Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Abimanyu Tidak Ingat


__ADS_3

Dua hari kemudian, Abimanyu sadar dari tempat tidurnya. Dia, yang masih dalam keadaan berbaring, melihat ke sekeliling, dan tampak linglung. Tatapan matanya, seperti orang yang sedang kebingungan dengan keadaan sekitarnya.


Anjani, yang baru saja masuk merasa sangat senang karena melihat suaminya sudah membuka matanya.


"Alhamdulillah... Mas. Mas Abi sadar," kata Anjani, dengan mengucapkan syukur atas kemajuan kesehatan suaminya itu.


"Si_siapa Kamu?" tanya Abimanyu sambil melihat ke arah Anjani, dengan penuh tanda tanya.


Dia meringis, karena merasa kesakitan pada bagian belakang kepala dan juga pinggangnya. Dia menjerit-jerit minta tolong, karena rasa sakit yang luar biasa pada bagian-bagian lukanya yang parah kemarin.


Anjani segera memencet tombol pasien, untuk memangil tim kesehatan yang bertugas.


Tak lama, seorang perawat datang bersama dengan seorang dokter jaga.


"Ada apa..."


Perawat tidak jadi meneruskan kalimatnya, karena melihat pasien yang sudah sadarkan diri sejak dua hari kemarin, saat masuk sebagai korban kecelakaan beruntun pada malam hari.


Anjani menepi, untuk memberikan ruang yang lebih longgar, agar dokter dan juga perawat bisa melakukan tugasnya dengan lebih baik lagi.


Beberapa saat kemudian, dokter dan perawat tadi, sudah selesai memeriksa keadaan Abimanyu. Saat ini, Abimanyu sudah kembali tertidur akibat obat penenang, yang diberikan oleh dokter.


"Bagaimana Dok suami Saya?" tanya Anjani yang merasa sangat khawatir.


"Dia belum stabil benar buy. Luka-lukanya itu, akan membuatnya kesakitan dalam waktu yang tidak pendek. Kita harus tetap menjaga kestabilan emosi, karena takutnya, jika dia sadar dan merasa kesakitan, justru mengamuk pada bagian lukanya itu."


Keterangan yang diberikan oleh dokter pada Anjani, membuatnya merasa khawatir karena itu berarti, Abimanyu harus pada posisi tidur untuk waktu yang cukup lama, untuk mencegahnya merasakan kesakitan yang sangat.


"Lalu, untuk ingatannya bagaimana Dok?" tanya Anjani lagi.

__ADS_1


Dokter tersebut melihat ke arah Anjani dengan wajah heran. "Apa dia mengatakan sesuatu, tadi di saat terbangun?" tanya dokter tersebut pada Anjani.


Akhirnya, Anjani menceritakan tentang keadaan Abimanyu, saat pertama kali sadar. Dia juga menceritakan bagaimana tadi Abimanyu yang merasa kebingungan, dan tidak lagi mengenal dirinya.


Dokter menganggukan kepala beberapa kali,. mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Anjani.


"Kita lihat lagi untuk kedepannya. Sepertinya, memori otaknya belum bisa bekerja dengan optimal. Semoga saja, itu hanya sementara saja, dan akan kembali normal lagi seiring pengobatan yang tepat," kata dokter menjelaskan dan memberikan sebuah harapan, pada Anjani.


Meskipun sebenarnya, Anjani tidak begitu yakin dengan jawaban yang diberikan oleh dokter tersebut. Dia hanya bisa mengangguk dan mengamini perkataan dari dokter itu.


Setelah dokter dan perawat keluar dari kamar pasien Abimanyu, Anjani mendekat ke tempat tidur suaminya. Dia mengusap kening Abimanyu, yang tampak masih basah karena berkeringat saat berteriak-teriak kesakitan tadi.


"Mas, yang kuat ya. Kami masih membutuhkan dirimu. Aku, Ara dan juga Nanda. Kita masih punya banyak mimpi yang belum bisa kita lakukan dan wujudkan. Aku mohon, cepat sembuh ya Mas," kata Anjani, mengajak Abimanyu berbicara, meskipun pada kenyataannya saat ini, Abimanyu sedang tertidur pulas akibat efek obat penenang yang diberikan oleh dokter tadi.


Anjani, tidak pernah pulang ke rumah. Dia terus berada di sisi Abimanyu selama berada di rumah sakit ini.


Sekar dan Juna, juga tidak pernah absen menemani Anjani menunggui Abimanyu. Mereka berdua, juga akan datang saat mereka sudah pulang kerja dari kantor.


