
"Kemari lah." Ali menarik istrinya mendekati meja kerja dan mendudukkannya di atas kursi yang duduki terakhir kali.
"Aku.." Ali mengusap tengkuknya malu.
"Punya sesuatu untukmu. Hadiah ini.. awalnya ingin ku berikan saat malam pernikahan kita namun aku takut kamu tidak menyukainya jadi aku memilih untuk menyimpannya sampai sekarang."
Hadiah?
Ketika mendengar kata-kata ini Safira entah mengapa teringat dengan cerita Bunda tentang tabungan Ali beberapa tahun yang lalu. Saat itu Ali mengatakan kepada Bunda ingin membelikan Safira sesuatu.
Mungkinkah hadiah yang Mas Ali maksud adalah hadiah yang dibeli menggunakan tabungannya selama di pondok dulu?. Batin Safira gugup.
Pasalnya itu adalah hadiah yang Ali dapatkan dengan perjuangan yang tidak main-main. Seorang remaja yang jauh dari orang tuanya menyisihkan sebagian uang belanja untuk membelikan seorang wanita dewasa sebuah barang, jujur... Safira ingin memiliki buah dari perjuangan suaminya dulu.
"Apapun yang Mas Ali berikan Safira tidak akan pernah menolaknya." Kata Safira gugup.
Ali tersenyum simpul, dia lalu menunduk membuka sebuah laci di samping kanannya. Di dalam ada sebuah kotak perhiasan berwarna biru laut yang tampak usang karena debu namun tidak bisa menyembunyikan pesonanya.
"Ini.." Safira menebak bahwa itu mungkin gelang atau kalung karena cincin tidak akan menghabiskan tempat sebanyak itu.
__ADS_1
"Ini mungkin tidak mahal.." Kata Ali merendah seraya membuka kotak perhiasan itu.
Di dalamnya ada sebuah kalung berwarna putih dengan mahkota sebuah berlian berwarna biru laut yang tidak terlalu besar namun tidak bisa menyembunyikan keindahannya.
"Aku membelinya 3 tahun yang lalu menggunakan uang tabungan ku selama 8 tahun. Aku ingin segera memberikan mu tapi tidak yakin kamu akan mau menerimanya."
Ali ragu memberikan Safira karena harga kalung ini tidak semahal kalung kalung berkualitas tinggi lainnnya. Ini bisa dibilang standar dan tidak menguras dompet, tapi dulu dia hanya mengandalkan tabungannya di pondok pesantren selama bertahun-tahun ditambah dengan gajinya sebagai pengajar di pondok selama 2 tahun.
Bila dijumlahkan hasilnya tidak akan seberapa jadi Ali hanya bisa membeli kalung ini saja.
"Ya Allah, Mas Ali. Kalung ini sangat indah.. Safira suka dengan modelnya dan Safira lebih suka lagi karena ini adalah pemberian dari Mas Ali. Ini sangat berharga untuk Safira." Ketika Safira mengatakan ini matanya kembali memerah bersiap menangis.
"Bagaimana mungkin ini tidak mahal.. sedangkan waktu-waktu yang Mas Ali lalui untuk mengumpulkannya selama bertahun-tahun..ini sungguh sangat berharga, Mas."
"Jangan menangis lagi, istriku. Hadiah ini tidak seberapa jadi kamu tidak perlu menangisinya." Hibur Ali seraya mengusap wajah basah istrinya.
"Mas Ali salah, hadiah ini.. hadiah ini sangat penting untuk Safira! Ini lebih penting dari semua hadiah yang pernah Mas Ali berikan kepada Safira. Tidak, sejujurnya mereka semua penting tapi yang lebih penting adalah kalung ini." Bantah Safira seraya menangis.
Ali terkejut, dia tidak berharap reaksi Safira akan sedalam ini. Dia pikir Safira hanya akan mengatakan suka seperti biasanya. Tidak menyangka bila dia juga akan menangis untuk hadiah kecil ini.
__ADS_1
"Syukurlah bila kamu menyukainya. Aku senang kamu mau menerima hadiah kecil ini." Bisik Ali merasa lega.
Maka usahaku selama 8 tahun ini untuk menabung tidaklah sia-sia. Selain itu Allah juga membalas semua perjuangan ku satu demi satu dengan nikmat yang sangat luar biasa. Ya Allah, sungguh aku tidak bisa menampik akan semua nikmat yang Engkau berikan. Satu demi satu doa-doa yang ku langitkan Engkau kabulkan dan penuhi. Lailahaillallah..Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu.
"Apa Safira boleh memakainya?"
Ali mengangguk dengan semangat,"Aku akan memakaikannya kepadamu."
Ali berdiri dari tegak, mengambil kalung yang sudah 3 tahun tidak disentuh itu dari kotak perhiasan. Dengan hati-hati dia melingkari leher Safira yang sudah melepaskan jilbabnya.
"Masha Allah.." Bisik Ali ketika melihat penampilan cantik istrinya.
Safira tampak lebih anggun menggunakan kalung itu.
"Apa Mas Ali menyukainya?" Tanya Safira malu.
Ali tidak menyembunyikannya,"Aku sangat menyukainya, demi Allah."
Bersambung..
__ADS_1
Masih lanjut kok, wkwkwkw..Kan masalah Dinda ini belum kelarđź’š