
Hati yang sedang sakit, tidak mau diajak kompromi. Rasa kecewa dan kesal sudah menguasai hati dan akal sehat. Tidak lagi berpikir, jika akan ada beberapa hal yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Begitu juga dengan apa yang dialami sahabatnya Sekar. Dia, yang merasa dikecewakan oleh kekasihnya, yang berselingkuh dengan Yasmin, malah sekarang dalam keadaan hamil dan menikah juga.
Meskipun dia juga merasa bersyukur, karena telah lepas dari laki-laki seperti Wawan, tapi hatinya yang sudah terlanjur kecewa karena merasa di tipu, masih kuat ingin melakukan balas dendam. Bukan dengan cara menyelingkuhi Wawan, tapi mempermalukan dirinya dan juga istrinya yang sekarang ini, yaitu Yasmin.
Tanpa pikir panjang, sahabat Sekar naik ke atas panggung pelaminan. Dia menghadapi Wawan yang tentunya terkejut, saat melihat ke beradaan mantan kekasihnya itu di sini, di pesta pernikahannya dengan Yasmin.
"Selamat ya Wawan. Kamu sudah berhasil dengan semua yang Kamu lakukan dalam pengkhianat cinta ini. Ya... meskipun Aku sangat bersyukur bisa lepas dari jeratan cintamu, tapi Kamu harus menerima pembalasan dendam ini, termasuk juga kekasih gelap_mu ini!" kata sahabat Sekar, dengan nada marah dan juga mengejek.
Tindakan sahabat Sekar ini, membuat beberapa tamu mengalihkan perhatian mereka ke arah panggung pelaminan. Mereka ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada di antara kedua mempelai itu.
"Maksud Kamu apa?" tanya Yasmin sewot. Dia tidak terima dituduh dengan selingkuhan ataupun kekasih gelap. Dia merasa menang karena saat ini, Wawan sudah menjadi suaminya.
"Oh iya, selamat ya Yasmin. Selamat menikmati buah cintanya Wawan yang palsu. Hehehe... Kamu akan tahu suatu hari nanti," jawab sahabat Sekar, sambil menunjuk ke arah Wawan.
"Pergi Kamu. Aku tidak mengenalmu!" usir Yasmin sambil mendorong bahu wanita yang ada di depannya sehingga tubuhnya terdorong satu langkah.
"Arogan sekali Kamu! Ternyata Kamu mendapatkan istri yang sesuai kriteria ya, Wawan? semoga Kamu betah bocah, hidup bersama dengan Wawan yang penuh dengan harapan tapi kepalsuan!" bentak sahabatnya Sekar, sambil menunjuk ke wajah Yasmin. Dia melempar foto-foto Yasmin yang sedang berduaan dengan Wawan, saat masih menjadi kekasihnya dulu.
"Aku masih punya banyak. Dan jika Aku mau, Aku bisa dengan mudah menyebarkan semua itu ke sosial media. Ingat, perbuatan kalian berdua, akan mendapat karma suatu hari nanti! Oh ya, Aku melupakan sesuatu. Selamat atas kehamilannya. Semoga lancar saat melahirkan nanti."
Setelah berkata demikian, sahabatnya Sekar bergegas turun dari panggung pelaminan. Tapi begitu sampai di bawah, ibu Sofie tiba-tiba menamparnya. Dan ini, membuat sebagian tamu undangan yang rata-rata perempuan, menjerit kecil dan ikut terkejut.
Sahabat Sekar tentunya sangat terkejut, dan kesakitan di bagian pipi yang baru saja terkena tamparan dari ibu Sofie. Dia memegangi bagian pipinya yang memerah setelah di tampar ibu Sofie.
"Pergi Kamu dari sini. Bikin keributan dan kami tidak mengenalmu!" teriak ibu Sofie marah.
"Heh, ibu memang tidak mengenalku. Tapi menantu Ibu, sangat mengenal siapa Aku," jawab sahabat Sekar, dengan menekan kata 'menantu' karena dia yakin, jika ibu Shofie ataupun keluarga Sekar ini, tidak mengenal Wawan yang sebenarnya.
"Sudahlah! Aku tidak butuh ocehan darimu. Pergi atau Aku panggilkan pihak keamanan?" teriak ibu Sofie lagi, sambil menunjuk ke arah luar.
Sahabat Sekar, tersenyum miring dan menggeleng cepat. "Tidak perlu Ibu Sofie mengusir Saya, karena ini sudah waktunya Saya pergi. Yang penting, Saya sudah memperingatkan Ibu dan juga anak Ibu. Terima kasih atas luka ini!" kata sahabat Sekar, sambil menunjuk ke dadanya sendiri.
"Suatu hari nanti, Ibu akan merasakan lebih dari yang Saya rasakan. Ingat itu!"
Sahabat Sekar, langsung meninggalkan tempat, setelah mengatakan semuanya. Rasa sakit dan sesak dalam dadanya, seakan ingin dikeluarkan semuanya. Kini, setelah puas dan merasa lapang, dia pergi dengan senyuman miring, karena berhasil membuat malu Wawan dan juga Yasmin di hadapan para tamu undangan yang masih berada di sana.
__ADS_1
Di panggung pelaminan, Wawan dan juga Yasmin merasa malu, karena semua tamu jadi memperhatikan mereka berdua. Ada banyak tamu yang akhirnya bergosip ria, membicarakan tentang kata-kata wanita yang tadi.
"Oh, ternyata begitu ya ceritanya. Pantes kayak mendadak gini kesannya."
"Wah gak nyangka ya, ternyata anaknya ibu Sofie berkelakuan seperti itu."
"Mungkin ini teguran untuk kita semua, agar berhati-hati dalam memilih pasangan."
