
"Nah, sekarang ikuti aku." Ustad Azam lalu memimpin jalan di depan.
Mega dan Asri lantas mengikuti dengan jarak yang cukup jauh di belakang. Mereka bertiga berjalan bersama-sama melewati jalan setapak pondok pesantren yang diterangi oleh lampu jalan.
Mega dan Asri tidak berbicara begitupun juga dengan Ustad Azam. Mereka berjalan dalam diam membisu yang sarat akan rasa canggung.
"Aku.." Dalam sunyi malam dan dalam kebisuan mereka yang canggung, Ustad Azam tiba-tiba membuka suaranya.
Bulu mata panjang Mega bergetar, dia tersenyum tipis seraya mengalihkan pandangannya melihat sawah di samping.
Di sana memang gelap tapi jauh lebih baik daripada di sini. Jalan mereka memang diterangi cahaya lampu namun sayang, itu tidak terasa hangat sama sekali.
"Sudah 1 tahun tidak pulang ke rumah karena ada kesibukkan di sini. Hadiah untukmu masih ada di dalam kamarku, inshaa Allah besok aku akan memberikannya kepadamu." Kata Ustad Azam dengan suara rendah.
Asri segera menyusutkan lehernya. Dia berpura-pura tidak mendengar apa pembicaraan mereka karena ini adalah privasi!
Hehehe...walaupun sejujurnya dia juga diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Sejak tadi malam dia tahu jika ada sesuatu dengan Mega dan Ustad Azam. Hanya saja dia tidak berani mengatakannya takut membuat Mega tidak nyaman.
__ADS_1
Mega tersenyum tipis, sorot matanya tampak sendu tanpa ada rasa dingin lagi.
"Kita hanyalah orang asing, Ustad. Hadiah itu berikan saja kepada seseorang yang lebih berhak mendapatkannya. Aku juga tidak mau dikasihani oleh Ustad, di masa depan Ustad tidak perlu lagi memberikanku sebuah hadiah karena ada baiknya kita bersikap sebagaimana dua orang asing lainnya." Suaranya begitu tenang dan menipu, jika tidak menatap matanya secara langsung orang lain mungkin mengatakan jika dia adalah gadis yang tidak punya perasaan.
Itu tidak benar.
Faktanya dia mengatakan hal yang sangat kejam kepada seseorang yang dia sukai bertahun-tahun lamanya. Ketahuilah, orang yang paling sakit hatinya adalah Mega.
Kata-kata ini sejujurnya ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Dia mengingatkan dirinya bahwa mereka sekarang adalah orang asing, hadiah yang diberikan Ustad Azam adalah karena rasa kasihan semata. Ustad Azam sudah punya Sasa jadi mereka berdua lebih baik bersikap selayaknya dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal.
Langkah Ustad Azam terhenti. Dia lalu berbalik berhadapan langsung dengan mereka berdua-ah, lebih tepatnya Ustad Vano kini sedang melihat Mega dengan sorot mata yang sangat dingin.
Apa kata-katanya salah? Tidak, itu sangat benar maka tidak seharusnya Ustad Azam marah kepadanya.
"Dua orang asing?" Katanya sambil memandangi Mega yang kini memalingkan wajahnya tidak berani melihat Ustad Azam.
"Ya, kita adalah dua orang asing di tempat ini tapi itu bukan berarti kita menjadi dua orang asing untuk satu sama lain. Ya Mega Asafa, kamu harus tahu bahwa meskipun kita sudah tidak bertunangan lagi itu bukan berarti kamu bisa lepas dariku. Ini adalah janjimu dan aku menuntut kamu menunaikan janjimu. Jika kamu melanggarnya maka demi Allah, aku tidak akan ridho dan perkara ini akan aku bawa di hari penghakiman Allah. Aku sungguh serius dengan apa yang aku katakan saat ini." Ada nada kecewa di dalamnya.
__ADS_1
Ustad Azam sungguh sangat marah, dia sangat marah sampai-sampai rasanya begitu sulit untuk menjelaskannya. Mungkin dia kecewa lebih tepatnya. Dia kecewa karena Mega mengingkari janji yang pernah dibuat dulu.
Mega menundukkan kepalanya, dia mengigit bibirnya kuat menahan isak tangis yang ingin pecah.
1 tahun, Allahurabbi, selama 1 tahun aku bertanya-tanya mengapa dia memilih gadis lain untuk membatalkan pertunangan kami. 1 tahun ya Allah, selama waktu ini aku terpuruk dalam rasa sakit atas pengkhianatan nya. Lalu sekarang dia tiba-tiba datang menuntut sebuah janji kepadaku di saat dirinya telah memiliki gadis lain, ya Allah betapa hancur hati ini!
Dia menuduhku mengingkari janji disaat dia telah memiliki gadis lain, apa ini adil untukku ya Allah?
Apa ini adil?
"Janji...pikirkanlah Kak Azam siapa orang pertama yang mengingkarinya di antara kita! Seharusnya orang yang menuntut di sini adalah aku, Kak!" Cairan bening itu perlahan mengalir dari sudut matanya.
Suaranya tidak setajam biasanya, samar ada getaran menyedihkan di dalamnya.
"Tapi..tapi aku tidak ingin terus terjebak dalam kepura-puraan semua ini. Kak Azam juga lelah terikat bersamaku maka keputusan untuk berpisah memang langkah yang tepat. Aku tidak ingin memaksa Kak Azam bersamaku, sungguh..aku tahu Kak Azam selama ini tersiksa dekat denganku. Kak Azam pantas mendapatkan gadis yang jauh luar biasa dariku, kalian tampak sangat serasi. Aku... tidak marah untuk semua ini," Hanya saja rasa sakitnya sungguh tidak terkira ya Allah, rasanya sangat menyakitkan di dalam hati ini.
Setiap kata yang diucapkan membuat air matanya tersulut untuk keluar. Dia tidak ingin menangis tapi rasa sakit dan sesak yang berdetak di dalam dadanya sungguh tidak tertahankan.
__ADS_1
Bertahun-tahun dia terjebak dalam rasa kepura-puraan, bertahun-tahun dia terjebak dalam rasa bertepuk sebelah tangan, dan bertahun-tahun dia tanpa sadar telah menyiksa Ustad Azam bersamanya.