Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari yang dinanti sudah tiba. Pernikahan antara Anjani dan Abimanyu akan segera dilaksanakan pada hari ini, di rumah Anjani, Bogor.


Semua orang yang ikut membantu, dan hadir dalam acara tersebut tampak sumringah, karena ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh kedua mempelai.


Mama Amel, juga ikut hadir bersama dengan papa Riyan. Tapi Elang dan keluarga kecilnya, tidak bisa ikut. Mereka akan datang di pesat resepsi, yang akan diadakan di Jakarta, oleh keluarga Abimanyu.


"Selamat ya Sayang. Akhirnya, Kamu menikah juga dengan Abi." Mama Amel, memberikan ucapan selamat, pada Anjani.


"Terima kasih ya Ma. Sudah mau datang ke acara Jani ini," kata Anjani dengan penuh haru, karena mantan mama mertuanya itu, masih menyayangi dirinya hingga saat ini.


"Sama-sama Sayang. Elang dan Adhisti, nitip salam. Mereka sedang mengadakan konsultasi pernikahan. Semoga mereka berdua, bisa memperbaiki hubungan dan Adhisti, benar-benar bisa berubah, demi masa depan keluarga dan anak-anak mereka nanti."


"Aamiin. Jani ikut merasa bahagia Ma, mendengar berita ini. Semoga, mbak Adhis dan mas Elang, bisa rukun dan tidak ada masalah ke depan nanti." Anjani, ikut merasa senang dengan berita yang disampaikan oleh mama Amel.


"Iya Sayang. Mama juga berharap seperti itu," ucap mama Amel, dengan tersenyum.


"Mari Ma, dinikmati hidangan yang ada. Maaf lho, pesta Jani hanya kecil-kecilan ini. Tidak ada banyak pilihan makanan."


"Iya, tidak apa-apa. Ini makanan juga sudah banyak dan enak-enak kok. Mama suka Jani," sahut mama Amel.


Mereka berdua, kembali menikmati pesta yang ada.


"Sayang, sini sebentar," panggil Abimanyu, mendekat ke arah Anjani.


Anjani tersipu, saat Abimanyu, yang sekarang sudah menjadi suaminya, memangilnya dengan sebutan 'Sayang' karena selama ini, dia belum terbiasa dengan sebutan 'Sayang' dari Abimanyu.


"Iya Mas, ada apa?" tanya Anjani, setelah dekat.


"Ada yang mau Aku tunjukkan," jawab Abimanyu, sambil menggandeng tangan Anjani.


Mereka berdua, pergi ke arah taman, yang ada di belakang kafe rumah milik Anjani. Dengan wajah bingung, Anjani hanya menurut, kemana suaminya itu membawanya saat ini.


Abimanyu, memegang kedua tangan Anjani, yang sekarang sudah menjadi istrinya. Dia meminta Anjani, agar duduk di kursi yang ada. "Duduklah."


Anjani menurut. Dia duduk di kursi yang ada di belakangnya. Dia menunggu, apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh suaminya itu.


"Mas mau..."

__ADS_1


Cup!


Anjani kaget, karena Abimanyu tanpa permisi mencium bibirnya. Kelakuan suaminya itu, membuat Anjani menjadi bersemu merah, karena merasa malu.


"Mas. Apa sih, kok kayak gini?"


Dengan malu-malu, Anjani bertanya apa yang sebenarnya ingin di tunjukkan oleh Abimanyu.


"Merem dulu ya, Aku mau menunjukkan sesuatu," kata Abimanyu, meminta pada Anjani, agar memejamkan matanya terlebih dahulu, tanpa menjawab pertanyaan dari Anjani a.


"Kok suruh merem?" tanya Anjani heran.


"Sudah, pokoknya merem dulu," jawab Abimanyu, karena Anjani tidak segera memejamkan mata.


"Nanti di kerjain gak?" tanya Anjani khawatir. Dia takut, jika Abimanyu akan mengerjai dirinya saja.


"Sudah deh, pokoknya nurut saja," jawab Abimanyu, tetap tidak mau memberitahu, apa yang sebenarnya ingin dia lakukan.


Akhirnya, Anjani menurut juga. Dia memejamkan mata, untuk mengetahui, apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh suaminya, Abimanyu.


Setelah hampir satu menit kemudian, dan tidak ada tanda-tanda jika Abimanyu akan menyuruhnya membuka mata, Anjani meraba keadaan di depannya. Dia ingin tahu, apakah Abimanyu masih ada di depannya, atau sudah tidak ada. Sebab, sedari tadi, tidak ada gerakan atau suara apapun yang terdengar.


