
Hari yang dinanti-nantikan oleh keluarga ayah Edi datang juga. Dimana keluarga Aksan datang untuk melamar dan menentukan sesuatu yang penting dalam hubungan yang terjalin antara Aksan dan Yasmin saat ini.
Mereka semua berharap, supaya hubungan ini juga membawa keberkahan dalam kehidupan mereka berdua untuk kedepannya nanti.
Nanda dan Ara, juga ikut bergabung bersama dengan yang lain. Berkumpul di ruang tamu, yang sudah ada banyak orang, termasuk ada ayah Abi mereka juga.
Tapi namanya anak-anak, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan tersebut. Mereka berdua, hanya mau bermain-main dengan ayah Abi saja. Dan ini membuat mereka sedikit berisik, sehingga yang seharusnya berbicara, ayah Edi, jadi tidak terdengar suaranya, karena bersambung dengan suara cucu-cucunya sendiri.
Anjani yang cepat sadar, mengajak mereka berdua untuk diam dengan meletakkan satu jari telunjuk di depan mulutnya. Begitu juga dengan Abimanyu, yang meminta pada kedua anaknya itu, supaya mereka tidak berbicara dengan keras.
"Sayang, Ara dan Nanda. Kalian diam ya, eyang kakung sedang berbicara itu dengan tamu. Atau kita kedalam saja yuk!" ajak Abimanyu, pada anak-anaknya.
Ara dan Nanda setuju dengan perkataan ayahnya itu. Dia dengan dibantu oleh Ara, mendorong kursi roda Abimanyu untuk masuk ke dalam ruang tengah.
Anjani yang segera sadar, jika suaminya sudah tidak ada lagi ditempatnya, bergegas untuk berdiri dan mencari keberadaan mereka, karena anak-anaknya juga tidak dia temukan d tempatnya mereka tadi. Dia berjalan dengan cepat menuju ke ruang tengah.
Saat melihat mereka bertiga dalam keadaan baik-baik saja, Anjani jadi bernafas lega dan tersenyum, karena melihat ketiganya sedang bermain-main dengan tongkat pendek yang digunakan oleh Abimanyu jika sedang melatih tangannya untuk memegang sesuatu.
"Bunda pikir kalian ke mana tadi," kata Anjani sambil tersenyum, melihat ke arah mereka bertiga, yang saat ini secara serempak menoleh ke arahnya juga.
"Maaf Bunda. Nanda nakal tadi di sana," kata Nanda meminta maaf, karena tadi bersuara nyaring dan menganggu suara eyang kakungnya.
"Ara juga minta maaf Bunda," kata Ara ikut-ikutan.
"Sini peluk Bunda. Anak-anak yang pintar," kata Anjani, meminta kepada kedua anaknya itu untuk datang ke dalam pelukannya.
Abimanyu melihat semua itu dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu dengan sikap anak-anaknya itu yang begitu peka dan tanggap. Ini juga karena didikan Anjani yang baik dan tidak terlalu memanjakan mereka berdua. Anjani memperlakukan keduanya dengan sama, dan tidak ada pilih kasih, serta membedakan antara anak kandung dengan keponakannya sendiri.
"Aku gak dapat pelukan juga?" tanya Abimanyu, yang merasa iri, karena hanya bisa melihat mereka bertiga berpelukan dan dia hanya sendirian di atas kursi rodanya.
__ADS_1
"Ayah Abi mau dipeluk juga tuh!" kata Anjani, lada kedua anaknya.
Nanda dan Ara, melihat ke arah ayah mereka itu, kemudian sama-sama berlari untuk berganti memeluk ayahnya, ayah Abi mereka.
Anjani tersenyum, melihat tingkah anak-anaknya itu. Begitu juga dengan suaminya. Kini mereka berdua, Anjani dan Abimanyu, saling bertatapan dan sama-sama tersenyum, sambil mengangguk.
Anjani mendekat. Dia juga ikut memeluk mereka bertiga dari arah belakang.
"Kalian adalah penyemangat Bunda. Kalian harus sama-sama saling mendukung dan saling menyayangi ya," kata Anjani, sambil mengelus-elus rambut anaknya, Ara dan juga Nanda.
Anjani mencium kedua pipi anaknya itu, setelah mereka semua melepaskan pelukannya. Dia juga mencium kedua pipi suaminya dan berakhir di bibir Abimanyu.
Tapi karena sadar jika ada anak-anak, Anjani hanya melakukan sekilas saja. Ini karena dia tidak mau jika anak-anak mereka ikut melihat dan bertanya, kenapa mereka tidak mendapatkan ciuman yang sama seperti ayah Abi mereka.
Saat Abimanyu tersadar dengan kelakuan istrinya itu, dia jadi tertawa kecil, karena Anjani jadi memerah wajahnya.
