Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Dika yang merasa kesal karena Mita tidak datang-datang dan tidak ada kabarnya juga, saat ini semakin merasa sangat kesal, dengan apa yang baru saja dia dengar.


Handphone milik pacarnya, Mita, digunakan oleh seorang cowok, yang tidak dia kenal.


Dan cowok tersebut juga tidak mengatakan apa-apa, tentang keberadaan Mita, pacarnya.


"Siapa sih dia? Kenapa bisa handphone milik Mita ada pada dia? Terus Mita nya ke mana ini?"


Pertanyaan demi pertanyaan, diajukan oleh Dika, meskipun sebenarnya, tidak akan ada yang bisa menjawabnya juga.


Karena saat ini, Dika duduk sendiri di bangku kafe, yang sudah disepakati bersama Mita tadi, sebagai tempat pertemuan mereka berdua.


Tak lama kemudian, handphone milik Dika menampilkan sebuah notifikasi pesan, dan itu adalah share lokasi.


Dari pesan tersebut, dikatakan bahwa, Mita ada di sebuah rumah sakit, yang ada tak jauh dari kampusnya Mita.


"Rumah sakit? memangnya Mita kenapa?" Dika mengerutkan keningnya, melihat pesan yang baru saja dia terima.


"Mbak, ini bayar minumannya. Sorry ya, tidak jadi pesan apa-apa. Yang di tunggu tidak datang. Justru sekarang ini ada di rumah sakit."


Waiters yang ada di depan Dika, hanya mengangguk saja, saat menerima uang yang diberikan oleh Dika padanya.


"Kembaliannya buat Mbak. Makasih!"


Setelah membayar minuman yang sudah dia pesan, Dika segera pergi dari kafe tersebut dengan langkah lebar. Dia tergesa-gesa menuju ke arah parkir mobilnya.


"Iya Mas. Terima kasih."


Sedangkan waiters tadi, kembali menganggukkan kepalanya, sambil mengucapkan terima kasih juga.


Dika langsung melakukan mobilnya, menuju ke tempat lokasi, yang tadi dia terima dari pesan wa, yang dikirim seseorang dari handphone milik Mita.


"Kenapa sih dia, kenapa sampai ada di rumah sakit?" tanya Dika, sambil menyetir.


*****


Tadi, saat di kampus.


Mita baru saja selesai ada kelas. Dia sedang berjalan bersama-sama dengan temannya yang lain, menuju ke luar area kampus.


Mereka berjalan sambil berbincang-bincang. Dan secara tiba-tiba, Mita mengeluhkan tentang kepalanya yang terasa pusing.


"Aduh... ke_kepalaku sakit!"


"Mita, kenapa?"


"Ehh... Mita, Mita!"


Mita sudah tidak mampu menjawab panggilan teman-temannya, kemudian tidak sadarkan diri.


Untungnya, temannya dengan sigap memegangi tubuhnya, sehingga tidak sampai terjatuh ke tanah.


"Tolong... tolong!"


"Mas-mas, tolong mas!"


Secara kebetulan, waktu itu Nanda sedang ada urusan dengan temannya, yang ternyata ada di area kampus yang sama dengan Mita.

__ADS_1


Jadi, Nanda dan beberapa temannya, yang berada tidak jauh dari tempat kejadian, segera berlari menuju ke tempat orang-orang yang berteriak meminta tolong.


"Mita?"


Nanda, yang mengenal siapa yang sedang pingsan, segera mengangkat tubuhnya Mita.


"Siapa yang bawa mobil. Ayok bawa dia ke rumah sakit terdekat!"


Dan beruntungnya, temannya Mita sendiri ada yang membawa mobil.


"Saya ada mobil Mas, mari."


Akhirnya, Mita dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dengan Nanda yang menyetir mobil temannya itu.


Sedangkan temannya Nanda yang lain, menyusul dengan mengunakan sepeda motor Nanda.


Tas dan beberapa buku milik Mita, ikut mereka bawakan juga. Karena tadi sangking paniknya, teman-temannya Mita, tidak ada yang memperhatikan tas miliknya Mita.


Itulah sebabnya, tadi, temannya Nanda berusaha untuk mencari nomer handphone milik keluarga Mita, atau yang terakhir di hubungi, untuk diberikan kabar.


Dan kebetulan juga, nomer yang terakhir ada di histori panggilan serta pesan wa milik Mita adalah Dika. Kekasihnya, yang sedang menunggu kedatangannya.


Nanda segera meminta pada security rumah sakit, untuk memangil perawat dan dokter yang berjaga di IGD, begitu dia turun dari mobil.


"Pak, cepat ambilkan brangkar dan panggil dokter serta perawat. Teman Saya butuh pertolongan!"


