
Jam dua siang, acara akad nikah dilaksanakan. Ijab kabul, di ucapkan oleh Awan dengan lancar. Dan semuanya berjalan dengan baik.
Meskipun persiapannya hanya sekitar dua jam. Karena insiden penculikan Ara dan Anggi, yang hampir saja membuat acara pernikahan mereka ditunda. Bahkan bisa jadi gagal.
Dan sekarang ini, Awan sudah resmi menjadi suaminya Ara. Semuanya ikut merasakan kebahagiaan dan keharuan, saat ijab kabul baru saja selesai diucapkan oleh Awan.
Awan mencium kening Ara. Di saat Ara selesai menyalami tangan dan mencium punggung tangannya.
Dia ingat kejadian yang baru saja dialami oleh istrinya itu. Dia sangat bersyukur. Karena akhirnya semuanya bisa diselamatkan. Dari niat jahat orang-orang yang telah membuat kekacauan.
Sekarang, semua prosesi pernikahan sudah selesai dilakukan. Dan untuk sementara waktu, mereka beristirahat sejenak di hotel ini. Di mana acara resepsi akan dilanjutkan untuk nanti malam.
Mereka semua, berkumpul di suatu ruangan yang luas, biasanya untuk metting room, dan sekarang ditempati untuk berbincang-bincang oleh kedua keluarga.
Padahal sebenarnya, mereka bisa beristirahat di kamarnya masing-masing. Tapi karena masih ingin berbincang-bincang dengan santai bersama dengan yang lain, akhirnya mereka semua hanya berkumpul di ruangan ini. Membicarakan tentang hal yang dialami oleh Ara dan juga Anggi.
"Semoga pihak kepolisian segera bisa mengungkap, siapa dalang dari semuanya. Aku gregetan ini!" ucap ibu Sofie, yang duduk dengan tidak tenang.
"Iya itu Bu Sofie. Saya juga kok pengen banget itu jambak rambutnya," sahut mama Amel.
"Ya kalau dia punya rambut Ma. Kalau ternyata dia gundul bagaimana?" tanya papa Ryan, dengan maksud bergurau.
"Hahaha... iya itu!" ucap ayah Edi menimpali.
Abimanyu dan Anjani, hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan dari orang-orang tua mereka. BB
Begitu juga dengan Elang. Yang sedari tadi mengecek handphone miliknya.
Keluarga kecil Yasmin dan Sekar, sedang beristirahat di kamar hotel. Karena mereka ada anak-anak kecil, yang harus tidur terlebih dahulu sebelum acara resepsi nanti malam.
Nanda sedang berkeliling gedung bersama dengan Miko. Mengecek segala sesuatu, yang bisa jadi menjadi kecurigaan terhadap orang-orang tertentu.
Padahal pihak gedung yang bekerja sama dengan WO, sudah menempatkan sekelompok penjaga. Untuk keamanan acara. Baik siang tadi, maupun untuk nanti malam.
Ada juga beberapa anggota polisi, yang ikut berjaga-jaga. Demi keamanan dan keselamatan semua orang.
Elang bahkan menyuruh seseorang, untuk menyewa detektif swasta. Untuk ikut menyelidiki kasus ini. Dia juga merasa sangat penasaran. Siapa orang yang sedang ingin mengacaukan keluarganya, melalui keluarga calon besan dan menantunya itu.
'Sepertinya, Aku tidak punya musuh. Lalu, siapa yang ingin melakukan semua ini?' tanya Elang dalam hati.
__ADS_1
Dia ingat dengan pertanyaan beberapa penyidik ataupun detektif swasta yang dia sewa.
Mereka bertanya pada Elang, apakah memiliki musuh dalam persaingan bisnis. Atau bisa jadi, orang-orang yang tidak suka dengan keluarganya.
Sayangnya, Elang merasa tidak pernah memiliki musuh. Karena semua permasalahan di perusahaan, sudah diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan baik-baik saja.
"Bi. Bisa bicara sebentar?"
"Oh bisa Mas Elang. Di mana?"
Elang ingin berbicara tentang hal ini, dengan Abimanyu. Dia ingin bertanya, apakah Abimanyu memiliki musuh, atau orang yang tidak suka dengan keluarganya. Sama seperti yang ditanyakan oleh pihak penyidik detektif swasta, yang bertanya kepada dirinya.
"Bun. Aku keluar sebentar ya!" pamit Abimanyu, disaat Elang menunjuk ke arah pintu.
Itu artinya, dia ingin bicara dengan Abimanyu di luar ruangan.