"Perhatikan juga pergaulan anak-anak kita, jangan asal percaya begitu saja dengan pacar atau kekasih mereka. Kita harus menyelidiki dari berbagai sudut, dan jangan sampai kejadian ini terjadi lagi pada keluarga kita nantinya."
"Amit-amit deh, jangan sampai!"
"Duh iya , jangan sampai. Bikin malu saja."
Begitulah omongan para tamu, yang ikut melihat serta mendengarkan kejadian di atas panggung pelaminan tadi. Mereka jadi memperbincangkan keluarga ibu Sofie yang punya acara hajatan pernikahan ini, yaitu acaranya Yasmin.
Karena merasa jengkel dan marah, ibu Sofie akhirnya meminta pada pembawa acara pestanya, untuk mengumumkan bahwa pesta pernikahan ini sudah selesai. Para tamu di minta untuk meninggalkan tempat.
"Kok selesai?"
"Kayaknya iya sih, dia malu karena ketahuan kan jadinya."
"Oh iya, suaminya kemana?"
"Iya tidak ada tuh. Anak-anaknya yang tadi ada di sana juga tidak ada."
"Tadi kayaknya ada yang bilang mau ke rumah sakit atau kemana gitu?"
"Sudah-sudah. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak usah bicara yang bukan masalah kita."
Para tamu undangan yang datang, kembali membicarakan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Apalagi saat acara pesta dibubarkan. Mereka menjadi yakin, jika memang benar apa yang tadi itu benar adanya.
Semua orang yang masih berada di pesta, meninggalkan tempat satu persatu. Mereka hanya berpamitan pada panitia pelaksana, dan bibi pembantu yang ada di depan, mengantikan posisi Anjani dan Sekar. Tadi, saat Sekar pamit padanya, Sekar yang meminta bibi menyambut para tamu yang masih berdatangan.
Dengan perasaan malu dan juga kesal, ibu Sofie masuk ke dalam rumah. Dia tidak menggubris tamu-tamu yang berpamitan pulang. Begitu juga saat Risma datang mendekat. Dia tidak lagi peduli. Hingga akhirnya Risma juga pulang tanpa pamit kepada-nya.
Ibu Shofie, tidak bisa melupakan kejadian di atas panggung pelaminan dan juga omongan para tamunya tadi. Itulah sebabnya, dia juga tidak mempedulikan panggilan anaknya, Yasmin, yang masih berada di atas panggung pelaminan bersama dengan Wawan.
__ADS_1
"Huh, kenapa ini harus terjadi sih! bikin malu. Bagaimana besok Aku menghadapi mereka-mereka semua saat berada di kantor dan jika ada pertemuan yang mempertemukan kami. Ah...!"
Ibu Sofie benar-benar merasa kesal. Apalagi sekarang ini, tidak ada tempat untuk melampiaskan kekesalannya itu. Akhirnya, dia mencoba menghubungi suaminya, yang tadi pergi menyusul Abimanyu ke rumah sakit.
Tut... tut... tut
Panggilannya tidak tersambung. Ibu Sofie jadi semakin kesal. "Ayah kemana sih, kenapa handphone mati?" tanya ibu Sofie seorang diri.
Dia kembali melakukan panggilan telepon untuk suaminya. Dia berharap, jika panggilannya kali ini akan di jawab oleh suaminya itu.
Tut... tut... tut...
..."Ya Bu, ada apa?"...
Akhirnya, ayah Edi menerima panggilan telpon dari istrinya juga. Dia yang tidak tahu apa-apa tentang kejadian di rumah, tentu tidak akan bertanya tentang pesta anaknya itu. Dia hanya bertanya, ada apa istrinya itu menelponnya sekarang ini.
..."Ayah dimana sih, kenapa tidak diangkat sedari tadi telpon dari Ibu?"...
..."Kapan telpon? Bukannya baru kali ini saja?"...
Ayah Edi, malah bertanya-tanya tentang panggilan yang katanya tidak diangkat. Ini menambah kekesalan istrinya yang sedang di rumah dan dalam keadaan marah serta kesal, akibat kejadian tamu yang datang tanpa dia undang.
..."Tadi, barusan Yah!"...
..."Mungkin sinyalnya Bu. Biasanya kan memang begitu. Sinyal tidak bisa kita tentukan bisa tidaknya tersambung di semua tempat. Kenapa kedengaran kesal begitu Bu?"...
Ayah Edi, menebak jika telah terjadi sesuatu pada istrinya di rumah. Dia yang tahu betul watak dari ibu Shofie, pastinya bisa lebih paham dengan nada suara dan perkataan istrinya itu, meskipun tanpa diberitahu terlebih dahulu.
..."Ayah. Tadi ada tamu yang bikin kacau pesta. Ini sudah Aku bubarkan. Malas Aku melanjutkan pesta ini."...
Akhirnya, ibu Sofie bercerita tentang tamu yang tidak punya tata krama tadi pada suaminya. Dia ingin meluapkan kekesalan dan sesak di dadanya pada ayah Edi. Dia merasa kesal dan hanya suaminya itu yang bisa mengerti keadaan dirinya jika sedang dalam keadaan marah.
..."Sudah-sudah. Ibu ke sini, ke rumah sakit. Anjani sedang ditangani di IGD."...
..."Ya Yah. Ibu akan segera menyusul ke rumah sakit sekarang juga."...
Akhirnya, ibu Sofie memutuskan untuk menyusul suaminya ke rumah sakit. Mungkin dengan dia pergi ke sana, dia akan mendapatkan simpati dari anaknya lagi, yaitu Abimanyu. Dia tidak ingin dianggap tidak mempunyai rasa simpati atas kejadian yang dialami oleh Anjani, istrinya Abimanyu.
__ADS_1