
"Tante kan belum sarapan om, kata mama Naya kalau belum sarapan jangan makan es krim nanti sakit perut," ucap Naya yang tiba tiba saja muncul di antara mereka.
Norin dan Rio menoleh pada bocah kecil itu secara bersamaan.
" Naya udah selesai mainnya ?" tanya norin pada anak kecil yang terlihat kelelahan.
" udah Tante, Naya capek dan haus pengen minum."
Lagi lagi Norin menggaruk tengkuknya mendengar pengakuan keponakannya itu.
" kenapa dek Norin belum sarapan ?" tanya Rio pada wanita cantik yang tengah menggaruk tengkuknya.
" oh, udah kok pak, saya udah sarapan tadi," jawab Norin dengan senyum yang di paksakan.
" tapi kan tadi bubur Tante yang di belikan nenek di makan sama Naya dan........,"
celoteh Naya.
Norin langsung membungkam mulut bocah kecil yang cerewet itu.
" jangan di dengerin pak, saya beneran udah sarapan kok."
Rio tersenyum kecil, ia tau bahwa wanita itu tengah berbohong padanya.
" apa Naya haus ?" tanya Rio.
" iya om, haus banget."
" yaudah sana kakaknya panggil kita cari minuman."
Naya menurut saja, kemudian ia memanggil kakaknya yang masih asik bermain di taman.
" yuk kita cari minuman dulu !"
Rio mengajak ke dua anak kecil itu untuk mencari minuman setelah mereka kembali dari mainnya. Namun, baru beberapa langkah, Rio baru menyadari bahwa Norin tidak ikut bersama Meraka. Lalu, ia menoleh kebelakang dimana Norin masih duduk di bangku panjang dan menatap ke arah mereka.
" dek Norin ayok !" ucap Rio.
" saya tunggu di sini aja pak !"
" nanti lama lho kalau nunggu di sini."
" iya tante ayok ikut aja," ucap Hasbi.
Dengan terpaksa Norin ikut bersama mereka untuk mencari minuman.
Rio membawa Norin serta ke dua ponakannya itu ke sebuah warung soto ayam di tepi jalan.
" kok beli minumnya di sini pak?" tanya norin dengan heran.
" iya dek, kita minum sambil makan. Di sini sotonya enak banget lho, dek Norin harus nyobain," jawab Rio sambil tersenyum.
" tapi pak....,"
" udah, ngga usah pake tapi. Ayok anak anak kita minum es dan soto ayam. kalian mau kan?"
" mau dong oom !" jawab kedua bocah itu.
kemudian mereka memasuki warung soto itu dan di ikuti Norin dari belakang. Kedatangan mereka di sambut oleh wanita yang tidak lagi muda dan seperti sudah mengenal lama terhadap pria tampan itu.
" eh ada pak Rio, mau makan soto pak? lah siapa ini cantik banget apa calon istrinya pak Rio?" tanya seorang wanita pemilik warung soto tersebut.
Norin meneguk saliva nya di sebut sebagai calon istri pria gagah yang membawanya ke warung itu, sementara Rio hanya tersenyum malu saja.
" inshaallah Bu," jawab Rio lalu melirik Norin yang tengah terperangah mendengar jawaban pria itu.
__ADS_1
" wah, kalian pasangan yang serasi lho pak, Pak Rio nya ganteng dan calon istrinya cantik. terus ini anak siapa pak ?"
" mereka keponakan kami Bu," jawab Rio.
" oh begitu, yaudah silahkan duduk dulu pak dan.... !"
" namanya Norin Bu!" jawab Rio sambil melirik wanita yang tengah menunduk.
" oh iya neng Norin, silahkan duduk dulu.
Norin mengangguk kecil. Kemudian mereka duduk di kursi plastik yang ada di warung tersebut dan mengelilingi sebuah meja papan.
Mereka menikmati soto ayam yang di hidangkan oleh ibu tukang soto tersebut. Norin yang memang sudah sangat lapar, ia makan dengan sedikit tergesa membuat sotonya cepat habis. Rio memperhatikan tingkah Norin dan tersenyum gemas.
" apa dek Norin mau nambah lagi ?"
Norin menggeleng cepat. "ngga pak, makasih!"
"Tante makannya cepat amat, kayak orang yang sedang kelaparan aja," celetuk Naya.
Rio tersenyum mendengar celotehan anak berumur lima tahun itu. Sementara Norin memasang wajah di tekuk.
"apa kalian lupa, mama kalian bilang kan mainnya jangan lama lama. Jadi abis makan soto kita langsung pulang."
"yaaa....Hasbi masih pengen main Tante!"
"Naya juga Tante!"
"lain kali main lagi okey, Tante takut mama kalian ngamuk sama Tante nanti."
"lain kalinya kapan Tante? kan Tante ngga lama tinggal di rumah neneknya."
Rio langsung menatap serius pada Norin seolah olah minta penjelasan apakah yang di ucapkan anak kecil itu benar atau salah bahwa ia tidak akan tinggal lama di rumah ibunya.
Norin menundukkan wajahnya ditatap seperti itu oleh pria dewasa yang gagah dan berwibawa itu.
"ngga pak, saya memiliki waktu dua puluh tujuh delapan hari lagi masa liburnya."
Rio bernafas lega lalu tersenyum senang.
"apa dek Norin mau saya carikan pekerjaan di sekitaran sini aja biar lebih dekat dengan ibunya?"