Anjani hanya mengangguk saja, tanpa menjawab dan menyahuti. Dia juga melihat ke arah Elang, pada saat Elang mengangguk samar padanya.
Sedangkan ke dua orang tua mereka, masih berbincang-bincang tentang masalah ini. Dari berbagai sudut pandang mereka masing-masing.
Setelah keduanya ada di luar ruangan.
Abimanyu bertanya pada Elang, "Ada apa Mas? Apa ada perkembangan dari penyidikan?"
"Bukan Bi. Aku hanya ingin bertanya padamu. Apa Kamu merasa punya musuh, atau apa gitu. Orang yang gak suka gitu intinya." Elang mencoba untuk menerangkan kepada Abimanyu, dengan pertanyaan yang dia ajukan.
Dengan kening berkerut, Abimanyu mencoba untuk mengingat-ingat, apakah ada seseorang yang benci dengan keluarganya atau semacamnya.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Abimanyu tidak menemukan seseorang yang bisa dia curigai.
"Saya rasa gak ada Mas. Semua baik-baik saja. Gak ada yang jadi musuh atau merasa bermusuhan dengan orang lain."
Elang kembali bertanya pada Abimanyu. "Mungkin dari ipar Kamu yang dulu. Emhhh... itu lho yang pernah dipenjara katanya. Siapa itu namanya?"
"Oh... itu Wawan Mas. Tapi, dia itu sekarang sudah jadi wirausahawan Mas. Dengan istrinya yang sekarang. Nanda yang sering bercerita pada bundanya. Jika dengan mamanya sih malah gak pernah."
"Emhhh... begitu ya."
Elang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Abimanyu tentang Wawan.
__ADS_1
Sekarang, dia harus kembali berpikir, karena pertanyaan yang diajukan oleh pihak penyidik ataupun detektif swasta, belum bisa dia jawab tadi, untuk pihak keluarga Ara sendiri.
"Apa sewaktu Kamu ada di PT SAMUDERA GROUP bersama mama dulu, juga gak ada yang patut dicurigai?" tanya Elang lagi.
Sepertinya, dia belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Abimanyu. Dia ingin segera mengetahui, ada apa di balik semua ini.
"Saya rasa gak ada Mas. Mama Amel itu orang yang baik dan ramah. Jika ada masalah, dia pasti akan segera menyelesaikan semuanya sebaik mungkin. Dan jika bisa, diselesaikan dengan cara kekeluargaan atau damai."
Elang kembali menganggukkan kepalanya paham. Dia tahu, bagaimana watak dan karakter mamanya.
Dia hanya ingin tahu, apakah ada yang terlewat, dari pengamatan. Itulah sebabnya, dia bertanya pada Abimanyu saat ini.
"Ya sudah kalau begitu. Biarkan pihak kepolisian dan yang lainnya, yang akan mengurus semua ini." Akhirnya, Elang menyerah.
Dia mengajak Abimanyu untuk kembali masuk ke dalam ruangan. Di mana keluarga mereka masih ada di dalam sana.
"Kita gak beristirahat dulu sebentar di kamar ini Ma, Pa?" tanya Elang, begitu masuk ke dalam ruangan.
Karena dia melihat orang-orang tua tersebut, masih asyik berbincang-bincang.
"Iya ayo! Setidaknya kita meluruskan punggung di tempat tidur. Hahaha..." papa Ryan tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataannya sendiri.
"Iya-iya. Kita ini sudah tua ternyata," sahut ayah Edi membenarkan perkataan papa Ryan.
*****
Di sebuah kamar, di hotel yang sama seperti tempat ruangan yang digunakan untuk berbincang-bincang oleh orang-orang yang lebih tua tadi.
Awan dan Ara sedang sama-sama beristirahat sejenak. Sebelum melanjutkan acara mereka nanti malam.
"Ra," panggil Awan, yang berbaring di tempat tidur yang sama seperti yang ditiduri oleh Ara juga.
Tapi keduanya tidak juga berani untuk berbuat apa-apa. Meskipun sebenarnya, mereka berdua sudah sah dan tidak ada larangan untuk bisa berbuat lebih.
"Ya... ya Kak," jawab Ara, gugup. Dengan mata yang pura-pura mengantuk.
Dia berpikir bahwa, suaminya itu akan meminta hak nya sore ini juga.
Dadanya terasa sesak, karena takut dan juga rasa yang tidak bisa dia artikan sendiri.
__ADS_1
"Ra," panggil Awan lagi.
Sekarang, Awan memegang lengan istrinya itu. Dan akhirnya dia tersenyum sendiri, di saat melihat Ara yang sedang dalam keadaan gugup seperti ini.