Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rasa Yang Canggung


__ADS_3

Suasana di rumah Abimanyu, masih tampak meriah hingga malam hari. Mereka semua, belum ada yang pamit untuk pulang terlebih dahulu, karena masih ingin berbincang-bincang sebentar dengan orang-orang yang ada.


Mereka semua beralasan jika waktu seperti ini sangat langka. Belum tentu bisa mereka ulang, untuk beberapa waktu ke depan nanti.


Apalagi, ayah Edi dan papa Ryan, sedang berbincang-bincang tentang banyak hal yang sama-sama mereka berdua sukai. Dan ternyata, jika dua orang laki-laki sedang berbicara, sama seperti dua wanita yang sedang berbicara. Ada saja topik perbincangan yang mereka miliki. Tidak ada habisnya, meskipun itu dunia luar, bukan hal yang menyangkut masalah pribadi.


Mama Amel, juga bisa berbincang-bincang dengan Anjani dan ibu Sofie dengan akrab. Tidak sama seperti dulu lagi, yang ibu Sofie_nya terkesan ketus.


Sekarang semuanya berubah, dan itu karena ibu Sofie sudah membuktikan sendiri sekian tahun lamanya, bahwa anaknya, Abimanyu, tidak salah memilih Anjani sebagai istrinya. Meskipun status Anjani adalah janda siri dari anak mama Amel, Elang.


Abimanyu dan Elang, serta Juna, juga berbincang-bincang dengan santai sambil menikmati makanan dan minuman. Mereka bertiga, membicarakan tentang olahraga, dan isu-isu dunia yang sedang hangat dibicarakan oleh banyak orang.


Ara masih diam dan tidak ada yang bisa dia bicarakan. Begitu juga dengan Awan. Mereka berdua, seperti tidak saling mengenal sebelumnya.


"Hai, kenapa kalian kayak bermusuhan begitu. Bicara apa kek, biar gak sepi," ujar Nanda, memecah keheningan yang ada di antara mereka bertiga.


Ada Ara, Nanda dan Elang di teras depan rumah. Mereka bertiga, belum mendapatkan topik perbincangan yang bisa membuat mereka tampak lebih akrab lagi.


Ara tersenyum mendengar perkataan dari kakak sepupunya itu. Dia melirik sekilas ke arah Awan. Tapi sayangnya, Awan juga sedang melirik ke arah Ara, sehingga tatapan mata mereka berdua beradu. Beberapa detik kemudian, keduanya sama-sama menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malu dan juga canggung, yang tiba-tiba saja muncul.


Wajah keduanya juga tampak memerah, meskipun samar, karena hari sudah gelap.


Awan bukan pemuda yang dengan mudah berbicara dengan orang lain. Ini karena sedari kecil, dia hidup hanya di rumah, dan tidak banyak bergaul dengan orang-orang.


Itulah sebabnya, dia tidak bisa membuat topik perbincangan terlebih dahulu. Dia hanya mengikuti pembicaraan sudah ada.


"Oh ya Kak Awan. Kakak sekolah di mana?" tanya Nanda, ingin tahu. Sepertinya, Nanda berpikir jika mereka membicarakan tentang sekolah saja, yang bisa mencairkan suasana. Karena usia mereka bertiga, tentu saja tidak asing dengan pembahasan tentang keadaan dan kejadian yang ada di sekolah.

__ADS_1


"Emhhh... itu, di sekolah... sekolah yang sama seperti Ara. Tapi tingkat SMA nya," jawab Awan dengan terputus-putus.


"Lho, berarti kalian udah saling kenal kan?" tanya Nanda lagi. Dia memancing Awan, ataupun Ara, supaya bisa berbincang dan tidak saling diam seperti sekarang ini.


Awan mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Nanda. Sekarang, Nanda mengalihkan perhatiannya pada adik sepupunya itu.


"Ra. Kok diem dan gak ngomong, kalau ternyata kalian udah saling kenal?" Nanda bertanya menyelidik curiga, pada sikap Ara yang tidak biasa.


Ara yang sedari tadi sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja, hati dan pikirannya, Hadi serba salah dengan apa yang ditanyakan oleh kakaknya itu. Wajahnya kini kembali merona. Ada rasa malu, canggung dan sungkan, yang ada pada Ara sekarang ini.


Rasa deg-degan yang ada di dalam hatinya, semakin terasa kencang. Bahkan, Ara merasa jika, detak jantungnya juga lebih keras dari biasanya.


