
Aku pun kembali ke Kafe dan ditegur oleh trio kwek-kwek. Siapa lagi kalau bukan Nina, Mila dan Jani. Males sih bertemu mereka tapi hiburan juga, jadi ladeni aja.
"Hei cupu, Lo habis ngapain disamping Kafe tadi sama Pak Satrio ?." ucap Nina
"Lah kepo banget sih, mau ngapain aja itu urusan aku, bukan urusan kamu." ucapku Judes
"Heh berani yaa ngomong gitu sama Nina, gue aduin sama Bu Melisa baru tahu rasa Lo." ucap Mila
"Ngadu? sama Bu Melisa? sana ngadu, boss kita kan Pak Nathan bukan dia, perduli amat aku." ucapku memancing emosi mereka
"Ih bener-bener Lo yaa cupu, gak tau sopan santun, denger yaa Lo jangan sampai godain Pak Satrio, dia itu sahabat boss dan Nona Melisa. Ketahuan Lo centil dan ganjen sama dia, habis Lo bakal dipecat non Meli." ucap Jani
"Ye siapa yang godain, makanya jangan buruk sangka dong jadi orang, lah aku nggak ada tuh goda-godain Satrio, orang dianya aja yang maksa buat ngobrol dan kenalan, emangnya salah aku ? hah." ucapku memperkeruh suasana
Sengaja aku membuat mereka kesal, karena aku paling benci dengan adanya senioritas dan mata-mata.
"Lo yaa bener-bener , udah jelek PD lagi, gak tau diri banget." ucap Jani lalu mendorong aku sampai jatuh
Aku lihat ada Pak Nathan dan Bu Melisa datang, waktunya aku akting.
"Aduuuuh sakit, ampun ka, jangan sakiti aku, aku gak salah." teriakku pura-pura ketakutan
"Haha...makanya Lo jangan macem-macem sama kita, tahu rasakan ! ternyata nyali Lo kecil." ucap mereka
Pak Nathan sudah dibelakang mereka dan berteriak.
"Nina, Mila, Jani apa-apaan ini ? , ternyata benar yaa kata teman-teman kalian, kalian suka menyiksa pegawai baru jika tak ada saya, kalau begitu kalian saya hukum, cepat bereskan gudang sekarang." ucap Nathan marah
"Sayang dengerin mereka dulu, siapa tahu yang salah si cupu itu." ucap Melisa membantu mereka
"Eh Pak Nathan maafin kami, benar kata Bu Melisa, kejadian sebenarnya adalah si Nadia yang salah dia yang sudah tidak sopan pada Pak Satrio." ucap Jani menjelaskan
__ADS_1
"Apa benar Nadia yang dikatakan Jani?." ucap Pak Nathan
Aku masih duduk dibawah pura-pura meringis kesakitan
"Aw.... sakit, nggak Pak, saya nggak salah, saya gak ganggu Pak Satrio, orang Pak Satrio cuma kenalan sama saya, nih dia ngasih kartu nama, mungkin supaya kalau dia ke Kafe , saya jadi tahu siapa dia." ucapku sambil meringis dan menunjukkan kartu nama
"Bo...bohong Pak, tadi saya lihat Pak Satrio narik tangan dia ke samping Kafe seperti marah-marah." ucap Nina
"Ok, saya lebih percaya pada Nadia, karena dia bawa bukti, sementara kalian sudah saya lihat menjatuhkan Nadia sengaja, sekarang cepat kalian bereskan gudang." ucap Nathan marah
"Baik Pak." ucap mereka sambil pergi ke gudang dengan wajah kecut
"Ta...tapi sayang, jangan kejam gitu ah, kayak nya nggak mungkin Satrio mau kenalan sama dia, kan bukan tipe Satrio banget." ucap Melisa cemburu
"Sudahlah kamu nggak usah bela mereka, nanti biar aku tanyakan sendiri ke Satrio, lagipula selera Satrio hanya dia yang tahu, kenapa kamu jadi sok tahu." ucap Nathan
"Ya aku tahu karena aku juga sahabat nya kayak kamu." ucap Melisa takut
"Oh yaa, yasudah nanti kita tanya Satrio saja, jika Nadia berbohong maka Nadia akan aku pecat." ucap Nathan
Akhirnya aku dibawa ke kursi dan Pak Nathan membantu ku duduk.
