Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Perasaan Yang Ragu


__ADS_3

"Bunda-bunda. Anggi gak mau sekolah di sana. Ada Miko yang reseh. Anggi gak mau. Huhuhu..."


Anggi langsung menangis, begitu sampai di rumah. Ini karena kejadian tadi, saat berada di sekolah, dengan ulahnya Miko, yang memanggil-manggil namanya, secara terus menerus, sehingga teman-teman barunya, banyak yang ikut-ikutan memangil namanya juga. Dia jadi merasa kesal dan itu sudah dia tahan dari awal di sekolah hingga di rumah. Dsn baru dia ungkapkan pada bundanya, begitu tiba di rumah.


Olok-olok yang diberikan Miko, sangat tidak disukai oleh Anggi.


Miko, yang juga ikut pulang bersama dengan mereka, jadi tersenyum canggung karena merasa sebagai biang kerok dari sikap Anggi yang rewel kali ini.


"Miko cuma bercanda. Kan Anggi jadi terkenal, karena semua orang tahu namanya Anggi." Miko mengelak, dengan mengatakan alasannya.


"Tidak mau, pokoknya Miko nakal. Anggi tidak mau sekolah si sana!"


Anggi masih berteriak kesal, dengan semua yang sudah dikatakan Miko sebagai pembelaan diri.


Anjani, yang merasa jika anaknya itu sedang merajuk, hanya mengangguk saja kemudian berjalan menuju ke arah dapur, untuk membuatkan minuman susu hangat untuk mereka berdua, Anggi dan Miko.


"Bunda!" Anggi kembali berteriak, memangil dirinya.


"Iya Sayang. Bunda dengar kok," jawab Anjani, sambil menolehkan kepalanya ke arah anaknya, Anggi.


"Bunda Jani, Bunda Jani!"


Miko ikut-ikutan memangil Anjani.


Akhirnya, Anjani menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka berdua, sambil menunggu, apa yang sebenarnya ingin mereka berdua katakan.


"Hehehe..." Miko justru tertawa tidak jelas, ada apa sebenarnya.


Sedangkan Anggi, masih cemberut dan semakin cemberut saja, karena ikut-ikutan memangil bundanya.


"Ada apa? Bunda mau buat susu untuk kalian. Ada yang mau!" Pada akhirnya, Anjani bertanya pada keduanya, karena mereka justru saling 'perang' dengan cara yang berbeda.


Tapi keduanya justru tersenyum malu-malu, sambil mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Anjani.


"Hehehe... kalian ini, kompaknya... Kan mending kayak gitu, dari pada ngambek dan marahan kayak tadi," ujar Anjani dengan tertawa kecil.


Mereka berdua, Anggi dan Miko, saling pandang satu sama lain, dan tidak lama kemudian, keduanya saling membuang muka. Sungguh aneh-aneh saja cara mereka berantem.


Tapi karena merasa jika tidak akan ada masalah pada mereka berdua, akhirnya Anjani kembali berjalan menuju ke arah dapur. Dan tidak lagi menghiraukan keduanya yang masih saling membelakangi.


Tak lama kemudian, susu hangat untuk Anggi dan Miko sudah siap.


"Anggi, Miko! Susunya sudah jadi. Ada yang mau tidak?" Anjani berteriak memangil mereka berdua dari arah dapur.

__ADS_1


"Anggi mau Bun!"


"Miko juga mau bunda Jani!"


Terdengar suara keduanya, yang sama-sama menjawab pertanyaan dari Anjani. Dan tak lama kemudian, mereka berdua, juga sudah sampai di dapur, untuk menerima masing-masing satu gelas susu hangat.


"Ayo duduk dulu. Minum pelan-pelan, biar tidak tersedak," perintah Anjani mengingatkan mereka.


Anggi dan Miko mengangguk patuh. Keduanya duduk di kursi makan, dengan membawa gelas masing-masing. Dan ternyata, di atas meja makan juga sudah tersedia kue brownies.


"Asyik..., ada kue brownies juga!" teriak Miko dengan wajah berbinar-binar senang.


"Eh, itu kue Anggi!" teriak Anggi, mengkalim bahwa kue brownies itu adalah miliknya.


Anjani mengeleng beberapa kali, melihat tingkah mereka berdua yang kembali bertengkar memperebutkan kue brownies, yang ada di atas meja makan.


"Anggi. Ayo berbagi Sayang. Tidak mungkin juga Anggi sanggup menghabiskan sendiri kue itu kan?" kata Anjani, menasehati anaknya, Anggi.


"Oh ya, sebentar lagi, kak Ara juga pulang. Dia belum ada pelajaran juga hari ini, jadi pulang cepat. Besoknya, baru ada jadwal untuk belajar."


Anjani mengingat jadwal Ara, yang juga akan pulang sebentar lagi.


Anggi hanya diam sambil memakan kue nya, sedangkan Miko tersenyum senang, mendengar perkataan bunda Jani nya itu.


"Kenapa?" tanya Anjani, dengan heran.


Tidak biasanya, Miko berharap diantar pulang oleh Ara, karena Ara juga sering ngambek dan malas untuk mengantarnya pulang ke rumah.


