Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Kedatangan keluarga Norin


__ADS_3

Shin memasuki area asrama putera dengan senyum yang masih saja mengembang di bibirnya hingga sampai tiba di kamarnya. Abdul serta ke dua temannya memperhatikan kedatangan Shin dengan wajah yang tak biasa. Biasanya Shin nampak murung dan jarang sekali mereka melihat Shin tersenyum. Namun saat ini seperti ada yang berbeda dengan Shin sebab wajahnya terlihat berseri seri.


"Sepertinya ada yang sedang bahagia nih!" goda Abdul.


Shin yang baru menyadari bahwa mimik wajahnya tengah di perhatian oleh teman temannya langsung memasang wajah datar. Andai di kamar pribadinya di pastikan Shin akan melompat lompat di atas kasur saking senangnya.


"Cerita dong kak, habis dapat apa dari Abah?" tanya Akbar. Dengan mata yang di kedip kedip kan ke arah Shin.


Shin mencebik kan bibirnya melihat ekspresi Akbar yang menggelikan.


"Urusan orang dewasa. Kalian masih kecil tidak akan mengerti urusan orang dewasa," jawab Shin lalu merebahkan tubuhnya di ranjang susun menyilang kan kedua tangannya di bawah kepala sebagai bantal.


"Dih, ngatain kami anak kecil. Sedikit lagi usia kami ganjil lima belas tahun kak. Jangan meremehkan," timpal Akbar.


"Nanti juga kalian akan tau apa yang membuat saya senang."


"Nantinya kapan kak?" tanya Thoriq.


"Dalam Minggu ini."


"Apa.....jadi sudah di terima kak?" tanpa sadar Abdul melompat dari ranjang tidurnya yang berada di dua tingkat.


"Sebenarnya ini ada apa sih? terima apa maksud mu Dul?" tanya Akbar dengan penasaran.


Abdul dan Shin saling pandang.


"Nanti juga kalian bakal tau, tunggu saja ha ha ha," jawab Abdul lalu tertawa.


Shin sudah selesai dari kesibukannya mengurus segala sesuatu yang di butuhkan untuk persiapan pernikahannya selama empat hari ini. Mulai dari mempersiapkan dokumen, mahar serta dirinya sendiri.


"Alhamdulilah semuanya sudah beres," gumam Shin sambil tersenyum.


"Tinggal persiapkan diri untuk besok ya kak," timpal Abdul.


"Ngga menyangka kak Shin besok menikah terus kalau sudah menikah ngga mondok lagi di sini dong?" tanya Akbar.


"Kalau kami kangen gimana kak?" tanya Thoriq.


Shin tersenyum, tidak menyangka secepat ini pula ia harus meninggalkan pesantren dan kembali ke habitatnya yang dulu. Walau bagaimana pun, tempat menimba ilmu yang singkat ini akan selalu ia rindukan. Selain telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat untuknya, juga, di tempat inilah Shin di pertemukan bahkan menikah dengan wanita yang sangat ia cintai selama ini.


"Meskipun aku tidak mondok lagi di sini tapi aku akan usahakan untuk sering mengunjungi pondok ini. kalau kalian rindu padaku kalian datang saja ke kota ha ha."

__ADS_1


Sementara di sebuah kamar kecil. Inay duduk termenung di atas tempat tidur yang berukuran kecil. Besok adalah hari dimana seorang pria entah siapa namanya dan bagaimana bentuk rupanya akan menikahinya, akan menjadikannya seorang istri. Sebuah status yang sangat ingin di sandangnya ketika kehormatannya belum terenggut oleh pria yang ia cintai sekaligus ia benci.


"Ya Allah hamba mohon padamu, tolong hilangkan rasa keraguan ini di hati ku dan yakin kan hati ini bahwa pria yang akan menikahi ku adalah pria terbaik yang telah engkau pilihkan untuk ku, Amin."


Sebuah ketukan pintu terdengar dari depan kamarnya. Inay segera menghapus air matanya lalu beranjak membuka pintu kamarnya.


Pintu terbuka.


Nampak wanita paruh baya, seorang pria muda dan satu wanita yang usianya berjarak dua tahun dengannya sedang berdiri di hadapannya. Air matanya luluh kembali melihat kehadiran orang orang yang Norin rindukan selama ini.


"Ibuuu....!" Norin menghambur ke pelukan sang ibu, Ibu Aminah. Norin menangis di pelukan sang ibu. Menumpahkan rasa yang ia pendam selama ini. Rasa yang bercampur aduk dan tak dapat di ungkapkan dengan kata kata olehnya. Begitu pula dengan bu Aminah, menangis serta memeluk erat sang puteri yang begitu ia sayangi. Setelah itu, Norin berganti memeluk kakak ke duanya, Syifa. Sang kakak yang sudah lama sekali tidak ia jumpai karena ikut bersama suaminya ke luar daerah yang sangat jauh. Setelah memeluk kakak keduanya, Norin memeluk sang adik kesayangannya, Rizal. Norin melirik ke sekitar mencari sosok yang belum ia peluk.


"Kamu cari siapa nak?" tanya sang ibu. Sang ibu melihat ekspresi puteri nya yang terlihat kebingungan.


"Kak Diva Bu, dimana kak Diva?"


"Kak Diva ngga ikut Rin, katanya anaknya masuk sekolah," jawab Syifa.


"Oh." Norin menundukkan wajahnya merasa sedih sebab sang kakak pertama sepertinya masih saja tidak menyukainya bahkan di hari pernikahannya pun sang kakak tidak mau menghadirinya.


