Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ngambek Dan Rasa Lapar


__ADS_3

Di rumah ayah Edi.


Nanda yang baru saja datang dengan berjalan kaki, tentu saja membuat kakek dan neneknya bingung.


Mereka berdua, ayah Edi dan ibu Sofie, saling pandang karena Nanda yang hanya berjalan dengan menundukkan kepalanya.


"Nda," sapa ibu Sofie, menegur cucunya itu.


"Eh, Eyang. Assalamualaikum Eyang. Maaf, Nanda gak liat."


Nanda mengucapkan salam, kepada kakek dan neneknya. Dia jadi tersenyum kikuk, mendengar sapaan neneknya, yang seakan-akan menegurnya, karena masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Kok jalan kaki, motornya mana?" tanya ayah Edi, yang tidak melihat keberadaan motor Nanda.


"Di bengkel Eyang." Nanda menjawab pertanyaan dari eyang Kakungnya.


"Di bengkel? Terus pulang dari sekolah sama siapa? Ara di mana?" tanya ibu Sofie dengan cepat. Dia merasa khawatir, dengan kedua cucunya, yang biasanya berangkat dan pulang sekolah bersama-sama.


"Tadi pagi itu lho Eyang, pas waktu hujan. Motornya Nanda mogok. Kebetulan ketemu sama kak Awan. Terus kita bareng gitu," jawab Nanda lagi, menjelaskan.


"Awan? Awan..."


"Awan anaknya Elang mungkin Bu," kata ayah Edi, memotong pertanyaan dari istrinya, yang belum selesai diucapkan.


"Oh... benar itu Nda?" tanya ibu Sofie, memastikan kebenaran tentang perkataan suaminya barusan.


Nanda hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan dari eyang putrinya itu.


"Terus?" tanya ibu Sofie lagi, yang belum merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh cucunya.


Akhirnya, Nanda kembali menceritakan tentang kejadian yang tadi pagi dia alami bersama dengan Ara, sampai akhirnya ketemu dengan Awan, yang juga mau berangkat sekolah.


Tapi pagi tadi, kebetulan Awan di antar oleh pak supir, dan akhirnya justru pak supir yang mengurus motornya ke bengkel.


"Tapi ternyata, tadi bengkelnya sudah tutup Eyang. Jadi, Kak Awan mengantar kita sampai rumah ayah Abi. Pas Nanda mau di antar ke sini, Nanda nolak dan milih jalan kaki saja."


Ayah Edi dan ibu Sofie, mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Nanda.


"Awan itu baik ya, sama seperti oma dan opanya," ujar ibu Sofie, menilai anak dari mantan suami memantaunya sendiri, Anjani.


"Elang juga sebenarnya baik Bu. Yang membuatnya menjauh dari keluarga itu kan mendiang istrinya. Bukan Elang sendiri," sahut ayah Edi mengingat ayahnya Awan, yang sampai sekarang masih betah menduda dan tidak juga punya niatan untuk menikah lagi.


"Ya sudah, Kamu mandi gih, terus kita makan malam ya!" kata ibu Sofie, meminta lada Nanda, supaya membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mereka semua makan malam.


"Iya Eyang," jawab Nanda pendek.


Setelah Nanda masuk ke dalam kamarnya, ibu Sofie bertanya pada suaminya, ayah Edi, "itu si Elang, kenapa gak menikah lagi ya Yah? kan dia orang kaya. Gak mungkin jika tidak laku. Atau jangan-jangan..."


"Bu, sudahlah. Tidak usah memikirkan banyak hal. Apalagi yang bukan urusan kita. Itu urusan kehidupan Elang sendiri. Jika dia lebih bahagia hidup sendiri, ya gak apa-apa kan?"

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, ibu Sofie terdiam. Meskipun sebenarnya, dia masih saja ada yang mengganjal hatinya.


Dan ini membuat ibu Sofie curiga, jika Elang, ayahnya Awan, ada keinginan untuk merebut menantunya, Anjani suatu hari nanti.


Tapi tentu saja, ibu Sofie juga tidak mungkin mengatakan bahwa dia mencurigai Elang, kepada suaminya itu. Bisa-bisa, dia justru kena marah dan mendapat ceramah, yang panjang lebar dari suaminya itu.


'Aku tidak akan membiarkan Anjani di rebut kembali lagi oleh si Elang itu. Awas saja jika itu sampai terjadi!'


Di dalam hatinya, ibu Sofie tidak tenang, saat pikirannya menjadi sejauh itu.


*****


Pada saat makan malam, di rumah Abimanyu.