Bukan karena apa-apa, tapi Miko selalu ada saja tingkahnya, jika dalam perjalanan pulang ke rumah. Itu jika sedang diantar oleh Ara. Dia hanya ingin bermain-main di luar rumah sebentar, dengan berlari-lari menuju ke sana kemari, dan itu membuat Ara menjadi kesal sendiri.


"Tidak apa-apa Bunda. Miko kangen dengan kak Ara. Besok-besok, kalau kak Ara sudah sekolah dan pulangnya lebih banyak sore hari, pasti akan jarang bertemu. Wah, Miko gak ada temen bermain."


Miko tampak sedih, mengingat bahwa dia akan merasa kesepian dan kehilangan moment kebersamaannya dengan kakak sepupunya, yaitu Ara.


Tapi berbeda dengan wajahnya Anggi. Dia justru tersenyum mendengar perkataan yang tadi diucapkan oleh Miko. "Idihhh... sok-sokan sedih, padahal kangen nakal tuh sama kakak. weeee!"


Miko cemberut, mendengar nada ledekan dari perkataan Anggi untuknya. Tapi karena dia sedang makan kuenya Anggi, akhirnya dua hanya manyun dan tidak membalas perkataan yang tadi dia dengar.


"Ya sudah kalau begitu. Miko pulangnya nunggu kak Ara saja, tapi kalau kak Ara capek dan tidak busa antar Miko, sama Bunda saja ya, seperti biasanya." Anjani berkata memberitahu Miko.


Dengan cepat, Miko mengangguk setuju dengan perkataan Anjani.


"Kalau begitu, sekarang makan kuenya pelan-pelan, dan minum susunya juga pelan-pelan. Bunda mau angkat jemuran dulu ya!"

__ADS_1


Anggi dan Miko, kompak mengangguk secara bersamaan. Dan itu membuat Anjani tersenyum sambil mengeleng beberapa kali.


*****


Awan dan temannya sudah keluar dari warungnya Pak Lek. Mereka berboncengan mengendarai sepeda motor Awan, menuju ke arah rumah temannya, untuk mengantarnya terlebih dahulu.


"Bro. Loe kayak gak suka gitu dengan rencana Gue tadi!" kata teman Awan, sambil berteriak keras, karena bersaing dengan suara-suara kendaraan yang melintas.


"Apa? gak jelas!" jawab Awan, ikut berteriak juga.


"Ah, Loe budek sih! udah teriak juga," sahut temannya dengan kesal.


"Liat gak sih? Ini dijalanan Bro. Entar aja napa kalau udah sampai rumah!"


Teman Awan tersenyum mendengar jawaban dari Awan, yang memang benar sekali.


"Ya udahlah. Entar aja kalo gitu," sahut temannya, menyerah.


Tak lama kemudian, motor Awan memasuki gerbang rumah temannya. Gerbang rumah itu, bergeser dengan sendirinya, begitu security rumah mengetahui, siapa yang datang.


Sambil melambaikan tangan kepada security rumah, untuk mengucapkan terima kasih, Awan terus melajukan motornya menuju ke teras rumah temannya itu.


Baru setelah turun dari boncengan, temannya itu bertanya lagi kepada Awan. "Gue tadi tanya, kayaknya Loe gak suka gitu dengan rencana Gue pada anak kecil tadi. Kenapa?"


Awan mengerutkan keningnya, memikirkan pertanyaan dari temannya itu. Dia tidak tahu, kenapa temannya itu bisa berpikir jika dia tidak suka, dengan semua rencananya tadi.


"Loe tanya kenapa?"


Akhirnya, Awan balik bertanya tentang apa yang ditanyakan oleh temannya itu.


"Iya, napa?" tanya temannya minta penjelasan.


"Sebenarnya gak apa-apa sih Bro. Cuma Gue kok gak sreg aja gitu. Kayak gak guna. Dan yang paling tidak Aku tahu, kenapa wajah anak itu mengingatkan Aku pada seseorang. Tapi Aku lupa, siapa orang itu."


Jawaban yang diberikan oleh Awan, membuat temannya memicing. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh awan padanya.


"Maksudnya, Loe kenal dia, atau gimana Bro?" tanya temannya itu, menyakinkan bahwa dugaannya kali ini salah.


"Iya, kayak familiar gitu wajahnya. Tapi Aku lupa Bro, siapa orangnya." Awan berusaha untuk mengingat-ingat kembali, wajah siapa yang mirip dengan Ara. Gadis kecil, anak SMP, yang baru saja menjadi murid di sekolah yayasan yang sama dengannya.


"Siapa?" tanya temannya itu mendesak lagi.


"Entahlah. Tapi Gue rasa akan tahu, gak lama lagi," sahut Awan, dengan keyakinan yang kuat, bahwa dia dan Ara, memang sudah saking mengenal, atau setidaknya sudah pernah bertemu. Meskipun dia sendiri belum merasa sangat yakin, dengan perasaannya yang tiba-tiba saja muncul, karena mengingat wajah Ara.

__ADS_1


__ADS_2