Norin terdiam, "apa aku cari kerja di daerah sini aja biar dekat sama ibu? tapi kok rasanya berat banget ninggalin pabrik itu," Norin bermonolog.
"saya bingung pak," jawabnya tiba tiba.
"bingung kenapa dek?"
"di satu sisi saya memang ingin dekat dengan orang tua, tapi di sisi lain saya ngga bisa ninggalin kota itu pak."
"apa karena ada special someone dek?"
Norin terperangah, "oh, ngga pak, bukan itu tapi sa saya masih punya cicilan rumah di kota pak!" Norin beralasan padahal sebenarnya ia memang berat ninggalin pabrik itu entah mengapa dan sekarang saja ia merasa merindukannya.
"oh, jadi dek Norin beli rumah di kota? wah, hebat ya?"
"alhamdulilah pak, lumayan itung itung investasi aja," jawab norin lalu tersenyum manis sekali membuat pria di hadapannya tambah kagum saja.
"bagus itu dek, apa boleh saya menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi dek?"
"mau bertanya apa pak?"
"apa dek Norin udah punya kekasih?"
Seketika Norin terbatuk kecil. Namun, tak lama ia menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia tidak memiliki seorang kekasih.
__ADS_1
"beneran dek?"
Norin mengangguk kecil sambil menunduk.
Rio menyunggingkan senyum di bibirnya melihat pengakuan wanita yang ia kagumi itu.
"apa aku langsung melamarnya aja sebelum dia balik ke kota? tapi apa Norin mau nerima lamaran ku?" Rio bermonolog.
Satu jam kemudian, mereka sudah selesai makan sotonya lalu berjalan beriringan menuju dimana Norin memarkirkan motornya. Tak sedikit orang yang mengira bahwa mereka merupakan pasangan keluarga yang utuh dan serasi, pasangan suami istri dan dua orang anak. Namun, mereka menanggapinya dengan tersenyum saja.
"makasih ya pak, atas traktiran soto dan es krimnya! maaf keponakan saya banyak merepotkan bapak."
"sama sekali ngga di repot kan dek, justru saya senang sekali bisa makan bareng dengan kalian. Dan satu lagi bisa ngga dek Norin jangan manggil saya pak atau bapak? apa saya ini terlihat tua banget ya di panggil bapak?"
"lantas saya harus manggil pak Rio apa ya?"
"ya yang enak di dengar aja gitu, terserah dek Norin apa asal jangan bapak."
"oh, ya ya mas Rio, makasih ya kami mau pamit pulang dulu."
Rio tersenyum senang di panggil mas oleh wanita yang dalam tiga hari ini memenuhi fikirannya.
"ya udah hati hati ya dek, jangan ngebut ngebut bawa motornya."
Norin mengangguk lalu melajukan motornya dengan pelan. Rio menatap kepergian Norin dengan sorot mata berbinar. Namun, tak lama sorot mata yang berbinar itu berubah jadi sorot mata yang sendu.
"apa Norin bisa menerima masa laluku jika aku mengungkapkan niatku padanya?" Rio bermonolog.
Norin dan kedua keponakannya telah tiba di rumah sang ibu. Lalu, mereka memasuki rumah tersebut beriringan. Namun, sampai di dalam rumah mereka di sambut ketus oleh Diva, kakak pertama Norin.
"kamu ini kok ngeyel sih Rin, di bilangin jangan lama lama kenapa harus sampe tiga jam? aku nungguin kalian dari tadi mau ngajak anak anakku pulang."
"mama jangan marahi tante Norin, kami yang minta main di taman kok, mama kan ngga pernah ajak kami main ke sana," ucap Naya, membela sang Tante.
"kalian mainnya ke taman yang ada di kampung sebelah?" tanya ibu Aminah yang baru muncul dari dapur.
"iya nek, terus kami ketemu sama om ganteng, dia beliin Kami es krim," jawab Naya.
"abis makan es krim om ganteng itu juga traktir soto ayam enak banget nek sotonya." Hasbi meneruskan ucapan adiknya.
" aduh ini dua bocah kenapa harus cerita sih kan jadi malu sama ibu." Norin bergumam dalam hati.
" apa bener itu Rin? emang siapa om ganteng yang mereka maksud?"
" I..iya benar Bu, soalnya Norin ketinggalan dompet tadi. Jadi anak anak di traktir sama pak Rio."
" jadi kamu tadi ketemu sama pak Rio?"
Norin mengangguk kecil. Senyum pun tersungging di bibir Bu Aminah.
"Pak Rio itu siapa nek?" tanya Naya.
"oh, pak Rio itu kepala sekolah dimana nenek ngajar Nay."
Diva mencebik kan bibirnya merasa tidak suka atas pembahasan mereka yang menurutnya tidak menarik untuk di tanya tanya.
" udah ah, ayok anak anak kita pulang, papa kalian pasti udah nunggu dari tadi di rumah."
Diva menggiring anak anaknya untuk pulang ke rumah mereka yang berbeda kampung namun tidak terlalu jauh dari kampung ibunya.
"Norin !" panggil sang ibu setelah diva dan dua anaknya pulang.
" iya Bu !"
" kamu jangan pernah ambil hati setiap dengar ucapan saudara saudaramu ya Rin!"
__ADS_1
Norin tersenyum, ia tau apa yang di maksud oleh ibunya dan Norin mengangguk kecil.