Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rasa Yang Tak Biasa


__ADS_3

Di rumah sakit.


Anjani baru tiba di rumah sakit, sekitar jam dua siang. Dia langsung menuju ke ruang operasi, di mana Yasmin sedang menjalani operasi Caesar.


Dari kejauhan, tampak suaminya, Abimanyu, yang berdiri dengan cemas, bersama dengan Aksan dan juga ayah Edi. Sedangkan di tempat duduk, tidak jauh dari tempat suaminya berdiri, ada ibu Sofie, Sekar dan juga Nanda.


Mereka semua, menuggu hasil operasi yang dilakukan oleh Yasmin.


"Mas," sapa Anjani, pada suaminya, Abimanyu.


"Kamu ke sini, sama siapa?" tanya abimanyau, yang tidak tahu jika, istrinya itu akan menyusulnya ke rumah sakit.


Semua orang menoleh ke arah Anjani. Mereka juga merasa senang, dengan kedatangan Anjani. Tapi raut wajah kecemasan, tetap ada pada wajah-wajah mereka semuanya.


Akhirnya Anjani mengatakan bahwa, dia merasa khawatir dengan keadaan Yasmin, sehingga dia tidak tahan lagi, untuk menyusul ke rumah sakit.


Apalagi, dia juga tidak bisa melakukan panggilan telpon ataupun sekedar berkirim pesan, untuk bertanya tentang keadaan Yasmin.


Dan sampai di rumah sakit, dia juga belum sempat mengisi pulsa ataupun data selulernya.


"Pulsa dan data seluler Jani abis Mas. Dan Jani gak mau cuma nunggu saja di rumah. Tapi tadi Aku sudah kasih pesan pada bibi pembantu rumah Sekar, untuk menjemput dan menjaga Anggi dan Miko sepulang mereka dari sekolah."


Anjani mengatakan apa-apa, yang telah dia pesankan untuk bibi pembantu rumah adiknya, Sekar.


Setelah mendengar cerita dari Anjani, Sekar merasa lega, karena Miko dan Anggi tidka akan mencari-cari keberadaan bundanya itu.


"Kenapa tidak bilang, atau berhenti dulu di counter tadi?"


"Gak kepikiran Mas. Jani juga bisa mampir-mampir. Langsung ke sini saja tadi," ujar Anjani, menjelaskan pada suaminya.


"Ara bagaimana Bunda?"


Nanda mengingatkan Anjani, pada Ara, yang tentunya juga pulang sendiri nantinya. Apalagi,. Pak ojek juga sedang pulang ke kampung halamannya.


"Ara naik angkutan Nda," jawab Anjani, yang sebenarnya juga merasa khawatir, karena Ara tidak pernah pulang sendiri dengan naik angkutan umum, dengan berganti-ganti angkutan, untuk bisa sampai di rumah.


"Apa Nanda jemput Ara saja?" Nanda memberikan usulan, untuk menjemput Ara sepulang sekolah nanti.


"Eh, gini aja Nda. Kamu ada no telpon Awan gak? biar dia yang antar Ara pulang sekolah," sahut Anjani, yang ingat bahwa, Awan juga satu lokasi sekolah dengan Ara, meskipun berbeda tingkatannya.


Abimanyu juga menyetujui usulan dari istrinya itu. Itu akan lebih baik, dari pada Nanda harus pulang pergi, terlebih dahulu, untuk menjemput Ara ke sekolah.

__ADS_1


Tapi sayangnya, Nanda tidak punya nomer handphone milik Awan. Yang lain juga sama. Mereka semua, tidak punya kontak nomer handphone Awan ataupun teman Ara yang lainnya.


"Mas. Tanya mama Amel atau mas Elang saja. Kan mereka juga tadi sudah Mas Abi mintai ijin, pasti mereka tidak keberatan, jika Awan mengantar Ara pulang ke rumah."


Akhirnya abimanyau menyetujui usulan dari istrinya itu. Dan karena handphone milik Anjani kosong, sehingga tidak bisa melakukan panggilan telpon, akhirnya Abimanyau yang menghubungi mama Amel, untuk meminta nomer handphone milik Awan.


Tentu saja, mama Amel dengan senang hati, memberikan nomer handphone milik Awan, sehingga Abimanyu bisa menghubungi cucunya, nanti pada saat jam pulang sekolah.


Abimanyu, mengucapkan terima kasih, kepada mama Amel, karena dia terpaksa harus melakukan itu, karena merasa khawatir, dengan keselamatan anaknya, Ara, yang tidak terbiasa pulang sendiri dengan angkutan umum, sepulang dari sekolah.


Karena bisa jadi, Ara akan sampai di rumah pada malam hari, karena angkutan umum yang harus berganti-ganti, dengan keadaan angkutan yang kadang banyak berhentinya, untuk naik turunnya penumpang. Belum lagi jika sedang ngetem, sehingga waktunya bertambah lama lagi.