Ara jadi merasa takut, jika detak jantungnya bisa terdengar sampai di telinga Nanda, ataupun Awan.


"O ya Nda, berarti Kamu sepupunya Ara, yang baru pulang dari Taiwan?"


Dan pertanyaan ini juga mengalihkan perhatian Nanda, dari Ara ke Awan.


"Iya Kak. Aku kakak sepupunya Ara. Sebenarnya sih, Aku adik sepupunya. Karena Aku anaknya mama Yasmin, yang merupakan adiknya ayah Abi. Tapi karena sedari kecil kami bersama-sama, dan Aku lebih tua, Aku yang tidak mau memanggil Ara dengan sebutan Kak, jadi dia yang minta panggil Kak untuk Aku. Jadi kebalik kan. Hehehe..."


Awan mengangguk paham. Ada sebagian dari hatinya yang terasa lebih ringan. Tapi, Awan juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Yang pasti, dia bisa bernafas lebih lega saat ini.


"Emhhh, sekarang Kamu sekolah di mana Nda?" tanya Awan, yang juga ingin tahu, di mana sekolah Nanda saat ini.


"Belum sekolah Kak. Rencana mau daftar jadi adik kelas Kakak besok. Hehehe... kita bisa satu sekolah nanti. Rame kan?"


Awan tersenyum tipis, mendengar jawaban dari Nanda. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, saat mendengar jawaban dari Nanda, yang mengatakan bahwa dia akan mendaftar di sekolah yang sama seperti sekolahnya sendiri dan juga Ara.

__ADS_1


"Kak, Aku ke dalam dulu ya. Mau lihat Anggi dan Miko. Sedari tadi kok gak terdengar suaranya. Kemana mereka berdua ya?"


Ara pamit pada kedua cowok yang ada di sampingnya. Dia mencoba untuk lari dari perasaan yang saat ini datang di dalam hatinya.


Tapi sedari tadi, Ara memang tidak mendengar suara kedua adiknya, yang biasa usil dan suka mengganggunya. Tapi entah kenapa, sekarang ini mereka berdua seperti tidak ada diantara mereka semua. Entah pergi ke mana mereka berdua.


"Oh iya. Ke mana mereka ya?" Nanda juga baru sadar, jika kedua adik sepupunya itu tidak terlihat.


Akhirnya, Ara pergi mencari ke-dua adiknya itu. Sedang Nanda, kembali melanjutkan perbincangannya dengan Awan.


"Tante, liat Anggi dan Miko gak?" Ara bertanya kepada Sekar, yang ada di ruang tamu, bersama dengan suaminya dan juga adiknya, Yasmin.


"Oh ya Mas. Ke mana mereka berdua?"


Sekar tidak menjawab pertanyaan dari Ara. Dia justru bertanya kepada suaminya, yang baru saja duduk bersama dengannya. Karena tadi, Juna ada di antara Abimanyu dan Elang.


"Lho, gak tahu ke mana mereka. Coba cari Ra, mungkin ada sama bunda Kamu," jawab Juna, menunjuk ke tempat lain, yang ada Anjani dan juga mama Amel di tempat itu.


Ara pun melanjutkan langkahnya, menuju ke arah tempat bundanya berada. Dia juga melihat ke sekeliling, untuk mencari keberadaan kedua adiknya, Anggi dan Miko. "Kemana mereka ya?" tanya Ara bergumam sendiri.


Sekarang, Ara sudah ada di dekat bundanya. Dia ingin bertanya tentang adiknya itu, tapi sepertinya bundanya sedang menjawab pertanyaan dari omanya Awan, sehingga Ara mengurungkan niatnya untuk bertanya. Tidak sopan, jika memotong pembicaraan orang lain, apalagi yang lebih tua.


Setelah beberapa menit kemudian, Anjani sudah selesai dengan jawaban yang dia berikan pada mama Amel, Ara baru berani untuk bertanya. "Bun. Anggi sama Miko ke mana?"


"Eh, bukannya sama kamu tadi di luar, ada di teras kan?" Anjani justru bertanya kepada Ara, kare tadi, Anggi minat ijin untuk bermain dengan Miko di teras depan.


Tapi Ara mengelengkan kepalanya. Dia juga tidak tahu, ke mana kedua adiknya itu berada sekarang ini. Karena sedari tadi, dia tidak melihat dan mendengar suara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2