Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Perasaan Abimanyu


__ADS_3

Jadwal operasi untuk Abimanyu, akan dilaksanakan dua hari ke depan. Dan hari ini, Abimanyu berserta Anjani, dengan di antar oleh ayah Edi bersama dengan ibu Sofie, datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan serangkaian tes kesehatan.


Pemeriksaan kesehatan sebelum operasi dilakukan tentu saja sangat penting. Karena ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh Abimanyu, sebelum menjalani operasi tersebut.


Pada umumnya, operasi tulang belakang digunakan untuk sistem pengobatan, yang membantu mengatasi berbagai masalah yang menyebabkan nyeri pada tulang belakang. Umumnya, prosedur pengobatan ini dilakukan bila berbagai jenis perawatan medis lainnya tidak berhasil menghilangkan nyeri pada tulang belakang, atau justru semakin parah.


Tapi kenapa operasi tulang belakang Abimanyu ini, berbeda tentu penanganan medis juga berbeda.


Operasi yang dilakukan oleh Abimanyu nantinya, akan membetulkan letak tulang yang tidak pada tempatnya dan memberi penyangga sebagai alat bantu, yaitu pen.


Dulu, belum sempat menjalani operasi ini, karena kondisi tubuhnya yang sudah terlalu lemah dan juga anggota tubuh yang lain, mengalami hal yang sama.


Jadi, dokter tidak berani mengambil resiko dengan menjalani operasi pembedahan tulang belakang Abimanyu.


Pen di sini merupakan salah satu jenis implan yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan tulang, misalnya saat tulang retak atau tulang patah. Pen sudah dirancang untuk tetap berada di dalam tubuh selamanya, tapi ada beberapa kondisi yang menyebabkan prosedur cabut pen perlu dilakukan, karena pen yang dipakai biasanya berupa logam.


Abimanyu sudah siap dengan segala aturan dan resiko yang akan datang. Dia tidak mau terus menerus berada di dalam kondisi yang seperti sekarang ini. Dia ingin segera sembuh dan bisa beraktivitas, sama seperti waktu dulu.


Abimanyu merasa kasihan pada istrinya, yang sudah susah payah merawatnya selama ini. Dia tidak ingin merepotkan terus-terusan, apalagi sekarang ini, dia sudah menghabiskan banyak biaya juga untuk perawatan dirinya.


Sekarang, dia sedang beristirahat di kamar pasien, di temani oleh Anjani. Ayah Edi dan ibu Sofie, pamit pulang, karena Sekar masih dalam keadaan ngidam yang parah. Dan anak-anak, juga akan segera pulang dari sekolah mereka.


"Mas," panggil Anjani, saat melihat Abimanyu yang hanya diam saja.


"Ya. Ada apa Sayang?" jawab Abimanyu, dengan sebuah pertanyaan untuk Anjani.


"Mas gak takut kan? Mas yakin sanggup menjalani operasi ini kan?" tanya Anjani lagi, untuk memastikan jika suaminya itu tidak ada keraguan dengan operasi yang akan dia lakukan besok.


Abimanyu tersenyum, mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Dia melambaikan tangan kepada Anjani, supaya Anjani menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan dirinya, yang saat ini berbaring di ranjang pasien.


Setelah Anjani datang lebih dekat, Abimanyu segera mengambil tangan Anjani dan menggenggamnya dengan erat.


"Mas sanggup melakukan apapun, demi kalian. Kamu dan juga Ara. Mas pasti sanggup menghadapi semuanya," kata Abimanyu sambil mengangguk dan tersenyum, untuk menyakinkan hati istrinya, Anjani.


Mereka saling berpelukan, untuk memberikan dorongan semangat, dan saling menguatkan hati.


"Nanti, jika Mas sudah sembuh dari semua ini, Mas pasti akan balas dendam."


Tiba-tiba, setelah beberapa menit mereka saling berpelukan, Abimanyu mengatakan semua itu.


Tentu ini membuat Anjani bingung.

__ADS_1


"Balas dendam pada siapa Mas?" tanya Anjani ingin tahu.


"Sama Kamu," jawab Abimanyu datar.


"Sama Jani? kenapa?" tanya Anjani lagi, masih dengan rasa penasaran yang tinggi.


Tentu saja Anjani penasaran dan juga bingung dengan perkataan suaminya tadi. Bagaimana bisa, Abimanyu mempunyai dendam kepada dirinya, yang sebenarnya adalah istrinya sendiri, dan juga yang sudah merawat dirinya selama ini.


"Karena..."


Abimanyu, sengaja mengantungkan kalimatnya, karena Anjani yang sudah sangat penasaran, sehingga tidak sadar jika sudah sangat tegang. Dan ini terlihat sangat jelas dari raut wajahnya.


"Mas. Apa salah Jani?"


Akhirnya, Anjani bertanya dengan tidak sabar, karena Abimanyu tidak melanjutkan kalimatnya yang tadi.


Dia merasa jika Abimanyu salah paham, jika memang ada sesuatu yang dianggap salah dari sikap Anjani selama merawat dirinya.


