Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Wanita murahan


__ADS_3

Di saat Norin dan Hendric berbicara di selingi canda dan tawa di sebuah ruangan, tiba tiba pemilik perusahaan memasuki ruangan tersebut. Shin tidak tenang dan juga tidak senang melihat keakraban hendric dan Norin apa lagi mereka berada di sebuah ruang private dan hanya mereka berdua saja karena direktur Lee sendiri menyerahkan buyer tersebut untuk di handle oleh Norin.


"hello apa kabar tuan hendric ?" tanya Shin tiba tiba.


Hendric mengerutkan dahinya, dia heran siapa pria yang menerobos masuk tersebut? Norin yang menyadari keheranan Hendric langsung berdiri.


"mister hendric, perkenalkan beliau adalah pemilik perusahaan ini," ucap Norin tanpa menoleh ke arah Shin.


"what, apa benar anda pemilik perusahaan ini?" tanya hendric.


"yeah benar, saya Shin dong Hoon, anak dari yeun jin Hoon pendiri Nobland Group tuan hendric yang terhormat," ucap Shin dengan bangga.


"wow, saya tidak menyangka akan bertemu langsung dengan pemilik Nobland Group, perusahaan besar Korea."


"ya anda benar, selain pemilik Nobland Group saya adalah pemilik hati nona ini tuan hendric," ucap yeun sambil melirik ke arah Norin.


Norin membesarkan matanya. Shin tersenyum menyeringai melihat ekspresi Norin.


"wait, maksud anda pemilik hati, means?


"saya hanya ingin memberi tahukan bahwa saya adalah kekasih nona yang ada di hadapan anda tuan hendric," bohong Shin. Ia sengaja agar pria bule tersebut tidak memiliki celah untuk mendekati Norin.


Norin terperangah, kenapa pria tersebut berbohong pada orang penting di hadapannya. Norin semakin kesal saja.


"wow, great! saya tidak menyangka nona Norin merupakan kekasih dari bos besar tuan Shin," ucap hendric sembari menatap wanita yang terdiam. Ada sorot mata kekecewaan di mata biru pria tersebut.


Jujur saja, Norin tidak enak hati atas sikap Shin pada hendric terlebih ia mengaku bahwa dirinya adalah kekasihnya.


"mister hendric, sebenarnya.....!"


"sayang, bukan kah siang ini kita ada janji untuk makan siang bersama?" Shin memotong ucapan Norin dan wanita itu semakin membulatkan matanya.


Bertepatan dengan itu, direktur Lee masuk ke ruangan tersebut.


Shin menoleh ke belakang melihat pada pamannya yang baru saja tiba." kebetulan uncle datang. tolong temani mister hendric dulu. karena saya dan Norin akan makan siang di luar."


"Hoon, jangan bertindak bodoh dan seperti anak kecil," ucap Lee.


Shin mencebik kan bibirnya, ia tidak peduli dengan peringatan direktur Lee.


"it's okey, silahkan nona Norin," ucap hendric.


"tapi saya.......!"


"sayang cepetan.....!" Shin memotong ucapan Norin.


Norin menatap kesal ke arah Shin kemudian beranjak pergi keluar lalu di susul Shin dari belakang.


Norin melangkah lebar ia kesal sekali. Namun, sebuah tangan menariknya dari belakang membuat tubuhnya berbenturan dengan dada bidang pria di belakangnya.


Norin terkejut atas ulah Shin. Kemudian ia mendorong kuat tubuh itu. Dorongan kuat itu membuat Shin mundur ke belakang namun tidak sampai terjatuh karena ia masih bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


Norin menatap nyalang ke arah Shin."jangan berani lagi anda menyentuh tubuh saya, saya jijik di sentuh oleh pria seperti anda." Kekecewaan dan sakit hati atas perlakuan Shin, membuat Norin berani bersikap kasar padanya. pria tersebut harus di kasari agar menjauh darinya.


"Ck, jadi kau lebih senang di sentuh oleh pria Eropa tadi? begitu kah pria selera mu? dasar wanita murahan yang gampang sekali di bujuk rayu laki laki." Shin tersulut emosi atas ucapan Norin padanya sehingga tanpa sadar ucapan nya menyakiti perasaan wanita itu.

__ADS_1


Dengan mata berkaca kaca Norin mendekati pria yang sudah mengatakan murahan padanya.


Plaakk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih Shin. Shin memegang pipinya yang terasa perih. Ia tidak menyangka, Norin yang selama ini di anggap wanita lemah berani menampar dirinya.


"ya, anda benar, anda sendiri yang membuat saya menjadi wanita murahan yang tidak ada harga nya. dan saya harap anda tidak lagi menggangu hidup wanita murahan seperti saya," ucap Norin dengan lantang lalu pergi meninggalkan pria tersebut.


Dada Shin bergemuruh, tangan nya mengepal kemudian beranjak pergi masuk kedalam ruangannya. Ia melempar semua benda apa saja yang ada di atas meja kerjanya sehingga berserakan di lantai.


