Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tulisan Adhisti


__ADS_3

Elang segera bersiap-siap untuk datang ke panti rehabilitasi, dimana istrinya, Adhisti di rawat.


Ini karena dia mendapatkan kabar dari dokter jaga, yang ada di panti rehabilitasi, di mana Adhisti berada saat ini.


Setelah semua selesai dan siap, Elang segera keluar dan mencari keberadaan baby sitter, karena dia tidak bisa berada di rumah seharian ini.


Dia berpesan kepada baby sitter Awan, supaya tetap di rumah saja, dan tidak usah kemana-mana.


"Memang Tuan mau kemana? ini kan hari libur. Biasanya, den Awan kalau bangun suka tanya-tanya soal Tuan," tanya baby sitter, yang sudah lama ikut dengannya. Sejak Awan masih bayi.


Elang, sebenarnya tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Tapi karena tadi saat Awan tidur siang juga dia yang menidurkan, akhirnya dengan setengah hati, Elang menjelaskan juga pada baby sitter tersebut, untuk alasannya keluar siang-siang, saat hari libur seperti sekarang ini.


Setelah mendengar penjelasan dari Elang, baby sitter tampak mengangguk paham. Dia merasa lega, karena bisa menjawab pertanyaan dari Awan, nanti, seandainya Awan bertanya tentang ayahnya.


Setelah selesai menjelaskan pada baby sitter, Elang segera keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama, mobil Elang keluar dari halaman rumah, dan melaju ke arah jalan besar. Dia akan datang ke panti rehabilitasi, sesuai dengan permintaan petugas dari panti tadi.


Perjalanan ke panti rehabilitasi, membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Dan itu jadi terasa sangat lama, karena Elang dalam keadaan tidak tenang.


Dia memikirkan banyak hal, tentang istrinya, Adhisti.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Adhisti. Aku akan sangat merasa bersalah, seandainya terjadi sesuatu padanya." Batin Elang penuh harap.


Akhirnya, Elang sampai juga di area parkir rumah panti rehabilitasi. Setelah parkir dengan aman, Elang segera menuju ke pos penjagaan dan mendaftarkan diri sebagai tamu, yang akan mengunjungi salah satu warga panti.


"Selamat siang Pak," sapa Elang, pada petugas jaga.


"Selamat siang. Ada yang bisa Saya bantu?" tanya petugas tadi. Terkesan sangat formal.


"Saya mau bertemu dengan warga panti, atas mana Adhisti Andriyani." Elang menyebutkan kepentingannya.


"Nama Anda?" tanya petugas itu lagi, untuk mencatat nama tamu yang datang.


"Saya suaminya warga tadi. Elang Samudra. Tadi, Saya menerima panggilan telpon dari dokter yang berjaga hari ini."

__ADS_1


Elang, menunjukan layar handphone, pada riwayat panggilan terakhir kali yang ada pada layar handphonenya tersebut.


Petugas mencatat di layar komputer, dan menghubungi pihak petugas yang ada di dalam.


"Bapak silahkan masuk dan tunggu di ruang tamu yang ada di sana. Dokter yang tadi menghubungi Anda, akan datang menemui Bapak."


Petugas tadi, menunjuk pada ruangan yang ada di sebelahnya, sebelah dalam, yang digunakan untuk ruang tamu pengunjung.


Elang mengangguk, kemudian berjalan menuju ke arah yang tadi ditunjukkan oleh petugas jaga.


Dia menunggu kedatangan dokter, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya, Adhisti.


Beberapa saat kemudian, dokter datang dengan langkah cepat.


"Maaf tuan Elang. Saya tidak bisa membicarakan tentang hal ini di telpon, sehingga meminta Anda untuk datang langsung. Karena Saya tidak mau ada kesalahpahaman, antara petugas yang menjaga istri Anda dengan Anda sendiri."


Perkataan dari dokter jaga, membuat Elang memicingkan matanya heran. Entah apa yang dikatakan oleh dokter tersebut, dia belum paham betul.


"Maksudnya Dok?"


"Begini Tuan," kata dokter tadi, yang memulai ceritanya tentang Adhisti, selama di rawat di panti rehabilitasi ini.


*****


Sudah hampir satu minggu Adhisti di rawat, dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang berarti.


Justru, dia semakin menggila, karena ternyata, dia kenal dengan beberapa petugas panti, yang secara diam-diam bisa di minta untuk membelikan obat-obatan terlarang itu.