Kulihat dia mengambil kotak P3K , lalu mengobati tanganku yang sedikit luka, padahal gak sakit sih menurut aku.
Tapi gak apa-apa yang penting berduaan sama boss.
"Nadia, Nadia, baru masuk koq sudah bikin heboh, awas yaa kalau memang kamu berbohong, besok saya pecat kamu." ucap Nathan sambil mengobatiku pelan
"Aw... iyaa Pak, saya siap menanggung resiko jika saya bersalah.Kalau Bapak gak percaya Bapak telepon aja sekarang ke temen Bapak." ucapku
"Nggak usah , besok juga dia kesini lagi, lagian saya percaya perempuan polos kayak kamu mana berani bikin ulah, yaa kecuali si Satrio suka sama kamu, mungkin aja dia lagi ngejar-ngejar kamu." ucapnya tertawa
__ADS_1
"Bapak jangan sarkas dong, saya tahu diri koq, kalau saya jelek, tapi jangan mikir temen Bapak kegoda saya, mana mungkin mau sama saya yang cupu begini." ucapku tertawa
"Ya Nad, cinta kan gak bisa ditebak, siapa tahu si Playboy itu turun selera atau emang kamu menarik dimatanya." ucapnya tersenyum
Lalu lukaku selesai diobati.
"Makasih Pak sudah diobati, makasih juga sindiran nya, kalau gitu saya pamit kerja dulu." ucapku
"Iya, Nadia, Nadia , berani juga dia sama pegawai disini, menarik juga si cupu, apa benar yaa Satrio suka sama dia, ah bikin penasaran." ucap Nathan pelan setelah Nadia keluar
Di gudang....
Aku sampai di gudang untuk memata-matai trio kwek-kwek dan Bu Melisa, akhirnya aku mendapatkan informasi.
Bu Melisa : Hei kalian, memang benar si cupu godain Satrio?
Jani: I...iya Bu , tadi kita lihat mereka tatap-tatapan, terus pegangan tangan disamping Kafe, tadinya saya pikir dia akan dimarahi tuan Satrio, ternyata nggak Bu, malah dikasih kartu nama.
Nina dan Mila: Iyaa bener Bu, kami juga lihat, kecentilan yaa dia.
Bu Melisa : Kurang ajar si cupu, berani-beraninya godain Satrio ku, coba aja kalau dia berani macam-macam, akan aku pecat, hei kalian awasi terus si cupu, kalau bisa bikin Nathan benci padanya dan memecat dia, aku nggak Sudi saingan sama si cupu, yaa walaupun aku tahu Satrio belum tentu suka sama dia, tapi aku mesti jaga-jaga, kelihatannya dia pintar dan berani.
Nina: Iyaa Bu baik kami akan mengawasi dan mengadu domba dia dengan boss, habis kami kesal sama dia, tingkahnya belagu.
Jani: Bener Bu, baru hari pertama aja sudah bikin Pak Satrio kasih kartu nama, bagaimana kalau sudah lama disini, bisa-bisa dikasih hati juga.
Bu Melisa: Hei diam kau Jani, jangan memanas-manasi aku, pokoknya kalian kerja yang benar , nanti kalau kerjaannya beres , aku bayar kalian 2 kali lipat.
Mila: Asyik dapat bonus lagi, siap laksanakan Bu, gampang buat nyingkirin si cupu mah, cuma kita mesti ganti trik aja.
Bu Melisa : Sudah, sudah aku mau kembali, nanti Nathan curiga, yang penting kalian tutup mulut yaa ,jika rahasia kita terbongkar, siap-siap kalian akan mati.
__ADS_1
Jani, Mila dan Nina : I...iyaa Bu kami jaga rahasia.
Lalu aku bersembunyi, karena aku melihat Melisa akan menemui Pak Nathan. "Wah permainan ini bakalan seru nih.Kita lihat nanti, Nadia mau kalian lawan, siapa takut !." seruku