"Ara kenapa, ngambek?" tanya Abimanyu, yang tidak melihat keberadaan Ara di kursi makan.


"Iya Yah. Ini nih, sama adiknya."


Anjani menunjuk ke arah Anggi, yang sudah duduk dengan senyum-senyum di tempat duduknya sendiri.


"Adek kenapa?" tanya Abimanyu, dengan mengalihkan perhatian ke arah Anggi.


"Anggi tidak ngapa-ngapain kok!" jawab Anggi cepat, karena merasa jika dia tidak bersalah sama sekali.


Anjani mengelengkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi, atas pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tadi.


Karena sekarang ini, Ara tidak mau keluar kamar. Dia marah karena Anggi membuatnya menjadi malu, atas apa yang sudah dia katakan saat ada tamu dan juga Awan di rumah ini.


"Hemmm..."


Sekarang, Abimanyu jadi tahu permasalahan yang terjadi pada kedua anaknya, Ara dan Anggi.


"Adek. Besok-besok, tidak usah berkata yang Adek sendiri gak tahu artinya. Nanti bisa membuat orang lain jadi salah paham," ujar Abimanyu, memberikan nasehat pada Anggi, supaya tidak lagi melakukan hal yang sama seperti tadi.


"Iya Yah," jawab Anggi, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh ayahnya.


"Ayok, ikut Ayah."


Anggi berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengikuti langkah ayahnya, menuju ke arah kamarnya, yang merupakan kamar kakaknya juga.


Anjani juga melakukan hal yang sama, tapi mengikuti keduanya dari arah belakang.


"Adek minta maaf sama Kakak ya. Biar bagaimanapun maksud Adek, meskipun hanya ingin bercanda, tapi jika kakak tidak berkenan, Adek harus tetap meminta maaf."


Anggi, mengangguk lagi, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh ayahnya itu.


Tok tok tok!


"Kak. Kak Ara!"

__ADS_1


Anggi mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, dengan memanggil nama kakaknya, Ara.


"Kak. Kak Ara!"


Panggilan dari Anggi terdengar lagi dari dalam kamar.


Tapi Ara masih belum mau membukakan pintu. Meskipun sebenarnya, dia juga sedang dalam keadaan lapar.


"Huh. Gara-gara Anggi. Aku jadi malas keluar untuk makan."


Tapi karena panggilan adiknya yang terus-menerus, Ara jadi ada alasan, untuk bisa keluar dari dalam kamarnya.


Clek!


Pintu Kamar terbuka. Ara terlihat masih menekuk wajahnya, dan tidak ada senyuman sama seperti biasanya di wajahnya yang cantik.


"Ihhh... Kakak kok tetap terlihat cantik sih, meskipun marah gitu."


Ara malah semakin cemberut, karena mendengar perkataan yang diucapkan Anggi barusan, saat menilai penampilannya.


Ayah dan bundanya, tersenyum dengan saling pandang, mendengar apa yang dikatakan oleh Anggi barusan.


"Sepertinya dia jago merayu ya Bun," ujar Abimanyu, menebak keunikan anaknya, Anggi.


"Ayah, ada-ada saja. Itu kan karena Anggi hanya ingin membuat Ara tertawa, atau setidaknya bisa tersenyum."


Dan apa yang terjadi pada kedua anaknya itu, di depan mereka berdua, membuat Abimanyu segera memeluk Anjani, dari arah samping.


"Lihatlah, mereka berdua akur kan. Ini karena sebenarnya, mereka berdua saling memahami, apa dan bagaimana keadaan saudaranya sendiri."


Abimanyu berpikir, jika apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar. Karena tidak lama setelah Anggi memuji penampilan kakaknya, Ara memukul adiknya itu dengan gemas, dan segera memeluknya juga.


"Ihsss, Adek nakal!"


Tapi meskipun dengan wajah yang di tekuk dan bibir yang mengerucut, Ara tetap memeluk adiknya, Anggi, dengan bahagia.


Karena semua ulahnya itu membuatnya tidak bisa marah dalam waktu yang lama.


Ara akan merasa kesepian, jika tidak ada Anggi yang cerewet dan usil.


"Ayok kita makan. Ayah sudah lapar ini!"


"Horeee..."


Anggi berteriak senang, saat mendengar perkataan ayahnya itu.


"Ayok!" sahut Ara cepat, dengan penuh semangat.


Tentu saja Ara merasa senang, karena cacing-cacing di dalam perutnya, juga sudah tidak bisa menahan rasa lapar, yang dia rasakan sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2