Beberapa saat kemudian, Mita sudah ada di dalam IGD, dan di tangani oleh dokter dan juga perawat.


Nanda menunggu bersama dengan dua teman Mita. Dan dia baru ingat, untuk menghubungi salah satu keluarga Mita.


"Apa kalian sudah ada yang menghubungi pihak keluarga Mita?" tanya Nanda, pada kedua teman Mita.


"Belum Mas. Handphone Mita... oh ya, tas Mita di mana?"


Mereka berdua, justru menjadi kebingungan, karena tidak menyadari jika, tas Mita tidak ikut terbawa oleh mereka.


"Aduh, gimana ini?"


Tiba-tiba, sebelum Nanda sempat bersuara untuk menjawab pertanyaan mereka, ada seseorang yang memanggil namanya.


"Hai Nda!"


Nanda dan kedua teman Mita menoleh ke arah suara, yang memanggil Nanda.


Seorang cowok, datang mendekat ke arah mereka bertiga berdiri, yang ada dalam keadaan kebingungan, mencari tas dan handphone milik Mita.


"Eh, sorry-sorry. Ini, Aku bawa tas milik teman kalian."


"Ah, syukurlah."


Teman-temannya Mita, bernafas lega, setelah mendengar penjelasan dari temannya Nanda.


"Terima kasih ya Mas, sudah menolong dan mengamankan barang teman Saya tadi."


"Eh, Aku juga sudah menghubungi seseorang, yang ada di kontak panggilan telpon terakhir teman Kamu itu. Buat kasih kabar. Terus, Aku juga sudah share lokasi pas ada di parkiran rumah sakit, biar orangnya tidak kebingungan."


"Wah, sekali lagi terima kasih Mas."

__ADS_1


Temannya Mita, tampak tersenyum senang, karena bantuan yang diberikan oleh temannya Nanda.


Sekarang, Nanda dan temannya itu, akan pamit, mau kembali ke kampus lagi.


Mereka berdua, masih ada kegiatan di kampus.


"Kami balik dulu ya," kata Nanda, pamit pada kedua temannya Mita.


"Iya Mas. Terima kasih ya!"


Tapi di saat Nanda baru saja selesai berpamitan dan belum melangkahkan kakinya, Dika muncul dengan langkah lebar.


Dika tampak jelas sedang tergesa-gesa, menuju ke arah mereka semua berada.


"Nanda," sapa Dika, saat mengenal salah satu dari mereka.


"Iya Kak. Mita sedang di tangani oleh dokter di dalam."


Nanda mengatakan pada Dika, jika Mita sudah berada di dalam ruangan IGD tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Dika cepat.


"Nanda tidak tahu kak."


"Tadi, Mita tiba-tiba mengeluhkan tentang kepalanya yang terasa sakit. Terus, tiba-tiba pingsan."


"Ya, untungnya ada Mas nya ini."


Teman-temannya Mita, menjelaskan pada Dika, tentang apa yang tadi terjadi pada kekasihnya itu.


"Ya sudah kalau begitu. Kami pamit dulu ya Kak," kata Nanda, yang pamit pada Dika.


"Lho Nda, ngapain Kamu ada di kampus Mita?" tanya Dika, tanpa menanggapi Nanda, yang tadi berpamitan padanya.


"Nanda ada perlu dengan Aku di kampus. Dan kebetulan saja tadi, liat ada orang yang minta tolong karena temannya pingsan."


Teman Nanda, yang justru menjawab dan menjelaskan pada Dika, kenapa Nanda yang tidak satu kampus dengan Mita, bisa menolong Mita.


"Oh... terima kasih."


Akhirnya, Dika hanya mengucapkan terima kasih, pada Nanda dan juga temannya itu.


Nanda dan temannya, hanya mengangguk, kemudian berjalan untuk pergi dari rumah sakit.


Mereka berdua masih ada yang harus dikerjakan.


"Nda. Tadi... Kamu kenal dengan cowok itu?" tanya temannya Nanda, begitu mereka tiba di parkiran rumah sakit.


Nanda hanya mengangguk saja dan tidak mengatakan apa-apa.


"Sepertinya dia orangnya songong. Mukanya aja jutek gitu. Apa dia pikir, Kamu ada sesuatu dengan cewek yang pingsan tadi?" tanya temannya, menebak apa yang terjadi antara Nanda, Mita dan pacarnya, Dika.


"Ck, udahlah. Gak usah dibahas. Yuk balik!"


Nanda sedang malas membahas Dika dan Mita. Meskipun sebenarnya, di dalam hati dan pikirannya saat ini, sedang memikirkan Mita.


'Apa yang sebenarnya terjadi pada Mita?'

__ADS_1


Nanda hanya bisa bertanya dalam hatinya sendiri.


__ADS_2