"Ngga apa kak Norin, kan ada ibu, ada Rizal serta kak Syifa. Apalagi Rizal yang akan menjadi wali nikah kakak."Rizal menenangkan sang kakak yang terlihat sedih karena ketidak hadiran sang kakak pertama.


Norin tersenyum getir. Mendengar adiknya yang akan menjadi wali nikah dirinya karena sang ayah sudah lama meninggal dunia.


Semua orang yang ada di pondok pesantren mulai sibuk mempersiapkan untuk acara pernikahan Shin dan Norin besok. Tenda serta pelaminan mulai di pasang oleh wedding organizer tepat di depan rumah Abah yang cukup luas.


"Apa untuk makanannya akan ketering aja teh Husna?" tanya Bu Aminah pada sang kakak ipar saat mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu.


"Iya, sesuai permintaan calon mempelai lelaki. katanya agar kita ngga capek masak. Lagi pula kita ngga ngundang banyak tamu. Paling hanya relasi Abah sama saudara dekat aja."


"Ngga nyangka tuan Shin akan menjadi suami anak ku dan menantuku."


"Kamu mengenal Nak Shin sebelumnya Aminah?"


"Sangat kenal lah Abah, tuan Shin itu bos nya kak Norin di tempat kerjanya. Dia anak seorang pengusaha kelas kakap. Yeun Jin Hoon. Dan tuan Shin sendiri pewaris tunggal perusahaan besar Nobland Group di Korea sana yang di dirikan oleh ayahnya sendiri. Sementara di Indonesia hanya berupa perusahaan anak cabang saja. Ada pabrik garmen dan mall. Selain di Indonesia, di negara lain juga ada cabangnya. Seperti negara India, Vietnam, Kamboja dan Thailand." Rizal menjawab serta menjelaskan siapa itu Shin.


"Kamu kok banyak tau tentang calon suami kakakmu Zal?" tanya Syifa penasaran.


"Ya namanya juga orang besar kak. mudah untuk di ketahui siapa dirinya. kak Syifa buka google aja dan baca Wikipedia he he..!"


"Mashaallah, jadi nak Shin itu orang besar?"

__ADS_1


"Iya bah, dia orang besar yang merakyat, makan sambal terasi aja dia mau meskipun harus bolak balik toilet." Rizal jadi teringat saat Shin menginap di rumah mereka di kampung.


"Ha ha ha ...!"semua orang tertawa mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Rizal.


"Assalamualaikum."


Orang yang sedang di bicarakan oleh mereka mengucap salam di balik pintu. Sebelumnya, Abah sudah meminta Abdul memanggil Shin untuk menemuinya di rumah karena sudah ada keluarga Norin yang datang.


"Wa'alaikum salam. Ayok nak Shin mari masuk," titah Abah.


Shin mengangguk lalu memasuki rumah Abah dan menyalami satu persatu orang orang yang ada di dalam. Shin menyalami tangan calon mertuanya dengan tak'jim.


"Apa kabar ibu? apakah ibu sehat sehat saja?"


"Alhamdulilah tuan Shin, saya sehat."


"Ibu, saya ini calon menantu ibu tolong jangan panggil saya tuan. panggil nama saja."


"Iya, iyaa sa saya belum terbiasa."


"lama lama juga akan terbiasa Aminah,"ucap Abah tiba tiba.


"Rasanya seperti mimpi nak Shin mau menikahi anak ibu, Norin," ucap Bu Aminah dengan mata berkaca kaca.


"Alhamdulilah ibu, saya mohon doa restu dari ibu dan mohon keikhlasan ibu menyerahkan Puteri kesayangan ibu untuk menjadi pendamping hidup saya. Menghabiskan sisa hidupnya dengan saya.


"Ibu ikhlas nak Shin, ibu ridho. Tapi hanya satu hal yang ibu pinta dari nak Shin....Tolong...tolong jangan pernah menyakiti hati serta fisik Puteri ibu ya nak?"


"Tidak akan pernah Ibu, saya tidak akan pernah secuil pun menyakitinya. saya akan menjaganya serta membahagiakannya."


"Terima kasih nak Shin, terima kasih," ucap ibu Aminah sambil memegang pundak Shin yang masih bersimpuh di hadapannya.


"Mashaallah Norin, selain super tampan, kaya raya, calon suamimu juga memiliki akhlak yang baik Rin. Untung kamu ngga menolak lamarannya Rin. kalau ngga, rugi besar dan menyesal kamu Rin," gumam Syifa dalam hati.


Sementara Norin berdiam diri di kamarnya karena umi Husna melarang Norin untuk tidak mengerjakan apa apa. Istilah namanya di pingit.


"Gimana rasanya mau jadi pengantin kak Inay?" tanya Puteri. Umi Husna sengaja meminta Puteri untuk menemani Inay di kamarnya agar ia tidak terlalu kesepian.


Inay tersenyum tipis.


"Nanti juga kamu akan merasakannya sendiri Putri."

__ADS_1


"He he....Putri mah masih lama banget kak."


Inay sendiri tidak tau bagaimana perasaannya saat ini. Perasaannya biasa saja, tidak sedih tidak pula senang. Norin benar benar menyerah kan semuanya sepenuhnya pada Allah dan menerima takdir apa pun yang Allah berikan padanya termasuk jodohnya. meskipun Allah menjodohkannya dengan pria cacat sekalipun Norin akan menerimanya dengan ikhlas.


__ADS_2