
"Kak. Kak Ara."
Ara menoleh, saat ayahnya, Abimanyu memangil dirinya.
"Ya Yah, ada apa?" Ara menjawab panggilan ayahnya, sambil berjalan mendekat, ke tempat ayahnya duduk.
Abimanyu, menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya. Memberikan tanda bahwa, Ara di minta untuk duduk juga, agar bisa bicara dengan dirinya lebih nyaman dan tenang.
Ara pun menurut. Dia duduk di samping ayahnya, dan siap untuk mendengarkan, apa yang ingin disampaikan oleh ayahnya itu.
"Sebentar lagi, Kakak akan naik kelas delapan. Dan sepertinya, waktu itu cepat sekali jalannya."
Ara hanya mengangguk, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh ayahnya itu.
"Apa Kakak ada rencana untuk sekolah di tempat lain? Atau masih di sekolah tersebut?" tanya Abimanyu, memancing apa yang diinginkan anaknya itu, untuk rencananya ke depan nanti.
"Tapi itu kan masih dua tahun lagi Yah. Apa Ara harus memikirkannya sekarang?" tanya Ara, yang belum mengerti, ke mana arah pembicaraan yang mereka lakukan saat ini.
Abimanyu menghela nafas panjang. Dia sebenarnya bingung juga, untuk bisa menyampaikan sesuatu, yang masih terlalu dini.
"Hemmm... ya gak juga Kak. Tapi, Kakak makin gede lho, harus ada planning dari jauh-jauh hari, agar Ayah dan bunda, juga bisa memikirkan segala sesuatunya, untuk membantu rencana Kakak itu."
Ara terdiam. Dia memang masih terlalu kecil, untuk mengerti dan berpikir jauh-jauh, selain apa yang sekarang ini dia jalani.
Tapi mendengar perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh ayahnya, Ara pun akhirnya paham. Dia harus merencanakan segala sesuatunya, agar ayahnya bisa siap dengan biaya, mental dan apa saja yang diperlukan, karena tidak mungkin dirinya bisa melakukan semuanya sendiri, tanpa dukungan dari ke dua orang tuanya juga.
"Jika Kakak bisa dan mampu, Ayah akan usahakan untuk beasiswa ke Amerika. Jadi SMA Kakak ada di sana. Nanti, Ayah akan usahakan biayanya. Toh urusan sekolah dari beasiswa tersebut."
Ara terbelalak mendengar suara ayahnya itu. Dia belum tahu, jika ada anak SMA, yang bisa mendapatkan beasiswa dan sekolah di sana.
Ara hanya tahu, jika itu untuk anak kuliahan dan dia sempat berpikir untuk memutuskan kuliah di sana, jika dia bisa.
Tapi ini tawaran ayahnya, sungguh mengiurkan.
"Apa Ara bisa Yah?"
Akhirnya, Ara bertanya kepada ayahnya, karena belum merasa yakin.
"Ada Kak," jawab Abimanyu, kemudian memberikan penjelasan kepada Ara, tentang beasiswa yang bisa dia dapatkan nanti, jika sudah memasuki jenjang pendidikan SMA.
Dan bukan hanya di Indonesia, tapi SMA ke Amerika sana.
Tapi, Kakak harus benar-benar menjaga prestasi, kemampuan bahasa, dan beberapa syarat yang harus dilakukan untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (U.S. Department of State) sedang membuka program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) untuk beasiswa tingkat SMA/sederajat.
Program beasiswa (YES) ini, merupakan program beasiswa penuh yang sudah ada sejak tahun 2003, dan telah mengirim lebih dari 700 siswa Indonesia dan menerima 10 siswa dari Amerika Serikat.
Abimanyu masih menjelaskan beberapa persyaratan, yang harus dilakukan untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut, saat Anggi datang dan memotong pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1
"Adek juga mau dong Yah ke Amerika sana!" kata Anggi, dengan bersemangat, saat mendengar kata Amerika.
"Eh, adek mau ngapain ke Amerika?" tanya Ara cepat.
"Mau ketemu capten Amerika!" jawab Anggi cepat, karena dia suka dengan tokoh-tokoh kartun dan film-film hero.
Padahal sebenarnya, Anggi tidak tahu, apakah semua tokoh yang dia idolakan ada di Amerika atau tidak.
"Adek. Kita ke sana bukan untuk piknik atau main-main."
Anggi tampak cemberut, karena perkataan yang diucapkan oleh kakaknya itu.