"Pokoknya, Ma Mas mau balas dendam."


Abimanyu masih belum menjelaskan pada Anjani, pada arti dari kata balas dendam yang dia ucapkan.


"Mas akan balas dendam dengan ini... ini... dan ini serta semuanya!"


Anjani terbelalak karena jawaban dari suaminya itu. Hal yang tidak pernah dia sangka-sangka, jika hal semacam itulah yang ingin dilakukan oleh suaminya sebagai pembalasan dendam.


Itu karena Abimanyu menjawabnya dengan menunjuk ke arah bibir, dada dan semua anggota tubuh istrinya dengan penuh tekanan perasaan.


Anjani jadi merasa kasihan, sekaligus merasa sangat bersalah.


Selama ini, mereka berdua masih bisa beraktivitas seperti biasa di dalam kamar, tapi tentu saja sangat berbeda dan tidak sama seperti dulu, saat Abimanyu dalam keadaan sehat dan normal.


Anjani jadi berpikir, jika Abimanyu memiliki tekanan sendiri, akibat ketidak mampuannya itu. Atau ada sesuatu yang membuatnya mempunyai pikiran seperti tadi. Anjani tidak tahu, jika sebenarnya, Abimanyu merasa cemburu, di saat Elang datang menjenguknya, bersama dengan mama Amel.


Abimanyu merasa sangat rapuh, karena membandingkan dirinya yang lumpuh, dengan Elang yang sehat dan normal layaknya laki-laki sejati.


Anjani, segera memeluk kembali Abimanyu. Dia menyatakan rasa cinta pada suaminya tanpa harus menggunakan kata-kata.


"Jika Jani ada salah, Jani minta maaf Mas. Jani tidak mau jika mas Abi ada rasa yang tidak-tidak tentang Jani," kata Jani, masih dalam keadaan memeluk Abimanyu.


Abimanyu menghela nafas panjang, mencoba untuk membuang perasaannya yang terasa sesak sendiri.

__ADS_1


Dia mencoba untuk menenangkan pikiran dan hatinya, menyakinkan diri bahwa istrinya ini, tidak mungkin berpaling darinya.


Dia sudah membuktikan kesetiaan Anjani, selama dia sakit. Baik saat amnesia ataupun lumpuh, bahkan dalam keadaan kesulitan untuk keuangan mereka pun, Anjani tidak punya niatan untuk pergi dari sisinya.


"Maaf. Maafkan Mas Jani. Mas yang berpikiran picik. Seharusnya, Mas tidak menuruti perasaan yang dibawa oleh setan ini," kata Abimanyu, sambil mengelus-elus rambut istrinya.


Dia merasa menyesal, karena sudah membuat Anjani bersedih hati, apalagi di saat dirinya mau menghadapi operasi besok pagi.


"Doakan Mas berhasil ya, dalam operasi besok. Mas akan berusaha untuk kuat dan bisa sembuh untuk Kamu dan Ara," kata Abimanyu lagi, sambil mengecup kening istrinya sebelum akhirnya dia ikut memeluknya juga.


Keduanya larut dalam perasaan mereka masing-masing. Mereka berdua, sama-sama saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.


Di luar ruangan, dibalik pintu. Ternyata ada Elang, yang menyaksikan semua yang terjadi di dalam kamar pasien Abimanyu.


Dia tidak sengaja tahu, jika Abimanyu ada di rumah sakit ini.


Awalnya, dia sedang berkonsultasi dengan dokter, karena kepalanya yang sering terasa sakit dan nyeri. Tapi di saat mau pulang, dia melihat sekelebat bayangan Anjani, yang batu saja berjalan menuju ke arah lorong kamar rumah sakit.


Itulah sebabnya, Elang mengikuti dan akhirnya tahu, jika Abimanyu ada di ruangan tersebut.


Elang juga akhirnya tahu, jika jadwal operasi untuk Abimanyu adalah besok pagi.


Elang hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian melangkah pergi. Dia tidak ingin menganggu suami istri yang sedang dalam keadaan seperti tadi.


Sebenarnya, Elang ingin menjenguk juga dan sedikit berbincang-bincang, selayaknya teman. Tapi karena situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya dia tidak jadi mengetuk pintu dan hanya berdiri saja di depan pintu.


Dan kini, Elang sudah berada di area parkir rumah sakit.


"Nak Elang," sapa seseorang, yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Ya. Oh... Paman," jawab Elang, yang akhirnya menunda untuk membuka pintu mobil.


"Sedang menjenguk siapa?" tanya orang yang menyapa Elang.


"Bukan Paman. Ini tadi Elang habis periksa, sakit kepala saja kok," jawab Elang dengan tersenyum, supaya orang tadi tidak merasa khawatir ataupun curiga.


"Oh... sekarang mau pulang?" tanya orang itu lagi.


"Iya Paman. Mari, Saya duluan."


Elang akhirnya pamit pulang pergi terlebih dahulu. Dia tidak ingin, orang tadi merasa curiga dan bertanya-tanya lagi sehingga Elang kesulitan untuk menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2