
"Nah, bukankah dia tadi bilang kepada Umi ingin berhenti berkelahi? Aku tegaskan itu adalah kebohongan besarnya, Umi. Dia malah mengatakan tidak takut melawan kami berdua sehingga perkelahian kami tetap berlanjut meskipun Ai datang melerai lagi. Bukannya membalas kebaikan Ai malah dia mengatai Ai sebagai orang yang lemah. Astagfirullah..aku tidak tahu kebencian apa yang dia miliki terhadap kami berdua sehingga dia membuat kebohongan kepada Umi dan yang lain, akan tetapi yang pasti setelah mendengar ceritanya tadi aku semakin yakin jika dia bukanlah orang yang baik dan tidak bisa dijadikan sebagai teman. Aku bersyukur malam ini Allah menunjukkan kepada kami betapa buruk perangainya." Ucap Mega dengan suara dan nada yang stabil.
Dia memang gugup ditatap secara langsung oleh Umi tapi bukan berarti dia tidak bisa berbicara. Dia bisa menanggung perasaan gugupnya dengan banyak bicara. Semakin banyak bicara Mega maka semakin santai pula perasaannya.
Tiara dan Sasa sekali lagi mengangguk ringan. Sekarang mereka mulai bimbang tidak tahu harus mempercayai siapa. Mega memang angkuh tapi ceritanya masuk akal.
Umi masih menganggukkan kepalanya. Kemudian dia beralih menatap wajah manis yang juga sedang menatapnya.
Melihat Ai senyuman Umi terbentuk kian hangat dan menyenangkan mata.
"Nak Ai, bisakah kamu memberitahu Umi dari mereka berdua siapa yang memegang kebenaran?" Tanyanya dengan nada hangat.
Ai tidak menyangka tiba-tiba ditanya. Dia sangat gugup dan kesulitan mengeluarkan suara. Untung saja Umi adalah orang yang sabar sehingga dia tidak mendesak Ai.
"Umi ..aku pikir.." Dia menguatkan keyakinannya,"Cerita Mega adalah yang benar, Umi."
Setelah itu Ai menundukkan kepalanya tidak berani menatap Sari.
__ADS_1
Kejujuran.
Bunda dan Ayah selalu mengatakan kepada mereka bahwa jujur itu awalnya sangat menyakitkan tapi Allah selalu punya cara untuk membuatnya terasa manis.
Untuk Sari, mungkin setelah ini mereka tidak akan berteman lagi tapi inilah yang terbaik.
"Sekarang aku sudah memutuskannya," Umi akhirnya akan memberikan keputusan.
Pertama-tama dia menatap Sari yang sudah pucat pasi di tempat,"Bohong adalah perbuatan yang tidak disukai Allah karena bohong akan membuat mu lupa dengan warna dirimu sendiri. Selain itu cobalah bersabar dengan melapangkan dada mu. Bersabar bisa menenangkan syaraf mu dan membuat mu terhindar dari stres. Pikiran yang tenang bisa menghindarkan hidup mu dari sifat serakah dan tamak. Membuat hidupmu dalam kedamaian yang menenangkan." Ucapnya ringan dan masih dengan nada lembut yang sama.
Setelah itu dia beralih melihat Mega,"Hati yang lapang akan membuat mu terhindar dari sifat marah, Nak. Jika kamu mudah marah maka kejadian hari ini akan terus berulang-ulang sampai kamu benar-benar melupakan arti dari sebuah kesabaran. Selain itu cobalah untuk belajar merendahkan dirimu sekalipun berdiri di jalan yang benar. Jika kamu merendahkan hatimu maka orang-orang yang kamu temui di masa depan akan merasa nyaman dekat denganmu. Mereka tidak akan salah paham lagi denganmu karena orang yang merendah senantiasa menundukkan pandangannya dan melembutkan suaranya ketika berbicara."
Mega tertegun, dia sontak menundukkan kepalanya tidak berani melihat langsung ke mata Umi. Dia tidak tahu kenapa tapi tatapan langsung Umi seolah sedang melihat ke dalam hatinya. Mega takut dan tiba-tiba merasa malu.
Terakhir, Umi beralih menatap Ai yang kini sedang melihatnya dengan tatapan ragu.
"Umi yakin Allah sangat mencintaimu sehingga dia mengirim mu ke sini, Nak." Katanya lembut seraya mengusap wajah cantik Ai.
__ADS_1
Ai dan yang lainnya sangat terkejut. Di dalam hati mereka bertanya-tanya apakah Umi mengenal Ai atau pernah bertemu dengan Ai. Oh, mungkin seperti yang terjadi di dalam drama, mungkinkah kedua orang tua Ai meminta Umi memperlakukannya Ai berbeda di sini?
Tapi itu sangat mustahil. Tiara dan Sasa selama bertahun-tahun tinggal di sini cukup tahu bila Umi adalah orang yang adil dan bijaksana. Uang ataupun koneksi tidak akan mempengaruhi rasa keadilan di hatinya.
Lalu, jika bukan karena itu maka alasan apa yang paling tempat untuk menggambarkan interaksi hangat Umi tadi kepada Ai?
Ai segera menunduk malu. Tangannya yang ramping saling meremat karena gugup.
"Lalu hukuman yang akan kalian dapatkan," Umi tiba-tiba menjadi serius.
"Kalian berempat akan dihukum membantu staf dapur mencuci piring atau membersihkan dapur, ini yang pertama. Yang kedua atau yang terakhir, besok pagi-pagi setelah sarapan pagi kalian berempat terpaksa melewatkan perkenalan kelas karena harus pergi ke sawah untuk memetik sayuran. Selama bekerja kalian akan di awasi oleh ketua petugas kedisiplinan asrama putri, Sasa," Katanya seraya menatap Sasa.
"Dan rekan-rekannya yang lain termasuk Tiara. Besok pagi kalian harus bekerja sampai batas waktu yang ditentukan dan tidak boleh pergi sampai petugas kedisiplinan asrama putri meminta kalian berhenti."
Hukuman ini sejujurnya tidak terlalu berat. Dengan kata lain ini hanyalah peringatan untuk mereka agar jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi di masa depan.
"Maaf Umi sebelumnya, di sini bukankah Ai tidak bersalah tapi mengapa dia juga ikut dihukum bersama kami?" Asri memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1