
Ara masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Dia harus bisa memberikan penjelasan kepada suaminya, agar tidak lagi cemburu karena perkataan dan pertanyaan yang dia miliki tadi. Saat berada di dalam perjalanan pulang mereka.
Ternyata, Ara melihat Awan yang sudah berbaring di tempat tidur. Entah memang benar-benar sudah tidur, atau hanya sekedar pura-pura tidur. Ara juga tidak tahu benar.
Sekarang, dia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu. Karena dia juga sudah merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya sendiri.
Ara membiarkan Awan terlebih dahulu. Karena dia tidak mau jika, berbicara dan meminta maaf pada suaminya itu. Sedangkan badannya dalam keadaan tidak nyaman. Apalagi, dia juga masih dalam keadaan datang bulan.
Di dalam kamar mandi, Ara berpikir bahwa, Awan ngambek juga karena keadaan dirinya sekarang ini. Mereka berdua, belum ada kesempatan untuk bisa bersama. Layaknya sepasang pengantin baru pada umumnya.
'Mungkin kak Awan juga sedang menahan diri. Jadi, dia sensi begitu.'
Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Ara saat ini. Karena mereka berdua, memang belum pernah melakukan malam pertama. Sejak selesai pernikahan kemarin.
Akhirnya, Ara mandi dulu dengan tenang. Dia akan mengajak bicara suaminya nanti, begitu dia sudah selesai mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Awan mengubah posisi tidurnya. Karena ternyata, Awan hanya pura-pura tidur saja. Dan belum benar-benar tertidur, sama seperti yang disangka oleh Ara.
Beberapa saat kemudian.
Ara tampak keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah memakai pakaian tidur piyama. Sama seperti biasanya.
Dengan gerakannya yang hati-hati, dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Sehingga Awan terbangun, karena dia menyusul suaminya ke tempat tidur.
Setelah memposisikan dirinya berbaring di samping Awan. Ara mencoba untuk memeluk suaminya yang sedang miring, membelakangi dirinya.
"Kak. Maafkan Ara ya," bisik Ara, di dekat telinga Awan.
Dia juga mengeratkan pelukannya, pada tubuh suaminya itu.
Awan pura-pura terganggu dengan pelukan Ara, kemudian dia menggeliat dan mengubah posisi tidurnya dengan telentang.
Ara yang merasa kaget jadi melepaskan pelukannya dan agak menjauh dari tubuh suaminya.
Tapi Awan justru menarik istrinya itu, ke dalam pelukannya. Namun tetap dengan mata yang tertutup rapat. Seolah-olah sedang dalam keadaan tertidur.
Sekarang, Ara berada di dalam dekapan hangat suaminya. Meskipun Awan tidak mengatakan apa-apa. Tapi itu sudah membuat Ara tersenyum senang. Seakan-akan suaminya itu sudah memberikan kata maaf untuknya.
Ara semakin mempererat pelukannya pada pinggang Awan.
Begitu juga dengan Awan. Dia tersenyum sendiri, sambil mencuri liat ke arah Ara yang sekarang ini ada di dalam dekapannya. Wajah Ara, menghadap ke dadanya. Sehingga dia hanya bisa menciumi rambut istrinya itu, tanpa sepengetahuan dari Ara sendiri.
__ADS_1
Mungkin, Awan juga merasa malu. Karena harus merasakan cemburu yang tidak beralasan.
Tapi apa yang dilakukannya ini, menciumi rambut kelapa istrinya, justru membangunkan adik kecilnya yang berada di bawah. Awan kelimpungan, dan segera melepaskan pelukannya pada Ara.
Dia bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi.
Ara juga terkejut, dengan kelakuan suaminya yang seperti ini. Dia ikut panik dan bangun dari tempat tidur.
Tok tok tok!
"Kak. Kak Awan tidak apa-apa?" tanya Ara bingung, karena suaminya itu langsung pergi ke kamar mandi. Padahal, tadi Awan sedang tertidur dengan memeluknya erat.
Tok tok tok!
"Kak. Kakak tidak kenapa-kenapa?"