"Mas," panggil Anjani, dengan membuka mata dan mencari keberadaan suaminya, Abimanyu.


"Aku di sini Sayang."


Dari arah belakang, Abimanyu, memeluk istrinya, Anjani, dengan menunjukkan lembaran kertas paket honeymoon ke Bali.


"Ini apa Mas?" hanya Anjani dengan bingung. Dia tidak tahu, apa yang dibawa oleh Abimanyu, yang sekarang ini ditunjukkan kepadanya.


"Kamu baca ya," jawab Abimanyu, sambil mendudukkan Anjani lagi, ke kursi taman.


Anjani, menerima kertas yang diberikan oleh suaminya itu. Dia ingin tahu, apa yang tertera di atas kertas tersebut.


Setelah beberapa saat kemudian, Anjani tersenyum sambil melihat ke arah suaminya dengan mata berbinar-binar. Dia merasa sangat senang dengan apa yang diberikan oleh suaminya itu.


"Mas, ini untuk kita?" tanya Anjani, menyakinkan bahwa apa yang dia lihat tadi benar adanya.

__ADS_1


"Iya Sayang," jawab Abimanyu sambil mengangguk dan tersenyum pasti.


Anjani, memeluk suaminya dengan penuh haru. Dia merasa sangat bahagia, karena kejutan yang diberikan oleh Abimanyu saat ini.


"Sebenarnya, tidak pergi honeymoon juga tidak apa-apa Mas. Jani, sudah merasa bahagia bisa bersama dengan Mas Abi," kata Jani, yang sekarang ini ada di dalam pelukan suaminya.


"Tidak apa-apa Sayang. Mas juga bahagia kok, bisa menikah denganmu. Dan ini, hanya hadiah kecil dari Mas, untuk pernikahan kita. Yang lebih besar ada lagi lho!" ucap Abimanyu, yang membuat Anjani menjadi merasa penasaran, kemudian melepaskan pelukannya, untuk bisa melihat kejutan berikutnya.


"Apa yang lebih besar?" tanya Anjani, yang merasa tidak sabar, ingin melihat kejutan yang dikatakan oleh Abimanyu.


"Ini," jawab Abimanyu, sambil menunjuk ke arah dadanya.


Anjani, kembali memeluk suaminya. Dia merasa sangat bahagia karena Abimanyu, yang begitu besar dalam mencintai dirinya.


"Terima kasih Mas. Dengan cinta ini, Jani yakin, bisa menjalani hari-hari ke depan nanti, dengan lebih baik lagi."


"Iya Sayang. Kita berdua pasti bisa. Apapun yang terjadi di depan, kita harus tetap sama-sama ya," kata Abimanyu, yang semakin erat memeluk Anjani.


"Ehem...!"


Anjani dan Abimanyu, menoleh bersamaan, untuk melihat siapa yang mengangu moment romantis mereka berdua saat ini.


"Maaf Bu."


"Ibu!"


Anjani dan juga Abimanyu, terkejut dengan kedatangan ibunya, yang mengagetkan tadi.


"Ada yang mau Ibu bicarakan. Maaf ya Jani, Ibu pinjam Abimanyu sebentar," kata ibunya Abimanyu, yang sekarang ini sudah menjadi ibu mertua Anjani.


Anjani, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia merasa tidak enak hati, karena ibunya Abimanyu, terlihat jutek dan tidak ada basi_nya.


Setelah beberapa menit berlalu, dan Abimanyu tidak juga kembali, akhirnya, Anjani kembali ke dalam rumah. Dia bermaksud untuk menyapa tamu-tamu dan juga sanak saudara yang datang di hari pernikahannya ini.


"Jani, mana Abimanyu?" tanya ayahnya Abimanyu, ayah mertua Anjani.


"Tidak tahu Yah. Tadi di ajak ibu, katanya ada yang mau dibicarakan," jawab Anjani memberitahu.

__ADS_1


"Oh, tapi kemana ya mereka bicara?" tanya ayah mertua lagi, seperti orang yang sedang bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri.


Anjani, hanya menggeleng, karena memang tidak tahu, dimana keberadaan suami dan ibu mertuanya, yang tadi pergi. Mereka juga tidak mengatakan, jika akan membicarakan tentang apa, dan juga ada di mana. Jadi, Anjani benar-benar tidak tahu, dimana mereka sekarang ini berada.


__ADS_2