Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kelahiran Ara


__ADS_3

Lepas magrib, keadaan Anjani semakin payah. Mules di perutnya semakin sering dia rasakan. Akhirnya dia meminta pada suaminya, untuk berangkat ke rumah sakit sekarang juga.


Dengan segera, Abimanyu yang memang sudah siap langsung mengangguk mengiyakan permintaan Anjani.


"Ayok," ajak Abimanyu, seraya menuntunnya pelan.


"Masih kuat jalan apa Mas bopong?" tanya Abimanyu, melanjutkan kalimatnya yang tadi.


"Gak Mas. Jani masih kuat kok. Cuma ini anak Kamu iseng, sedari tadi nendang-nendang terus. Hehehe..."


Untuk mengurangi ketegangan, Anjani malah bergurau. Dia juga tertawa, karena pada saat itu, bayinya sedang menendang lagi.


"Oh sayang, Kamu itu kan cewek, masak mau jadi pemain sepak bola dan sudah berlatih sejak ada di dalam perut mama Kamu?" Abimanyu, justru ikut bercanda juga, agar istrinya itu tidak merasa terlalu tegang. Dan sepertinya itu berhasil.


"Iya nih, mungkin dia mau jadi striker cewek terbaik nanti, hehehe... aduh!"


Setelah ikut menimpali perkataan suaminya, dengan ikut bercanda juga, dia kembali mengaduh karena bayinya menendang lagi.


"Sabar ya Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai," sahut Abimanyu, masih dengan konsentrasi untuk menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang normal. Dia tidak mau ngebut, hanya karena ingin sampai lebih cepat, tapi bisa-bisa malah berakibat fatal karena kecelakaan.


Akhirnya, mereka sampai juga di rumah sakit. Abimanyu segera membopong tubuh Anjani, agar tidak kesusahan untuk berjalan.


"Sus, tolong!"


Teriakan Abimanyu, terdengar oleh para suster yang berjaga di IGD. Mereka semua dengan cepat menyiapkan tempat tidur untuk Anjani, dan membawanya ke ruang bersalin.


Seorang dokter kandungan, datang memeriksa keadaan Anjani. Tapi, tak lama kemudian, dia sudah keluar lagi dan mengatakan bahwa, Anjani masih sekitar delapan atau sembilan jam lagi melahirkannya. Ini jika dihitung secara normal, sesuai waktu pembukaan jalan lahir yang baru terbuka dua saja.


Abimanyu meringis ngeri, membayangkan saat Anjani merasa kesakitan dan itu masih harus dalam waktu yang lama.


Anjani di tempatkan di ruangan khusus, yang diperuntukkan untuk ibu-ibu hamil yang akan melahirkan. Ruangannya ada tidak jauh dari tempat bersalin. Ini dilakukan untuk mempermudah, jika ada keluhan atau sesuatu yang terjadi.


"Kamu masih kuat Sayang?" tanya Abimanyu, saat melihat Anjani yang memegangi pinggangnya, di bagian belakang.


"Iya Mas. Nanti kalau sakitnya semakin sering, Anjani akan lapor pada perawat yabg jaga. Itu tanda jika pembukaan jalan lahir sudah bertambah."


Abimanyu hanya mengangguk saja, sebab dia juga tidak begitu paham dengan proses melahirkan.


"Jika Kamu tidak kuat lagi menahan sakit, kita ambil jalan operasi Caesar saja, biar Kamu tidak merasakan kesakitan seperti ini," kata Abimanyu, memberikan usulan pada istrinya, supaya operasi Caesar saja. Dia tidak tega, melihat Anjani yang sering meringis karena merasakan sakit.

__ADS_1


"Tidak Mas. Jani ingin normal, dan ingin merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya, dengan melahirkan normal. Ada kepuasan yabg berbeda," jawab Anjani, menolak tawaran Abimanyu, untuk melakukan operasi Caesar.


"Bilang saja ya, kalau Kamu tidak kuat lagi. Yang penting Kamu kuat dan selamat."


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Dia kembali berjalan dengan pelan-pelan, sambil mengelus-elus perutnya dan juga pinggang bagian belakang.


Abimanyu, kadang membantunya untuk mengelus perutnya yang terasa keras. Dan lada saat tengah malam, Anjani sudah merasakan sakit perutnya semakin bertambah.


Dengan cepat, Abimanyu melaporkan pada perawat yang berjaga. Dan persiapan untuk persalinan Anjani segera dilakukan.


"Mas tunggu di luar pada di dalam?" tanya dokter kandungan yang akan membantu Anjani melahirkan. Dia memberikan tawaran untuk Abimanyu, supaya ikut ke dalam ruangan bersalin dan menemani istrinya itu.


"Boleh Dok?" tanya Abimanyu heran. Dia merasa sedikit lega, tapi juga ada kecemasan yang dirasakannya.


"Boleh, jika Mas mau menemani istrinya melahirkan. Kadang ada kok yang mau ikut melihat proses kelahiran anaknya, tapi ada juga yang tidak mau, karena merasa takut. Tergantung bagaimana suaminya saja."


Akhirnya, Abimanyu memutuskan untuk ikut serta masuk ke dalam kamar bersalin. Dia ingin menemani Anjani, dan memberinya semangat.


"Mas... Mas Abi tidak apa-apa, ikut ke dalam? maksud, maksud Jani kuat lihat darah dan proses melahirkan ini?" tanya Anjani, saat melihat suaminya masuk bersama dengan dokter, yang akan membantunya dalam proses melahirkan nanti.


"Iya. Mas juga mau merasakan hal yang sama seperti yang Kamu rasakan. Sayangnya, Mas cuma bisa melihat Saha Sayang. Kamu yang kuat ya," jawab Abimanyu, memberikan dorongan semangat untuk istrinya yang sudah siap dengan posisi untuk melahirkan secara normal.