Ara kembali mengetuk pintu kamar mandi, dan bertanya dengan cemas. Dia merasa takut jika terjadi sesuatu pada suaminya itu.
Dengan masih menunggu di depan pintu kamar mandi, Ara berpikir yang tidak-tidak.
'*Masa Kak Awan masih marah dan akhirnya tidur di kamar mandi? Tapi kenapa lama dia di dalam?'
Ara sudah merasa cemas, dengan keadaan suaminya yang masih betah berada di dalam kamar mandi. Dan saat dia hampir mengetuk pintu kamar mandi sekali lagi, pintu kamar di buka dari dalam oleh Awan.
Clek!
"Kak," panggil Ara dengan cemas.
"Kakak tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Ara, saat melihat terlihat lega. Begitu keluar dari dalam kamar mandi.
Awan berjalan tenang, menuju ke tempat tidur. Dia juga tidak langsung menyahuti panggilan dan pertanyaan istrinya, yang sedang dalam keadaan panik.
Sekarang, Awan duduk di pinggiran tempat tidur. Kemudian meminta pada Ara, untuk duduk di sampingnya. "Sini duduk dulu!"
Ara menurut. Dia duduk di samping suaminya itu, dengan tetap menatap ke arah wajah suaminya. Ara tetap merasa cemas dengan sikap Awan saat ini.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Ara, memastikan keadaan Awan memang baik-baik saja.
Awan tersenyum tipis, kemudian merangkul pundak istrinya itu dengan satu tangannya yang berada disisi istrinya.
Dia menyadarkan kepala Ara, di depan dadanya. Kemudian mengecup pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
"Maafkan Kakak Dek. Seharusnya, Kakak gak bersikap kekanak-kanakan seperti tadi."
Ara mendongak menatap ke arah suaminya. Dia mengelus pipi Awan, dengan tersenyum senang. "Ara juga minta maaf ya Kak. Ara gak peka dengan keadaan tadi," ucap Ara, dengan tangannya yang masih berada di satu sisi pipi Awan.
Mereka berdua, ada dalam posisi saling pandang, untuk beberapa detik. Dan tiba-tiba, Awan mengajukan pertanyaan kepada istrinya. "Kamu kapan selesai dengan urusan tamu itu?"
Wajah Ara tampak kebingungan, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya. "Maksud Kakak tamu yang mana?" tanya Ara, yang tidak tahu, ke mana arah pertanyaan yang diajukan oleh Awan barusan.
"Tamu itu," jawab Awan, dengan mengarahkan pandangannya ke bawah.
Tapi Ara masih bingung, dan mengerutkan keningnya. Memikirkan kembali, apa yang ditanyakan oleh suaminya tadi.
Dan pada saat dia tersadar, dia segera bangkit dan memukul pundak suaminya.
"Ihhh, Kakak mesum! Hahaha..."
Ara tertawa senang, saat sadar dengan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tadi. Dia merasa jika, suaminya itu sudah tidak lagi marah padanya.
"Kapan?" tanya Awan lagi, meminta kepastian.
"Emhhh... lima atau empat hari lagi mungkin," jawab Ara, yang tidak tahu pasti, kapan dia akan selesai dengan urusan kewanitaannya.
"Selama itu Dek?" Awan bertanya dengan terkejut.
Ara mengangguk sambil tersenyum geli. Dia melihat bagaimana wajah Awan yang tampak gusar, saat mendengar jawaban dan anggukannya tadi.
"Apa gak bisa dipercepat?"
"Memang mesin mobil Kak?" Ara balik bertanya, dengan hal yang tidak mungkin bisa dia lakukan.
"Haduh..."
"Hahaha... sabar ya Kak. Ara juga tidak tahu, kenapa pas tanggal nya dia datang itu tamu."
Dengan kesal dan gemas sendiri, Awan memeluk istrinya lagi dengan erat.
"Awas saja ya jika sudah selesai! Gak ada kata tidak pokoknya!"
"Hahaha..."
Mereka berdua, akhirnya saling tertawa senang. Menyadari jika semuanya memang harus dibicarakan dengan cara yang baik. Apapun keadaan dan permasalahan yang sedang dihadapi.
__ADS_1