Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.11)


__ADS_3

"Apa kalian serius?" Tanya santri laki-laki itu tidak percaya.


Karena baru kali ini dia tahu bila ada santri perempuan yang diam-diam menyukainya. Dan hebatnya lagi yang menyukainya ada lebih dari satu orang dengan paras yang cantik-cantik, tapi itu sebelum wajah mereka bertiga tertutupi lumpur.


Namun, meskipun ada lebih dari satu orang yang menyukainya, jujur, dia lebih tertarik mengenal Asri daripada dua lainnya. Mungkin...itu karena ada perasaan samar ia rasakan kepada Asri dari pertama kali ia bertemu dengannya tadi.


"Diam lah, kamu juga akan mendapatkan bagian nanti." Ujar Kevin masam.


"Ah, maaf." Santri laki-laki itu segera mengecilkan lehernya tidak berani berbicara lagi.


Apalagi saat ini Ustad Vano dan Ustad Azam sedang melayangkan tatapan tajam kepadanya. Hei, dia tidak tahu apa-apa okay, tapi kenapa mereka bertiga melakukan seperti musuh yang sudah mendarah daging?


"Kalian benar-benar..." Ustad Vano menyentuh kepalanya tidak tahan.


"Kalian bertiga akan mendapatkan hukuman setelah selesai membersihkan diri dan tidak diizinkan lagi datang ke sini apalagi sampai bertemu dengan santri laki-laki. Sasa," Panggil Ustad Vano sembari menahan kemarahannya.


"Segera cari orang yang membuat amplop di dalam asrama putri dan bawa di ke kantor untuk menerima hukuman. Praktik percintaan di dalam pondok pesantren adalah hal yang tabu. Jika kalian ingin benar-benar serius kepada orang yang kalian sukai maka cukup minta Allah agar kalian disatukan. Jangan seperti ini, membuat malu diri sendiri dan bahkan dapat menimbulkan dosa." Ucap Ustad Vano menyindir sekaligus memberikan batasan kepada mereka bertiga agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.


Memikirkan laki-laki lain?


Ustad Vano menatap dingin wajah tertunduk Ai yang sudah dinodai oleh air berlumpur. Ustad Vano jelas tidak akan melepaskan masalah ini. Dia akan memberikan pelajaran yang tepat untuk mereka bertiga, terutama untuk Ai pribadi.


"Baik Ustad, aku akan segera menindaklanjuti perintah dari Ustad." Sasa segera menyetujui dan diam-diam bersimpati kepada temannya tersebut.


Orang yang membuat amplop tidak lain dan tidak bukan adalah teman sekamarnya sendiri. Selain karena hobi, temannya itu menjual amplop sebagai mata pencaharian sampingan. Uang yang didapat memang tidak banyak tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Karena di pondok tidak melulu tentang menuntut ilmu saja, tapi mereka juga punya waktu untuk keluar berbelanja membeli kebutuhan sehari-hari khususnya untuk wanita. Mereka harus keluar membeli persiapan pembalut atau gamis karena orang tua mereka tidak diizinkan datang bila tidak ada jadwal kunjungan dari pondok.

__ADS_1


"Eh, bukankah dia terlalu kurus?"


Ada suara bisikan di belakang mereka bertiga. Kata-kata penuh keheranan ini mereka arahkan kepada Ai karena diantara mereka bertiga hanya Ai yang tidak terlalu berdaging.


Ai tanpa sadar memeluk badannya. Karena baju dan jilbabnya basah, kain yang melilit tubuhnya menjadi melekat. Padahal sedari tadi ia telah berusaha agar kain itu tidak menempeli badannya tapi hasilnya sia-sia karena masih basah. Mungkin jika sedikit kering kain itu akan berhenti menempeli nya.


"Jangan berbicara seperti itu. Jika dia mendengar takutnya merasa tersinggung."


Ai merapatkan mulutnya menahan suara sementara kedua tangannya sudah memeluk badannya sebagai perlindungan.


Dia malu, badannya terlalu kurus dan terlebih lagi dadanya.. sangat datar.


Ustad Vano memperhatikan ada yang salah dengan Ai. Kemudian dia baru menyadari bila baju Ai basah dan sudah menempeli beberapa bagian badannya. Ustad Vano tahu bila pasti saat sangat tidak nyaman.


"Pakai ini." Katanya dengan ekspresi yang sudah melembut.


Ai tertegun, dia melirik Ustad Vano singkat sebelum kembali menundukkan kepalanya.


"Nanti..jaket Ustad ikut kotor-"


"Tidak apa-apa, ini bukan masalah. Cepat pakai jaket ini agar tidak ada yang memperhatikan aurat mu." Potong Ustad Vano tidak mau tahu.


Wajah Ai memerah, walupun tertutupi lumpur tapi Ustad Vano yakin Ai saat ini sedang tersipu. Dia pemalu juga gadis yang lembut, Ustad Vano sudah lama mengenalnya.


"Terimakasih, Ustad." Ai mengambilnya dan segera memakai jaket milik Ustad Vano.

__ADS_1


Melihat ini Ustad Vano langsung lega karena Ai akhirnya bisa merasa nyaman.


Sedangkan itu di waktu yang bersamaan Ustad Azam juga melepaskan jaket yang ia gunakan untuk diberikan kepada Mega setelah melihat Ustad Vano bertindak.


Masih cemberut,"Masalah ini kita akan membicarakannya dilain waktu." Bisik Ustad Azam sebelum menjauh.


Dia masih belum melepaskan masalah ini.


Mega sangat gugup, dia hanya menundukkan kepalanya tidak berani melihat langsung ke arah Ustad Azam. Biar bagaimanapun mereka baru saja menjernihkan kesalahpahaman semalam.


Mega tidak pernah merencanakan skenario ini terjadi. Semuanya murni karena dia tidak ingin melihat sahabatnya dihukum. Tapi jika sudah begini maka mereka hanya bisa membicarakannya kembali.


Santri laki-laki itu melihat jika Ustad Vano dan Ustad Azam telah melepaskan jaket mereka untuk, Ai dan Mega. Dia pikir perbuatan ini tidak melanggar sehingga dia langsung melepaskan jaketnya dan segera mendekati Asri. Lagipula dia menggunakan kesempatan ini untuk memastikan siapa Asri. Karena itulah ketika berdiri di depan Asri, dia menggunakan kesempatan dengan sangat baik sampai akhirnya ingatan samar mulai membanjiri kepalanya.


"Asri," Santri laki-laki itu akhirnya mengingat siapa Asri.


Mereka pernah bertemu dua tahun yang lalu sebelum ia dikirim ke sini. Dan kebetulan keadaan Asri pada saat itu tidak jauh berbeda dengan saat ini.


"Siapa-" Asri masih belum mengenalnya sampai ia mengangkat kepalanya melihat ke wajah santri laki-laki itu.


"Kak Adit?"


Bersambung...


Lagi?

__ADS_1


__ADS_2