
Saat berjalan menuju ke arah sekolah, Ara mengatakan keinginannya untuk menunggu pemilik motor sport warna hitam tersebut, jika nanti saat pulang, motor itu masih ada di sana dan belum pulang terlebih dahulu.
"Nanti nunggu pemilik motor sport itu ya Kak, maksudnya nunggu kak Awan, jika dia belum pulang," ujar Ara meminta persetujuan dari Nanda.
Tanpa bertanya-tanya lagi, Nanda mengangguk mengiyakan permintaan dari Ara.
"Diyah!"
Dari arah belakang, seseorang memangil nama Ara. Dan Ara tahu pasti, siapa orang yang sedang memangil namanya dengan nama Diyah. Yaitu temannya Awan.
Tapi Ara dan Nanda tetap berjalan, seakan-akan tidak mendengar panggilan orang tersebut. Apalagi Nanda memang tidak tahu, jika temannya Awan, memanggil nama Ara dengan sebutan nama awalnya. Diyah.
"Hai tunggu!"
Terdengar lagi suara memanggil, meminta mereka untuk berhenti dan menunggu.
"Diyah!"
Teman Awan berlari-lari kecil, hingga bisa mengiringi langkah Ara dan Nanda.
"Maafin Kakak ya kemarin. Kakak tidak tahu, jika dia adalah saudara Kamu sendiri."
Ara tidak menyahuti perkataan dan permintaan maaf dari temannya Awan. Sedang Nanda, juga diam saja, karena merasa jika dia tidak ada sangkut pautnya dengan temannya Awan.
Nanda hanya memperhatikan dalam diamnya. Jika teman Awan berbuat macam-macam dengan Ara, baru bertindak.
"Oh ya, Kamu anak baru ya, kelas berapa?" tanya teman Awan, pada Nanda.
"Ya," jawab Nanda pendek, tanpa memberitahu di mana kelasnya.
Ara sudah sampai di bangunan sekolah SMP, dia pamit pada Nanda, kemudian berjalan menuju ke arah kelasnya sendiri.
Setelah Ara pergi, Nanda beralih pada teman Awan, yang sekarang ini sudah menjadi kakak kelasnya juga, dengan tingkat sekolah yang sama, yaitu SMA.
"Kamu sepupunya Diyah?" tanya temannya Awan, ingin tahu.
Nanda menoleh ke arah orang yang sedang bertanya kepadanya. "Ya. Aku sepupunya. Dan jika Kakak macam-macam, sama seperti kemarin sore. Aku tidak akan tinggal diam. Kakak akan berurusan denganku."
Perkataan Nanda, yang penuh dengan tekanan, membuat temannya Awan mengangguk dalam diam. Dia pikir, sekarang ini, tidak mungkin bisa melanjutkan rencananya lagi. Dia tidak mau gegabah dalam bertindak, sama seperti kemarin. Apalagi, saat ini, sepertinya, adik kelasnya itu, Ara, masih marah dengannya.
Nanda membelok ke arah ruang guru, karena dia belum tahu, mau ditempatkan di kelas yang mana. Dia juga tidak mengucapkan sepatah kata pun, pada temannya Awan lagi.
Nanda pergi begitu saja, hingga membuat temannya Awan, merasa kesal dan akhirnya pergi ke kelasnya sendiri.
"Woi Wan!" sapa teman Awan padanya.
Awan hanya menoleh sesaat. Dia tidak merespon sapaan temannya itu. Dia masih asyik dengan bacaannya, yang ada di layar handphone miliknya.
__ADS_1
"Baca apaan sih? serius amat." tanya temannya Awan, ingin tahu.
Tapi Awan tetap saja tidak menjawab pertanyaan dari temannya itu. Dia justru kembali asyik dengan bacaannya.
"Baca apaan sih, Gue dicuekin?" seru teman Awan lagi.
Tot!
Tot!
Tot!
Tapi pada saat dia hampir merebut handphone milik Awan, bel sekolah berbunyi. Itu membuatnya menghentikan niatnya. Dan akhirnya, teman Awan kembali ke tempat duduknya sendiri.
Awan mematikan handphone miliknya, kemudian menyimpannya di dalam tas. Sudah waktunya untuk belajar, dengan menunggu guru yang datang untuk memberikan pelajaran serta tugas-tugas.
Dan benar saja, tak lama kemudian, guru mereka datang dengan laptopnya, dengan kertas-kertas tugas, yang akan dia berikan pada siswa-siswinya.
*****
Anjani sedang menyetrika baju-baju, ketika handphone miliknya berbunyi.
Klunting
Klunting
Klunting
"Yasmin? Ada apa ya?" tanya Anjani, pada dirinya sendiri.
Dengan cepat, karena ingat dengan kondisi Yasmin yang sedang hamil tua, Anjani menerima panggilan telpon tersebut.
..."Halo Yasmin! ada apa?"...
..."Mbak, Mbak Jani. perut... perutku mules-mules. Padahal, perkiraan lahir masih tiga hari lho."...
Suara Yasmin, tampak bergetar, menahan rasa sakit yang dia alami. Apalagi, dia juga mengatakan kalimatnya dengan terputus-putus.