"Terima kasih Sayang. Untuk perjuangan Kamu melahirkan buah hati kita ini," ucap Abimanyu, dengan mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan dan cinta.


Anjani memejamkan matanya saat Abimanyu mencium keningnya. Dia juga merasakan kebahagiaan yang sama, seperti yang dirasakan Abimanyu juga.


*****


Pagi datang. Ibu Sofie dan ayah Edi datang bersama dengan Sekar, menjenguk Anjani yang baru saja melahirkan. Mereka datang ke rumah sakit, setelah Abimanyu memberikan kabar pada adiknya, Sekar.


Mereka semua ikut merasa bahagia dan juga mengucapkan selamat pada Anjani dan Abimanyu. Apalagi Sekar. Dia dengan antusias melihat keponakan barunya itu.


"Wah... cantiknya! Selamat ya Mbak, Mas. Siapa nih namanya nanti?" tanya Sekar dengan antusias melihat anaknya Anjani, yang sedang tidur di box bayi yang ada di kamar itu juga.


"Kamu ada usul nama?" tanya Anjani pada Sekar.


"Jangan-jangan. Aku sudah ada calon nama untuk anak kita Sayang." Abimanyu, mencegah Anjani, supaya tidak mencari nama lain. Dia sudah memiliki nama untuk anaknya itu.


"Oh ya? Siapa Mas?" tanya Sekar dengan cepat.

__ADS_1


"Ada dalam tokoh pewayangan. Sama seperti nama nama-nama kita, termasuk Anjani juga, yang secara kebetulan ada di dalam tokoh pewayangan. Aku jadi ingin, anak kami memiliki nama yang ada kaitannya dengan pewayangan juga."


Abimanyu menjelaskan tentang alasannya. Dia juga bertanya pada ayahnya, ayah Edi, yang lebih paham soal tokoh-tokoh pewayangan, karena nama-nama anak ayah Edi juga diambil dari nama-nama tokoh tersebut.


"Dyah Manuhara. Bagus kan Yah?" tanya Abimanyu, meminta pendapat ayahnya.


"Iya. Kamu bisa saja menggabungkan nama itu. Hehehe..." Ayah Edi terkekeh saat mendengar sebuah nama yang disebutkan Abimanyu. Nama yang akan digunakan untuk nama anak mereka yang baru saja lahir.


"Terus panggilannya apa Mas?" tanya Sekar cepat.


"Dyah bisa atau Ara juga bisa," sahut Abimanyu, memberikan saran.


"Ara saja lah. Sekar suka itu," kata Sekar memutuskan.


Ibu Sofie, ikut merasakan kebahagiaan juga. Dia mengambil cucunya yang ada di box bayi, dan menimang-nimang Ara.


Sekar ikut melihat Ara dengan senang dan berdiri di samping ibunya.


"Ara. Besok-besok sering main ke rumah eyang ya. Pasti akan ramai jika ada kamu datang," kata ibu Sofie, sambil mengelus-elus pipi cucunya, Ara.


Sekar juga ikut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ibunya. Mengelus-elus pipi keponakannya, yang baru saja lahir tadi malam.


Dari arah pintu, Yasmin datang bersama dengan anaknya, Nanda. Nanda diperbolehkan pulang pagi ini. Dan sebelum pulang, dia menjenguk kakak iparnya, Anjani, yang baru saja melahirkan di rumah sakit yang sama, di mana Nanda di rawat kemarin-kemarin.


Begitu masuk, Yasmin langsung memeluk Anjani yang masih dalam keadaan berbaring.


"Mbak Jani. Maafkan Yasmin. Yasmin banyak salah pada Mbak Jani selama ini. Yasmin tahu, pasti Mbak Jani marah dan tidak bisa memaafkan kesalahan Yasmin. Huhuhu..."


Yasmin meminta maaf dengan menangis. Dia juga mengatakan jika akan berusaha untuk berubah menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi.


Setelah berkata demikian pada Anjani, Yasmin berganti dengan meminta maaf pada kakaknya, Abimanyu. Dia merasa sangat menyesal karena telah banyak melakukan kesalahan.


"Maaf, maafkan Yasmin Mas. huhuhu..." ucap Yasmin dengan terbata-bata, disela-sela tangisannya.


Abimanyu hanya diam dan menghela nafas panjang. Dia juga merasa sesak di dalam dadanya, melihat keadaan adiknya itu.


Dia sebenarnya tidak tega, tapi karena ingin melihat perubahan pada adiknya, Yasmin, Abimanyu memang menahan diri agar tidak terlihat peduli dengan adiknya itu. Padahal, selama ini dia masih peduli. Dia masih memberi uang pada Yasmin, meskipun tidak secara langsung, tapi melalui ayahnya. Sedangkan ayahnya, kadang dititipkan sekalian pada Sekar supaya di berikan pada Nanda, saat datang ke rumah.


Kepedulian Abimanyu terhadap nasib Yasmin, hanya ayah Edi yang tahu. Tidak juga dengan Anjani. Padahal, Anjani sering memintanya untuk memaafkan adiknya itu. Tapi ternyata, di lubuk hati Abimanyu, tetap saja tidak akan tega, meskipun di luar bilang jika tidak peduli.

__ADS_1


Begitulah pertalian darah yang ada di antara saudara. Kita tidak akan mungkin bisa menjadi sangat jahat untuk waktu yang lama, karena hubungan darah antara satu dengan yang lain juga sama. Apapun kesalahan saudara kita, kita akan dengan cepat memaafkan mereka juga.


__ADS_2