Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 10.1)


__ADS_3

...Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedih rasa sakit....


...Ali bin Abi Thalib...


...🍁🍁🍁...


Besoknya, mereka bertiga kembali ke asrama setelah mendapatkan izin dari dokter karena keadaan Ai sudah pulih. Mereka masuk ke dalam asrama dan langsung dikelilingi oleh teman-teman yang lain.


Ada yang prihatin ada pula yang menyemangati Ai. Mereka semua adalah orang-orang yang baik dan hangat pada saat yang bersamaan. Tapi suasana hangat itu segera berubah ketika Sari masuk ke dalam kamar.


Dia terlihat kuyu dan pucat seperti orang yang tidak pernah tidur semalaman. Memar merah bekas tamparan di pipi kanannya masih belum menghilang sekalipun dia menarik kain jilbabnya ke bawah untuk menyembunyikannya.


"Bukankah dia harusnya diusir dari pondok pesantren?" Asri adalah orang pertama yang menanyakan keberadaan Sari yang masih tinggal di sini.


"Sebenarnya rumor yang tersebar juga begitu karena menurut banyak orang Sari sudah melewati batas. Akan tetapi kedua orang tuanya memohon kepada pondok pesantren agar Sari diberikan kesempatan sekali lagi. Jadi mau tidak mau pondok pesantren menerimanya dengan syarat bila Sari membuat masalah lagi mereka tidak akan mendiskusikan dan segera mengeluarkannya dari pondok pesantren." Gadis yang duduk di samping Asri menjelaskan tanpa disuruh.

__ADS_1


Memang benar apa yang dikatakan gadis itu. Kemarin kedua orang tua Sari memohon agar diberikan kesempatan agar Sari bisa menuntut ilmu di sini. Mereka malah tidak mau pulang sebelum pondok pesantren mengabulkan permintaan mereka. Maka mau tidak mau pondok pesantren mengabulkannya dengan syarat apabila Sari membuat masalah lagi mereka tidak akan mendiskusikan apa pun dan segera mengeluarkannya.


"Aku pikir ini bukan keputusan yang tepat tapi syukurlah Ustad Vano pergi keluar kota hari ini. Jika tidak mungkin dia akan sangat marah mengetahui keputusan ini." Gadis yang lain juga ikut berbicara.


Setelah kejadian kemarin menyebar mereka sepakat Sari punya perasaan kepada Ustad Vano dan berniat buruk masuk ke dalam kantornya. Mereka mengecap Sari sebagai orang yang tidak baik dan tidak cocok menjadi teman.


Sejujurnya mereka tidak boleh mengucilkan siapapun dengan cara seperti ini, hanya saja semua tindakan Sari membuat mereka merasa tidak nyaman menjalin hubungan pertemanan dengannya.


Mungkin beberapa orang cenderung membuat masalah tapi itu masih dalam batas normal dan bisa ditoleransi. Dan hal ini tentu berbeda dengan seseorang yang sengaja membuat masalah apalagi masalah yang dibuat sebenarnya bisa digolongkan dalam tingkat kriminal.


Tidak hanya itu saja dia juga menceritakan kepada mereka mengenai tamparan keras yang Ayah Sari berikan tepat di depan Pak Kyai dan Umi. Kedua orang tuanya sangat marah dengan tindakan melewati batas yang Sari perbuat.


"Berhentilah bergosip. Apa kalian lupa dengan apa yang Allah katakan mengenai seseorang yang suka bergosip?" Mega menginterupsi acara gosip pagi-pagi mereka.


Salah satu gadis yang tahu tapi belum hafal bunyi ayatnya iseng bertanya. Pasalnya mereka adalah santri baru dan tidak semua orang sudah menghafal Al-Qur'an. Pasti ada beberapa diantara mereka yang hanya menghafal surat-surat pendek dan belum sampai menyentuh surat panjang.

__ADS_1


"Apa kamu mau menjelaskannya? Ini adalah ilmu dan sejatinya ilmu akan lebih berkah jika disebar luaskan." Mereka datang ke sini untuk ilmu maka setiap ada peluang untuk menuntut ilmu mereka tidak akan pernah melewatkannya.


Mega berdehem ringan."Ini..akan dijelaskan oleh Ai. Hei, aku juga sama seperti kalian, aku masih dangkal ilmu." Mega tubuh jauh berbeda dengan yang lain.


Meskipun pernah bertunangan dengan Ustad Azam tapi Mega tidak pernah sekolah di pondok pesantren. Dia selalu di sekolah umum dan jarang mendalami agama, khususnya firman-firman indah Allah SWT yang menyejukkan jiwa.


Mereka langsung kompak tertawa. Mega ternyata tidak secuek yang mereka pikirkan. Nyatanya dia baik dan memiliki humor yang baik pula.


"Lalu Ai, bisakah kamu berbagi ilmu dengan kami?" Gadis itu beralih ke Ai.


Ai tersenyum malu, rona merah di pipinya mulai terlihat di bawah pengawasan mata.


"Aku bisa, hanya saja ilmu ku juga sangat dangkal jadi aku harap kalian memaklumi kekurangan ku."


Gadis itu tersenyum,"Kamu terlalu rendah diri, Ai."

__ADS_1


Ai mengambil nafas panjang sebelum menjelaskan apa yang dia tahu kepada teman-temannya.


__ADS_2