Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Di Kantor EO


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


Elang mengucapkan salam, begitu dia membuka pintu rumah. Tapi, sepertinya tidak ada orang yang menjawab salamnya.


Keadaan rumah sepi. Mamanya, mama Amel, yang biasanya ada di ruang tengah juga tidak terlihat.


"Ma. Mama..."


Elang memanggil-manggil mamanya, yang tidak dia temui, begitu dia tiba di rumah.


"Kok sepi sih," kata Elang heran.


"Bik! Bibik..."


Akhirnya, Elang memanggil bibi pembantu, yang biasanya ada di dapur. Atau jika tidak, bibi pembantu ada di kamarnya sendiri, yang terletak tidak jauh dari dapur.


"Bik!"


"Eh, iya-iya Den Elang. Bibi hadir," jawab bibi pembantu, saat sudah berada di depannya Elang.


"Mama ke mana Bik?" tanya Elang, yang bermaksud ingin tahu keberadaan mamanya.


"Oh, Nyonya Besar sedang pergi ke... mana ya tadi? Emhhh... itu lho Den, yang urus urusan pesta gitu."


"Urus urusan pesta, maksudnya EO? event organizer?"


Elang memperjelas maksud dari perkataan bibi pembantu rumah.


"Nah iya Den. Itu maksudnya Bibik tadi," sahut bibi pembantu rumah, dengan senang hati.


"Mau ngapain mama ke EO?"


Elang kembali bertanya pada bibi pembantu rumah, meskipun sebenarnya dia juga tahu jika, bibi pembantu rumah tidak akan bisa menjawab pertanyaannya.


"Kata Nyonya, tadi Den Awan nelpon. Dia mau pulang atau gimana gitu. Tapi kok nyonya langsung tersenyum senang dan mengajak tuan besar untuk pergi."


"Bibi cuma tahu gitu tadi Den," sambung bibi pembantu, menjelaskan pada Elang.


"Awan pulang?" gumam Elang, yang tidak tahu jika, tadi Awan juga sudah berusaha untuk menghubungi dirinya, tapi karena handphone miliknya tidak aktif, akhirnya Awan menghubungi oma dan opanya.


"Baiklah. Nanti Elang tanya sendiri saja."


"Ya Den. Oh ya, Den Elang mau bibi siapkan makanan?" tanya bibi pembantu rumah.


"Nanti saja Bi. Elang mau mandi dulu," jawab Elang, sambil berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.


Begitu sampai di dalam kamar, Elang segera melihat keberadaan handphonenya, yang ada di dalam saku celananya.


"Hah, mati?"


Ternyata, handphone miliknya dalam keadaan non aktif, karena low batt.


Akhirnya, Elang tidak langsung menghubungi mama atau papanya. Dia juga tidak bisa menghubungi anaknya, Awan.


"Lebih baik Aku pergi mandi saja. Biar handphonenya terisi dulu baterainya."


Begitulah akhirnya. Elang pergi mandi, setelah menyiapkan handphone miliknya untuk diisi daya.

__ADS_1


*****


Di kantor EO, yang biasa menjadi langganan mama Amel.


"Selamat malam Nyonya Amel, Tuan Ryan."


"Malam juga Jeng," ucap mama Amel, pada pemilik EO.


Pemilik kantor EO sendiri, yang langsung menyambut kedatangan mama Amel dan papa Ryan.


Tadi, sebelum mama Amel dan papa Ryan datang ke kantor EO ini, dia sudah menghubungi pihak pemiliknya.


Jadi, pemilik EO juga sudah siap dengan kedatangan kedua tamunya itu.


"Jadi, siapa yang mau tunangan Nyonya?" tanya pemilik EO.


"Anaknya Nyonya... siapa itu namanya?"


Pemilik EO, memang mengenal Elang. Dia juga yang dulu mengurus pesta pernikahan Elang dengan Adhisti Andriyani.


Dia jadi terlihat sedih, karena mengingat bahwa, menantu tamunya itu sudah meninggal dunia.


"Elang Jeng. Tapi ini bukan pertunangan anak Saya itu. Ini untuk anaknya Elang, cucu Saya," tutur mama Amel, menjelaskan pada pemilik EO.


"Wah ternyata, Saya yang sudah semakin tua ya Nyonya. Hehehe... cucunya, berarti anaknya Elang kan?"


Mama Amel, mengangguk mengiyakan perkataan pemilik EO.


Sekarang, setelah selesai berbasa-basi sebentar, mereka mulai membahas tentang rencana pesta pertunangan antara Awan dan Ara.


"Ma. Tunggu diterangkan dulu, jangan terburu-buru," ujar papa Ryan, mengingatkan pada istrinya.


"Pa. Mereka berdua tidak ada banyak hari libur di Indonesia. Mama tidak mau ya, jika acara mereka berdua tertunda-tunda."