"Kan ke sana gak tiap hari Kak!" sahut Anggi, dengan wajahnya yang masih cemberut.
"Kita tinggal di sana gimana?"
Anggi, Ara, bahkan Anjani, yang baru saja datang, terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Abimanyu.
"Maksud Ayah?" tanya Anjani, yang tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh suaminya itu.
"Ya kita semua tinggal di sana Bunda. Jadi Kakak dan Adik, juga bisa sekolah di sana. Bagaimana?" jawab Abimanyu dengan entengnya.
"Ayah," panggil Anjani, yang masih belum mengerti, apa yang sebenarnya diinginkan oleh suaminya itu.
Ternyata kemarin itu, Mama Amel juga memberikan tawaran pada Abimanyu, untuk mengelola perusahaan milik keluarga Samudra, yang ada di Amerika.
Papa Ryan tidak mungkin bisa lagi menghandle semua perusahaan miliknya. Karena faktor usia dan kesehatan, yang harus diperhatikan.
Dan Elang merasa sangat yakin bahwa, wanita tersebut hanya menginginkan kekayaannya saja.
"Tapi Yah, di Amerika tidak sama seperti di Indonesia lho," ujar Anjani, setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya.
"Ya pasti Bunda. Mana ada Amerika kok sama seperti Indonesia. Ada-ada saja Bunda. Iya kan Dek?"
Anggi mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Dia sangat antusias, dengan rencana yang dikatakan ayahnya tadi.
"Nanti Anggi mau ketemu Mona Lisa!"
Anggi, kembali berandai-andai, jika dia berada di Amerika sana.
"Adek! Aneh-aneh saja deh ngomongnya." Ara tersungut-sungut, karena perkataan Anggi, yang menurutnya tidak jelas.
Abimanyu hanya menggeleng sambil tersenyum, melihat tingkah laku kedua anaknya itu. Ara dan juga Anggi.
Di tempat duduknya, Anjani hanya diam saja, dengan memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya, yang mempunyai rencana untuk tinggal di Amerika.
Dan ini bukan hanya sekedar satu atau dua hari saja. Tapi dalam jangka waktu yang lama.
'Di Amerika memang maju, dalam pendidikan, teknologi dan usaha. Tapi bagaimana dengan perkembangan anak-anak yang bebas di sana? Apa Ara dan Anggi tidak akan terpengaruh?'
__ADS_1
Anjani banyak berpikir, untuk kebaikan anak-anaknya. Dia hanya ingin kehidupan anak-anak mereka nanti, terarah dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.
Meskipun Anjani juga sadar jika, semua itu tergantung dari kepribadian seseorang, dan dukungan dari pihak keluarga juga.
"Bun."
Anjani menoleh, saat Abimanyu memangilnya.
"Tidak usah dipikirkan. Ini hanya rencana dan sebuah tawaran saja. Masih lama juga kan?"
Akhirnya Anjani tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Abimanyu, yang memintanya untuk tidak banyak memikirkan apa yang dia katakan tadi.
"Sudah-sudah. Ara, Anggi. Kalian ayo siap-siap tidur. Besok, sudah masuk sekolah. Dan yang penting, tidak ada yang terlambat bangun ya!"
Abimanyu memberikan perintah dan juga persyaratan untuk kedua anaknya itu.
"Siap Yah!"
"Ok Yah..."
Ara dan Anggi, bersamaan menjawab ucapan ayahnya, dengan kata-kata yang berbeda.
*****
Di rumah mama Amel, di dalam kamarnya Awan.
Suara musik dari handphone milik Awan, mengalun pelan.
Lagu dari Ade Govinda dan Fadly group Padi
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, ku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata tapi dekat di dia
Aku merindukanmu
Awan mengikuti lirik lagu tersebut, seakan-akan menghayati sekali, jika lagu tersebut adalah untuk kisahnya bersama dengan Ara.
Kini, Awan kembali melamun, mengingat semua kejadian yang terjadi tadi siang. Saat berada di resto dan cafe.
Awan tersenyum-senyum sendiri, saat teringat dengan porsi makanan dan juga minuman yang dia pesan.
'Kenapa Aku benar-benar lupa, jika ada Oma dan juga om Abi, yang datang bersama-sama. Ah, benar-benar memalukan.'
__ADS_1
Awan menghela nafas panjang, setelah berkata sendiri dalam hati.
'Untung saja, Aku bisa dengan cepat memesan makanan dan minuman yang lain. Dengan alasan jika belum siap di antar. Hufhhh..."