
Ai tetap diam. Dia tidak bisa membela diri karena faktanya apa yang mereka katakan memang benar. Lagipula dia bukan Safira, Ibu angkatnya yang cakap dan tegas. Dia hanyalah Ai, anak malang yang terabaikan dan dibuang oleh panti asuhan.
Dia cacat dan keberadaannya adalah hal yang tidak diinginkan.
Dia hanya punya satu teman, namanya Vano tapi temannya kini sibuk di sekolah barunya. Dia memang punya keluarga yang hangat, namun mereka sibuk mengurus adik-adiknya yang masih bayi.
Ai menjadi kesepian tanpa sadar, entah sejak kapan ini terjadi.
"Dia tidak mau menjawab pertanyaan kami berarti apa yang ku katakan itu benar! Dia ini monster!" Teriak anak gadis itu di atas angin.
Anak-anak yang tadinya tidak percaya kini memandang Ai dengan tatapan meragukan. Mereka mau tidak mau terpengaruh dengan apa yang anak gadis itu katakan karena Ai sendiri tidak mau memberikan jawaban.
"Benar, aku juga mendengar dari kelas lain bila Ai dulunya tinggal di panti asuhan. Tapi panti asuhan itu jatuh bangkrut dan harus disita pemerintah karena Ai! Aku juga mendengar bila Ai adalah pembawa sial sehingga panti asuhan tidak pernah didatangi orang tua calon adopsi!"
Mereka semua ribut lagi, topik yang mereka bicarakan masih tentang Ai dan masa lalunya.
__ADS_1
Ai tidak tahu siapa yang membocorkan tentang masa lalunya yang pahit dan dia juga tidak mengerti mengapa orang-orang selalu menganggapnya sebagai anak pembawa sial?
Ai kangen Bunda dan Ayah. Batin Ai sedih.
...🍚🍚🍚...
Ai mengusap air mata di wajahnya dengan tangan. Saat ini dia sendirian karena teman-teman kelas semua menjauhinya. Ai takut menyapa mereka karena dia tahu mereka pasti akan mengejeknya lagi seperti di kelas.
"Ayah dan Bunda pernah bilang... bila Ai butuh sesuatu di sekolah Ai harus memberitahu Bu guru Dinda." Katanya seraya berdiri dari duduknya.
Kebetulan guru-guru sedang istirahat di kantin jadi ruang guru hanya dihuni satu dua orang saja.
"Ada apa, Ai?" Tanya Dinda terdengar malas ketika melihat Ai mendatangi mejanya.
"Bu guru.." Ai meremat tangannya sedih. Dalam hatinya dia bersyukur ada Dinda sebagai tempat untuk mengadu di sekolah.
__ADS_1
"Bu guru tolong bantu Ai. Teman-teman di kelas dari pagi mengejek Ai, mereka bilang Ai monster." Katanya mengadu.
Dinda mengangkat kepalanya tampak ingin tertawa, dia lalu menundukkan kepalanya di depan Ai seraya berkata.
"Oh ya? Bukankah apa yang mereka katakan itu benar bila kamu itu adalah monster?" Katanya seraya memberikan tatapan merendahkan.
"Hah.." Ai tertegun, wajahnya menjadi pucat pasi tertangkap tidak siap.
Bersambung..
Jadi iya, saya emang nulis Ai dan Vano sebelumnya tapi ada yang bilang cara penulisan saya terlalu drama atau lebay sehingga saya memilih untuk menghentikannya. Lalu, ini adalah cerita mereka versi Islami. Tentunya ada beberapa tokoh dari novel asli yang terlibat dan ada juga yang tidak. Contohnya, kisah Ai dimulai dari panti asuhan dan bukannya dari apartemen kecil pemberian kedua orang tua kandungnya.
Lalu untuk novel Aku Bukan Humaira, itu saya hentikan penulisannya karena terlalu sibuk sebelumnya. Tapi saya ada rencana untuk merevisi dan menulisnya ulang, ditunggu saja yah🍚
Lanjut?
__ADS_1