Untuk urusan anak-anak, mereka, Ara dan Nanda, diurus oleh baby sitter dan bibi pembantu rumah, dibantu Sekar. Mereka berdua tinggal di rumah Abimanyu, dan tidak tinggal di rumah ayah Edi.


Ini permintaan Nanda, yang lebih nyaman tinggal di sana, rumah ayah Abimanyu, dari pada berada di rumah kakek dan neneknya.


Mereka semua, saling dukung mendukung, dalam menjaga Abimanyu dan selalu berdoa untuk kesembuhannya juga.


Saat Yasmin di beritahu tentang keadaan kakaknya, Abimanyu, dia langsung melakukan video call kepada Anjani. Dia ikut merasa sedih, apalagi dia juga tidak bisa ikut menjaga Abimanyu secara langsung, karena keberadaan dirinya sendiri yang saat ini sedang berada di negara Taiwan.


Yasmin, yang ada rencana untuk pulang ke Indonesia saat ada cuti satu bulan kemudian, akan segera datang bersama dengan laki-laki yang saat ini sedang dekat dengannya.


..."Mbak Jani, maaf ya. Yasmin tidak bisa ikut menunggui mas Abi. Hiks hiks hiks, Yasmin baru dapat cuti untuk pulang ke Indonesia bulan depan. Jadi Yasmin berharap, mas Abi sudah sembuh dan bisa menyambut Yasmin lagi seperti dulu."...

__ADS_1


Itulah harapan yang dikatakan oleh Yasmin, saat sedang melakukan panggilan video call dengan Anjani.


Anjani hanya bisa mengamini harapan dari adik iparnya itu. Dia juga selalu berharap, agar suaminya itu segera bisa sembuh dan tidak lagi merasa kesakitan.


*****


Dua minggu sudah Abimanyu dirawat di rumah sakit. Luka-lukanya yang dia rasakan juga sudah tidak sesakit yang dulu. Lukanya sudah mengering dan dia bisa berbicara dan makan secara baik meskipun masih belum bisa melakukan aktivitas yang banyak sebagaimana sebelum kecelakaan terjadi.


Abimanyu, juga masih belum bisa mengingat dirinya dan juga orang-orang yang ada disekitarnya. Dia hanya diberitahu jika wanita yang selalu menunggu dirinya adalah istrinya, Anjani. Sedangkan namanya adalah Abimanyu.


Ayah Edi dan ibu Sofie, juga sering menceritakan tentang masa lalunya bersama dengan keluarganya. Ada Sekar, yang kadang-kadang ikut datang menjenguk dan ada Yasmin, yang saat ini bekerja di Taiwan sebagai TKI.


Abimanyu hanya diam dan tidak mengomentari tentang apa saja yang di ceritakan orang-orang kepadanya. Dia hanya memperhatikan dan tidak mau diajak berkomunikasi dengan baik, karena ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya.


Anjani, yang selalu bersama dirinya sepanjang hari, banyak menceritakan tentang keadaan keluarganya, yang saat ini sudah ada Ara. Dia juga sering memperlihatkan foto-foto kebersamaan mereka berdua dan saat sudah ada Ara juga. Dia juga mengatakan jika anak cowok yang dua tahun lebih besar dari Ara adalah Nanda, anaknya Yasmin yang selalu ikut bersama dengan keluarga mereka.


Abimanyu juga sering di ajak video call dengan Ara. Anjani menghubungi baby sitter, dan memintanya untuk mengarahkan kamera pada anak-anak, agar Abimanyu bisa melihatnya secara langsung.


"Aku tidak pernah ingat apa-apa tentang semua yang Kamu katakan," kata Abimanyu, yang tanpa berekspresi.


Abimanyu, yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa, justru membuat Anjani lebih sedih lagi karena perkataannya tadi.


"Mas. Lalu, apa yang Mas ingat saat ini?" tanya Anjani, mencoba mencari tahu, apa yang sebenarnya ada di dalam ingatan suaminya itu saat ini.


"Aku hanya ingat, jika aku bukan siapa-siapa, yang sering kalian ceritakan. Yang pasti, Aku bukan Abimanyu, yang sudah menjadi suami dan ayah anak-anakmu juga. Meskipun Aku belum mengingat siapa Aku, tapi Aku bukan Abimanyu."


Abimanyu, kekeuh mengatakan bahwa dia bukanlah Abimanyu yang Anjani kenal. Dia mengatakan jika dia adalah orang lain. Dia juga mengatakan bahwa, tidak baik terus berharap dan berada di sampingnya, karena dia bukan suaminya Anjani.


Dan semua perkataan Abimanyu itu, membuat Anjani merasa sangat sedih, karena tidak dikenali dan diinginkan oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2