
Asri diam-diam mencuri pandang melihat Kevin di pinggir sawah yang sedang berbicara dengan Ustad Azam. Kebetulan Kevin juga melihat kearahnya, Asri sangat terkejut, dia langsung mengalihkan pandangannya ke bawah dan tanpa sadar mempercepat langkahnya.
"Aku tidak suka bersikap ayu, itu bukan diriku." Ucap Asri dengan kepala tertunduk.
Ai tersenyum,"Lalu kenapa kamu malu sekarang?"
Asri mengakui,"Tentu saja aku malu karena orang yang aku sukai tadi sempat Melihatku."
Namanya orang yang sedang jatuh cinta segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang yang disukai pada akhirnya akan membuat berbunga-bunga. Inilah yang Asri rasakan tadi. Dia tidak tahu apakah ini hanya kebetulan saja atau tidak tapi yang pasti dia langsung salah tingkah ketika tidak sengaja bertemu pandang dengan Kevin tadi.
"Tahu juga namanya malu kamu. Belajar dong rubah sikap jadi wanita yang lembut biar Kak Kevin jadi tertarik sama kamu."
Asri mendelik,"Lha diri sendiri aja gak ada lembut-lembutnya waktu ngomong sama Ustad Azam, sekarang malah sok sok'an ngajarin orang. Cek..cek.. daripada dengerin kamu lebih aku dengerin Ai aja yang udah nyata-nyata ayu dan lemah lembut."
Mega cengengesan, dia menyentuh hidungnya malu.
Memang benar apa yang Asri katakan tadi mengenai dirinya tapi itu dulu sebelum dia masih salah paham dengan Ustad Azam. Sekarang semuanya sudah jelas dan sejernih air yang mengalir jadi bagaimana mungkin ia masih bersikap dingin kepada Ustad Azam?
"Tidak, aku tidak akan bersikap dingin lagi. Aku ingin mengikuti jejak, Ai!" Sekali lagi dia harus menyimpan masalah ini dulu sampai kedua orang tuanya mau memberikan penjelasan tentang masalah ini.
"Aku.. jangan ikuti aku, tapi jadilah diri sendiri agar orang yang menyukai kalian tidak tertipu." Ai segera menolak mentah-mentah ide itu.
"Ah, Ai! Apa yang kamu katakan jauh lebih berbobot daripada Mega." Di satu sisi Asri memuji Ai dan di sisi lain ia menjatuhkan Mega, hah..cara bicara ini benar-benar menyenangkan!
"Gak apa-apa kalah sama Ai yang penting kata-kata aku jauh lebih berbobot daripada kamu!"
Mereka bertiga mengobrol sambil berjalan atau mungkin lebih tepatnya hanya Asri dan Mega yang aktif berbicara karena Ai lebih suka mendengarkan celotehan mereka berdua.
__ADS_1
Sementara itu, orang yang telah membuat Asri malu kembali mencuri pandang melihat punggung Asri yang tertutupi jilbab panjang berwarna hitam. Dia tanpa sadar tersenyum kecil ketika mengingat wajah lucu Asri beberapa saat yang lalu.
"Apa kamu sungguh-sungguh ingin berpindah hati?" Suara berat Ustad Azam menarik Kevin kembali perhatian Kevin.
Kevin awalnya terkejut, dia heran bagaimana mungkin Ustad Azam tahu tentang ini kecuali ia semalam juga ada di masjid mendengarkan apa yang ia katakan kepada Asri.
"Hatiku sepenuhnya ada di genggaman Allah." Kevin tidak mengelak, melainkan menyerahkan semuanya kepada Allah.
"Kevin jangan lupa aku adalah Kakak Arumi. Pikirkanlah baik-baik Kakak siapa yang akan tahan melihat adiknya di sakiti?" Ujar Ustad Azam menekan Kevin.
Kevin merasa bersalah. Dia memang tidak menghendaki posisi ini karena hatinya sudah menjadi milik Arumi dari awal. Hanya saja kerendahan hati Asri kepada Allah SWT membuatnya terkesan dan kagum, meskipun tidak bisa disebut sebagai perasaan cinta tapi setidaknya Asri telah menangkap hatinya.
"Maafkan aku, Ustad. Aku.. juga tidak ingin menyakiti Arumi karena di dalam hatiku dia selalu menjadi yang pertama. Akan tetapi aku juga tidak bisa langsung menghilangkan bayangan Asri dari mataku karena kerendahan hatinya kepada Allah SWT telah membuat ku menjadi kagum. Ustad, menemukan seseorang yang mencintai Allah dengan sangat tulus-"
"Apakah adikku masih belum cukup?" Potong Ustad Azam serius.
"Mencintai Allah, yakinlah hati Arumi juga sangat tulus kepada Allah. Apa yang ia rasakan juga tidak kalah tulusnya dengan apa yang gadis itu rasakan hanya saja kamu belum pernah melihatnya."
Kevin terdiam. Dia tidak pernah meragukan ketulusan hati Sasa dan dia juga tidak pernah membandingkannya dengan Asri. Dia tidak pernah melakukan itu semua.
Tapi..
Dia mengagumi Asri, namun hatinya sudah sepenuhnya menjadi milik Sasa.
"Aku tidak akan mengatur mu untuk masalah hati karena itu adalah pilihan mu. Hanya saja pernahkah kamu berpikir bila ini adil untuk Arumi?"
Apa ini adil untuk Sasa?
__ADS_1
Kevin tahu ini tidak adil.
"Pikirkanlah dan buat keputusan yang paling adil untuk hatimu. Jika kamu ingin berpindah hati maka langsung tunjukkan sikapmu dan jika tidak, maka kamu harus melupakan tentang gadis itu."
Sebuah pilihan, antara gadis yang ia cintai dengan gadis yang menarik perhatiannya karena ketulusan hatinya kepada Allah.
Pilihan mana yang akan ia ambil?
Bersambung..
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya. Di sini ada yang mau Aku Yang Terlahir Cacat dilanjutkan gak?
Asal kalian mau saya akan melanjutkannya tapi di publish ulang dengan judul yang berbeda.
Nah iya, judulnya Dear, Vano. Tapi kalau kalian mau, kalau gak mau juga gak apa-apa.
Dan yah, saya mau ngadain voting buat kalian. Rencananya My Boss, My (Ex) Boyfriend akan di up juga di sini tapi rencananya gak di kontrak karena saya bakal lanjut juga di K/B/M.
Jadi teman-teman bisa baca di sini gratis tanpa perlu bayar koin tapi bab update di sana lebih cepat update yah daripada yang ada di sini. Maklumlah wkwkwkw...
Tapi..tapi ini kalau kalian mau wkwkwkw..
Saya tunggu komentarnya yah, kalau mau dua novel ini sudah bisa kalian baca mulai besok pagi.
Oh ya, bagi yang mau nanya atau ngasih saran apa aja asal jangan curhat urusan hutang piutang di rumah bisa hubungi WhatsApp saya, 0-8-5-8-5-8-5-0-4-4-0-6
__ADS_1
Udah, Ah.. Assalamualaikum 🍃