"brengsek, brengsek. f u c k i n s h i t. wanita itu sudah berani kurang ajar padaku, awas saja kamu Norin, karena kau sudah berani memainkan perasaan seorang Shin dong Hoon. Aku akan membuat perhitungan padamu. Aku akan membuat hidupmu menderita," ucap Shin, dengan tangan mengepal lalu tersenyum menyeringai.


Norin melangkah cepat meninggalkan kantor. sepanjang jalan ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia memasuki sebuah toilet dan kebetulan toilet tersebut dalam keadaan kosong. Norin menumpahkan air matanya di sana. Dadanya terasa sesak sekali. Ia tidak menyangka pria yang selama ini selalu mengatakan cinta padanya, menyentuh tubuhnya, mengucapkan kalimat yang menyakitkan.


"apa salahku Shin? apa karena aku bicara ingin di nikahi olehmu membuat kamu begitu membenciku."


Norin membasuh wajahnya dan menata kembali wajahnya agar tidak terlihat sembab setelah menangis.


"semangat Norin, kamu harus tetap semangat."


Norin keluar dari toilet seolah olah tidak terjadi apa apa dengan dirinya. Kemudian ia memasuki ruang kerjanya.


"mba udah selesai bertemu dengan mister hendric?" tanya intan.


Norin tersenyum," sudah Tan."


"kebetulan mba, intan mau minta tanda tangan." Intan berjalan mendekati meja kerja Norin lalu meletakan selembar kertas untuk untuk Norin tanda tangani.


Kemudian Norin menanda tangani kertas tersebut. Intan memperhatikan dua jari tangan Norin tidak ada cincin di dua jari tersebut.


"kemana cincin tunangan mba Norin sama tuan Shin? apa ngga di pake atau mereka sudah putus." Intan bermonolog.


"tanya apa Tan?"


"kapan mba Norin dan tuan Shin akan melangsungkan pernikahan?" tanya intan dengan hati hati.


Norin tersenyum kecut."pernikahan itu tidak akan pernah terjadi Tan. saya dan dia sudah putus."


Intan terperangah namun tak lama kemudian ia tersenyum senang.


"oh, maaf ya mba intan tidak tau."


"ngga apa apa Tan, udah sana gih kerja lagi."


"siap boss." Intan beranjak pergi dan duduk kembali di kursi kerjanya lalu merogoh ponsel yang ia letak kan di laci meja. Setelah itu, Intan mengirim pesan pada seseorang.


"mba Norin udah putus dengan tuan Shin. Ini kesempatan mas untuk mendekati mba Norin kembali. Semangat !"


Kemudian, intan meletakkan kembali ponselnya dan senyum pun mengembang di bibirnya.


"smoga mba Norin jodoh kakakku." intan bermonolog.


Hari menjelang sore dan waktu pulang pun telah tiba. Norin bergegas bersiap siap untuk pulang. Ia menoleh pada meja pak Arief yang belum beranjak dari duduknya.


"Semangat pak Arief, masih banyak wanita baik di luar sana yang sedang menanti cinta dari pak Arief. yakin lah itu," ucap Norin tiba tiba.

__ADS_1


Arief menoleh pada wanita yang menyemangatinya lalu tersenyum." iya mba Norin, harus semangat. life must go on, ha ha."


"sip..sip ..ayok pak, pulang." Arief mengangguk.


Norin melajukan motornya pelan tiba di pintu gerbang ia berpapasan dengan Anisa.


Tin tin tin....


Norin membunyikan klakson di samping sahabatnya itu sehingga membuat Anisa terperanjat kaget.


"astaga... Norin, kamu bikin jantung aku mau copot aja."


"ha ha.... sorry Bu."


"motor mu udah ketemu Rin?"


"udah dong."


"siapa yang nemuin?"


"ngga tau, tiba tiba ada yang antar aja ke rumah."


"kok bisa gitu."


Norin mengedik kan bahunya." kamu mau pulang bareng aku ngga?"


"beneran di anterin nyampe rumah?"


"yups, dari pada naik angkot. lagi pula aku kangen banget sama keponakanku itu."


Anisa tersenyum," cus lah."


Norin melajukan motornya memboncengi Anisa.


"jangan lewat kota Rin, nanti di tangkap polisi aku kan ngga pake helm."


"yups, gila aja kalau di tangkap polisi baru juga aku menaiki motorku ini. kita cari jalan tikus aja okey."


"sip" Norin melajukan motornya melewati jalan alternatif bukan jalan kota.


"lho, kok gini ya dibawanya." Norin segera menepi lalu berhenti.


"ada apa Rin?" tanya Anisa penasaran kenapa menepi dan berhenti.


"coba Nis, kamu turun dulu," titah Norin. kemudian Anisa turun menuruti perintah sahabatnya.


"yah, ban nya kempes Nis," keluh Norin setelah memeriksa ban motornya.


"ya ampun.....baru juga aku ikut bonceng main kempes aja," ucap Anisa.


"kayaknya kamu berat Nis."


"berat apanya, badan kecil gini di bilang berat. kalau kamu baru berat," balas Anisa.


"berat sama dosa maksudku Nis, ha ha." Norin tertawa.

__ADS_1


"ish....!" Anisa mengerucutkan bibirnya.


"ya udah yuk, bantu aku dorong di depan ada bengkel," titah Norin.


__ADS_2