"Lagi pula, Ara hanya busa dua minggu saja. Dan Awan sendiri, tidak ada banyak waktu. Dia harus segera menyelesaikan tugas akhir kuliahnya."


Papa Ryan tidak lagi bicara. Dia juga tahu, jika cucunya itu hanya akan berada di Indonesia selama lima hari saja.


Berbeda dengan Ara sendiri. Meskipun adiknya, Anggi dan juga ayahnya, Abimanyu, akan segera kembali ke Amerika, Ara dan Anjani akan berada lebih lama lagi, di Indonesia.


"Kami akan usahakan untuk konsep yang berbeda, dari biasanya Nyonya."


"Ini ada beberapa contoh, dari pesta pertunangan klien-klien kami."


Pemilik EO, menyodorkan album foto, yang tadi dia letakkan di atas meja. Ada tiga album foto, yang bisa dilihat oleh mama Amel dan papa Ryan, sebagai rekomendasi untuk pesta pertunangan Awan nantinya.


"Ini simpel Ma," kata papa Ryan, saat melihat sebuah gambar foto.


"Mana?" tanya mama Amel, dengan meminta album foto yang sedang dipegang oleh suaminya.


Sekarang, mama Amel ganti melihat album foto yang tadi diambil oleh papa Ryan. Sedangkan papa Ryan sendiri, mengambil album foto, yang diletakkan kembali oleh istrinya di atas meja.


"Ini terlalu simpel Pa. Lihat deh! Bunga-bunga terlalu sedikit," ujar mama Amel, yang tidak setuju dengan pilihan suaminya.


"Coba lihat yang ini Nyonya."


Pemilik EO, memperlihatkan satu buah foto, yang memang terlihat sangat cantik.

__ADS_1


Berbagai bunda terpasang dari pintu masuk sampai ke panggung. Dan tataan dekorasinya juga meriah.


"Ma. Kita juga minta pendapat pada Awan atau Elang. Mereka berdua juga harus dilibatkan dalam urusan ini." Papa Ryan, mengingatkan pada mama Amel, agar Awan dan Elang juga tahu dengan rencana mereka itu.


"Nanti kita kirim saja Pa fotonya. Mereka berdua pasti setuju," ujar mama Amel, yang merasa jika, anak dan cucunya itu, akan nurut sama dengan yang dia lakukan.


"Ini juga untuk mereka. Mama hanya ingin, pesta ini akan menjadi awal kebahagiaan mereka Pa. Kebahagiaan kita juga," tutur mama Amel, yang tidak mau di bantah oleh suaminya itu.


Drettt drettt drettt!


Drettt drettt drettt!


Handphone milik mama Amel bergetar. Tapi, pemiliknya sedang sibuk memilih-milih foto, yang dia sukai. Jadi, tentu saja, mama Amel juga tidak tahu jika, Elang menelpon dirinya.


Sekarang, gantian handphone milik papa Ryan yang bergetar.


Drettt drettt drettt!


Drettt drettt drettt!


"Elang?" tanya papa Ryan sendiri, di saat melihatnya ke layar handphone miliknya.


"Ma. Papa ke sana sebentar ya," pamit papa Ryan, dengan menunjukkan handphone miliknya pada istrinya itu.


"Iya Pa," jawab mama Amel sekilas.


Drettt drettt drettt!


Handphone milik papa Ryan kembali bergetar.Dia segera menekan tombol hijau, untuk menerima panggilan telpon dari anaknya.


..."Halo. Apa Lang?" ...


..."Pa. Papa dan Mama lagi di mana?" ...


..."Di kantor EO."...


..."Kantor EO? Buat apa Pa?" ...


..."Ya buat acara pesta pertunangan Awan dan Ara Lang. Bagaimana sih Kamu ini?"...


..."Bukan begitu Pa. Ini Awan tadi menghubungi Elang. Tapi handphone Elang mati." ...


..."Ya. Tadi Awan juga cerita kok, jika Kamu tidak bisa dia telpon. Makanya, dia kasih tau ke kami." ...


..."Kapan memangnya Pa?" ...


..."Minggu depan Lang." ...


..."Minggu depan?" ...


Tut tut tut....


Panggilan telpon tiba-tiba terputus. Dan pada saat Elang ingin memanggil kembali nomer papanya, diberitahukan oleh operator seluler jika, nomer handphone milik papa Ryan sedang tidak aktif.


"Ah, papa lupa ngecas handphone ini. Kebiasaan yang sama seperti Aku."


Elang bergumam seorang diri, karena kesamaan sifat yang dia miliki dengan papanya itu. Yaitu keseringan lupa untuk mengisi daya baterai ponsel milik mereka.

__ADS_1


__ADS_2