..."Eh, ada orang gak di rumah?"...
..."Ada, bibi pembantu saja ini."...
..."Aksan udah balik ke Jakarta kan? Kemana dia?"...
..."Tadi baru saja pergi ke supermarket. Tapi udah Aku telpon untuk pulang kok Mbak."...
..."Oh ya sudah. Aku datang ke rumah kalau begitu. Tunggu ya!"...
__ADS_1
Dengan segera, Anjani membereskan baju-baju yang sudah dia setrika, dan memisahkan dengan yang belum.
Setelah semua selesai, dia bergegas berganti pakaian, kemudian keluar dari rumah. Tidak lupa, Anjani juga mengunci pintu rumahnya.
Untungnya, ada tetangga rumah yang baru saja lewat dengan motornya. Akhirnya Anjani menghentikan tetangganya itu, dan meminta tolong untuk mengantar dirinya ke rumah ayah Edi.
"Jeng, Jeng Nita. Tolong antar Saya ke rumah ayah Edi ya, adik Saya Yasmin sedang kesakitan. Mungkin mau melahirkan."
Tetangga Anjani, yang dia panggil dengan sebutan Jeng Nita, mengangguk mengiyakan permintaannya. Dia dengan senang hati, memberikan pertolongan kepada Anjani, untuk mengantarnya ke rumah ayah Edi.
"Suaminya Jeng Yasmin ke mana Jeng Jani? Kan suaminya yang baru, ikut pulang pulang juga kan kemarin?" tanya Jeng Nita, pada saat ada di perjalanan menuju ke arah rumah ayah Edi.
"Iya ada di rumah. Tapi namanya laki-laki Jeng, belum pengalaman juga. Jadi Yasmin telpon Saya tadi. Aksan juga sedang pergi ke supermarket katanya."
Jeng Nita menganggukkan kepalanya paham, dengan apa yang dijelaskan oleh Anjani tadi. Karena kebanyakan, laki-laki tidak begitu peka terhadap keadaan yang seperti itu.
"Terima kasih ya Jeng Nita!" ucap Anjani, pada saat sudah sampai di rumah ayah Edi.
"Iya sama-sama. Semoga lancar dan selamat saat melahirkan ya Yasmin_nya," sahut Jeng Nita, sambil mengangguk.
Jeng Nita langsung pamit untuk pergi, karena masih ada urusan.
Anjani pun mengangguk, kemudian masuk ke dalam rumah ayah Edi, begitu Jeng Nita pergi.
"Mbak, mules-mulesnya udah tidak sesering tadi," ujar Yasmin, pada saat Anjani sudah masuk ke dalam rumah.
Yasmin sedang duduk di kursi tamu, sambil memegangi perutnya. Sedangkan tangan yang satunya lagi, mengelus-elus perutnya sendiri.
"Mungkin kontraksi palsu ya?" tanya Anjani, memberikan penilaian terhadap mules yang dialami oleh Yasmin.
"Ya mungkin Mbak," jawab Yasmin, sambil tersenyum canggung, karena merasa sudah merepotkan kakak iparnya itu.
Kontrasi palsu atau kontraksi Braxton Hicks adalah kontraksi dengan pola tidak teratur yang kerap hilang dan timbul. Braxton Hicks adalah kontraksi yang biasanya mulai terasa sejak usia kehamilan 35 sampai 36 minggu. Ini merupakan bagian dari proses yang normal selama kehamilan.
Jadi, mules-mules yang dirasakan wanita hamil, belum tentu sudah saatnya untuk melahirkan.
Tapi tetap perlu diperhatikan, karena bisa jadi, kontraksi tersebut akan terjadi secara terus menerus, yang merupakan tanda-tanda jika memang bayi mau lahir.
Akhirnya, Anjani menemani Yasmin, sambil menunggu kedatangan Aksan, suaminya Yasmin.
"Untungnya Aku tidak menghubungi ibu ataupun ayah tadi Mbak. Kalau sampai itu terjadi, dan kayak gini kan jadi repot mereka. Udah buru-buru pulang, ternyata gak jadi mulesnya. Hehehe... maaf ya Mbak Jani, udah bikin panik tadi."
Anjani tersenyum mendengar perkataan adik iparnya itu.
"Iya gak apa-apa. Untungnya rumah dekat. Tadi juga ada jeng Nita, yang kebetulan lewat dan mau ngantar Mbak ke sini," sahut Anjani, menenangkan hati adiknya itu.
Setelah mereka berdua berbincang-bincang cukup lama, Aksan datang. Dia tidak membawa apa-apa, karena memang belum sempat sampai di supermarket. Jadi, urusannya untuk belanja batal, karena mendapat panggilan telpon dari istrinya, Yasmin, yang mengatakan bahwa perutnya mules-mules, dan dikiranya sudah mau melahirkan.
__ADS_1
Kehamilan Yasmin yang kedua ini, adalah anak pertama bagi Aksan. Tentu saja, dia merasa khawatir, meskipun dia juga merasa sangat senang, karena akan segera menjadi seorang ayah nanti.