Begitulah akhirnya. Abimanyu menelpon Awan, pada saat jam pulang sekolah. Dan untungnya, Awan juga menyanggupi permintaannya, untuk bisa mengantar Ara pulang ke rumah.


*****


Ciiittt!


Suara gesekkan ban motor dengan aspal, menghasilkan suara berdecit, yang mengagetkan Ara.


Ara sedang berjalan sambil menunduk saja, dan tidak menghiraukan keadaan sekitar, tentu saja merasa kaget, dengan suara motor yang sedang di rem.


Ara menoleh ke arah sumber suara dengan cepat. Dan dia lebih merasa kaget lagi, saat melihat keberadaan Awan dengan sepeda motornya.


"Ayok naik!"


Ara tidak yakin dengan apa yang dia dengar, karena bisa jadi, suara Awan yang tertutup dengan helm full face miliknya, membuat perkataan yang dia ucapkan, berbeda dengan apa yang didengar oleh Ara.


Jadi, Ara hanya melihat dari tempatnya berdiri. Dia tidak menyahut ajakan Awan, karena tidak tahu, jika Awan menerima panggilan telpon dari ayahnya, Abimanyu.


"Ra. Ayok!"


Awan kembali mengajak Ara, dengan menepuk ke arah boncengan motornya.


Awan kembali meminta pada Ara, supaya naik ke atas boncengan motornya. Awan juga menepuk boncengan motornya., supaya Ara mengerti apa yang dia maksudkan.


"Tapi Kakak rumahnya jauh. Kasian jika harus mengantar Ara pulang ke rumah," kata Ara, yang merasa tidak enak hati, dengan pertolongan Awan kali ini.


"Ayah Kamu yang minta kok tadi. Om Abi juga sudah minta ijin pada Oma Aku."


Ara lebih kaget lagi, saat mendengar perkataan dari Awan. Dia tidak menyangka, kalau semua ini adalah permintaan dari ayahnya. Bukan karena keinginan Awan sendiri.

__ADS_1


"Udah ayok! keburu malam."


Akhirnya Ara menurut. Dia naik ke atas boncengan motor sport Awan, dengan berpegangan pada pundak Awan.


Karena motor sport itu kerangkanya tinggi, tentu saja, Ara sedikit kesulitan untuk naik ke atas boncengannya.


Awan pun berinisiatif untuk memegang tangan Ara, supaya tidak jatuh.


Tapi karena itu juga, Ara menjadi tersipu saat Awan memegang tangannya, tanpa permisi terlebih dahulu.


"Ma_maaf."


Ara mengangguk dengan tersenyum canggung. Dia juga merasa senang tapi juga malu. Hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Pegangan ya," kata Awan mengingatkan pada Ara, supaya tidak jatuh, saat motornya mulai berjalan.


Dengan hati-hati, Ara berpegangan pada besi yang ada di belakang boncengan motor.


Sebenarnya itu adalah posisi yang tidak nyaman untuk berpegangan saat membonceng motor.


Tapi, Awan juga tidak mau menegur Ara. Dia tidak ingin membuat Ara merasa lebih canggung lagi. Karena sebenarnya dia juga merasa jantungnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tidak sama seperti biasanya, atau saat pertama kali dia membonceng Ara, pagi itu.


'Kemarin saat Aku bonceng dia pagi-pagi dulu, jantungku baik-baik saja. Kenapa sekarang cepat sekali degupnya. Ara dengar gak ya?' kata Awan, yang bertanya-tanya dalam hati.


'Semoga Ara tidak mendengar suara jantungku,' kata Awan penuh harap.


Awan tidak ingin, keadaan jantungnya diketahui oleh Ara.


*****


Di rumah Sekar.


Miko sedang tidur, sedang Anggi, tidak bisa memejamkan matanya, karena kakaknya, Ara belum juga pulang dari sekolah.


"Neng Anggi. Tidurlah Neng, nanti juga Kakak neng Anggi pulang kok," kata bibi pembantu rumah Sekar, merayu Anggi, supaya mau tidur, sama seperti yang dilakukan oleh Miko.


"Anggi gak ngantuk Bi," jawab Anggi, yang tetap menolak untuk tidur.


"Ya sudah. Tapi jangan nakal ya Neng. Nanti Den Miko kebangun," ujar bibi pembantu, yang bisa-bisa kesulitan, untuk menenangkan mereka berdua, jika sedang bertengkar.


"Bi. Minta susu hangat boleh? Anggi mau minum susu hangat." Anggi meminta pada bibi pembantu, untuk dibuatkan susu hangat.

__ADS_1


Sepertinya Anggi sedang merasa tidak tenang, karena kakaknya, Ara belum juga pulang dari sekolah. Padahal, hari hampir berganti dengan malam.


__ADS_2