekitar satu jam kemudian. Biar mata Mas Abi juga bisa beristirahat. Jani tidak mau, kalau sampai terjadi sesuatu pada kita, apalagi pada Mas Abi."

__ADS_1


"Iya Sayang. Maaf ya, Kamu jadi ikut repot dan capek karena harus ikut serta dalam perjalanan ini. Tahu begitu, tadi Mas gak balik dulu ke Bogor. Kenapa masalah ini datang, saat kita sedang dalam keadaan berbahagia? Apa Kita tidak boleh merasakan kebahagiaan, dengan kehamilan Kamu ini. Kenapa harus Yasmin juga ikut hamil? dan kenapa harus sebelum dia menikah? Ah, Mas pusing Jani," keluh Abimanyu, sambil menyenderkan kepalanya di bahu istrinya.


"Berbaring Mas, biar enak posisinya. Nanti setelah bangun, bisa melanjutkan perjalanan lagi, dan kita bisa sampai di Jakarta dengan selamat. Kita juga akan bantu ibu serta ayah, untuk masalah Yasmin. Semoga saja, dia tidak melakukan hal yang di luar batas. Dan itu pacar dia, semoga mau bertanggung jawab dan tidak kabur lagi," kata Anjani, berdoa untuk kebaikan Yasmin. Adik iparnya yang tidak begitu menyukai keberadaan dirinya sebagai istri dari kakaknya, Abimanyu.


*****


Ibu Sofie masih saja menangis, di depan pintu kamar Yasmin. Sedari tadi dia mengetuk-ngetuk pintu kamar anaknya tersebut, tapi Yasmin yang ada di dalam kamar, tidak juga membukanya. Yasmin, juga tidak menyahut, sebagai tanda masih adanya kehidupan di dalam kamar itu.


"Ada apa Bu?" tanya Sekar yang baru saja datang dari arah tangga. Dia tidak tahu tentang kehamilan adiknya itu.


"Itu, Yas_Yasmin ada di dalam kamar sedari tadi. Ibu ketok-ketok tidak di buka. Nyahut juga tidak dia," jawab ibu Sofie, masih dengan terisak-isak. Dia menyeka air matanya, agar bisa melihat anak perempuannya yang lain, yang sekarang ada di depan matanya.


"Sekar. Kamu punya pacar?" tanya ibu Sofie, dengan tiba-tiba. Dia ingin tahu, apakah anaknya yang satu ini juga memiliki kekasih atau masih sendiri, seperti yang pernah Yasmin ceritakan.


"Kenapa Ibu tiba-tiba peduli, Sekar punya pacar atau tidak? Apa jangan-jangan Ibu mau jodohin Sekar dengan anak teman Ibu ya? tidak-tidak. Sekar tidak mau!" ucap Sekar dengan tegas. Dia tidak mengerti, kemana arah pertanyaan yang diajukan oleh ibunya tadi.


"Syukurlah kalau begitu. Lebih baik fokus kuliah dari pada pacar-pacaran, dan berakhir jadi hamil."


Ibu Sofie, segera menutup mulutnya sendiri dan kembali terisak-isak. Dia menangis lagi, mengingat nasib anaknya, Yasmin, untuk kedepannya nanti.


"Ibu kenapa? Yasmin juga kenapa?" tanya Sekar heran dengan sikap ibunya.


Dari arah lantai bawah, ayah Edi berteriak memanggil semua penghuni rumah. Dia pikir tidak ada orang, karena rumah terlihat sepi.


"Ibu! Sekar, Yasmin! Pada kemana sih, kok tumben sepi? apa ada di kamar tamu ya, kan masih ada Risma di sini," tanya ayah Edi, pada dirinya sendiri.


Dari arah tangga, Sekar turun bersama dengan ibunya, ibu Sofie, yang terlihat masih menangis. Ini membuat ayah Edi heran dan bertanya-tanya, tentang keadaan istrinya itu.


Setelah mereka berada dalam posisi yang lebih dekat, ayah Edi, segera bertanya kepada istrinya, "Ibu kenapa? kok nangis begitu. Ibu kenapa Sekar?" Ayah Edi, juga bertanya tentang istrinya, pada anaknya, Sekar, yang datang bersama dengan ibunya tadi.

__ADS_1


Sekar hanya menggelengkan kepalanya, karena dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, yang saat itu ada di depan kamar Yasmin.


__ADS_2