Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.6)


__ADS_3

Ketika Ai kembali ke asrama, di dalam hanya ada beberapa orang saja karena sedang berhalangan, adapun yang lain sedang pergi sholat di masjid.


Mereka segera menyapa Ai, mengatakan permohonan maaf untuk masalah tadi siang. Namun respon Ai tidak benar, dia terlihat linglung dan kebingungan. Mereka pikir itu karena Ai masih shock dengan rumor yang masih belum mereda di dalam pondok pesantren.


Jadi, mereka tidak menahan Ai lebih lama lagi dan membiarkannya beristirahat di ranjang.


"Ai berhenti," Salah satu gadis menghentikannya.


Ai menoleh, tampak tidak bersemangat dengan senyum paksaan di wajah.


"Kamu... sepertinya sedang berhalangan karena pakaian kamu di belakang...ada bercak-bercak noda merah." Kata gadis itu canggung.


Ai tertegun, ia sontak menarik kain gamisnya yang ada di belakang. Apa yang dikatakan oleh teman kamarnya itu benar bila ada bercak-bercak merah di kain gamis belakangnya.


Dia datang bulan?


Aneh, kenapa dia tidak tahu dan kenapa pula dia tidak merasakan sakit seperti yang sebelum-sebelumnya..


Benar, hari ini ia lupa dirawat di ruang medis karena pingsan dan ia pun juga menggunakan infus untuk menambah cairan tubuhnya. Mungkin karena ini ia tidak merasakan sakit.


"Aku akan ke kamar mandi." Kata Ai kembali berbalik menuju ranjangnya.


Mengambil gamis dan jilbab baru di lemari serta sebuah pembalut, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


40 menit kemudian Ai kembali masuk ke asrama. Dia menjawab singkat kekhawatiran teman-teman kamarnya sebelum merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai menutup matanya untuk beristirahat.


Rasanya begitu melelahkan. Ia ingin mengistirahatkan pikiran, hati, maupun fisiknya dengan masuk ke alam mimpi. Setidaknya dia tidak akan merasa sesak lagi seperti di dunia nyata, ia tidak akan menangis lagi seperti di dunia nyata, dan ia tidak akan kecewa lagi seperti di dunia nyata.


Dia... bisakah ia melarikan diri dari dunia nyata, sebentar saja, bisakah ya Allah?


Ai capek, Ai sangat lelah. Batinnya kelelahan.


...🍁🍁🍁...


Suara langkah kaki para santri yang baru saja turun dari masjid memenuhi jalan setapak yang menghubungkan asrama dan masjid Abu Hurairah. Mereka berlarian dengan semangat, terkadang suara tawa akan menjadi pengiring langkah-langkah ceria mereka. Bagaimana tidak merasa ceria bila setelah sholat isya mereka akan mendapatkan jatah makan malam. Apalagi ada bocoran dari dapur umum jika makan malam ini lebih spesial dari malam-malam sebelumnya karena ada donasi dari seorang hamba Allah.


Di dalam hati mereka menebak-nebak, mungkinkah hamba Allah tersebut mengirim kotak-kotak mungil yang berisi kue cantik seperti beberapa bulan yang lalu atau mungkin hamba Allah tersebut mengirim kotak-kotak dengan wangi lauk pauk yang bisa tercium santer dari luar.


"Kami benar-benar tidak tahu, Ustad bilang hukuman kami hari ini ditunda dulu dan bisa dimulai kembali dari besok." Teman-temannya sibuk bertanya dan Asri dengan jujur menjawab setiap pertanyaan mereka.


"Ah sayang sekali, padahal kami ingin tahu menu makan malam ini." Salah satu gadis mendesah tidak berdaya tapi semangat yang tidak memudar.


"Sabar saja, toh ujung-ujungnya kita semua juga akan tahu." Kata Mega santai.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar asrama. Di dalam semua orang tidak sesibuk ketika pulang tadi. Diam-diam mereka mencuri pandang melihat Ai yang kini tengah terlelap dengan selimut hangat menjuntai panjang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali bagian wajah dan kepala, selimut hangat telah menutupi semuanya.


"Ai sudah sholat?" Mega mendekati salah satu gadis yang sedang berhalangan.

__ADS_1


"Ai tidak sholat, dia sedang berhalangan." Kata gadis itu.


Mega melirik Ai, mengangguk ringan kepada gadis itu sebelum pergi mendekati Ai dengan Asri.


"Ai, bangun yuk. Kamu harus makan dulu sebelum minum obat dan baru bisa tidur." Panggil Asri dengan suaranya yang ringan.


Kening Ai mengkerut terganggu. Beberapa detik kemudian ia menarik kain selimutnya lebih erat lagi karena tidak ingin diganggu.


"Tidurnya ditunda dulu, Ai. Kamu harus bangun dan makan agar bisa segera minum obat." Kata Mega mencoba membangunkan tidurnya.


Tadi sore dokter menitipkan obat untuk Ai kepada Mega. Ini hanyalah beberapa vitamin untuk menambah energi dan daya tahan tubuh Ai agar tidak mudah drop lagi.


"Aku tidak lapar." Jawab Ai singkat tanpa perlu membuka matanya.


Mega dan Asri tidak mau menyerah. Namanya orang sakit pasti selera makannya akan menurun jadi harus dipaksa agar bisa memakan makanan.


"Ayolah Ai, jika kamu tidak ingin makan, aku akan melaporkan masalah ini kepada Ustad Vano." Ancam Mega tidak serius.


Tapi reaksi Ai masih sama. Dia tetap menutup matanya seolah-olah sedang tertidur lelap.


"Aku serius lho mau laporin kamu ke Ustad Vano." Kata Mega lagi.


"Aku tidak lapar, Ga. Aku capek, aku butuh waktu untuk beristirahat. Daripada terus membujukku lebih baik kalian pergi saja ke stan makanan untuk makan malam." Kata Ai sudah tidak tahan mendengar nama laki-laki yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2