Dengan bekal kartu kredit yang di bawa Adhisti, dia bisa mengunakan uangnya, untuk membayar petugas yang mau membantunya.


Petugas yang ketahuan sudah membantu Adhisti, saat ini ada di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Sedangkan Adhisti sendiri, saat ini di kurung dalam kamar berpagar besi, karena kalau tidak dia akan mengamuk.


"Ini dompet dan kartu kredit yang dibawa oleh istri Anda Tuan. Apa Anda tidak tahu, Jiak dia sempat mengambilnya di dalam tas?" tanya dokter tersebut, setelah selesai memberikan penjelasan kepada Elang.


Elang hanya bisa menghela nafas panjang, setelah mendengar cerita dari dokter tersebut. Dia tidak pernah menyangka, jika istrinya itu, sekarang ini sudah tidak lagi bisa diatur dan diarahkan untuk menjadi lebih baik lagi daripada kemarin-kemarin.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana sebaiknya Dokter?" tanya Elang, meminta pendapat pada dokter, yang dia pikir, pastinya tahu lebih banyak tentang penanganan medis pasien yang kecanduan obat-obatan terlarang, seperti Adhisti saat ini.


"Saya pikir, sebaiknya istri Anda biarkan saja berada di dalam tahanan. Ini akan membiasakan dirinya, untuk bisa mengendalikan diri dan keinginannya untuk bisa mencicipi obat-obatan itu lagi."


Dokter tersebut, menjelaskan pada Elang, bagaimana sebaiknya. Tapi, Elang merasa tidak tega, melihat Adhisti ada di dalam penjara.


"Anda tidak boleh lemah Tuan. Ini untuk kebaikan istri Anda sendiri. Mungkin, dia merasa jika Anda akan selalu memaafkan dan melindungi dirinya. Itulah sebabnya, dia tidak mau berubah dan malah terus menerus berusaha untuk mencari perhatian dari Anda. Mungkin, ada trauma masa lalu, yang dia rasakan dan mengendap di dalam hatinya. Jadi, tanpa sadar, dia terus menerus melakukan kesalahan, agar bisa mendapatkan perhatian khusus dari Anda, sebagai suaminya."


Elang menghela nafas panjang dan memejamkan mata, untuk menenangkan pikiran dan perasaannya, di saat selesai mendengar penjelasan dari dokter jaga itu.


"Apa ini ada kaitannya dengan masa kecilnya yang berada di panti asuhan atau karena poligami yang Aku lakukan dengan Anjani?" tanya Elang dalam hati.


Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada diri istrinya itu.


"Lalu, bagaimana dengan tes kejiwaan istri Saya Dok?" tanya Elang ingin tahu, apa hasil dari tes kejiwaan dan psikologis istrinya, yang katanya akan keluar besok.


Tapi karena dia tidak sabar dan ingin tahu, akhirnya dia bertanya juga sekarang.


"Sebenarnya, hasilnya akan Saya berikan besok Tuan Elang. Tapi karena kasus ini baru terbongkar tadi pagi, dan Anda juga sudah datang hari ini, sebaiknya Saya serahkan sekarang saja," jawab dokter tadi, dengan menyerahnya sebuah amplop coklat ukuran besar.


Isi dari dalam amplop tersebut adalah, hasil tes kejiwaan dan psikologis istrinya, Adhisti.


Baik secara langsung, tulis dari beberapa pertanyaan dan dijawab oleh Adhisti, dan ada juga CT scan kepala.


Tentu saja, Elang tidak paham dengan semua yang ada di dalam amplop tersebut. Dia mengerutkan keningnya bingung, melihat semua tulisan yang ada di atas kertas-kertas, yang sekarang ini sedang berada di tangannya.


"Ini bagaimana hasilnya Dok. Saya tidak bisa membaca hasil tes ini. Bukan keahlian Saya juga," tanya Elang, dengan menunjukan kertas-kertas tersebut.


Dokter tersenyum mendengar perkataan dari Elang. Dia mengambil kertas-kertas yang disodorkan oleh Elang padanya.


"Tuan bisa baca yang tulisan tangan. Ini ditulis oleh istri Anda sendiri."


Elang melihat dengan teliti, apa yang dituliskan pada kertas tersebut.


Adhisti menulis semua perasan yang dia rasakan, pada saat dia terjebak pada dunianya sendiri. Dan dia tidak mau jika Elang tahu, apa yang sebenarnya dia lakukan selama ini. Bagaimana perasaannya pada Elang, dulu dan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2