Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.8)


__ADS_3

Ada yang masuk ke dalam sawah, lebih tepatnya ada yang jatuh ke dalam sawah. Air lumpur yang pekat dan berbau segera memercik kemana-mana karena yang jatuh tidak hanya satu orang, tapi tiga orang.


Seketika, pertunjukan ini menarik banyak orang. Mereka berkumpul di pinggir sawah, melihat atau mengintip siapa gerangan kah orang-orang yang begitu ceroboh sampai jatuh ke dalam sungai.


"Astagfirullah..."


"Ya Allah.."


"Innalilahi..."


Suara-suara penuh simpati ada dimana-mana tapi bukan tidak mungkin ada yang tertawa di situasi seperti ini. Mereka menganggap bila orang-orang yang jatuh itu terlalu ceroboh dan menjadi hiburan yang menarik untuk ditonton.


"Apa kamu siapa yang jatuh tadi?" Tanya Frida yang sudah bisa mengendalikannya tawanya.


Kedua matanya bahkan berakhir dengan salah satu tangan menyentuh perut. Tampaknya Frida sangat terhibur dengan ketidakberuntungan orang yang jatuh itu.


Sasa juga tidak tahu siapa yang jatuh tadi, tapi ia tahu bila mereka adalah santri perempuan yang sempat membuat keributan sebelum jatuh ke dalam lumpur.


"Aku tidak tahu. Tapi ini adalah tugas kita untuk melihat dan mengamankan mereka." Kata Sasa mulai memimpin jalan.


Di dalam kerumunan dia melihat Ustad Azam dan Kevin sudah berdiri di pinggiran sawah. Sasa tidak bisa melihat ekspresi wajah mereka tapi karena mereka berdua memunggunginya.


"Mereka yang jatuh sangat beruntung, karena pertunjukan tadi banyak orang yang mulai memperhatikan mereka dan bahkan Kevin, ketua petugas kedisiplinan asrama laki-laki pun harus turun tangan. Hah, enaknya." Sasa tidak tahu apakah Frida sedang mengejek atau memang benar-benar merasa iri melihat ketiga santri perempuan itu.

__ADS_1


Akan tetapi yang pasti Sasa tidak ada hubungannya dengan semua komentar-komentar Frida. Daripada membalasnya lebih baik ia segera melihat ketiga santri perempuan itu.


Sementara itu di dalam sawah, pelaku keributan-Ai, Mega, dan Asri langsung membeku melihat situasi yang sudah berada di luar kendali.


Mereka terduduk shock di dalam lumpur, entah itu tangan, kaki, pakaian, ataupun wajah sudah ternoda air lumpur.


Mereka jelas diam membisu namun sinar keterkejutan di dalam mata tidak bisa dibohongi. Ai kasihan melihat keadaan Mega dan Asri yang sangat berantakan, sedangkan Mega kasihan melihat keadaan Ai dan Asri yang kacau, begitu pula Asri kasihan melihat keadaan Ai dan Mega yang sangat kotor.


Mereka bertiga di penuhi lumpur di sana sini, sejujurnya ini cukup menyedihkan namun pada saat yang sama agak lucu.


"Sampai kapan kalian akan berendam di dalam lumpur?" Suara dingin Ustad Vano berhasil menarik perhatian mereka bertiga.


Ai dan dua lainnya sontak menoleh, mereka sangat terkejut ketika melihat sudah ada banyak sekali orang-orang yang menonton mereka saat ini. Dan yang lebih memalukan adalah Ustad Vano, Ustad Azam, Kevin, Sasa, dan Frida berdiri di pinggir sawah dengan pandangan fokus menatap mereka.


Situasi ini juga Mega rasakan tapi karena ia adalah tipe gadis yang dingin dan acuh, Mega terlihat tidak terlalu malu walaupun sejujurnya dia sangat malu saat ini.


"Naik." Ini adalah perintah Ustad Azam.


Dia sungguh tidak tahan melihat Mega berendam di dalam lumpur. Kecuali hanya ada dirinya sendiri di sini, mungkin ceritanya akan berbeda. Bukannya merasa marah, dia mungkin akan tertawa melihat keadaan Mega sekarang.


Tapi sekarang ada banyak pasang mata yang memandangi Mega jadi dia tidak suka.


"Apa aku yang harus turun membantu kalian bangun?" Ustad Vano saat ini terdengar sangat marah, tidak hanya Ai yang menyadarinya, tapi hampir semua orang.

__ADS_1


Ai sangat malu dan dia pun takut dengan kemarahan Ustad Vano.


"Tidak, Ustad. Kami.. akan naik sendiri."


Dengan saling berpegangan, Ai mencoba bangun dari posisi duduknya di dalam air berlumpur. Tapi ia mengalami kesulitan bergerak karena lumpur di bawah, begitupula Mega dan Asri.


Melihat situasi tidak benar, Sasa dengan niat baik menawarkan diri turun ke sawah karena biar bagaimanapun dia adalah ketua petugas kedisiplinan asrama putri, maka sudah seharusnya dia membantu mereka.


"Ustad, biarkan aku saja yang turun membantunya."


"Hem, hati-hati." Ustad Azam mempersilakan.


"Terimakasih, Ustad."


Setelah mendapatkan izin, Sasa menurunkan salah satu kakinya ke dalam sawah-tapi itu tidak terjadi karena Kevin tiba-tiba menghentikannya.


"Tunggu," Kevin dengan lembut mengingatkan,"Lepaskan alas kakimu dulu sebelum turun ke sawah, jika tidak kamu akan kesulitan berjalan di sana."


Sasa berasal dari kota, dia tidak terbiasa dengan sawah atau pun hal-hal berhubungan dengan pekerjaan kasar ini. Namun, semenjak tinggal di pondok dia mulai beradaptasi dan aktif pergi ke sawah bila mendapatkan perintah dari Ustazah atau pihak pondok. Namun, itu bukan berarti dia terbiasa apalagi jika tanahnya becek dan berlumpur.


Sasa malu, wajahnya tanpa sadar memerah dan ia segera menundukkan pandangannya.


"Terimakasih." Katanya lembut.

__ADS_1


Sasa lalu membuka alas kakinya tapi tidak dengan kaos kakinya untuk menjaga aurat.


__ADS_2