"Kita lanjutkan nanti malam saja ya," kata Abimanyu menggoda istrinya, Anjani.
Tapi ini justru membuat Abimanyu terkekeh terus, apalagi dia juga sadar dengan keadaan dirinya sendiri saat ini.
"Iya-iya tahu kok. Coba saja kalau Mas sehat dan tidak dalam keadaan seperti ini. Kamu bisa ampun-ampun kan ya. hehehe..." kata Abimanyu, masih dengan terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya itu.
Sedangkan Ara dan Nanda yang tidak tahu apa-apa, hanya ikut tertawa senang karena melihat ayah mereka bisa tertawa lagi dengan bundanya itu.
Dari arah ruang tamu, Sekar muncul dan memeluk Anjani dengan tersenyum penuh haru.
"Pernikahan Yasmin akan dilaksanakan tiga hari ke depan Mbak. Sekar harap, ini akan menjadi sebuah perjalanan yang baik untuk Yasmin sendiri dan mereka berdua nantinya."
Anjani, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Sekar dan setiap anggota keluarga juga. Dia juga berdoa yang sama untuk Yasmin dan Aksan.
__ADS_1
"Iya. Mbak juga berharap hal yang sama Sekar. Semoga Aksan juga bisa membimbing Yasmin menjadi seorang istri yang baik dan tidak lagi egois sama seperti dulu," kata Anjani, yang baru saja melepas pelukannya dari Sekar.
Ibu Sofie juga datang ke ruang tengah. Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh anaknya, Sekar.
Bedanya, dia memeluk semua yang ada di ruangan tersebut, termasuk cucu-cucunya juga.
Dia menangis haru, saat memeluk anaknya, Abimanyu, dan juga Anjani. Kemudian dia tersenyum penuh kebahagiaan saat memeluk Ara dan Nanda yang ada di ruang tengah juga.
"Eyang putri sangat bahagia, karena akhirnya mama Kamu bisa menemukan pendamping hidup yang baik dan bertanggung jawab, tidak sama seperti yang dulu," kata ibu Sofie, saat melepas pelukannya pada Nanda.
"Bu. Jangan mengungkit yang dulu, apalagi di depan Nanda. Itu tidak baik," kata Anjani mengingatkan ibu mertuanya.
"Iya-iya Anjani. Maaf, ibu hanya merasa senang saja kok," sahut ibu Sofie, dengan mengangguk mengerti.
Kini, mereka semua kembali ke ruang tamu,. untuk melanjutkan acara selanjutnya, yaitu makan-makan bersama dengan para tamu yang ada.
Untuk sementara waktu, sebelum mereka melanjutkan acara pernikahan Yasmin dan Aksan, keluarga Aksan akan tinggal di rumah Abimanyu, yang saat ini dalam keadaan kosong dan tidak ada penghuninya.
Tentu saja, Aksan sangat berterima kasih pada calon kakak iparnya itu. Dia merasa sangat beruntung, mendapati keluarga Yasmin yang semuanya baik dan tidak hanya melihatnya sebagai seorang calon suami dari adik mereka yang berasal dari kampung dan tidak berpendidikan tinggi.
*****
Di Batam, Elang memeriksa semua kegiatan istrinya, yang mungkin ada tangungan hutang atau yang lainnya. Dia tidak ingin itu semua akan membuat istrinya terhalang dalam perjalanannya ke alam kubur. Jadi dia bertanya pada semua orang yang dia tahu dekat dengan istrinya sewaktu masih hidup dulunya.
Tapi ternyata semua kekhawatiran Elang tidak ada. Adhisti tidak memiliki hutang pada siapa-siapa. Mungkin karena dia juga banyak memiliki kartu kredit dari Elang, dan beberapa manipulasi data yang dia lakukan dengan perusahaan Elang selama ini.
Setelah benar-benar merasa yakin, jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Elang menghubungi pihak pengacaranya yang ada di Batam, untuk menangani semua usahanya yang belum ada kemajuan yang berarti ini.
Dia ingin, melelang usahanya dan juga semua aset yang dimiliki di perusahaan tersebut, termasuk rumah yang dia tempati selama ini.
__ADS_1
Dia ingin benar-benar ingin melupakan semua kenangan yang buruk saat bersama dengan istrinya, Adhisti. Dia hanya ingin menyimpan di dalam hatinya sendiri. Tidak perlu kenangan yang berbentuk, seperti rumah itu, karena dengan melihat Awan, anaknya, itu sama saja dengan melihat semua kenangannya bersama dengan Adhisti juga. Itu adalah kenangan yang tak pernah bisa dihilangkan dari kehidupan Elang Samudra dari istrinya, Adhisti Andriyani.